The Death Eye

The Death Eye
Eps 27– Jalan Bersama Chelsea


__ADS_3

Pukul 19:40 malam–


Di rumahnya, Chelsea hanya tinggal berdua saja dengan kakaknya. Kakaknya adalah seorang perawat Rumah Sakit yang baik dan ramah.


Dia bernama Mellia Wilona. Mellia hanya manusia biasa seperti yang lainnya. Dia berbeda seperti adiknya yang mempunyai Death Eye. Mereka adik kakak yang akrab, saling menyayangi dan melindungi satu sama lain.


Saat ini, Chelsea sedang membaca buku di kamarnya. Memang sudah menjadi kebiasaan Chelsea jika sedang bosan. Ia tidak bisa melakukan hal seru lainnya selain membaca buku. Makanya di kamar ia memiliki dua rak yang penuh dengan buku. Mau itu fiksi atau non fiksi.


“Sea, turun dulu! Ayo, makan malam bersama!” teriak kakaknya dari bawah.


Chelsea pun langsung menutup bukunya, dan pergi keluar kamar. Dia menuruni tangga, dan pergi menuju dapur untuk menemui kakaknya.


“Kakak masak apa hari ini?” tanya Chelsea.


“Kakak tidak masak. Kakak membeli makanan dari luar saat pulang kerja tadi.” Jawabnya.


Chelsea mengangguk pelan, lalu duduk di bangku dekat meja makan itu.


“Ini, makanlah!” Kak Mellia memberikan makanan yang tersaji di atas mangkuk untuk Chelsea.


“Eh, Sup Ayam?”


“Iya. Itu kan kesukaanmu, ayo makanlah!”


Chelsea mengangguk senang dan langsung memakan makanannya.


Setelah makan malam selesai, Chelsea mengucapkan “Terima kasih” atas makanannya pada kakaknya dan langsung kembali ke kamarnya.


****


Di kamarnya, Chelsea akan melanjutkan membaca bukunya. Lalu dia melirik ke arah jendela. Dia membuka jendelanya dan melihat banyak sekali bintang yang bersinar malam ini. Chelsea terus memandangi bintang-bintang itu sambil tersenyum.


“Indahnya… Dino pasti sedang melihat bintang-bintang itu.” Gumam Chelsea.


Eh, tapi setelah Chelsea mengucapkan kalimat itu, dia langsung terkejut dan Pipinya memerah. “Eh, aku mikirin apa sih tadi? Haduuh….”


****


-Di rumah Dino–


“Eh?”


Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar suara televisi yang berisik. Dino sedikit terkejut setelah melihat jam di kamar. Ternyata sudah malam. Ia bahkan tidak tahu sudah tertidur berapa lama.


Dino membuka jendela kamar untuk mencari udara segar. Dari depan jendela, ia bisa melihat banyak sekali bintang yang menghiasi langit malam. Indah sekali.


“Apa yang Chelsea lakukan, yah? Dia pasti juga sedang melihat bintang-bintang itu… hmm... Eh!?”


Pipinya seketika memerah. Dino menutup mulut dengan tangan kanannya sambil menahan tawa. Lalu kembali memandang bintang itu. Tak lama kemudian, ada bayangan wajah Chelsea di langit.


“Cantiknya…” Sekali lagi ia bergumam. Ia menggeleng cepat dengan pipinya yang memerah kembali. “Haduh, perasaan apa ini?”


Jantungnya berdetak cepat. Ia jadi merasa ingin cepat-cepat bertemu dengan teman perempuannya. Apakah ini tandanya? Dino mulai punya perasaan kepada Chelsea?


TRINING!


Ponselnya berbunyi. Dino langsung membukanya. Ternyata ada pesan dari Chelsea. Ia senang sekali. Langsung saja ia baca pesannya.


Chelsea: [ Dino, besok jadi, kan? ]


Dino tersenyum sambil mengetik ponsel untuk membalasnya. [ Iya jadi. ]


TRINING!


Chelsea mengirim pesan lagi, [ Oh baguslah kalau begitu. Aku jadi senang ^^ ]


[ Hmm... jam berapa kita pergi? ] Dino bertanya.


Chelsea kembali menjawab, [ Jam 10 pagi. Ada tempat yang ingin ku kunjungi bersamamu, Dino. Lihat saja besok! ]


TRINING!


[ Baiklah kalau begitu. ]


Mereka pun selesai mengirim pesan. Dino kembali menutup ponselnya lalu bergumam, "Kira-kira Chelsea ingin mengajakku ke mana, yah?"


TRINING!


Eh? Chelsea mengirim pesan lagi?


Chelsea: [ Good night, Dino ^^ ]


"Eh?" Dino kembali merasa wajahnya mulai memanas. Ia membalasnya sambil senyum-senyum sendiri.


[ Good night juga :) ]


Chelsea terlihat senang sekali malam ini. Ia menempelkan ponselnya di pipinya dengan bangga. Lalu ia kembali menatap bintang. Begitu juga dengan Dino di tempatnya.


Dia juga merasa senang. Tapi setelah itu, Dino kembali menutup jendelanya. Takut ada nyamuk masuk!


****


Keesokan harinya–


PIP PIP… PIP PIP….


Alarmnya berbunyi. Ini hari minggu. Rasanya Dino tidak ingin bangun dari tempat tidurnya. Lagipula sekarang masih jam 07:22. Ia mau tidur lagi.


Namun baru saja Dino menutup mata sebentar, tiba-tiba ponselnya berdering. Dino langsung melihatnya. Ternyata itu Chelsea yang menelpon.


“Halo...?”

__ADS_1


[Bangun tukang tidur! Kau ini seperti beruang yang sedang berhibernasi saja. Tidur melulu kerjaannya, sampai tidak kenal waktu, hehe…] Kata Chelsea.


“Waah… ngeledek nih anak.” Batin Dino.


“Iya, iya! Aku bangun, nih! Tapi kalau soal Beruang itu, dia berhibernasi karena datangnya musim dingin, dan kembali bangun di musim semi. Itu berarti Beruang juga tau waktu bangunnya dong! Sama seperti aku. Aku juga tau waktu buat bangun dari tempat tidurku. Kau itu bagaimana sih, Kutubuku kok tidak tau tentang berhibernasinya hewan!” terang Dino dengan nada meledek membalas Chelsea.


Chelsea tertawa kecil. [Tapi mereka itu bangunnya lama. Kau tau, kan? Dari musim dingin ke musim semi itu memerlukan waktu beberapa minggu. Jadi mereka bangun dari tidurnya itu memerlukan waktu yang lama. Sepertimu, kalau tidur, lama sekali untuk bangun. Hehe…] Chelsea kembali membalasnya dengan tertawa yang terkekeh-kekeh.


Dino tertawa. “Hehe… iya deh, terserah kamu saja! Aku menyerah saja pada perempuan!”


Chelsea senyum-senyum sendiri. Lalu dia kembali bicara. [Oke, untuk nanti, aku akan menunggu di depan rumahmu, ya!]


“Oke, baiklah!”


TUT!


 


Telpon diakhiri. Chelsea mematikan telponnya. Dino meletakan ponselku di atas meja dan kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Setelah telponan dengan Chelsea, rasanya jadi tidak mengantuk lagi.


Kalau begitu untuk menghabiskan waktu pagi ini sekalian menunggu waktunya berangkat tiba, Dino menyalakan televisi agar tidak bosan.


Ia melihat, ada berita tentang pembunuhan di sana. Seketika Dino langsung merasa geram melihatnya. Ia pun langsung mematikan televisinya.


"Aku benci dengan pembunuhan."


****


Pukul 10:00–


Sebelum Dino pergi bersama Chelsea, ia ingin menjemur pakaiannya dulu di atas atap rumah.


“Dinooo…!”


Tak lama muncul suara teriakan Chelsea dari bawah. Dino mengintip lewat pagar pembatas.


Ah! Ternyata Chelsea sudah datang. Dia datang cepat sekali. Lalu Dino langsung turun dari atap dan menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu untuk Chelsea.


Saat di depan, Dino membuka pintu. “Chelsea? Cepat sekali kau datang?”


Chelsea tersipu. “I–iya… ayolah, kita berangkat!”


Dino tersenyum. Wajah Chelsea yang sepeti itu sangat lucu. “Oke. Tunggu sebentar yah!”


****


Tap Tap Tap


Mereka berdua berjalan di pinggir trotoar. Dino merasa malu. Karena banyak orang yang melihatnya berdua dengan Chelsea. Dino berpikir kalau ia dengan Chelsea ini sudah seperti sepasang kekasih saja. Padahal mereka hanya berteman. Hari ini hanya sekedar jalan-jalan bersama saja.


“Oh iya, sekarang kita mau ke mana, Sea?” tanya Dino.


Chelsea memberhentikan langkahnya dan berpikir. “Hmm…” Dino menghadapnya sambil menunggu jawabannya.


“Eh, kau tau saja! Baiklah, kita makan di mana, nih?”


Chelsea menarik tangan Dino. “Ayo! Aku tau tempat makan yang bagus!”


****


Saat sampai di tempat yang ditunjukkan Chelsea, mereka langsung masuk ke dalam. Ternyata Chelsea membawa Dino ke sebuah tempat makan yang suka ia kunjungi bersama kakaknya. Kali ini ia ingin makan bersama dengan Dino.


“Di sini kau suka?”


“Tempat yang bagus, asalkan ada menu udangnya, hehe….”


“Kau suka udang, yah?” tanya Chelsea.


Mereka berjalan menuju ke tempat duduk yang masih kosong.


“Iya, begitulah!” Dino menjawab.


Setelah mereka duduk, ada seorang pelayan yang datang. “Selamat siang! Silahkan pilih menu kami hari ini…” Ucap si Pelayan itu.


Chelsea melihat-lihat menu makanan yang ada di buku. “Hmm… kau mau yang mana, Dino?” tanya Chelsea sambil menunjukkan Buku Menu itu dihadapan Dino.


“Yes! Benar ada udangnya. Yang ini saja!”


“Oke, aku juga! Saya pesan ini saja, Embak! Dua yah.”


“Baik, terima kasih. Tunggu sebentar yah!” kata pelayan itu dan pergi.


Setelah pelayan itu pergi, Dino langsung terdiam. Perasaannya tidak tenang dari tadi. Sepertinya ada yang sedang mengawasinya dan Chelsea. Hawanya mulai tidak enak di tempat itu.


“Dino!” seru Chelsea.


Dino terkejut. ”Apa!?”


“Dari tadi diam saja! Mikirin apa?” tanya Chelsea.


Dino melirik ke sekitar, lalu mendekat ke Chelsea. “Chelsea, aku merasa ada yang mengikuti kita. Apa kau merasakannya juga?” bisiknya.


“Iya, aku juga merasa begitu! Apa kita harus pergi dari sini?”


Dino menggeleng cepat. “Jangaaan!”


“Kenapa?” tanya Chelsea bingung.


“Nanti Udang Goreng pesananku tidak jadi dimakan deh!”


“Huh, dasar!” Chelsea tertawa kecil.

__ADS_1


Akhirnya, tak lama kemudian, Pelayan itu datang membawakan pesanan mereka. Dino senang sekali. Saat ia mencicipinya, ternyata Udang Goreng di tempat itu benar-benar enak.


“Nyam… nyamm…”


“Dino, makannya jangan cepat-cepat dong! Nanti tersedak, lho!” ujar Chelsea.


“Aku tidak bisa menahan godaan dari makanan ini. Enak sekaliii… nyam…. nyam!”


“Huuuh…” Keluh Chelsea sambil menahan tawa.


Kemudian siaran televisi di tempat makan itu berganti menjadi saluran Berita….


[ Berita terkini! Telah terjadi pembunuhan di sebuah rumah kosong di daerah…]


Entah kenapa nafsu makan Dino tiba-tiba menghilang saat mendengar suara reporter itu bicara di televisi.


[…Mayat ditemukan di dalam kamar korban dalam keadaan termutilasi. Sampai sekarang, Pelaku dari pembunuhan ini masih dicari-cari Polisi….]


“Sudah cukup! Aku tidak tahan mendengarnya!” Mendadak Dino berteriak. Seketika semua orang yang ada di sana terkejut dan memperhatikannya.


“Dino? Kau kenapa?” tanya Chelsea.


 


Dino tersentak. Ia jadi malu karena semuanya meliriknya dengan bingung. Secara perlahan, Dino pun langsung kembali duduk ditempatnya.


 


“Dino, ada apa?” tanya Chelsea kembali.


“A–aku hanya tidak suka mendengar berita di Televisi tadi.” Jawabnya pelan.


“Eh? Jadi hanya berita itu? Tapi kenapa?”


“Berita itu menceritakan tentang pembunuhan, aku muak mendengarnya. Aku benci pembunuhan!”


“Kau ini… padahal kau suka membunuh orang dengan matamu itu, tapi kenapa kau sendiri benci dengan pembunuhan? Haduuh…”


Dino terdiam sambil membuang muka. Lalu aku kembali memakan makananku lagi dengan lahap.


"Itu salah mataku. Bukan aku. Aku tidak menggunakan mataku untuk membunuh orang dengan sengaja."


****


Setelah makan, Dino dan Chelsea langsung pergi meninggalkan tempat makan itu.


“Baiklah… aku kenyang. Sekarang kita mau ke mana?” tanya Dino.


“Hmm… ada beberapa tempat yang mau aku kunjungi. Ayo!” Chelsea kembali menarik tangannya dan pergi.


Pertama, Dino diajak Chelsea pergi ke Perpustakaan Kota. Chelsea senang sekali berada di sana. Lalu setelah itu, mereka pergi nonton ke Bioskop. Hanya film tentang percintaan yang kami tonton.


Chelsea terlihat menikmatinya. Tapi Dino sendiri tidak mengerti maksud dari film itu.


Kemudian setelah selesai menonton, mereka pergi ke Kebun binatang pada siang harinya. Di sana juga sangat menyenangkan. Tidak hanya melihat-lihat berbagai macam binatang di sana, tapi, kami menyempatkan kesempatan ini untuk piknik bersama di taman dalam Kebun Binatang itu. Tamannya sungguh indah. Rumput hijau yang bersih dan bunga-bunga tertata rapih di sana.


Tak melupakan satu hal yang paling penting di tempat seperti itu, yaitu, pastinya kami berfoto bersama. Untuk dijadikan kenang-kenangan. Chelsea bisa bahagia sekali kalau berada di dekat Dino.


Lalu sore harinya mereka pulang setelah puas dengan jalan-jalan dan liburan hari Minggu ini.


****


Pukul 17:14 Sore–


Dino dan Chelsea akan pulang. Hari ini cukup menyenangkan. Saat ini, Dino dan Chelsea sedang berada di pinggir jalan sambil menunggu Lampu penyebrangan berubah hijau. Sambil menunggu, Dino ingin bicara sebentar dengan Chelsea.


“Hei, bagaimana jalan-jalannya? Menyenangkan tidak?” tanyanya pada Chelsea.


“Iya tentu saja! Aku senang sekali hari ini.” Jawabnya dengan senyum.


“Oke kalau begitu, kapan-kapan kita main lagi seperti ini, yah?”


Tidak ada jawaban dari Chelsea. Dino yang terheran langsung melirik ke arahnya. Dia hanya berdiam diri sambil menundukkan kepalanya. Ada apa dengannya?


“Chelsea?”


Belum ada jawaban darinya. Lalu tiba-tiba dia melangkah ke jalanan yang masih dilewati banyak kendaraan. Lampu Penyebrangan masih berwarna merah!


“Chelsea… tidaaak!” Dino menarik tangannya sampai dia terjatuh bersamanya. Semua orang yang ada di sekitarnya langsung melirik ke arah mereka berdua.


“Aduh!” Chelsea kembali tersadar. Saat ini ia sedang dipeluk oleh Dino. Untung saja dia tidak tertabrak mobil di jalan itu.


“Chelsea, apa yang kau lakukan!?” Dino menegaskan.


Chelsea tersentak mengerjapkan matanya. “Eh! Apa yang terjadi!?”


Dino sendiri jadi bingung. “Ada apa denganmu!?”


Chelsea kembali berdiri dan Dino melepaskan pelukannya. Dino yang membantunya berdiri. Terlihat banyak orang yang menatap ke mereka berdua.


TING!


Lampu penyebrangan akhirnya berubah menjadi warna hijau. Semua yang ada di dekat mereka dan orang-orang yang ada disebrang jalan sana, langsung melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan di atas Zebra Cross.


Chelsea masih belum menjawab. Jadi langsung saja Dino dan Chelsea juga menyebrangi jalan itu dan berjalan pelan menuju jalan pulang.


*


*


*

__ADS_1


To be continued-


__ADS_2