The Death Eye

The Death Eye
Eps 18– Ulang Tahun itu Tidak Menyenangkan


__ADS_3

BRAK!


Tino membanting pintu kamarnya dengan sangat keras. Ia benar-benar kesal. Begitu juga dengan Tiny.


“Ah, Ini menyebalkan!” gerutu Tino kesal. “Kenapa ibu dan ayah tidak mengingat ulang tahun kita, sih!?”


Tiny menulis. ‘Mungkin mereka hanya lupa, kak!’


Tino mengerutkan keningnya sambil memandang Tiny yang ada di depannya. Tiny kembali menulis.


‘Jangan marah pada orang tua kalau mereka tidak mengingat ulang tahun kita. Karena kita sendiri pasti tidak tahu ulang tahun mereka, kan?’


“Eh! Aku tahu ulang tahun Ibu dan Ayah. Dulu, kita memberikan hadiah untuk mereka. Dan sekarang apa? Mereka tidak mau memberikan hadiah pada kita. Mereka tidak membalas perbuatan baik pada kita. Ah! Kesal!” Tino semakin geram.


Tiny mengerutkan keningnya. Lalu ia menonjok perut Tino dengan kesalnya. Jika Tiny bisa bicara, ia akan membentak "bodoh!" pada kakaknya.


Tino pun terkejut dan langsung menatap Tiny tidak percaya. Kemudian Tiny kembali menulis, ‘Kakak suka dengan ulang tahun itu hanya karena kakak mengharapkan hadiah dari orang lain?!’


Tiny menulis lagi, ‘Itu berarti kakak sangat egois!’


Tiny menulis lagi. Kali ini, lebih lama.


‘Hadiah itu tidak penting, Kak! Karena dalam hari jadi itu, yang paling penting adalah kebersamaan dengan kelaurga. Kita masih memiliki orang tua, Kak. Seharusnya kita bersyukur karena masih memiliki orang tua yang baik hati. Janganlah seperti ini, Kaaak!’


Tino terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Setelah Tiny menunjukkan tulisannya itu, Tiny langsung menutup Notebook-nya. Lalu ia berjalan cepat ke arah tempat tidurnya. Membanting tubuhnya di atas tempat tidurnya sambil memeluk Notebook dan guling miliknya itu.


Tino mendesah berat. Lalu dia pergi ke luar kamarnya dan meninggalkan adiknya sendirian di dalam kamar itu.


Setelah Tino pergi, di balik selimut yang menutupi wajah Tiny, ia mengeluarkan air mata manisnya. Seketika, pipinya basah dan terdengar suara isakan pelan. Entah kenapa ia menangis, tapi dengan cara itu, Tiny akan merasa lebih baik.


“Apa aku terlalu keras pada Kak Tino?”


****


‘Itu berarti Kakak sangat egois!’


Tulisan adiknya itu, selalu teringat di kepala Tino. Ia berjalan sampai ke depan teras rumahnya. Duduk di pinggir keramik lantai terasnya, mengamati beberapa tumbuhan dan bunga yang ada di sekelilingnya sambil memikirkan sesuatu.


“Apa benar yang dikatakan Tiny itu? Apa aku ini terlalu egois?”


Tino kembali menghela napas berat. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelah itu, Tino melirikkan matanya pada gerbang pagar rumahnya.


Lalu tak lama kemudian, ia melihat sesosok anak perempuan yang sempat lewat di depan gerbang itu. Anak perempuan itu menengok ke kanannya dan menatap tajam pada Tino. Seketika, Tino menyentakan matanya. Dia tahu siapa anak itu.


Itu Miya Nakamura!


Tino kembali berdiri. Ia mengucek-ucek matanya, lalu kembali melihat ke arah gerbang lagi. Ternyata, anak bernama Miya itu sudah menghilang entah ke mana. Apa yang barusan itu, benar-benar sosok Miya? Apa… Tino salah lihat?


“Tino? Apa yang kau lakukan di sini?”


Tiba-tiba saja ada yang memegang pundak Tino dari belakang. Dan suara seorang wanita terdengar dengan jelas di telinga Tino. Tino tersentak kaget dan secepatnya, ia langsung membalikkan badannya.


“Eh? Ibu?”


Ah! Itu ternyata Chelsea.

__ADS_1


Chelsea baru saja selesai masak. Tadinya, ia akan mengajak Tino sarapan bersama. Tapi, setelah melihat sikap Tino yang terlihat seperti anak yang ketakutan, penuh dengan ketegangan, Chelsea pun akan bertanya kepada anaknya itu.


“Tino, kau baik-baik saja, kan?”


“Ah! Iya. Aku baik.”


“Tapi, kenapa kau terlihat ketakutan?”


“Tidak kok! Hehe… tadi aku habis melihat kupu-kupu yang tiba-tiba saja lewat tepat di depan wajahku. Makanya aku terkejut.”


“Oh, begitu. Baiklah.” Chelsea celingak-celinguk mengamati sekitar. “Hemm… sekarang, ayo. Kita masuk dan sarapan pagi bersama.” Ajak Chelsea.


“Baik, Bu!”


****


Saat Tino dan Chelsea sampai di meja makan di dapur, di sana ada Tiny yang sedang duduk di depan meja sambil memakan pudding kesukaanya.


Tino duduk di kursi tepat di hadapan, seberang meja Tiny. Entah kenapa, Tino tidak ingin berada di samping adiknya itu. Chelsea meminta kedua anaknya itu untuk duduk tenang, sedangkan ia sendiri akan pergi.


Chelsea beralasan akan pergi ke kamarnya untuk membangunkan ayah mereka.


Setelah Chelsea pergi, Tino dan Tiny hanya berdiam diri saja. Tino tidak menyapa atau mengajak bicara adiknya itu. Tiny sendiri hanya sibuk dengan pudingnya dan ia tidak memerhatikan kakaknya.


Di pikiran Tiny, kakaknya itu pasti marah padanya karena dirinya itu telah membentak kakaknya, walau hanya beberapa tulisan di sejarik kertas putih.


Sedangkan Tino, ia berpikir kalau adiknya itu pasti marah padanya karena ia benar-benar kecewa dengan kakaknya itu. Karena sudah beberapa kali, Tino telah membuat sedih adiknya.


Karena suasana sangat hening dan kedua adik kakak itu saling berhadapan, mereka merasa tidak tenang. Rasanya tidak seru kalau mereka tidak saling bercakap-cakap dan bercanda-canda seperti biasanya.


Karena merasa bosan, Tino pun akhirnya membuka mulut. “Emm… pudding rasa apa yang kau makan itu?”


Tiny berniat untuk memberikan sisah pudding itu untuk kakaknya agar dia bisa merasakannya sendiri. Tiny takut berbicara dengan Kakaknya.


Tino menerima, lalu mendekatkan semangkuk kecil pudding itu. Setelah itu, Tiny memberikan sebuah sendok pada Tino. Tino menerima sendok yang diberikan Tiny itu. Lalu setelah itu, Tino memotong kecil pudding itu dengan sendok dan langsung memakannya.


“Hmm… ternyata strawberi. Aku pikir rasa pandan.” Gumam Tino sambil mengemut-**** pudding itu di mulutnya.


Setelah itu, Tino mengembalikan mangkuk kecil itu kepada Tiny. Tiny menerimanya sambil menundukkan kepala. Ia benar-benar tidak ingin menatap langsung mata kakaknya itu.


Melihat ekspresi adiknya yang seperti itu, Tino akan memutuskan untuk mengajaknya berbincang sedikit dengannya.


Ia menghembuskan nafas panjang, lalu memandang Tiny yang ada di hadapannya. “Apa kau baik-baik saja hari ini?”


Tiny menggerakkan matanya itu. Ia kebingungan sendiri. Tiny menatap lantai dan kakinya yang di bawah meja dan berusaha untuk mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan kakaknya itu.


Tapi pada akhirnya, Tiny hanya menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalanya dalam posisi yang sama seperti tadi. Menundukkan kepala dan berusaha untuk tidak menatap kakaknya karena ia takut.


“Syukurlah kalau begitu. Aku agak sedikit khawatir.”


Tiny menyentakkan matanya. Ia mendengar suara kakaknya yang begitu lirih dan lembut. Tidak seperti orang yang sedang marah atau nada yang membentak. Sangat halus.


“Dan satu lagi, aku minta maaf untuk yang tadi.” Ucap Tino lagi.


Tiny mendongak cepat dan menatap Kakaknya. Mulut Tiny terbuka sedikit dan matanya yang agak melebar. Ekspresi terkejut. Tino pikir, Tiny pasti tidak percaya dengan ucapannya barusan itu. Maka dari itu, ia mengucapkannya sekali lagi dengan suara yang agak keras.

__ADS_1


“Iya. Aku minta maaf. Kau benar. Aku ini memang anak yang egois dan hanya bisa mementingkan diri sendiri,”


Tiny semakin melebarkan matanya dan pupilnya agak sedikit mengecil. Ia menggeleng pelan dan perlahan mengangkat tangan kanannya untuk mengibaskannya, tapi sempat terhenti saat Tino kembali melanjutkan kata-katanya itu.


“Kau benar. Aku ini memang kakak yang tidak benar! Kakak seperti apa aku ini, yang kerjaanya selalu berkelahi sehingga membuat adiknya sendiri sedih dan kecewa. Aku benar-benar tidak berguna! Sekarang, aku sudah mengintrospeksi diri dan akhirnya aku tahu apa kesalahanku.”


Dengan cepat, Tiny berdiri dari kursinya lalu mengibas-ngibaskan kedua tangannya berulang-ulang dengan cepat sambil menggeleng-geleng dengan ekspresi panik.


Kemudian Tino mengelap air matanya yang sedikit keluar dengan tangannya lalu menelengkan kepala. Tiny mengambil Notebook dan pensil yang ada di sampingnya itu. Dia mulai menulis. Tapi agak lama. Tiny sudah membalik beberapa halaman buku kecil itu dan terus menulis. Sepertinya panjang.


'Kakak tidak salah apa-apa, kok! Seharusnya aku sendiri yang minta maaf karena sudah membentak kakak tadi.'


Tiny membalik halaman bukunya.


'Aku minta maaf karena sudah memarahi kakak tadi. Sungguh. Aku tidak enak dengan kakak. Perasaan kakak pasti terluka, ya?'


Membalik lagi.


'Maafkan aku Kakak!'


Tino melebarkan matanya. Lalu setelah itu, ia menyipitkan matanya dan tersenyum lebar pada Tiny.


“Ya, kakak maafkan. Tapi, kamu juga harus memaafkan Kakak, ya?”


Tiny mengangguk cepat. Mereka tertawa bersama dan kembali bercanda lagi seperti biasanya. Lalu setelah puas bercanda, keadaan kembali menjadi hening kembali.


BATS!


Tino dan Tiny sangat terkejut. Tiba-tiba saja lampu dapur mati sendiri. Tiny langsung turun dari tempat duduknya, lalu ia berlari ketakutan menghampiri kakaknya. Tino memeluk adiknya itu sambil melirik-lirik sekitarnya.


BATS!


Tapi tak lama kemudian, lampunya kembali menyala lagi. Tino mendengar suara langkah kaki yang banyak dari belakangnya. Ia pun menoleh dan seketika suara kebisingan dari rombongan beberapa orang datang mendekatinya.


“SELAMAT ULANG TAHUN!”


Tino dan Tiny terkejut. Ternyata di sana, ada banyak orang-orang yang mengumpul dan mengucapkan “Selamat ulang tahun” pada mereka. Tino dan Tiny tersenyum lebar dan tertawa. Mereka terlihat senang sekali. Lalu setelah itu, Tino dan Tiny berlari menghampiri Ibunya.


Di sana ada beberapa orang yang si kembar sukai. Ada sahabatnya, Dio. Aldy, Liena, dan Devan. Juga ada Kakaknya Chelsea, yaitu Mellia dan kekasihnya Ryo. Kakak-kakaknya Dino, Mista dan Dimas. Juga, teman-teman si kembar dari tetangga sebelah yang lainnya.


Hanya saja ada satu orang yang tidak ada di sana.


“Ibu? Ayah di mana?” tanya Tino bingung. “Kok dia tidak di sini?”


“Ah! Ayahmu itu sebentar lagi juga….”


“UWAAAA…! AWAS YANG DI DALAM SANA!”


BUUUGH!


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2