
“Hei, kalian semua! Sepertinya aku tahu siapa pembunuh teman-teman kita!” Seru Alivia.
Semuanya tersentak dan memandang serius ke Alivia yang ada di depan mereka.
“Siapa pelakunya?”
“Cepat katakan!”
Alivia mengeluarkan senyum kejinya dan melirikkan matanya pada Tiny. “Jadi seperti ini. Apa kalian semua tidak mencurigai kematian para korban yang meninggal itu?” tanya Alivia.
Semuanya menggeleng bingung.
“Jadi apa maksudmu!?”
Alivia tertawa dengan suara yang agak samar. “Biar ku perjelas sedikit. Aku pikir, kematian teman-teman kita itu terlihat aneh, bukan? Masa mereka semua bisa mengalami kejadian yang sama seperti itu. Meninggal karena serangan jantung mendadak, hah? Mereka semua itu masih anak-anak. Masa sudah terkena penyakit jantung. Bersamaan pula, haduh… yang benar saja! Ini lucu sekali.” Alivia tertawa sejenak dan kembali bicara.
“Baiklah, langsung ke intinya saja. Kalau kalian yang berpikir kejadian ini adalah karena pembunuhan, maka itu benar. Aku juga berpikir seperti itu! Dan setelah kupikir-pikir, pelaku penyebab kejadian ini adalah… Manusia Death Eye! Aku tahu, pelakunya masih ada di sini.”
Semuanya terkejut. Lalu semua orang mulai menjauhi beberapa Manusia Death Eye yang ada di sekolah itu. Ayah Alivia yang merupakan Kepala sekolah ini segera memberikan pengumuman. Beliau meminta semua Manusia Death Eye untuk maju ke depan.
Semuanya, Murid maupun guru atau warga sekolah yang memiliki Death Eye hanya bisa menurut, walau mereka bukanlah pelakunya. Tino dan Tiny juga terlibat menjadi tersangka. Ayah Alivia akan menginterogasi semuanya.
Setiap anak ditanya tentang pembunuhan ini. “Apakah kau pelakunya?”
Tetap saja semua pemilik Death Eye berisik keras kalau mereka tidak melakukan itu semua. Lalu Pak Kepala Sekolah langsung beralih kepada Tiny. Pak Kepala Sekolah menanyakan hal yang sama pada Tiny. Tiny hanya bisa menjawab dengan cara menggelengkan kepalanya. Lalu setelah itu, Pak Kepala Sekolah langsung menghadap ke Tino yang ada disampingnya Tiny.
“Jadi, sekarang, apakah kamu pelaku dari pembunuhan ini?” tanya Pak Kepala Sekolah kepada Tino.
Tino menggeleng pelan sambil tersenyum dan berkata, “Maaf, pak. Lebih baik sudahi saja cara ini. Karena, tidak mungkin pelakunya adalah para Manusia Death Eye di sini.”
Pak Kepala Sekolah itu mengerutkan keningnya. “Hmm… kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Yah, karena... Bapak tidak punya bukti kalau kami semua bersalah. Lagi pula, kalau memang benar para Death Eye ini habis membunuh korbannya, pastinya dari mata mereka akan mengeluarkan darah.” Jelas Tino. “Apakah kalian semua mengalami hal seperti itu?”
Semua Manusia Death Eye yang ada di sana pun menggeleng.
“Lihat, kan? Tidak ada. Jadi bukan kami yang bersalah!” tegas Tino pada semuanya.
Semuanya mengangguk paham sama seperti Pak Kepala Sekolah.
“Hei, apa-apaan itu!?” Seorang dari kelompok Alivia mulai membentak para Manusia Death Eye. “Mungkin saja darah yang keluar itu sudah mereka bersihkan untuk menghilangkan jejak!”
“Hei, jangan sembarang menuduh kami, ya! Darah yang biasanya keluar dari mata Death Eye itu sangat banyak. Kami tidak akan punya banyak waktu untuk membersihkannya sampai tuntas. Pasti darah itu sudah terjatuh duluan ke tanah, atau menetes mengenai baju kami. Tapi buktinya itu tidak ada.” Terang seorang anak yang berada di samping Tino.
Semuanya langsung terdiam sambil memikirkan sesuatu.
“Apa-apaan sih ini?! Kok malah jadi membahas tentang darah. Menjijikkan sekali!” Batin Alivia. “Hmm… bagaimana caranya untuk menghabisi anak itu, yah? Hmm… oh iya! Kalau seperti ini, mana mungkin Tino dapat membela dirinya.”
“Hei, semuanya! Coba dengarkan aku!” Seru Alivia.
Semuanya langsung menghadap Alivia dan memandangnya.
“Lupakan saja soal darah itu! Sekarang coba kalian ingat-ingat lagi. Siapakah anak pemilik Death Eye yang berada di Lorong lantai 2 tempat lokasi kejadian tadi itu? Karena aku yakin, siapa yang ada di tempat kejadian, pasti dialah pelakunya!” tegas Alivia.
Semuanya langsung mencari-cari orang itu dan berusaha untuk mengingat wajah yang mereka lihat saat di tempat kejadian tadi. Lalu tak lama kemudian, satu orang yang ada di depan barisan para murid dengan cepat langsung mengacungkan tangannya.
“Aku tahu! Death Eye yang ada di sana itu adalah mereka berdua!” tangannya menunjuk ke arah Tino dan Tiny.
Tino dan Tiny sangat terkejut.
“Eh, itu tidak mungkin!” Tino membela dirinya. “Aku dan adikku memang ada di tempat itu, tapi bukan kami yang membunuh mereka!”
“Jangan menyangkal, deh! Jelas-jelas kalian berdua ada di tempat itu.”
“Kau jangan seperti itu! Kami benar-benar tidak melakukan apapun.” Tegas Tino.
__ADS_1
Tiny menunjukkan tulisannya, ‘Kakakku benar, kami tidak melakukan apapun. Tolong jangan menuduh kami sembarangan!’
“Hei, siapa kau anak kecil! Jangan sok nasihati, deh!”
“Eh, siapa yang kau panggil anak kecil!? Berkaca saja sana! Kau juga seorang anak kecil.” Bentak Tino.
Anak itu berjalan cepat mendekati Tino. “Kau panggil aku anak kecil!? Kau tahu? Kelasku lebih tua daripada dirimu, mata satu!”
“Hei, beraninya kau! Kau belum merasakan kehebatan mataku ini, hah!” Tino menggenggam penutup matanya dan berniat untuk membuka penutup mata itu dan memperlihatkan Death Eye miliknya.
Tapi sebelum itu, Tiny sempat menarik kakaknya dan mencegah tangan Tino untuk membuka penutup matanya itu. Keributan antara pemilik Death Eye dan Manusia biasa pun semakin menjadi.
Alivia senyum-senyum sendiri. Dia senang melihat kejadian yang menegangkan itu. Para Death Eye dan Manusia biasa mulai saling memukul. Alivia kembali memegang Mikrofon itu dan kembali bicara dengan keras. “Kalian semua berhati-hatilah! Karena di saat-saat seperti inilah, Manusia Death Eye bisa menggunakan mata mereka secara diam-diam!”
Setelah perkataan Alivia itu, semuanya langsung berhenti bertengkar dan berjalan perlahan menjauhi para Death Eye.
“Kalian terlambat, karena tak lama lagi, para Death Eye akan….”
WUUUSHH!
“KYAAAA!” Alivia berteriak.
Semua orang terkejut. Mereka melihat tubuh Alivia melayang ke atas. Seluruh tubuhnya dikelilingi cahaya merah yang tidak terlalu terang. Lalu kemudian, dari barisan kanan paling pinggir, muncul seorang anak lain di sana.
Ternyata si Dio.
Dia menggunakan kekuatan matanya untuk mengendalikan tubuh Alivia. Setelah mengetahui penyebab dari melayangnya tubuh Alivia itu, seketika semuanya pun mulai menjauhi Dio.
“Alivia! Kalau kau memang membenci para Death Eye, lebih baik kau diam saja! Janganlah mengumbar-umbarkan aib mereka yang tidak benar ituuuu!” Bentak Dio dan langsung melempar tubuh Alivia ke arah kumpulan kelompoknya. Beberapa temannya telah menangkap tubuh Alivia. Tapi Dio masih belum selesai. Dia kembali menyerang Alivia dengan matanya itu.
“Aku mulai muak mendengar perkataanmu yang perlahan mulai menyakiti hati para Death Eye, karena kau seenaknya menuduh mereka yang tidak-tidak! Itu tidak baik tauuu!” Dio kembali melempar tubuh Alivia pada temannya yang lain, lalu menangkapnya lagi dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke hadapan Ayahnya. Secara perlahan Alivia kembali berdiri dan memegang erat tangan ayahnya. Ayahnya pun berusaha untuk melindunginya.
Amarah Dio masih belum selesai. Dengan cepat ia kembali berjalan menghampiri Alivia dan berniat untuk menyerangnya lagi. Dio kembali memperlihatkan mata merahnya itu. Tapi untuk kali ini, beberapa anak termasuk Tino sendiri dengan beraninya berusaha untuk menghentikan Dio.
“Dio, tenanglah, aku mohon!” Pinta Tino sambil berusaha menarik tangannya dan menahan tubuhnya.
Beberapa perlawanan yang ia keluarkan, akhirnya Dio pun dapat bebas dari anak-anak dan teman yang berusaha untuk menahannya.
Setelah itu, Dio berlari cepat ke Alivia. Tapi tetap saja, dia tidak berhasil untuk menyerang Alivia lagi karena tiba-tiba guru BK dengan tubuh besar pun muncul di hadapannya.
Lalu dengan cepat Guru BK itu menahan tangan kanan Dio dan menutup matanya dengan tangan kiri guru itu. Dio memberontak berusaha untuk lepas dari Guru BK itu.
“Tenanglah, kalau kau berusaha untuk melawan lagi, saya tidak punya pilihan lain selain harus menenangkanmu dengan cara apapun.” Bisik Guru BK pada Dio.
Dio pun akhirnya diam. Dia mengembalikan kedua matanya seperti semula lagi. Kemudian, Guru BK pun melepaskannya. Dio langsung berlari ke arah Tino dan Tiny berada.
“Terima kasih!” Ucap Tino pada Dio dengan cara berbisik.
Dio hanya tersenyum pada Tino dan Tiny.
Setelah semuanya tenang, Pak Kepala Sekolah kembali memegang Mikrofon itu dan berkata, “Saya minta maaf untuk segala tuduhan ini. Anak saya salah besar. Manusia Death Eye di sini tidak ada yang bersalah. Dan karena pelaku dari kejadian ini belum diketahui, maka saya akan serahkan kasus ini kepada Polisi setempat. Sekarang, semuanya sudah aman. Kembali lah ke kelas kalian masing-masing. Sebentar lagi, waktunya pulang.” Jelas Pak Kepala Sekolah.
Semua murid kembali ke lantai 2 dan 3 untuk kembali ke kelasnya masing-masing. Sebagian anak ada yang terlihat senang karena pulang cepat, tapi sebagiannya lagi masih ada yang merasa ketakutan dan cemas.
Tino, Tiny, Dio dan Tina berjalan bersama sampai ke depan kelas. Tapi saat di depan kelas, tiba-tiba perut Tino terasa sakit. Dia ingin pergi ke Toilet dahulu. Tino berlari ke Toilet dan membiarkan temannya yang lainnya untuk duluan saja.
Saat di Toilet laki-laki, Tino memilih kamar mandi no.2. Saat Tino membuka pintu kamar mandi itu, dia sangat terkejut karena di dalam sana ada banyak darah yang berceceran di lantai kamar mandi. Kira-kira itu darah siapa!?
Perutnya merasa enek karena melihat darah itu. Kemudian, Tino menyiram darah itu dengan air untuk menghilangkan kecurigaan lain. Setelah itu, Tino pergi dari sana dan berjalan kembali ke kelasnya. Dia tidak berniat untuk buang air lagi.
****
Siang ini, setelah selesai beristirahat, Dino kembali pergi ke lantai 2. Ini waktunya untuk memandikan balita-balita itu bersama dengan Yuri tentunya.
Saat ia sampai di dalam ruangan balita, Dino melihat Yuri sedang menonton Televisi dengan seriusnya.
__ADS_1
“Yuri?” Dino menghampirinya, lalu memanggil wanita itu.
“Apa?”
“Ayo! Sekarang waktunya untuk memandikan para Balita itu.”
“Tunggu sebentar, Dino. Coba kau lihat ini!” Yuri menunjuk ke depan Televisi sambil membesarkan volume suaranya. “Lihat, Dino! Anak-anak di sekolah itu kasihan sekali.”
Dino juga ikut menonton. Ia melihat berita di Televisi itu dan terkejut. “Eh, itu sekolah anak-anakku. Ada masalah apa?”
“Barusan diberitakan kalau ada beberapa anak yang meninggal dunia secara misterius di sekolah itu. Katanya kalau para korban itu dibunuh dengan Death Eye. Mereka meninggal karena serangan jantung mendadak. Itulah yang dicurigai polisi. Maka dari itu, mereka sedang mencari pelakunya. Hiii… seram sekali, yah!” jelas Yuri.
“Terjadi pembunuhan di sekolah?! Aku harap Tino dan Tiny baik-baik saja.” Batinnya cemas.
****
Malam harinya….
Dino pulang ke rumah lebih cepat dari
biasanya hari ini. Tino dan Tiny senang sekali
melihat ayahnya pulang. Mereka mengajak
ayahnya untuk makan malam bersama.
Di meja makan, Chelsea sudah menyiapkan banyak makanan untuk. Dino. Termasuk Udang Goreng kesukaannya. Ia merasa senang karena sudah lama tidak makan malam bersama keluarganya.
“Yeay, jarang-jarang ayah makan malam bersama kami. Tapi akhirnya, hari ini ayah bisa mersama kami. Aku senang sekali.” Kata Tino.
Tiny mengangguk senang.
“Iya, ayah juga.”
Dino berpikir sejenak sebelum ia menyantap makanannya, lalu setelah itu, ia menatap Tino dan Tiny. “Eh, sebenarnya ada kejadian apa tadi saat di sekolah?” tanya Dino pada mereka.
Tino dan Tiny menggeleng pelan.
“Kami juga tidak tahu, yah! Semua itu terjadi begitu cepat.” Jawab Tino.
Tiny menulis. ‘Dan lagi, karena kasus itu, kami menjadi tersangka yang dicurigai satu sekolah tadi.’
“Iya. Tapi ayah tenang saja. Kami baik-baik saja, kok!” kata Tino lagi.
“Hmm… kenapa bisa terjadi kejadian seperti itu, yah? Ini aneh. Memangnya ada berapa anak yang menjadi korban kematian misterius itu?” tanya Chelsea.
“Intinya ada banyak, bu! Ada puluhan anak yang meninggal.” Jawab Tino.
Dino dan Chelsea terkejut.
“Eh, ya ampun! Banyak sekali. Kenapa bisa seperti itu!?” tanya Chelsea lagi.
Tino dan Tiny menggeleng.
“Baiklah, baiklah, kita pikirkan masalah ini nanti. Sekarang kita lanjut makan dulu.” Ucap Dino.
Semuanya melanjutkan makan malam mereka. Tapi Dino masih memikirkan tentang kematian mendadak yang terjadi di sekolah itu. Benarkah itu pembunuhan? Atau memang hanya kebetulan saja?
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8