
Keesokan harinya….
Yuri sedang bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerjanya. Lalu dia menengok ke Miya yang sedang duduk di depan cermin dalam kamarnya. Miya menatap dirinya di cermin. Yuri datang menghampirinya, membuat Miya terkejut.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kau tidak ingin kembali ke sekolah?” tanya Yuri.
“Iya, sebentar lagi, Bu!” Jawab Miya.
“Baiklah kalau begitu, Ibu duluan. Jangan lupa kunci pintunya jika kau ingin pergi!” Yuri menggendong tasnya. “Sampai nanti, Miya!”
“Iya, Bu!”
Miya masih menatap dirinya di depan cermin. Dia telah menyadari kalau dirinya sudah menjadi orang yang tidak benar. Lalu tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Sebuah masa lalunya yang indah.
****
~FLASHBACK
4 tahun yang lalu, Miya sedang berjalan dan berlari kecil menuruni tangga di Taman. Dia melihat banyak sekali bunga sakura yang berguguran. Miya memunguti daun-daun Sakura yang berguguran dan mengumpulkannya di tangan.
Saat sudah terkumpul banyak, Miya pun membawa daun-daun sakura itu dan berlari menghampiri Ibunya, Yuri. Miya menaburkan bunga sakura pada Ibunya. Dia berkata dalam Bahasa Jepang.
“Ibu, ini hadiah untukmu!” Kata Miya sambil menaburkan bunga-bunga Sakura berwarna merah muda.
“Terimakasih, Miya. Ibu senang sekali.”
“Eh, Ibu? Ayah… ayah kenapa belum pulang, Bu?” tanya Miya.
Yuri terkejut lalu mengerutkan keningnya. Dengan cepat ia menyentuh kedua pundak Miya dan berkata dengan nada tegas. “Miya, tolong jangan sebut nama ‘Ayah’ lagi! Sekali lagi Ibu bilang, kalau Ayahmu itu sudah meninggal karena dibunuh oleh Death Eye!”
Pupil mata Miya membesar dan matanya berkaca-kaca. Yuri mendesah berat dan berkata, “Ibu tidak mau kau menyebut atau bertanya-tanya lagi tentang Ayahmu. Karena dia sudah tidak ada bersama kita. Jadi, Miya, apa kamu mau membantu Ibu… untuk… membunuh pembunuh ayahmu itu?” tanya Yuri.
Miya mengangguk cepat. “Siapa orangnya, Bu!?” tanya Miya.
“Pembunuh itu adalah… para Death Eye! Ibu mau kau membunuh semua makhluk bermata kematian itu. Apa kamu mengerti, sayang?”
Miya mengerutkan keningnya dan mengangguk paham.
****
Jadi sejak saat itulah, Miya diperintahkan oleh ibunya untuk memburu para manusia Death Eye untuk membalas dendam.
“Apa aku tetap harus melakukan perintah Ibuku?” pikir Miya sambil menatap dirinya di cermin.
Keputusannya sudah bulat. Dia akan melanjutkan perintah Ibunya untuk membunuh para Death Eye mau bagaimanapun caranya.
Miya mengenakan jubah Hitamnya dan pergi keluar dengan membawa Kapaknya. Tujuan pertama Miya adalah…
sekolah!
****
Saat di Sekolah….
Tiny dan Tino sedang berada di kantin sekolah saat ini. Mereka ingin membeli makanan karena pagi ini, mereka lupa membawa roti dan bekal sebagai pengisi perut di pagi hari.
Setelah itu, mereka berdua duduk bersama dalam satu tempat. Tiny memakan makanannya, begitu pula dengan Tino.
Setelah itu, Tiny dan Tino pergi keluar dari Kantin dan langsung berjalan menuju ke kelasnya masing-masing.
Saat melewati lapangan, Tiny merogoh-rogoh kantung di roknya. Tiny mendapatkan permen dari dalam sana. Dia memberikan permen itu untuk Kakaknya.
“Terimakasih, Tiny!” Ucap Tino sambil menerima permen pemberian dari Tiny.
Tino menyimpan permen itu di saku celananya dan berniat akan memakan permen itu saat jam istirahat nanti.
Saat di depan kelas, seperti biasa, Tino akan menghantar Tiny masuk ke kelasnya terlebih dahulu agar dia tidak diganggu oleh anak-anak nakal itu lagi.
Namun saat baru saja melewati pintu kelas, tiba-tiba saja ada yang melempar bola Basket besar ke arah Tino. Seketika hantaman bola itu mengenai kepala Tino.
Karena terasa terdorong sangat kuat oleh bola itu, Tino tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan akhirnya terjatuh. Sekali lagi kepalanya membentur dinding di depan kelas. Tiny menghampiri Kakaknya dengan cepat.
“Ups! Maaf. Tadinya aku ingin mengenai si mata satu itu, eh, malah jadi kena Kakaknya, deh!” Kata seorang laki-laki dengan nada mengejek.
__ADS_1
Itu Ridwan. Dia merupakan salah satu dari laki-laki terpopuler di sekolah dan dia juga masuk dalam kelompoknya Alivia. Sejujurnya, dia adalah laki-laki yang menyukai Alivia.
Semua anak di luar kelas, maupun di dalam kelas, melihat kejadian itu. Dio yang baru sampai di Sekolah pun sempat melihat kejadian tersebut.
Tiny terus mengusap-usap kepala Kakaknya yang sakit. Tapi tiba-tiba, Tino berdiri secara perlahan dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam kelas Tiny. Ia berniat akan menghajar anak yang telah menyakitinya.
Tapi perlahan, langkah Tino semakin pelan. Dia berjalan sempoyongan dan akhirnya Tino terjatuh kembali ke lantai.
Tiny terkejut. Dengan cepat, ia kembali menghampiri Kakaknya. Kemudian ia melirik ke arah Ridwan.
Tiny kembali dikejutkan oleh sesuatu setelah melihat Ridwan. Karena Tiny melihat mata Ridwan yang berubah menjadi bentuk seperti Death Eye lalu kembali seperti semula. Siapa sebenarnya dirinya itu?
Tiny membalikkan tubuh Kakaknya. Ternyata Tino sudah tak sadarkan diri di tempatnya. Semua anak di kelas menjadi panik dan langsung bergegas menolong Tino. Kecuali hanya kelompok Alivia saja yang berdiam diri. Ketua mereka duduk di atas meja sambil senyum-senyum sendiri.
“Kerja bagus, Ridwan!” Puji Alivia.
“Ah, Iya, terimakasih.” Ridwan terlihat sangat senang setelah mendapat pujian dari orang yang disukainya.
“Mungkin karena kejadian ini, kau akan di skors oleh pihak sekolah. Tapi tenang saja, aku akan membantumu!” Kata Alivia lagi. “Aku tidak sabar untuk segera melenyapkan si mata satu itu. Tapi kita harus menyingkirkan Kakaknya terlebih dahulu.”
“Iya!”
****
Saat di UKS, Tiny selalu setia untuk menunggu Tino bangun. Dia rela meninggalkan pelajaran di Kelas hanya untuk Kakaknya.
Tapi saat ini, tiba-tiba saja, Tiny merasa ingin ke Toilet sebentar. Dia pun pergi keluar UKS dan langsung berlari ke arah yang ia ingin tuju saat ini.
“Huh, aku selamat berkat Alivia.” Gumam Ridwan saat dia keluar dari Ruang BK.
Ridwan sedang berjalan kembali ke kelasnya. “Biarkan saja aku yang kena masalah di sekolah ini, tapi yang terpenting, aku bisa puas untuk menghabisi anak-anak menyebalkan itu!”
Ridwan kembali menatap jalan di depannya. Dia melihat seseorang. Kakinya berhenti melangkah dan matanya memperhatikan orang yang tak jauh di depannya itu.
Ia melihat ada seorang anak kecil yang mengenakan baju hitam panjang yang sedang membelakangi dirinya. Lalu secara perlahan, anak itu membalikkan tubuhnya.
Wajah dari anak tersebut setengah terlihat karena tertutupi oleh bayangan dari tudung jubah yang dikenakannya.
Ridwan terkejut, karena tiba-tiba saja anak itu tersenyum padanya. Lalu mulut anak itu mengeluarkan lidahnya dan menjilati bibir atasnya.
Ia mundur ke belakang. Mencoba untuk menjauh dari anak kecil menyeramkan di depannya. Karena merasa terancam, mata Ridwan berubah menjadi Death Eye dengan sendirinya.
“Ketemu!” Anak kecil itu bergumam, lalu berbalik badan. Tapi wajahnya masih tidak kelihatan karena tudungnya yang menghalangi matanya.
Ridwan akan membela diri dengan mata kematiannya jika anak yang ada di depannya itu mulai melakukan hal aneh padanya.
Tapi sepertinya, mental Ridwan mulai berkurang sejak anak itu menunjukkan Kapak yang ada di sampingnya. Mau tidak mau, Ridwan harus lari dari anak itu.
Ridwan berbalik badan dan segera berlari sekuat yang dia bisa. Dia akan meminta bantuan para guru untuk menyelamatkannya. Maka dari itu, Ridwan berlari ke lorong yang ia lewati tadi, yaitu lorong menuju ke Ruang BK.
Anak yang di belakangnya juga mengejar Ridwan. Lalu karena tidak mau membiarkan Ridwan lolos, Anak itu melemparkan Kapaknya dengan cepat. Seketika, Kapak itu melayang dan terjatuh ke arah Ridwan.
“UWAAAAA…A…A….”
****
Tiny terkejut. Dia mendengar suara teriakan seseorang yang tak jauh darinya. Tiny segera menuju ke arah sumber suara yang ia dengar itu.
Teriakan tadi telah membawanya sampai di depan Kelas yang sudah terbengkalai di lorong tak jauh dari Ruang BK.
Tiny menelusuri lorong itu. Lalu dia menemukan ada bercak darah di lantai. Tiny terkejut. Tapi karena penasaran, Tiny akan mencoba untuk mengikuti bercak darah itu.
Sampai akhirnya ia keluar dari lorong yang menyeramkan. Tanpa membuang banyak waktu, Tiny tetap mengikuti dan mencaritahu darah itu berasal.
Tepat di depan tangga menuju ke atap, Tiny memberhentikan langkahnya. Karena sampai situ saja bercak darah menetes. Tidak ada darah lainnya. Apa Tiny harus ke atap?
Ya! Karena penasaran, Tiny akan mencoba untuk memeriksa ke atap.
Dia menaiki beberapa anak tangga dan akhirnya sampai di tempat tertinggi di sekolahnya. Udaranya sangat segar di sana. Tapi membuat hati Tiny merinding. Dia masih penasaran dengan darah itu.
“Kau lezat! Matilah.”
Tiba-tiba, Tiny mendengar ada suara orang lain di sana. Telinganya sangat berfungsi dengan baik. Dia memanfaatkan indra pendengarannya itu untuk mencaritahu asal suara itu.
__ADS_1
Lalu setelah Tiny maju beberapa langkah, ia melihat ada seseorang yang berdiri di pinggir tembok pembatas di sana. Lalu dengan cepat, Tiny berlari ke tempat orang tersebut berdiri.
“Kau adalah anak Death Eye, jadi… matilah kaauuu!”
BUK!
Tiny datang dan langsung mendorong anak berjubah itu sebelum dia menusuk Ridwan dengan Kapaknya. Tudung jjubahnya terbuka dan wajah anak itu pun terlihat.
Ternyata dia Miya!
“Tina?!” gumam Tiny dalam hati.
Karena belum mengetahui nama asli dari Miya, maka Tiny tetap akan memanggilnya dengan nama samarannya, yaitu Tina.
Tiny terkejut. Dia tidak percaya, kenapa temannya yang baik itu bisa berubah menjadi anak yang sadis dan suka menyiksa orang?
“Ada siapa di sana? Tolong lepaskan aku!” teriak Ridwan.
Tiny terkejut. Miya juga mengikat dan menutup mata korbannya sebelum ia bunuh. Kaki dan lengan Ridwan terluka. Tadinya, Tiny akan melepaskan ikatan Ridwan, tapi tiba-tiba Miya kembali berdiri dan langsung memukul wajah manis Tiny.
“Tiny! Beraninya kau mengganggu hobiku!” bentak Miya.
“Tiny? Apa anak cengeng itu ada di sini sekarang?” batin Ridwan.
Tiny kembali berdiri sambil memegang pipinya yang sakit akibat dari pukulan Miya itu. Kemudian ia mengeluarkan Notebook kecilnya dengan pensil dan menulis sesuatu. Lalu dengan cepat, ia memperlihatkan tulisannya itu pada Miya.
‘Jangan lakukan hal ini, Tina!’
“Heh! Untuk apa aku berhenti!? Aku harus membunuh banyak Death Eye saat ini. Termasuk kau juga!” Bentak Miya lagi.
Tiny menulis dengan cepat sebelum Miya kembali menyerangnya. ‘Kenapa kau tega melakukan hal seperti ini!? Dan kenapa kau juga ingin membunuhku?’
Miya mengeluarkan senyum kejinya dan menjawab. “Karena manusia seperti kalian ini telah membunuh Ayahku!” Miya mengerutkan keningnya dan menggeleng pelan. “Kalian para Death Eye memang tidak punya hati!”
Tiny kembali menulis, tapi tiba-tiba, tangan kanan Tiny dipukul dan Miya langsung mencekik leher Tiny, lalu mengangkatnya ke atas.
Tiny menjatuhkan Notebook-nya, lalu kedua tangannya perlahan menggenggam kedua tangan Miya yang sedang mencekiknya itu.
Miya melangkahkan kakinya ke depan dan mengarahkan tubuh Tiny di pinggir tembok pembatas. Ia akan menjatuhkan Tiny dari atas sana. Sedangkan Tiny berusaha untuk melepaskan dirinya dan ia selalu menggeleng agar temannya itu jangan memperlakukan dirinya seperti ini.
Tapi Miya tetap tidak mempedulikannya. Lalu secara perlahan, satu per satu, Miya mulai membuka jari-jarinya. Jika kelima jari itu terbuka, maka Tiny akan jatuh!
tap Tap TAP….
Miya mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari menghampirinya. Miya melirik ke belakang dan….
BRUK!
Sesuatu telah terjadi!
Tino datang dengan kursi kelas yang ia bawa untuk memukul Miya. Tapi ternyata Tino salah target. Ternyata hantaman kursi itu mengenai Tiny.
Oh tidak! Miya menggunakan Tiny sebagai perisai untuk melindungi dirinya.
“Hihihi… sudah kuduga kalau hal ini akan terjadi. Seperti biasa, Jika adiknya dalam masalah, maka Kakaknya akan datang untuk menyelamatkan adiknya. Tapi saat ini, dia tidak berhasil menyelamatkan, malah sebaliknya. Kakaknya sendiri telah melukai adik kecilnya.” Ujar Miya sambil tertawa.
“Tiny! Oh, tidak. A–aku salah!” gumam Tino dengan perasaan menyesal.
Miya melempar tubuh Tiny ke hadapan kakaknya. Tino pun langsung memeluk Tiny yang tak sadarkan diri itu. Tanpa berkata apa-apa, Tino menatap tajam pada Miya dengan ekspresi marah.
Miya hanya tersenyum. Lalu dia mengambil kembali Kapak yang ada di bawahnya dan melambai pada Tino.
“Aku akan membunuhmu lain kali! Sampai jumpa. Kita akan bertemu lain waktu!”
Setelah kata-kata itu, Miya pun melompat dari atas gedung sekolah. Tino terkejut. Lalu dia kembali berdiri dan berniat akan mengejar anak perempuan itu. Tapi ternyata, Miya sudah menghilang entah ke mana.
"Muatahil! Pergi ke mana dia?"
*
*
*
__ADS_1
To be continued–
Ig: @pipit_otosaka8