
“I, itu apa!?” Anak perempuan dipojok sana menunjuk ke arah Dino dengan tangan gemetar.
“Hantuuu!!” Anak kecil itu teriak dan memeluk Ibunya.
“Hantu?” Dino semakin bingung saja dengan ekspresi mereka. Lalu iamelirik ke Chelsea.
Chelsea juga terlihat terkejut. Lalu dia menunjuk ke atasnya Dino juga. Karena penasaran, Dino pun mendongak. Sebenarnya apa yang mereka lihat?
Saat Dino mengangkat kepalanya dan melirik ke atas, ia juga terkejut. Dengan cepat ia langsung berpindah tempat dan terduduk di samping Chelsea. Karena di tempatnya itu muncul sosok Rinda di sana!
“Rinda!? Apa itu kau?” tanya Dino dengan nada tidak percaya.
“Hai, Dino! Lama tidak berjumpa!” Rinda tersenyum sambil melambai. Ia yang tadinya melayang di udara, langsung mendekati Dino.
Sosok yang Dino lihat itu ternyata benar Rinda!
Ia tidak percaya ini. Dia datang disaat yang tepat. Dino sangat senang. Rinda bisa membantu mereka semua keluar dari tempat tersebut!
“Heee?! Si–siapa itu!?” Kejut salah satu orang di sana.
“Kenapa dia melayang dan bisa terbang begitu!?”
“Dia hantuu!!”
“Huuwaaa… Mama… aku takut!”
Semua orang di sana terlihat panik dan takut karena melihat sosok Rinda yang tidak seperti yang lainnya. Bisa melayang dan tidak memiliki dua kaki. Dino akan berusaha untuk menenangkan mereka.
“Kalian tenanglah! Perkenalkan, dia ini namanya Rinda. Dia benar hantu. Tapi dia hantu yang baik. Kalian jangan takut padanya. Rinda ini temanku dan teman kalian semua. Rinda datang kemari untuk membantu kita semua!” jelas Dino.
“Darimana kau tahu dia hantu yang baik, hah!? Jangan bercanda. Hantu mana mungkin bisa membantu kita semua!” Salah satu dari mereka itu membentaknya.
“I–iya… Karena dia ini temanku… Dia…”
“Namaku Rinda! Aku datang kemari karena aku mendengar Dino memanggil namaku dan meminta pertolonganku. Jadi aku datang ke sini hanya ingin membantu kalian semua keluar dari sini dengan selamat!” Kata Rinda. Ia melayang mendekati orang-orang itu. “Ayo! Kalian jangan takut padaku. Aku tidak menggigit dan tidak berbahaya, kok!”
Lalu secara perlahan, anak kecil itu melepaskan pelukan Ibunya dan berjalan mendekati Rinda yang ada di depannya.
“Riko! Jangan ke sana!” tegur Ibunya.
Anak kecil itu mendekatti Rinda. Rinda senang ada seorang anak kecil yang imut datang kepadanya. Rinda hanya diam saja di tempat. Anak kecil itu meraba-raba Kepala Rinda. Lalu dia tertawa kecil.
“Eh?” Semuanya bingung.
Anak kecil itu tertawa. “Ibu… hantu ini lucu!”
Lalu anak kecil itu menggenggam tangan Rinda dan menarik Rinda sampai pada Ibunya.
“Ibu, Dia benar-benar hantu yang baik!” ucapnya dengan senang.
Entah apa yang sudah dilakukan Rinda sampai dia bisa membuat anak kecil itu tertawa.
Semuanya mulai tertarik dengan Rinda. Mereka akhirnya mempercayainya. Melihat semuanya berkumpul pada Rinda, Dino jadi dapat ide untuk keluar dari tempat ini, tapi ia juga membutuhkan bantuan semua orang di sini.
“Umm… hei, kalian!” Serunya pada mereka. Semuanya memperhatikannya. Dino berjalan menghampiri Rinda dan beberapa orang di sana. Chelsea juga mengikutinya.
“Namaku Dino Dirmansyah! A–aku punya ide agar kita semua bisa keluar dari sini dengan selamat.” Katanya.
Semuanya mendekat kepadanya karena penasaran dengan ucapannya. “Bagaimana caranya?” tanya si anak perempuan dengan rambut yang di kuncir dua di sana.
“Akan kuberitahu, tapi agar aku lebih mudah mengenal kalian, apa kalian mau memperkenalkan diri kalian masing-masing dulu?” pinta Dino dengan ramah.
Semuanya mengangguk. “Baiklah!”
Pertama ada seorang anak perempuan muda berambut panjang yang cantik. Ia sepertinya seumuran dengan Chelsea. Dia pun mulai memperkenalkan dirinya. “Perkenalkan, namaku Vina Rahmawati. Salam kenal! Aku adalah seorang pelajar SMA.”
Kedua, Ada seorang laki-laki yang terlihat lebih muda dari Dino. “Kalau aku Randy Divanto. Aku juga seorang pelajar SMA.”
Ketiga, ada Pria dewasa berbadan besar. “Namaku Adith Pramata! Aku seorang pekerja kantoran.”
Keempat, ada Perempuan muda yang imut berambut panjang dikuncir dua. Dia terlihat seperti pelajar Sekolah Dasar. “A–aku Bilea Misyabella. Aku seorang pelajar SMP. Salam kenal!”
"Eh, ternyata pelajar SMP, aku salah, hehe…" Dino salah menduganya.
“Aku Chelsea Wilona. Seorang pelajar SMA juga!” Chelsea juga ikutan.
Lalu yang terakhir adalah Ibu si anak kecil itu. Ibu dan anak itu memperkenalkan dirinya. “Saya Nur Siti Rahmawati. Ini anak saya namanya Riko Putra. Tolong bantu kami keluar dari sini!”
Dino mengangguk pada ibu ifu sambil tersenyum. Lalu kembali berbicara pada mereka semua. “Baiklah, ayo berkumpul. Jadi seperti ini rencananya…. “
Dino membisikkan rencananya pada semua orang di sini. Semuanya mendapat tugas masing-masih dan mereka harus bekerja sama.
****
TAP… TAP… TAP….
“Liena, apa kau yakin kalau markas para penjahat itu ada di sini?” tanya Aldy.
“Mungkin saja! Tapi kalau salah, akan aku bunuh ketiga orang ini. Ayo cepat jalan!” Perintah Liena.
“Ba–baik!” Kedua orang tersebut mengangguk takut karena Liena.
Aldy dan Liena berjalan mengikuti ketiga orang-orang itu. Jika Orang-orang ini mencoba untuk kabur atau melawan, maka Liena tidak segan-segan untuk menggunakan matanya lagi dan menusuk mata mereka dengan tongkat yang dipegangnya.
Begitu juga dengan Aldy. Dia sudah bersiap untuk mengahadapi bahaya apa saja yang ada disekitarnya hanya dengan bantuan dari senjata berupa tongkat panjang yang dipegangnya dan juga bantuan dari Liena. Dia juga yang bertugas berjaga di belakang Liena.
“Eh, Na! Kita ke markas penjahat itu hanya berdua saja? Kan itu berbahaya! Bagaimana kalau kita lapor polisi saja. Ayo!” Usul Aldy.
Liena berpikir dahulu. Lalu ia menjawab, “Hmm… sebaiknya jangan. Karena kakakku… oh iya!” Tiba-tiba Liena teringat sesuatu.
“Ada apa, Na?” tanya Aldy.
“Aku lupa bertanya pada mereka.”
“Tanya apa?”
“Soal kakakku.” Liena menatap ketiga orang itu yang ada di depannya. “Hei kalian!” tegurnya.
Ketiga orang itu terkejut. “A–ada apa!?”
“Siapa Bos kalian?” tanya Liena.
Setelah ditanya, ketiga orang itu hanya diam saja sambil merinding ketakutan. Mereka tidak bisa menjawabnya.
“Kenapa diam saja? Cepat jawab! Siapa Bos kalian, hah!?” bentak Liena sambil menodongkan tongkatnya.
“Na–namanya Devan Idzhar Diwan!” Jawab si Botak dengan cepat.
Liena dan Aldy terkejut. “Eh, itu kan nama… Kakakmu, Na!”
__ADS_1
“Jadi selama ini, Kakakku dibalik semua kejahatan ini? Dia juga tega menangkap Kak Dino! Tidak akan aku biarkan Kakakku membunuh Kak Dino. Tidak!” Kata batin Liena.
“Liena, kau baik-baik saja?” tanya Aldy.
“Ayo cepat jalan lagi! Beritahu aku di mana markas kalian. Cepaaaat!!” bentak Liena.
“Ba–baik!”
Liena dan Aldy kembali melanjutkan perjalanannya dengan bimbingan dari ketiga orang itu yang merupakan anak buahnya Kak Devan.
****
Saat di dalam tempat Dino dan yang lainnya ditahan–
“Jadi bagaimana? Apa kalian semua mengerti?” tanya Dino setelah ia menjelaskan rencana yang ia buat.
Randy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit bingunv. “Aku sedikit mengerti, sih… tapi entahlah, apakah ini akan berhasil atau tidak.”
“Ayolah, belum dicoba belum tahu, kan? Ayo kita berusaha dulu kalau ingin keluar dari tempat ini!” tegas Dino.
“Yaa … aku rasa kita bisa mencobanya dulu!” kata Bilea.
“Iya bagus! Jadi apa semuanya setuju?” tanya Dino.
“Iya, oke!”
“Semangat!”
“Baiklah!”
Kami semua memulai rencana yang sudah dipersiapkan untuk keluar dari tempat ini. Pertama Rinda keluar pintu ruangan di sana untuk mencari kuncinya.
Rinda akhirnya menemukan kuncinya. Kunci itu tergantung di dinding tak jauh dari ruangan kami dikurung. Secara perlahan Rinda mengambil kunci itu. Akhirnya berhasil tanpa membangunkan kedua penjaga di sana. Ini terlalu mudah.
Setelah mendapatkan kuncinya, Rinda langsung memberikannya pada kami lewat bawah pintu tersebut. Dino membuka pintu ruangan ini dengan kuncinya dan akhirnya bisa keluar dari tempat itu dengan yang lainnya.
Namun sebelum keluar, Rinda akan melihat ke sekeliling dulu untuk memastikan kalau semuanya aman. Ternyata tidak ada siapapun di dekat sana kecuali hanya ada dua orang yang sedang tertidur di pojokan.
Karena tanda isyarat dari Rinda menandakan kalau semuanya aman, maka mereka semua perlahan melangkah keluar.
Dino sedikit bingung. Ia harus lewat mana terlebih dahulu. Karena markas rumah yang kali ini, berbeda dengan yang dulu.
Ia akan mencoba memeriksa beberapa ruangan terlebih dahulu. Ia pikir, mereka semua harus lewat pintu ini. Pikirnya pintu itu menuju ruang tamu. Tapi ternyata ia salah.
“Eh, ruangan apa ini?” tanya Riko.
Dino berbalik badan dan menghadap ke mereka semua untuk menjawabnya. “Mungkin ini ruangan… eh!?”
Dino melebarkan mata kanannya karena terkejut. Kenapa jumlah kelompoknya berkurang? Bilea dan Randy menghilang!
"A–apa yang terjadi? Bukannya mereka ada di belakang tadi? Kok tiba-tiba perasaanku tidak enak." Batin Dino cemas.
“Rinda, apa kau melihat Bilea dan Randy?” tanya Dino berbisik pada teman hantunya.
Rinda menggeleng. “Tidak! Bukannya dari tadi mereka dibelakang kita?”
“Iya, tadi mereka dibelakang. Tapi sekarang tiba-tiba saja mereka menghilang!” Dino mulai gelisah. Yang lainnya juga terlihat panik. Ia harus bagaimana? Rencananya sepertinya tidak berjalan lancar jika kedua temannya sudah menghilang entah ke mana.
Dino memanv tidak pandai dalam memimpin kelompok ini karena ia tidak bisa melindungi mereka semua. Bahkan, hilangnya Bilea dan Randy saja ia tidak tahu. "Aku benar-benar payah! Untuk kali ini, aku akan lebih waspada!"
“Eh, semuanya! Ayo kita pergi dari sini!” Ajak Dino. Ia dan kelompoknya kembali berjalan bersama-sama. Lalu tak lama kemudian ....
“KYYAAAAAAAA!”
Mereka semua mendengar suara teriakan Bilea dan Randy. Suaranya berasal dari dalam ruangan yang ada di hadapan Dino.
Secara perlahan Dino membuka pintu ruangan itu. Di dalam sana tidak ada siapa-siapa kecuali hanya ada Bilea dan Randy yang tergeletak tidak sadarkan diri di atas lantai kotor di sana.
Dino meminta semuanya untuk diam di depan pintu dan tetap waspada. Sementara dirinya ingin menghampiri kedua orang itu.
Saat di hadapan tubuh Randy dan Bilea, Dino terlebih dahulu berusaha untuk membangunkan Bilea.
“Bel, bangun! Hei, apa yang terjadi!?” Ia terus menggoyangkan tubuh Bilea. Lalu akhirnya Bilea membuka matanya dan mendongak dengan mata melotot tajam menatap Dino.
ZLEB!
“Aaaakh!”
Gerakan cepat dikeluarkan oleh Bilea. Ia menusuk perut Dino dengan tongkat besi runcing sampai tembus ke belakang tubuh Dino.
“Hahaha…” Bilea langsung tertawa dengan senyum yang menyeramkan di wajahnya yang imut.
Begitu Bilea bangun, Randy juga bangun dan dia membawa batang besi yang sama seperti Bilea di genggamannya. Tatapan mata mereka yang besar membuat Dino merinding. Apa yang telah terjadi pada mereka berdua!?
Dino meminta kelompoknya untuk pergi. Tapi saat ia berbalik badan, ia sudah tidak melihat teman-temannya yang lain. Begitu juga dengan Chelsea. Tidak! Semuanya menghilang!
Kejadian ini tidak seperti yang Dino harapkan. Ia tinggal sendirian di sini. Lalu Dino kembali berdiri dengan cepat dan langsung berlari pergi meninggalkan ruangan itu sambil memegang perutku yang terus mengeluarkan darah.
Dino terus berlari mencari tempat perlindungan di rumah itu. Ternyata ia berada di dalam rumah yang besar. Ia sempat melihat ke luar jendela yang ada di sampingnya.
Hari mulai petang di luar sana. Ia ingin keluar dari jendela tersebut. Tapi nyatanya jendela itu terlalu kecil untuk tubuhnya.
Karena merasa jendela itu tidak ada gunanya, Dino kembali berlari sampai akhirnya ia menemukan ada ruangan yang kosong. Dino ingin bersembunyi di sana untuk sementara.
Di dalam sana ia sudah merasa aman. Ia tidak merasakan kedatangan Rinda dan Belia lagi. Sepertinya mereka berhenti mengejar. Tapi Dino masih belum bisa keluar dari rumah ini. Entah. Ia juga tidak tahu sedang ada di mana sekarang.
Lalu di dalam ruangan itu Dino melihat ada tangga menuju ke bawah. Secara perlahan ia berjalan menghampiri tangga itu. Ternyata di bawah sana ada jalan lagi.
Dino merogoh saku jas sekolahnya dan menemukan sesuatu di dalamnya. Eh, barang itu ternyata adalah ponselnya sendiri. Ia pikir ponselnya diambil, tapi ternyata tidak.
Dino sangat bersyukur karena masih ada ponsel di genggamannya. Ia bisa menelpon seseorang untuk meminta bantuan. Tadi Dino terlalu panik sampai melupakan ponselnya sendiri.
“Kira-kira aku mau telepon siapa, yah?” gumamnya sambil scroll nomor kontak di ponselnya. “Ah, iya! Aldy!”
Dino menekan nomor Andy dan segera menghubunginya.
TUUUT… TUUUT….
“Aldy… kumohon angkatlah!”
****
DRRRTT… DRRRTTT….
Aldy terkejut, karena tiba-tiba saja ada sesuatu yang bergetar di dalam saku celananya. Ia merasakan getaran itu. Saat Aldy merogoh saku celananya, ternyata getaran itu berasal dari ponselnya yang berdering.
“Eh, ponselku berdering. Siapa yang telpon, yah? Jangan-jangan mamah!” kata Aldy.
“Coba kau angkat saja dulu. Siapa tahu itu penting!” kata Liena.
__ADS_1
“Tidak, ah! Ini mungkin telpon dari Mama. Mama pasti telpon karena aku belum pulang. Ah, aku takut dimarahin mama!”
“Angkat aja. Durhaka loh kalau tidak mengangkat telpon dari orang tua!”
Aldy berpikir sejenak. “Hmm… aku tidak berani melihat. Lebih baik kau saja yang angkat!”
“Tidak mau, ah! Kau saja sana. Coba lihat dulu siapa itu yang menelpon.”
“O–oke!” Aldy perlahan melirik ke layar ponselnya itu. Ia melebarkan mata karena terkejut. “Eh! Dino menelponku!?”
Liena langsung menghampiri Aldy. “Hah!? Kak Dino? Coba sini aku saja yang angkat!” Liena merebut ponsel Aldy.
“He–hey! Tadi katanya tidak mau!”
“Ssstt… Diam!”
TUT!
Liena akhirnya mengangkat telpon dari Dino. “Ha–halo kak Dino!”
[Ah! Akhirnya diangkat juga. Kenapa lama sekali, Dy!?]
“Hey, Kak! Ini aku Liena. Kakak ada di mana sekarang!?” tanya Liena.
BZZZTT…
[Ah, maaf, Na! Suaramu tidak jelas! Mungkin karena sinyalnya.]
Aldy dan Liena kebingungan. Ternyata mereka juga tidak bisa mendengar suara Dino yang sedang berbicara lewat telepon.
“Kak, kau ada di mana sekarang?” tanya Liena.
“Apa Chelsea bersamamu?” tanya Aldy.
[Aku tidak tahu berada di mana ini dan Chelsea menghilang. Aku sendirian di sini!] Jawab Dino pelan. Ia berbisik karena tidak ingin ketahuan oleh penjahat yang mengejarnya.
****
[Sekarang apa kau bisa mendengar suara kami dengan jelas?] tanya Liena.
“Iya, sepertinya sinyal di sini sudah mulai membaik!” jawab Dino.
[Oh, baguslah kalau begitu. Apa yang terjadi padamu, Kak?] tanya Liena lagi.
Dino akan mencoba menuruni tangga yang ada di depannya itu. “Aku tidak tahu. Seingatku tadi aku dipanggil ke ruang kepala sekolah, lalu setelah itu aku … eh!?”
[A–ada apa, Kak!?] tanya Liena.
“Ruangan apa ini? Kenapa banyak darah yang berceceran di sini!” batinnya kaget.
[Kak! Ada apa!?] tanya Liena lagi.
“Eh, tidak ada apa-apa, kok! Aku sedang mencari jalan keluar dari rumah ini.” Jawabnya sambil berusaha untuk menenangkan diri.
[Rumah mana yang kakak maksud?] tanya Liena.
“Entahlah, Aku tidak tahu.”
Karena merasa jijik dengan ruangan yang penuh darah itu, Dino kembali ke atas menaiki tangga. Saat di atas, ia akan mencoba kembali membuka pintu tempat persembunyiannya. Di luar sana terlihat aman. Lalu ia pergi meninggalkan ruangan tadi.
Dino sangat kelelahan. Tidak kuat untuk berlari lagi. Jadi ia hanya bisa berjalan pelan saja sambil menyusuri lorong-lorong di rumah ini.
Luka diperutnya juga masih belum membaik. Entah kenapa proses penyembuhan lukanya begitu lambat. Saat ini, Dino masih telponan dengan Liena dan Aldy di sana.
[Kak Dino? Kau baik-baik saja? Aku dengar nafasmu terengah-engah begitu. Kau tidak apa-apa, kan, Kak?] tanya Liena cemas.
“Iya, aku baik-baik saja. Tapi perasaanku saat ini sedang tidak baik.”
[Apa maksudmu, No?] tanya Aldy.
“Aku merasakan ada seseorang yang mengikutiku.”
[Eh, benarkah?! Kalau begitu kau berhati-hatilah. Aku dan Liena akan menemukanmu dan menyelamatkanmu. Kau tunggu saja!] tegas Aldy.
“Eh? Kalian ternyata sedang mencariku?” tanya Dino bingung.
[Iya. Kami akan segera menyelamatkanmu!] tegas Liena.
Dino berjalan sampai ke ujung lorong ini. Ternyata dipojokan sana ada tangga menuju ke bawah lagi. Dino hanya berdiri di depan tangga itu.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih. Kalian benar-benar sahabat baikku. Aku akan berjuang untuk mencari Chelsea dan jalan keluar dari sini!” ucap Dino dengan senangnya setelah mendengar kalau bantuan akan datang.
[Iya, Kak! Kami juga akan berjuang.]
****
“Kakak berhati-hatilah, di sana. Kami akan segera datang!” lanjut Liena.
[Iya, terima kasih. Beruntung aku punya sahabat seperti kalian. Aku sangat… tersentuh… Hahaha….]
Liena terkejut. Tiba-tiba ia mendengar suara orang lain di telepon itu. “Eh, suara ini….” Liena bergumam.
[Tidak ada jalan keluar dari sini. Percuma kau mau kabur….]
[UWWAAAAAAA!!]
GUBRAK!
TUT TUT TUT….
“Eh!? Dino! Dinoo!” Liena berteriak dengan ponsel Aldy. Begitu juga dengan Aldy.
“Kak? Kak Dino! Jawab kami!”
“Eh, Ah sial! Telponnya terputus!” geram Aldy sambil menepuk-nepuk ponselnya dengan kasar.
“Tadi aku mendengar suara teriakkannya Kak Dino. Dia pasti dalam bahaya! Ayo kita cepat pergi ke markas mereka!” tegas Liena.
“Iya. Hey, ayo kalian! Cepat lanjutkan perjalanannya!” bentak Aldy.
“Ba–baik!”
"Kak Dino... semoga kau baik-baik saja di sana." Liena memohon di dalam hatinya.
*
*
*
__ADS_1
To be continued-