The Death Eye

The Death Eye
Eps 29– Pertemanan


__ADS_3

Keesokan harinya–


“Senin!?” Dino mengeluh.


“Senin lagi…” Keluh Chelsea,


“Aaaaa… Aku benci hari senin!” Keluh Aldy.


Mereka bertiga bersamaan membenci hari senin. Hari yang paling menyebalkan menurut Dino.


Ia masih berbaring di kasurnya yang lembut. Rasanya tidak ingin beranjak dari tempatnya. Ia masih nyaman di sana. Lalu tiba-tiba ada yang datang mengtuk pintu rumahnya.


“Siapa sih pagi-pagi begini sudah datang?” gerutu Dino.


Tubuhnya masih lemas. Ia langsung turun dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan menuju pintu depan.


TING TONG… TING TONG…


Orang yang di depan itu terus saja menekan bel rumahnya.


"Berisik sekali!"


“Iya… sebentar!”


Dino membukakan pintunya. Ia melirik ke bawah. Ternyata yang datang itu si Liena.


“Selamat pagi, Kak Dino!” sapanya dengan senyum.


“Iya, pagi! Ada apa kau kemari?” tanyanya.


Liena sudah berseragam rapih dan siap untuk pergi ke Sekolah. “Ayo kita berangkat bersama!” ajaknya.


Padahal baru jam 6 pagi, tapi Liena sudah datang ke rumah Dino dan mengajakku berangkat ke sekolah. Dino sendiri saja masih memakai baju tidur dan belum mandi.


“Eh, Liena… kau jalan duluan saja yah! Aku… belum siap soalnya!” ujar Dink mencari alasan agar tidak berangkat bersamanya.


“Cepat siap-siap! Aku tunggu kok!”


“Tapi aku akan lama, lho! Makanya kau duluan saja!” Ia ingin mengusir Liena.


“Tidak apa, akan aku tunggu kok!”


“Ah, tidak! Pokoknya kau duluan saja sana!” Dino tetap memaksa Liena untuk keluar dari rumahnya.


Tapi Liena tidak mau keluar. Lalu dia menjadi pendiam. Dia menundukkan kepalanya. Auranya mulai tidak enak, nih!


Tak lama, ia kembali mengangkat kepalanya dan menatap Dino dengan mata merahnya.


"Ah, gawat!"


****


TAP TAP… TAP TAP…


Pada akhirnya…


Dino jadi berangkat bersama Liena.


“Ah, Sial! Terpaksa aku harus berangkat dengannya karena terpaksa. Ini menyebalkan!” Batinnya kesal.


“Apa kakak bilang tadi!? Kau mau aku hajar lagi, hah!?” bentak Liena tiba-tiba.


Dino tersentak kaget. Ia langsung menggeleng cepat. “Ti–tidak apa-apa! A–aku minta maaf!”


“Ah! Aku lupa kalau Liena bisa membaca pikiranku!” Kata batinnya lagi.


“Hehe… maaf soal yang tadi, yah, Dino! Tanganmu terluka gara-gara aku, hehe…” ujar Liena sambil tertawa.


“Eh, tidak apa-apa kok! Luka ini sudah aku obati.”


Mereka kembali kembali terdiam. Tapi langkahnya masih tetap berjalan.


Tangannya Dino terluka karena terbentur ujung kaca keja di rumahnya akibat dari serangan mata Liena dan amarahnya. Rasanya sakit sekali.


Liena benar-benar anak yang keras kepala. Dia akan marah jika keinginannya tidak dituruti. Tapi Liena juga memiliki hati yang baik dan suka menolong. Dia juga Imut dan cantik, hanya saja tinggi badannya pendek. Jadi dia terlihat seperti anak kelas 1 SMP ( mungkin ).


****


Dino dan Liena akhirnya sampai di Sekolah. Liena mengantar Dino sampai depan Kelas.


“Umm… terima kasih kau sudah mengantarku sampai sini!” ucap Dino.


Liena mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Kak Dino! Aku mau ke Kelasku dulu, yah! Dadaah…” Liena melambai dan langsung pergi ke kelasnya yang berada di dekat tangga.


Dino pun masuk ke dalam kelasnya. Terlihat di sana baru ada 4 murid saja. Dino datang kepagian gara-gara Liena. Lalu ia berjalan ke tempat duduknya di belakang.


Setelah duduk di tempatnya, Dino meletakan tasnya di samping meja, lalu melirik ke tempat Chelsea.


“Chelsea tidak masuk hari ini? Oh iya, dia sedang sakit. Aku belum sempat menjenguknya!”


Seperti biasa, Dino hanya duduk di tempatnya dan memandang keluar jendela sambil menunggu bel masuk berbunyi. Lalu tanpa ia sadari, Chelsea sempat muncul. Ia hanya lewat di depan kelas.


Ternyata dia masuk sekolah! Tapi dia terus berjalan melewati kelas saja. Kira-kira Chelsea mau ke mana?


Chelsea terus melangkahkan kakinya. Dia ingin pergi ke Kelas B-2. Itu kelas Liena. Chelsea mau membicarakan sesuatu dengan Liena.


Saat di depan kelas, ia mengintip masuk lewat pintu. Setelah melihat orang yang ia cari itu, Chelsea langsung memanggilnya. Liena yang mendengarnya pun menoleh dan menghampirinya.


“Ada apa kau kemari?” tanya Liena.


Chelsea menggenggam tangan Liena. “Ayo ikut aku ke Atap. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!”


Liena memasang wajah bingung. Tapi dia menuruti Chelsea. Lalu mereka berdua langsung pergi ke atap Sekolah ini.


Saat sampai di sana, anginnya bertiup kencang sekali hari ini. Udaranya lumayan segar. Dan cuaca tetap cerah seperti biasa.

__ADS_1


“Nah, sekarang apa yang mau kau bicarakan denganku?” tanya Liena.


Mereka berdua duduk di bangku panjang yang ada di sana. Pada awalnya mereka masih berdiam diri. Tapi tak lama kemudian, Chelsea pun membuka mulutnya.


“Umm… soal yang semalam itu, aku… ingin mengucapkan banyak terima kasih padamu! Kalau kau tidak ada, mungkin Aku sudah dibunuh oleh mereka. Aku tahu mereka itu adalah para pemburu Death Eye!” ujar Chelsea.


“Oh, baiklah. Tidak masalah! Aku dengan senang hati akan membantu siapa saja yang memiliki kelainnan fisik seperti Manusia Death Eye!” timpal Liena.


“Dan… aku juga ingin minta maaf!” Chelsea menundukkan kepalanya.


“Minta maaf untuk apa, Sea?” tanya Liena bingung.


“Karena… aku selalu menganggapmu sebagai anak yang keras kepala dan selalu kasar pada orang lain! Padahal kau itu anak baik dan suka menolong.” Jelas Chelsea pelan.


“Iyaa… aku juga mau minta maaf karena suka merendahkanmu, Sea!”


Mereka berdua saling memandang dan tersenyum, lalu tertawa kecil. Kembali hening. Lalu tak lama kemudian, Liena kembali berbicara.


“Sebaiknya kita tidak usah bertengkar lagi!”


Chelsea mengangguk. “Iya!”


Suasana kembali hening. Hanya angin yang berhembus kencang yang terdengar di sana. Dan juga suara ribut dari kelas-kelas lainnya. Lalu karena merasa sepi dan tidak memiliki topik perbincangan, tiba-tiba Chelsea kembali membuka mulutnya lagi. Ada yang ingin ia katakan.


“Liena?”


“Ya?”


“Apa kau mau menjadi temanku?”


Liena terkejut. Lalu dia tersenyum senang. Selama ini, Liena tidak pernah memiliki teman. Makanya dia selalu sendirian. Setelah ajakan dari Chelsea, Liena jadi ingat dengan masa lalunya.


Dulu, dia selalu diejek dan dibulli oleh teman-temannya karena memiliki mata yang aneh. Teman-temannya menjuluki Liena dengan nama yang menyeramkan, yaitu “Anak Iblis” hanya karena matanya.


Tapi kali ini, dia senang sekali karena selama hidupnya, baru kali ini Liena diajak menjadi teman oleh seseorang.


“Iya, tentu saja!” jawab Liena.


Kedua perempuan itu saling berjabat tangan dengan senangnya.


“Oh iya, dan satu lagi… sebagai bentuk balas budiku kepadamu, Aku… akan membiarkan kau bersama dengan Dino!” Kata Chelsea lagi.


Liena terkejut. “Eh? Benarkah?!”


Chelsea mengangguk pelan. Liena merasa senang.


“Yah! Lebih baik kita menjadi sahabat akrab saja! Antara kita bertiga!” Kata Liena.


“Eh? Bertiga?”


“Iya! Kan ada Aku, Kak Dino, dan Kau! Kita bisa menjadi sahabat dekat!”


Chelsea tersenyum menahan tawa. “Pfft… kenapa hanya bertiga saja? Kan… Aldy juga bisa menjadi sahabat kita!”


“Oh iya! Aku lupa dengan Aldy, Haha…”


“Tidak kok! Aku hanya lupa saja!”


Mereka berdua bercanda di sana sambil menunggu bel masuk.


****


KRRIIIING… KRRIIIING…


Akhirnya bel masuk berbunyi…


Dino yang ada di Kelas bersama Aldy langsung terkejut, karena orang yang ia harapkan itu ternyata datang. Chelsea masuk ke Kelasnya!


“Chelsea? Kau datang juga akhirnya. Nih, si Dino rindu padamu katanya, hehe…” Ejek Aldy.


“Apaan sih, Dy!”


“Oh, jadi Dino rindu padaku, yah?” tanya Chelsea sambil menahan tawa.


Pipi Dink seketika memerah karena malu. “Ah! Tidak juga kok. Tidak!” Ia jadi salah tingkah sekarang.


“Baiklah, candaan hari ini sudah cukup! Lihat… Bu Alies sudah datang! Kalian harus berhati-hati pada Guru itu!”


“Ada apa dengan guru itu?” tanya Dino bingung.


“Kau tidak tahu? Dia itu salah satu dari ke-4 guru killer di sekolah ini. Mengajar pelajaran Matematika. Intinya guru itu kejam, deh!” Jawab Aldy sambil berjalan menuju tempat duduknya.


“Halah… Hoax!” tegas Chelsea sambil membaca bukunya.


“Hei, mungkin saja itu benar! Lihat saja guru itu… tampangnya menyeramkan dan dia membawa tongkat kayu panjang untuk memukul Murid-murid di sini. Apalagi dia mengajar mata pelajaran Matematika! Haduh… bisa berakhir hidupku ditangannya!” tegas Dino dengan tampang serius.


“Diambil Positif-nya saja! Kau itu berlebihan. Guru itu tidak mungkin seperti yang kau bayangkan!”


“Baiklah, anak-anak! Hari ini kita ulangan Matematika!” Kata Bu Alies.


Semuanya terkejut. “Haah!?”


Kelas jadi ribut. Anak-anak tidak suka ada ulangan mendadak. Apalagi mata pelajaran Matematika.


“Ah! Ibu… Kenapa ulangan mendadak!?”


“Ibuu! Aku belum sempat belajaar!”


“Beri kami waktu untuk belajar, bu! Kan Mtematika itu sulit, Arrrggghhh!!”


Semua anak di kelas mengeluh kesal karena diadakan ulangan mendadak.


BRAK!!


Bu Alies memukul meja dengan tongkat kayunya itu lalu membentak, “Sudah cukup!! Jangan berisik semuanya!”

__ADS_1


Semuanya pun akhirnya terdiam. Kelas menjadi sepi kembali. Lalu Bu Alies berjalan dengan membawa setumpuk kertas yang berisi soal-soal Matematika itu dan membagikannya kepada semua murid di kelas.


Semuanya sudah mendapatkan kertas ulangannya. Lalu Bu Alies kembali ke tempat duduknya.


“Baiklah anak-anak, selamat mengerjakan!” ujar Kak Alies.


Soal-soal yang Dino dapatkan itu benar-benar sulit. Tapi mau tidak mau, ia harus mengerjakannya kalau tidak ingin terkena masalah!


****


Saat jam istirahat, Dino, Chelsea, Aldy dan Liena sedang berada di kantin. Mereka berkumpul bersama hari ini.


Dino dan Aldy terlihat lesu sekali saat ini. Liena kebigungan melihat kami berdua.


“Sea, mereka berdua ini kenapa, sih?” bisik Liena pada Chelsea.


“Oh, mereka ini habis mengerjakan ulangan Matematika mendadak. Mungkin mereka sedang sakit kepala karena habis menggunakan otak mereka untuk berpikir hanya untuk mengerjakan soal Matematika yang cukup mudah.” Jelas Chelsea.


Setelah perkataan Chelsea, tiba-tiba Aldy kembali mengangkat kepalanya dan berkata, “Mudah apanya!? Lihat, nih! Otakku hampir rusak karena memikirkan soal Matematika yang sulitnya minta ampun itu!”


Setelah Aldy, Dino juga ikut mengangkat kepalanya dari meja. “Kau ini terlalu berlebihan, Dy!”


Aldy tertawa kecil. Dino menunduk lalu menggeleng pelan. Ia merasa ada yang tidak nyaman di kepalanya.


“Aduh!”


“Dino?! Kau baik-baik saja?” tanya Chelsea dan Liena bersamaan.


“Iya, Aku hanya pusing sedikit.”


“Mau kuantar ke UKS?” Lagi-lagi Chelsea dan Liena mengatakannya bersamaan.


Aldy jadi kebingungan. “Eeeh… Kalian ini kok jadi kompak sekali, sih?”


Kedua perempuan itu tertawa. “Tidak apa-apa kok! Hehe…”


Dino berdiri dari tempat duduknya sambil memegang kepala.


“Eh, Kak Dino mau ke mana?” tanya Liena.


“Aku mau ke UKS!” Jawabnya.


“Kau sakit, Dino?” tanya Chelsea cemas.


“Tidak, kok! Aku hanya ingin beristirahat di sana saja!” Jawabnya. “Lagian juga, pemilik Death Eye tidak pernah terkena penyakit apapun.” Bisik Dino pada mereka.


Semuanya mengangguk paham. “Kalau begitu, akan aku hantar Kakak ke UKS!” kata Liena.


“Ah! Tidak perlu! Aku bisa sendiri.” Dino menggeleng dan menolaknya. Ia langsung pergi meninggalkan teman-temannnya di kantin.


Chelsea dan Liena saling menatap. Lalu tak lama, Chelsea mendekat dan berbisik, “Kejar dia, Na! Kau harus melindunginya.”


Liena mengangguk. Lalu Liena beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan Chelsea dan Aldy di Kantin. Ia ingin mengikuti Dino tanpa Dino sadari.


“Liena mau pergi ke mana, Sea?” tanya Aldy.


“Oh… dia mau ke Toilet dulu!”


Aldy mengangguk. “Ooh…”


Lalu tak lama kemudian, terdengar suara Bu Nirmala lewat ppeaker pemberitahuan yang ada di sekolah.


[Perhatian untuk Siswi bernama Chelsea Willona, di harap untuk menemui Ibu di Ruang Kepala Sekolah. Sekian, terima kasih!]


Aldy terkejut. Lirikan matanya langsung mengarah ke Chelsea. “Eh? Sea? Kau dipanggil!”


“Ada apa yah?”


“Ya sudah cepat ke Ruang Kepala Sekolah! Apa mau aku hantar?”


“Tidak apa-apa… Aku sendiri saja! Daah… Aldy!”


Chelsea beranjak dari tempatnya dan langsung berlari menuju ruang Kepala Sekolah untuk menemui Bu Nirmala di sana. Sementara saat ini, Aldy sedang sendirian di tempatnya.


“Ah, Payah! Aku sendirian…. Semuanya pergi. Tapi ngomong-ngomong, Liena ke Toilet saja lama sekali, yah?” gumam Aldy. “Eh! Kok aku jadi penasaran, yah? Aku ingin tau alasan Chelsea dipanggil Bu Nirmala. Aku mau ikut bersamanya, ah!”


Pada akhirnya, Aldy juga ikut meninggalkan kantin.


****


Saat di UKS–


Di sana, Dino sedang berbaring di tempat tidur sambil mengompres kepalanya dengan bungkusan Es Batu.


“Eh? Chelsea dipanggil Bu Nirmala? Kenapa tiba-tiba?” gumamnya.


Namun tak lama kemudian….


[Diberitahukan untuk Siswa bernama Dino Dirmansyah, di harap untuk menemui Ibu di Ruang Kepala Sekolah. Terima Kasih!]


“Eeeeh!? Aku juga!?” Dino jadi kebingungan sendiri. Tak lama setelah Chelsea, Dino juga ikut terpanggil.


Ia langsung turun dari tempat tidur dan pergi keluar ruang kesehatan. Dinoakan pergi ke Ruang Kepala Sekolah. Ia berjalan perlahan karena kepalanya masih pusing.


Namun saat Dino sudah pergi menjauh dari ruang UKS, tiba-tiba Liena datang memasuki ruang UKS itu untuk menemuinya. Tapi sayang Dino sudah tidak ada di sana.


“Eh? Kak Dino sudah pergi ke Ruang Kepala Sekolah, yah? Huuh… baru saja aku ingin mengantarnya. Kalau begitu, aku susulin saja deh!”


Liena keluar dari ruang UKS dan langsung berlari ke Ruang Kepala Sekolah. Lalu Liena juga bertemu dengan Aldy di tengah lorong. Mereka akhirnya ke sana bersama-sama.


*


*


*

__ADS_1


To be continued-


__ADS_2