
1 bulan kemudian–
Tiny sudah bisa kembali bersekolah seperti Tino. Dino yang menghantar mereka berdua seperti biasa ke sekolah. Semenjak kecelakaan itu, Tino berjanji akan selalu menemani dan melindungi adiknya agar kejadian seperti sebelumnya tidak akan pernah terulang kembali.
BLAM!
Semuanya keluar dari mobil dan membanting pintu mobil. Tiny masih terlihat ketakutan saat melihat gedung sekolah yang ada di hadapannya. Di dalam pikirannya, gedung itu adalah rumah hantu besar yang menyeramkan, diisi oleh monster dan iblis yang jahat.
Tapi untuk hari ini, Tiny akan berusaha untuk tenang dan melupakan kejadian yang menimpanya dulu.
Sebenarnya, Tiny sudah memberitahu pelaku yang sudah mendoronganya dari atap kapada kakaknya, Tino. Tapi Tiny masih belum memberitahukan kepada orangtuanya.
Tino juga tidak akan memberitahukan pada orangtuanya karena dia sudah berjanji pada adiknya untuk menjaga rahasia. Adik kakak itu menjaga rahasia mereka untuk selamanya.
“Nah, anak-anak, kalian tunggu apalagi? Ayo masuk ke kelas kalian dan Tiny... berhati-hatilah. Jangan bersikap ceroboh lagi, oke?” pesan Dino pada kedua anak kembarnya.
Tiny menulis kata-kata di atas kertas notebook kecil yang ia bawa sebagai alat komunikasi.
‘Oke ayah!’ Kata itulah yang dia tulis.
Kemudian dia kembali menulis lagi dan langsung menunjukkan padaku. ‘Ayah juga berhati-hatilah’
“Oke, baiklah. Sampai nanti, anak-anak!” Dino melambai pada mereka. Kemudian, ia masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya sampai keluar gerbang sekolah lalu pergi menuju ke tempat kerjanya seperti biasa.
Dino sudah pergi dengan mobil yang ia kendarai. Sementara Tino dan Tiny masih berdiri di depan gedung sekolah. Tiny menulis sesuatu untuk kakaknya. Dia menunjukkan tulisannya,
‘Terima kasih karena sudah berusaha untuk tidak memberitahu ayah dan ibu tentang kecelakaan itu.’
Tino tersenyum. “Iya tidak masalah. Sekarang kau tidak perlu takut. Aku akan selalu ada di dekatmu. Kalau ada yang ingin berniat jahat lagi padamu, kamu tinggal bilang ke aku saja, yah?”
Tiny mengangguk senang. Lalu setelah itu, mereka berdua bersama masuk ke dalam gedung sekolah dan berjalan menuju kelasnya masing-masing.
****
Saat sampai di depan kelas, Tino mengantar Tiny masuk ke dalam kelasnya. setelah itu, Tino pergi ke kelasnya sendiri. Di dalam kelas Tiny, seperti biasa, semuanya menatapnya sinis.
Tapi Tiny berusaha untuk tenang dan tidak peduli dengan sikap teman-temannya. Tiny akan menghabiskan waktunya dengan membaca buku sambil menunggu bel masuk kelas berbunyi.
Tak lama kemudian, dibelakangnya Tiny mendengar ada beberapa anak yang membicarakan dirinya. Termaksud dari kelompok anak-anak nakal dengan pemimpinnya, yaitu Alivia yang sangat membenci Tiny. Kemudian Alivia beranjak dari kursinya dan berhadapan dengan Tiny.
“Heh, si mata satu ternyata kembali sekolah lagi, yah. Rajin sekali. Kupikir, setelah kau jatuh dari gedung itu, kau sudah mati. Ehe, ternyata malah hidup lagi.” Kata Alivia dengan nada mengejek.
Hanya diam saja dan tidak mempedulikan omongan orang yang ada di depannya, Tiny terus fokus membaca buku.
Tiny terlihat cuek saja. Tapi dalam hatinya, ia bergumam, "Andai aku bisa menggunakan mataku ini untuk membunuh mereka. Tapi sayangnya ayah melarangku."
“Hei, mata satu! Tatap aku kalau aku sedang bicara denganmu!” Bentak Alivia sambil merebut buku yang dibaca Tiny itu.
Setelah bukunya dirampas, Tiny pun langsung berdiri dan merebut kembali bukunya itu, lalu berjalan menuju pintu kelas. Tiny lebih baik meninggalkan anak itu daripada harus berhadapan dengannya.
Tapi tiba-tiba saja, rambut Tiny ditarik Alivia ke belakangnya sampai Tiny terjatuh. Setelah itu, Alivia kembali menarik kerah baju Tiny dan mengangkatnya. Dengan ekspresi dingin, Tiny tetap tenang saat Alivia memperlakukannya seperti itu karena dia tahu kalau….
PLAK!
Kakaknya akan datang dan menolongnya. Tino datang dan langsung menampar wajah Alivia dengan keras. Semuanya terkejut. Alivia melepaskan Tiny dan langsung menatap geram pada Tino yang ada di sampingnya.
“A–apa-apaan kau!? Apa yang kau lakukan?” bentak Alivia.
PLAK!
Tino tidak menjawab. Ia kembali menampar wajah Alivia sampai pipinya memerah.
“’Apa yang kau lakukan?’ Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Apa yang kau lakukan pada adikku!?” bentak Tino. “A-aku tidak akan tinggal diam jika ada yang berusaha untuk menyakiti adikku lagi! Sekarang juga, kau harus merasakan apa yang adikku rasakan selama ini!”
Tino mengepal tangannya kuat-kuat dan dia berniat akan memukul Alivia sampai puas. Alivia hanya bisa duduk ketakutan sambil memegangi pipinya.
Tapi sebelum Tino mengayunkan pukulannya untuk memukul Alivia, Tiny sempat menahan serangan kakaknya. Ia memeluk kakaknya sampai Tino menghapus amarahnya.
__ADS_1
“Tiny, apa yang kau lakukan?” tanya Tino bingung.
Tiny menulis, ‘Jangan lakukan itu. Nanti yang ada, kakak yang akan kena masalah. Kakak tidak boleh membalasnya dengan kekerasan, kerena dia seorang anak perempuan.’
Tiny kembali menulis, ‘Sudah biarkan saja. Aku sudah merasa lebih baik sejak kakak datang menolongku. Terima kasih ^^’ Tiny sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum kepada kakaknya.
“Baiklah kalau begitu. Kali ini kalian semua selamat. Kalau bukan karena permintaan adikku, aku pasti sudah menghabisi kalian! Sekarang, ayo kamu ikut kakak saja. Kita main bersama. Jangan di sini.”
Tino menatap tajam pada semua murid yang ada di kelas termasuk Alivia. “Kakak akan bertindak lebih keras lagi jika ada yang mengganggumu, Tin!” lanjutnya dengan suara yang agak menyeramkan.
Saat Tino dan Tiny pergi keluar kelas, Alivia kembali berdiri dan menghadap ke semua anak di kelas. Semuanya membicarakan tentang dirinya sampai Alivia mendengarnya.
“Wah, baru pertama kali aku melihat Alivia ditampar murid di sini!”
“Iya, aku juga.”
“Aku pikir, si kembar bermata satu itu lebih hebat dari Alivia!”
“Hii… aku sekarang jadi takut ngebully si kembar itu. Sekarang aku sudah tidak takut dengan Alivia.”
Semua omongan teman-temannya itu membuat Alivia semakin geram. Baru kali ini dirinya dipermalukan oleh orang yang dia bully.
“Apa yang kalian bicarakan, hah!? Cepat pergi sana!!” bentaknya geram dengan tatapan mata tajam.
Lalu seketika semua anak di kelas langsung berlari keluar. Tersisah hanya beberapa anak yang masuk dalam kelompoknya. Kemudian, Alivia menatap tajam pada teman-temannya. Dia pun berjalan cepat menghampiri mereka.
“Kalian! Kenapa kalian hanya diam saja tadi!? Kalian tidak membantuku! Seharusnya kalian menghentikan kakak si mata satu itu. Sakit tau wajahku ditamparnya!” bentak Alivia lagi.
Semua teman-temannya menunduk ketakutan. “Maafkan, kami!”
Alivia berbalik badan melangkah perlahan sambil memikirkan sesuatu dengan berfumam, “Huh, tak kusangka Tino bisa memukulku seperti ini. Dia kejam sekali padaku. Tapi… kenapa dia bisa tiba-tiba muncul? Hmm… ah!"
"Apa mungkin ini semua sudah direncanakan oleh si mata satu itu? Dia sengaja ingin mempermalukanku di depan semua anak kelas. Dasar tukang ngadu! Akan kubalas perbuatannya nanti!”
KRIIING… KRIIING.…
Pikir Alivia, Tino akan segera pergi meninggalkan kelas, jadi dia masih ada waktu untuk bicara dengan Tiny dan membalas dendam.
Tapi ternyata tidak. Tino berdiri tepat di depan pintu kelas sambil menunggu guru yang mengajar di kelas itu masuk dan kemudian Tino akan pergi ke kelasnya sendiri.
“Dasar, tidak bisa diharapkan!” gumam Alivia kesal.
Tino hanya tersenyum keji pada Alivia.
****
Lalu tak lama kemudian, akhirnya guru yang mengajar pun datang. Tino terkejut dan langsung memberi salam kepada guru tersebut yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
“Eh, Tino? Kamu sedang apa di sini? Bukankah kelasmu di sebelah?” tanya Bu guru.
“Ah, tidak apa-apa kok, bu! Em, saya pergi ke kelas saya dulu, yah!” Tapi saat hendak pergi ke kelasnya, Tino menabrak seseorang yang ada di belakang bu guru. “Eh, maaf! Aku tidak sengaja… eh?”
“Oh, Tino, kamu pasti baru melihat anak ini, yah?” tanya bu guru lagi.
Tino menggaruk kepalanya. “Iya, bu. Hehe… apa dia anak baru?” bisiknya pada bu guru.
Ibu guru mengangguk. “Iya. Perkenalkan, namanya Tina Santika Putri. Dia murid baru di kelasnya adik kamu.”
“Ooh…,” Tino mengangguk senang.
“Baguslah kalau dia masuk kelasnya Tiny. Semoga anak itu tidak mengikuti pergaulan yang tidak benar di kelas Tiny dan menjadi teman baiknya Tiny.” Batin Tino.
“Anak-anak, harap tenang, yah. Hari ini kita punya teman baru di kelas. Ayo perkenalkan namamu!” ujar Bu guru.
“Hai, teman-teman, namaku Tina Santika Putri. Salam kenal!” Tina melambai tangannya pada murid-murid dikelasnya. Tapi, setelah Tina memperkenalkan dirinya, dia tidak disambut hangat oleh yang lainnya melainkan malah dibicarakan.
Perasaan Tina jadi sedih dan kecewa. Tiny melihat wajah teman barunya yang masam. Kalau begitu, Tiny akan mencoba untuk menghiburnya. Tiny pun menulis sesuatu di Notebook miliknya. Kemudian setelah itu, dia mengacungkan tangannya dan menunjukkan hasil tulisannya itu kepada Tina yang ada di depannya.
__ADS_1
Tina pun membaca tulisan itu.
‘Salam kenal juga. Aku senang bisa dapat teman baru. Mari kita berteman bersama’
Tina tersenyum kepada Tiny. “Baiklah kalau begitu.” Tina dan Tiny pun berjabat tangan. Kemudian, Tiny menulis lagi dan menunjukkannya kepada Bu guru.
Ibu guru membacanya.
‘Ibu, boleh dia duduk di samping tempatku?’
Ibu guru tersenyum dan mengangguk kepada Tiny. Tiny sangat senang sekali. Selama ini, dia tidak pernah dapat teman sebangku seperti yang lainnya. Dia duduk di yang paling depan, tapi sendirian.
Sedangkan anak yang lainnya pasti duduk berdua dengan temannya sendiri. Akhirnya Tiny mendapatkan teman yang baik untuknya. Tina duduk di samping Tiny.
Sesaat kemudian, Tiny kembali menulis dan menunjukkannya kepada Tina. Tina membaca tulisan Tiny lagi.
‘Senang rasanya bisa menjadi teman sebangku denganmu. Perkenalkan, namaku Tiny Willona. Semoga kita bisa menjadi teman baik!’
Tina mengangguk senang. “Baiklah!”
Jadi, hari ini Tiny sudah memiliki teman baru yang baik untuknya. Senang sekali rasanya. Tapi perasaan senang itu belum sempurna.
Karena masih ada banyak orang di belakang mereka yang tidak suka dengan pertemanan Tiny dan Tina. Mereka berdua selalu diejek dan ditindas. Tina juga suka dibujuk oleh kelompok anak-anak nakal itu untuk menjauhi Tiny dengan mengumbarkan aib kejelekannya. Padahal itu tidak benar.
****
Saat jam istirahat–
Tiny dan Tina akan pergi ke kantin bersama. Tapi tiba-tiba, Tina diajak Alivia untuk bergabung di kelompoknya. Alivia pun membisikkan sesuatu pada Tina. Tiny mendengar pembicaraan mereka.
“Tina, kau kan anak baik, jadi ngapain sih main sama anak seperti itu. Sudah cacat, punya mata hanya satu, tidak bisa berbicara dan cengeng. Apa kau tidak malu punya teman sepertinya?” bisik Alivia pada Tina.
Tina mengangguk paham dan berpikir sejenak. Lalu dia melihatku sinis. Tiny tidak percaya ini. Bisikan iblis itu sudah mempengaruhinya!?
Ini tidak mungkin!
“Bagaimana menurutmu? Ayolah! Tinggalkan saja dia. Ayo, kau akan lebih baik jika bermain dengan kami.” Bujuk Alivia sekali lagi.
Tina mengangguk dan tersenyum. “Hmm… baiklah!”
Tiny terkejut. Tidak mungkin dia dengan mudahnya terpengaruh oleh bujukan itu. Tina telah mengambil jalan yang salah.
“Tapi….”
Eh? Dia ternyata belum selesai bicara. Jadi bagaimana kah keputusannya?
“Tapi aku tidak mungkin bermain dengan kelompok yang sudah memilik banyak teman. Seharusnya, aku mendekati anak yang tidak punya teman. Seperti Tiny. Dia belum punya teman dan seharusnya aku menemaninya!” Tina langsung berlari mengahmpiri Tiny dan menggandeng tangannya.
“Ayo kita pergi!” Ajak Tina.
Karena tawarannya ditolak, Alivia menjadi geram. Dia tidak bisa menerima ini. Alivia berniat akan memukul Tiny. Dia mengayunkan tangannya ke atas dan….
BUK!
“Eh!?” Alivia terkejut.
Tiny dan Tina juga terkejut saat mereka berbalik badan. Karena pukulan dari Alivia itu mengenai wajah Tino!
*
*
*
To be continued–
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1