
Dino akhirnya sampai di depan Ruang Kepala Sekolah. Ia langsung membuka pintu ruangannya.
KRRIIIEEETT….
“Permisi… maaf saya… Eh!?”
Dino melebarkan mata karena terkejut. Di dalam ruangan itu ada Chelsea yang sedang dalam bahaya dengan posisi tangan dan kaki yang terikat dan mulutnya dibekap kain. Dia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Apa yang terjadi padanya?
Dino perlahan berjalan mendekatinya. Ia ingin melepaskan temannya itu. “Chelsea! Kau…”
BUK!!
Pintu ruangan ini tiba-tiba tertutup dan seketika kepala Dino dipukul seseorang dari belakang.
“Akh!”
Dino berusaha untuk bertahan agar tidak terjatuh. Ia harus kuat kali ini. Dino menengok ke belakang dan terkejut. Ternyata yang memukulnya itu adalah Devan!
Dino masih menyentuh kepala belakangnya yang baru dipukul. Untuk menghindari serangannya lagi, Dino mundur perlahan dengan wajah tak percaya melihat perilaku Devan itu.
“Ka–Kak Devan? Kenapa… mmmph!”
Belum saja Dino menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya dari belakang. Seketika kepalanya terasa semakin pusing dan pandangannya menjadi gelap.
"Apa yang akan terjadi padaku?"
“….”
****
Tak lama kemudian, Aldy dan Liena datang ke ruang Kepala Sekolah. Mereka masuk ke dalamnya.
“Permisi…” Liena membuka pintu.
Ternyata di dalam tidak ada siapa-siapa. Tapi Aldy melihat ada Bu Nirmala di tempat pribadinya. Liena dan Aldy pun menghampiri Bu Nirmala di tempatnya.
“Ibu…? Bu Nirmala… apa Ibu melihat Dino dan Chelsea?” tanya Aldy.
Tapi Bu Nirmala hanya diam saja dengan tatapan kosong dimatanya. Aldy menaikan sebelah alisnya. Menatap Bu Nirmala heran.
“Bu?” Panggil Aldy lagi.
“Eh! Ini tidak mungkin!” Kejut Liena.
“Ada apa, Na?” tanya Aldy bingung.
“Ada yang tidak beres di sini!” Liena mulai mencurigai keadaan Bu Nirmala. Lalu Liena menatap Bu Nirmala dan memperhatikan matanya. Dia terkejut!
“Hah!? Kakak?” gumam Liena.
“Apa katamu!?”
“Ini ulah kakak!” tegas Liena.
“Apa!?”
“Ayo ikut aku! Kita harus keluar dari Sekolah ini!”
Liena menarik tangan Aldy dan langsung berlari membawanya pergi.
“Apa yang terjadi, Na!?” tanya Aldy panik.
“Aku tidak ada waktu untuk menceritakan semuanya! Minggiiirr…”
Liena dan Aldy terus berlari dan menerobos beberapa murid yang ada di sana sampai mereka keluar dari gedung Sekolah.
****
Saat di depan gerbang sekolah…
“Pak Satpam! Tolong buka gerbangnya!” tegas Liena.
Pak Satpam itu terkejut. “Ada apa ini!?”
“Ada….”
“Ada pensilku di depan gerbang sana. Kami ingin mengambilnya. Jadi tolong bukakan gerbangnya agar kami bisa mengambil pensil itu. Kumohon…” Aldy mengimutkan nada bicaranya. Itu membuat Liena jijik, tapi ternyata berhasil.
Pak Satpam itu membukakan gerbangnya. Dia pikir Aldy dan Liena mau keluar hanya ingin mengambil Pensil itu, tapi ternyata tidak.
Setelah Gerbang terbuka, Liena dan Aldy langsung lari menjauh dari Sekolah tanpa sepengetahuan dari Pak Satpam itu.
“Hei, Liena! Bisa kau beritahu aku? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kita terus berlari seperti ini!?” tanya Aldy.
__ADS_1
“Eh! Sssttt…” Liena mendadak memberhentikan langkahnya. Mereka mengumpat dibalik dinding rumah orang lain yang ada di dekatnya.
“A, ada apa, Na?” tanya Aldy.
“Sssttt… coba lihat itu!” Liena memelankan suaranya.
Liena dan Aldy melihat 3 orang misterius yang memasuki sebuah gang di sana. Lalu Liena dan Aldy diam-diam pergi mengikuti orang-orang itu.
Eh, tapi saat di dalam gang, mereka berhenti. Liena dan Aldy terkejut. Jadi Liena dan Aldy hanya bisa sampai di depan gang itu saja. Ke-3 Orang itu terdengar sedang membicarakan sesuatu. Liena mengupingi pembicaraan mereka.
Ada 3 orang dewasa di dalam gang itu. Ada orang berbadan gendut, yang satunya lagi berotot, dan satunya lagi orang yang kepalanya botak. Mereka semua terlihat menyeramkan menurut Aldy.
“Hei, Botak!” Seru si Orang Berotot itu.
“Apa?”
“Apa benar Ketua sudah menangkap kedua Death Eye itu?”
“Iya! Maka dari itu Ketua menyuruh kita untuk datang. Ayo cepat! Jangan membuat Ketua menunggu. Nanti kita dimarahinya lagi. Ayo, perjalanan kita masih jauh. Kan, kalian tahu sendiri, Ketua telah mempunyai markas baru.” Jawab si Botak.
“Ah, baiklah! Tapi awas kalau kau berbohong lagi, Botak!”
Ketiga Orang dewasa itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Liena dan Aldy terkejut setelah mendengar pembicaraan mereka.
“Liena? Dino dan Chelsea pasti sudah ditangkap oleh mereka. Kita harus menyelamatkan teman kita, Na! Apa kau punya rencana?” tanya Aldy.
“Hmm… kita tidak tahu di mana Markas mereka. Tapi sepertinya aku punya rencana hebat. Sini aku bisikkan padamu!”
Liena membisikkan rencananya itu pada Aldy.
“Oke! Apa kau sudah mengerti?”
“Emm… entahlah, Na. Apa ini akan berhasil?”
“Tenang saja! Percayalah padaku. Ayo cepat, sebelum mereka menjauh!”
“Oke!”
Liena dan Aldy memulai rencana mereka. Pertama Aldy akan masuk ke dalam gang itu sebagai umpan. Aldy melempar beberapa batu ke dalam dan suara dari pantulan batu itu membuat suara bergema.
3 Orang dewasa itu mendengar suara Batu yang jatuh itu. Mereka pun langsung pergi ke arah suara itu berasal. Mereka kembali ke Gang yang mereka lewati tadi. Akhirnya ketiga orang itu melihat Aldy yang sedang berdiri di dalam Gang.
“Eh! Ada Bapak-bapak penjahat di sini. Sepertinya tadi aku mendengar kalau kalian telah menculik dua orang murid di Sekolahku. Aku akan melaporkan kalian pada Polisi!” Setelah perkataanya, Aldy langsung keluar dari Gang itu.
Kedua teman si Botak langsung berlari mengejar Aldy.
Liena sudah bersiap di depan Gang. Dia hanya tinggal menunggu Aldy keluar. Liena memakai kekuatan matanya untuk mengangkat beberapa barang berat untuk menghentikan para Penjahat itu. Lalu akhirnya Aldy keluar dari Gang itu.
Aldy mengagguk untuk memberikan tanda isyarat pada Liena, dan Liena langsung mendorong barang-barang yang dia bawa itu pada Kedua orang yang mengejar Aldy. Ban besar, Genting, Pipa, dan Batu Bata besar itu langsung menimpa kedua Orang dewasa itu. Kedua orang itu pun terjatuh.
Aldy langsung mengikat kedua orang itu dengan tali yang ia temukan. Aldy dan Liena pikir mereka sudah menang. Tapi tiba-tiba si Botak itu datang dan memukul Liena sampai ia terjatuh.
Aldy terkejut. Lalu setelah itu, si Botak itu langsung menarik kerah baju Aldy.
“Apa yang kau lakukan pada teman-temanku, anak kecil!?” bentak si Botak itu.
“Ti–tidak apa kok! Eh, tolong lepaskan aku, Pak! Nanti kalau ada orang lain yang melihat ini, Pak Botak pasti kena masalah.”
“Siapa yang kau panggil ‘Botak’ Anak kecil!? Kau meledekku, hah!?” Geram si botak.
Si Botak itu mencekik Aldy. “A–akh! Kenapa ma–marah? Bapak memang botak, kok! Aduh!” Aldy berusaha untuk melepaskan dirinya.
“Diam! Akan kuhancurkan tenggorokkanmu itu agar kau tidak bisa berkata apa-apa lagi. Beraninya kau meledekku. Dasar anak tidak sopan!” Si Botak itu semakin kuat mencekik Aldy. Nafasnya semakin sesak.
“Maaati kau… Eh!?”
WUUSHH...
Tiba-tiba Tubuh si Botak itu melayang ke atas. Ternyata tubuh si Botak itu dikendalikan oleh Liena.
“Turunkan dia!” bentak Liena dengan tatapan tajam mata merahnya yang mengerikan.
Si Botak pun langsung melepaskan Aldy. Tapi Liena masih belum selesai. Dia melirikkan matanya ke atas dan ke bawah, sehingga tubuh si Botak itu jadi terbanting ke tanah berkali-kali.
Dia merintih kesakitan. Lalu Liena melempar si Botak itu sampai tubuhnya menabrak teman-temannya yang lain.
Ketiga penjahat itu sudah dilumpuhkan. Liena senang dia bisa menang. Tapi bagaimana dengan keadaan Aldy?
Aldy pingsan. Liena terlihat khawatir sekali. Lalu ia pun menghampiri Aldy dengan cepat dan langsung menaruh kepala Aldy di pangkuannya.
“Hei, Dy! Aldy! Kumohon bangunlah!” Liena terus menepuk-nepuk pipi Aldy. Tapi Aldy masih belum membuka matanya. Lalu air mata keluar dari mata Liena. Dia menangis sambil terus menggoyangkan tubuh Aldy.
“Aldy… kumohon bangunlah! Kau tidak boleh meninggalkanku. Aldy! Aku takut… aku takut kau meninggal! Oh, ayolah… kau masih di sana, kan? Ayo… buka matamu! Buka matamu, Dy…!” Liena memeluk Aldy. Lalu perlahan tangan Aldy bergerak. Liena merasakan pergerakkannya. Aldy juga membalas memeluk Liena.
__ADS_1
“Eh?” Liena terkejut. “Aldy?” Liena melepaskan pelukannya dan menatap Aldy.
“Kau menangisiku?” Aldy tersenyum. Lalu perlahan dia membuka matanya. “Kau jangan nangis dong, nanti kecantikanmu berkurang. Jangan mengkhawatirkanku gadis cantik…” Kata Aldy dengan nada meledek.
Liena merasa jijik dengan perkataan Aldy itu. Lalu dia menjatuhkan Aldy dari genggamannya.
“Ish! Apaan sih!? Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku hanya ingin membangunkanmu, karena kita harus cepat menyelamatkan Kak Dino dan Chelsea!”
Aldy kembali berdiri. “Hehe… tapi kau takut kan kalau aku meninggal?”
“Oh, Aldy! Jangan bicara seperti itu dong.” Liena memukul pundak Aldy.
“Aw! Oke, oke! Terima kasih sudah menyelamatkanku!” ucapnya sambil tertawa lebar.
“Nah, begitu dong. Dari Tadi aku ingin mendengar kau mengucapkan kata-kata itu.”
Aldy tertawa kecil. Lalu dia melirik ke arah Ketiga orang dewasa yang terluka di sana.Ia mensipitkan matanya sambil tersenyum miring.
“Hmm… sekarang mau kita apakan ketiga penjahat ini?”
“Aku punya rencana hebat! Hehehe…” Nada bicara Liena mulai menyeramkan. Itu membuat ketiga penjahat jadi merinding.
****
Di dalam sebuah ruangan yang gelap dan sempit, Dino dan Chelsea terkurung di dalamnya dengan posisi tangan terikat ke belakang. Beruntungnya ia karena kakinya tidak diikat juga. Jadi Dino dan Chelsea terus mencari jalan keluar dari tempat itu.
Mereka tidak hanya berdua saja di dalam ruangan ini. Ada beberapa orang lain yang memiliki fisik sepertinya. Tapi kebanyakan dari mereka adalah anak muda sepertinya, 2 orang dewasa dan 1 anak kecil.
Dino tidak tega melihat ada Anak kecil yang terlibat dalam keadaan seperti ini. Beruntung Anak itu masih bersama dengan Ibunya.
Anak itu memiliki Death Eye pasti karena keturunan dari Ibunya. Dia terus menangis sambil memeluk Ibunya. Air mata Dino menetes. Chelsea melirik ke arahnya dan terkejut.
“Eh, Dino? Kau menangis?” tanya Chelsea bingung.
“Iya… aku kasian pada Ibu dan Anak di sana itu. Huhu… Chelsea… kita harus membebaskan mereka dari tempat ini!” Akhir kata, ia menegaskan.
“Eh? Bagaimana caranya? Kita tidak menemukan jalan keluar dari sini!”
“Huh, andai saja Rinda ada di sini.” Gumam Dino.
“Eh, Rinda? Oh iya. Aku sudah lama tidak melihat dirinya. Dia ke mana?” tanya Chelsea.
“Eh? Aku juga tidak tahu. Dia sudah lama tidak kelihatan lagi!”
“Apa dia sudah menemukan Kakinya?”
Dino menggeleng. “Entahlah.”
Mereka kembali terdiam. Dino melirik ke sekitar. Di tempat ini, semua orang sudah pasrah menunggu takdirnya. Apa pemilik Death Eye yang tersisah tinggal mereka saja?
Ini dikit sekali. Populasi Death Eye semakin langka. Dino sebagai sesama jenis dari mereka tidak boleh tinggal diam. Ia harus menghentikan ketidakmanusiawan ini! Tapi bagaimana caranya!?
“Chelsea, kita membutuhkan bantuan Rinda untuk keluar dari sini!”
“Eh? Tapi apa kau tahu Rinda sedang ada di mana sekarang?” tanya Chelsea.
“Tidaaak!” Dino berteriak.
Seketika semuanya terkejut dan langsung melirik ke arahnya dengan bingung.
“Eh? Dia kenapa?”
Semua orang saling berbisik membicarakannya.
Dino tidak mempedulikan omongan mereka. Lalu ia menyandarkan tubuhnga ke tembok dan melihat ke langit-langit ruangan itu. Di atas sana hanya ada banyak debu dan sarang laba-laba. Tempat itu juga sedikit menjijikkan.
Dink memejamkan matanya sebentar, lalu kembali membukanya. Ia melihat ada sosok cantik Rinda di langit-langit ruangan itu.
Sosok itu mungkin muncul karena Dino sedang membayangkan dirinya. Dino terdiam sambil menatapnya. Sosok Rinda itu semakin dekat.
“Di–Dino!” Seru Chelsea sambil menepuk bahunya Dino.
“Eh!?” Dino terkejut. “Ada apa?”
Ia melirik ke sekitar. Semua orang di sana sedang melihatnya dengan mata melotot mereka. Mereka mengekspresikan wajah terkejut sambil melihat ke atasku.
Dino bingung, sebenarnya apa yang mereka lihat?
*
*
*
__ADS_1
To be continued-