The Death Eye

The Death Eye
Eps 20– Yuri Meninggal (?)


__ADS_3

"Aku harus cepat mencari tahu keberadaan Yuri saat ini." Dino masih terlihat gelisah. Ia segera membuka pintu mobilnya dengan cepat, lalu masuk ke dalamnya. Kemudian ia menyalakan mesin mobil. Tapi sebelum Dino menginjak pedal gas dengan cpat, tiba-tiba saja ada Aldy muncul di depan mobil.


"Apa yang dia lakukan? Apa dia akan mencegahku lagi?"


“Dino! Keluar dari mobilmu sekarang!” teriak Aldy dari luar.


Dino pun menurut. Ia kembali membuka pintu mobil, lalu keluar. Aldy berjalan mendekatinya. “Dino! Kau mau ke mana?” tanya Aldy cemas.


“Aku akan menyelamatkan temanku!”


“Apa kau tahu alamatnya?”


“Yaa… aku tidak….”


DRRRT… DRRRTT….


Dino terkejut. Saku celananya tiba-tiba saja bergetar sendiri. Ternyata itu berasal dari ponselnya yang gemetar. Lalu dengan cepat, Dino mengambil ponselnta itu dan membuka layarnya. Terlihat di sana, ada panggilan masuk dari Yuri lagi. Dino langsung menekan tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga.


“Yuri! Halo…? Kau baik-baik saja?”


[Di–dino… cepat datang ke dapartementku. Cepat! Aku… ketakutan di sini. Dino… tolong!]


“Kau kenapa, Yuri!?”


[Tolong, Dino! Seseorang mengejarku! Aku takut sekali. Dinoo… tolong! KYAAA… AAA… TIDAK! KUMOHON, JANGAN SAKITI AKU! AAAA….]


Dino dan Aldy terkejut. Tiba-tiba saja, Yuri berteriak. Lalu terdengar suara keributan yang cukup keras dari ponselnya. Setelah itu, beberapa suara-suara aneh bermunculan. Bisikan-bisikan yang terdengar samar dan menyeramkan pun terdengar.


Lalu tak lama, terdengar suara Yuri yang sekali lagi meminta tolong pada Dino. Tapi kali ini, suaranya terdengar pelan dan sedikit menyeramkan juga. Ia merintih kesakitan dengan erangan napas yang terengah-engah-engah. Suara seperti orang yang sedang muntah dan terdengar juga suara seperti air yang terbanting ke lantai.


Yang terakhir, suara benda yang terbanting dengan keras. Suara itu benar-benar membuat mereka berdua terkejut sekaligus merinding. Setelah semua itu, dengan sekejap, telponnya terputus!


“Dapartementnya Yuri!”


Setelah itu, secepatnya Dino kembali masuk kembali ke dalam mobil. Aldy juga ingin ikut bersamanya. Dino pun memperbolehkannya untuk ikut menemani. Setelah itu, Dino mengemudikan mobilnya menuju ke dapartemetnya Yuri.


“Mereka pergi,” Ujar Kak Ryo.


“Kalau begitu, kita susul mereka. Ayo!”


Ryo dan Devan berlari mendekati mobil mereka masing-masing. Lalu setelah itu, Ryo dan Devan pun pergi mengikuti Dino dan Aldy.


****


Lokasi: Dapartement Yuri-


“Apa benar di sini tempatnya, No?” tanya Aldy.


“Iya. Karena aku tahu, dapartement terbesar di kota adalah gedung ini.” Dino membanting pintu mobil, lalu berjalan cepat mendekati gedung tempat tinggal Yuri. “Oke! Sekarang, ayo, cepat!”


“Eh, Dino… tunggu sebentar.”


“Eh?!”


Aldy melihat ada banyak kerumunan orang-orang di sana. Dino juga melihatnya. Mereka berhenti sejenak.


"Oh tidak! Perasaanku mulai tidak enak."


Dino kembali melangkahkan kakinya pergi menghampiri dan menerobos kerumunan banyak orang itu. Pada akhirnya, ia sampai kerumunan paling depan. Sampai di depan pintu gedung. Di sana ada beberapa polisi penjaga dan garis kuning di pintu itu.


“Ti–tidak mungkin, kan?” Dino bergumam. Kemudian ia menggeleng pelan. “Ah! Permisi, a–ada masalah apa di dalam, ya?” Dino mencoba untuk bertanya pada salah satu polisi di depannya itu.


“Maaf, anda dilarang mendekat. Terjadi kasus pembunuhan di dalam kamar 14. Seorang wanita ditemukan tewas tak bernyawa di dalam kamar itu.” Jelas Polisi itu.


“Wanita? Si–siapa!?”


“Iya. Dari hasil penyelidikan kami, diketahui kalau wanita itu bernama Yuri Nakamura.”


“Yu–Yuri Nakamura!? Tidak mungkin!” bentakku. “Tidak mungkin dia!”

__ADS_1


“Yuri, ya? Dino, sabar, ya?”


Dino tidak percaya dengan jawaban dari polisi tadi. "Yuri benar-benar meninggal? Ini semua pasti tidak benar, kan?!"


Dari Tadi Aldy terus menenangkan Dino, tapi Dino sendiri tidak mendengarkan perkataannya. Lalu setelah diam sejenak, Dino mendorong petugas polisi itu dan langsung menerobos masuk ke dalam dapartement.


“Yuuriii!”


Dino tidak peduli dengan para polisi yang mengejanya dari belakang. Pokoknya sekarang juga, ia harus bertemu dengan Yuri. Dia ingin sekali bertemu dengan Yuri. Karena ia percaya, kalau Yuri masih hidup!


Dino menuju ke kamar 14. Yaitu tempatnya Yuri berada. Dino terus berlari mencari kamar itu sambil berteriak memanggil orang yang ia cari.


Lalu pada akhirnya, saat berada di lorong di lantai 2, ia bertemu dengan beberapa orang yang membawa tas besar yang panjang berwarna oranye. Itu kantung mayat.


Dino menegur orang-orang itu. Mereka mengaku kalau di dalam kantung ini adalah mayatnya Yuri. Tentu Dino tidak percaya dengan perkataan mereka.


Untuk memastikan, Dino pun meminta mereka untuk segera membuka kembali kantung itu. Ia sangat penasaran. Benarkah di dalam sana itu Yuri?


Tapi sayang, orang-orang itu menolak permintaan Dino. Mereka bilang kalau mayat yang ada di dalam kantung itu sudah tidak utuh lagi. Tubuhnya dimutilasi dan kepalanya menghilang.


Dino benar-benar terkejut mendengarnya. Lalu tiba-tiba saja, para polisi penjaga yang mengejarnya telah berhasil menangkapnya. Mereka memaksa Dink untuk keluar dari dalam gedung.


****


“Eh, Dino? Apa kau sudah menemukan Riri?” tanya Aldy.


“Yuri!”


“Ah, iya itu! Apakah dia… benar-benar meninggal?”


“Kumohon. Jangan katakan itu lagi! Yuri tidak mungkin meninggal. Aku… akan menyelidiki masalah ini!” Dino berusaha untuk tersenyum pada Aldy, walaupun perasaannya saat ini sedang tidak baik. “Aku yakin, dia pasti akan kembali bekerja padaku besok!”


BRRRRMMM….


“Anak-anak!” teriak Ryo pada Dink dan Aldy. Mereka berdua terkejut. Lah? Ryo dengan Kak Devan kenapa bisa sampai ada di sini?


“Kami sudah dewasa, Kakak!” bentak Aldy geram. Dia tidak ingin dipanggil anak-anak lagi.


 


“Di dalam dapartement itu telah terjadi pembunuhan. Kata omongan orang-orang, kalau yang meninggal itu adalah temanku. Tapi aku tidak percaya.” Dino menjelaskan, kemudian ia kembali tersenyum pada Devan. Menunjukkan Ekspresi yang biasa, seolah tidak terjadi apa-apa yang buruk. “Aku percaya kalau temanku itu tidak akan meninggal semudah itu.”


“Hmm… kuharap itu bukan temanmu.” Kata Ryo.


Dino mengangguk pelan dan kembali tersenyum lagi pada mereka. Ia tidak boleh terlihat cemas dan khawatir. Apalagi di depan Chelsea nanti.


“Oke, sekarang, kita pulang.” Ajak Devan.


****


Saat kembali ke rumah….


Dino mengembalikan mobilnya ke garasi, seperti semula. Lalu setelah itu, ia dan Aldy juga bersama dengan Devan dan Ryo, masuk ke dalam rumah lewat pintu yang ada di dalam garasi. Pintu itu langsung membawa mereka ke dapur.


“Dino! Kau baik-baik saja, kan?” Chelsea lari tergesa-gesa menghampirinya dan langsung menanyakan tentang keadaannya. Lagi-lagi, Dino mengeluarkan senyum secara terpaksa kepada Chelsea untuk menutupi semua kehawatirannya.


“Semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawab Dino lirih.


“Hmm… baiklah kalau begitu.” Chelsea mendekat ke arah Dini dan membisikkan sesuatu. “Kita bicarakan ini nanti saja.”


Dino mengangguk pelan. Lalu setelah itu, Chelsea berjalan menghampiri anak-anaknya. Semuanya berkumpul di depan meja makan di dapur. Kembali merayakan ulang tahunnya Tino dan Tiny.


“Ibu, ibu! Apakah Ibu ada lagu untuk dinyanyikan? Perayaannya sangat sepi kalau tidak ada musik.” Ujar Tino.


“Hmm… musik, ya?”


Tiny menulis. ‘Tunjukan lagu buatan Ibu itu!’


“Eh?” Seketika, Chelsea tersipu. Ia sebenarnya mempunyai sebuah lagu buatannya sendiri. “Ah, haruskah Ibu bernyanyi sekarang?”

__ADS_1


Kedua anak-anaknya mengangguk cepat. Mereka ingin sekali mendengar lagu buatan Chelsea itu. Chelsea pikir-pikir dulu. Dino jadi penasaran.


Sebelumnya Chelsea tidak pernah bilang soal lagu ciptaanya itu. Tapi kalau soal impian yang ingin diwujudkannya, ia juga sudah pernah bilang. Chelsea ingin menjadi seorang musisi handal untuk membahagiakan dan menghibur banyak orang. Itu yang dia katakan pada Dino. Dan sekarang, apakah ia sudah mulai menulis lagu pertamanya?


“Oke, baiklah kalau begitu, Ibu… akan mulai sekarang!”


Pada awalnya, Chelsea masih agak sedikit ragu dan malu-malu. Dia tidak bisa melakukannya.


JREENG!


Itu suara petikkan senar gitar!


Semuanya menengok ke samping. Ternyata di sana ada Ryo yang sedang memainkan gitar miliknya. Ia akan mengiringi lagunya Chelsea. Chelsea pun tersenyum. Dia semakin percaya diri.


Chelsea kembali menghadap pada si kembar dan mulai membuka mulutnya untuk bernyanyi. Ryo memainkan gitarnya mengikuti nada suara yang dinyanyikan Chelsea. Intro pun dimulai.


♪Pagi ini aku merasa senang, bisa berkumpul dengan kalian, di hari yang indah dan cerah ini,


Kebahagiaan untuk kalian….


“Eh… aku… aku lupa liriknya!”


Dino menghela napas sambil tersenyum kecil. Sedikit menggeleng. Lalu ia berjalan menghampiri Chelsea. Ia akan melanjutkan liriknya.


♪Tak peduli dengan masalah yang ada,


Yang penting kita dapat bersama,


Satu keluarga yang berbahagia, Indahnya kebersamaaan….


Iringan musik dari gitar yang dimainkan Ryo semakin bagus. Semuanya bertepuk tangan. Tino merasa bersemangat. Dia juga ingin ikut bernyanyi. Ia turun dari kursinya, lalu menghampiri orangtuanya dan menggandeng tangan mereka.


♪Aku juga merasa senang….


Mama, papa berada di dekatku….


Dan semua keluargaku, merayakan hari yang indah ini….


Semuanya ikut bernyanyi bersama.


♪Lala… lalala… lalalala….


Kita kan selalu bersama


Lala… lalala… lalalala….


Tak akan pernah terpisahkan


Lala… lalala… lalala….


Kita kan selalu menjadi satu keluarga… yang bahagia….


Takan terpisahkan…. Yeah!


“Terima kasih!”


“Wow, Chelsea! Nada lagumu lumayan bagus juga! Aku sukaaa….” Puji Mista.


Menyenangkan sekali. Lagu Chelsea sungguh bagus. Semua orang menyukainya. Dino harap, Chelsea bisa segera mewujudkan impiannya itu.


Akhirnya, semuanya pun dapat terhibur berkat Chelsea.


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2