
Waktunya pulang sekolah—
“Tiny, ayo!” ajak Tino yang sudah menunggu di depan pintu kelasnya.
Tiny mengangguk. Dia menggendong tasnya dan langsung berlari menghampiri Tino. Setelah itu, Tino dan Tiny pergi dari kelas mereka. Tapi ada Tina yang sedang berjalan pelan dibelakang mereka. Tino menyadari kehadiran Tina di belakangnya dan langsung berbalik badan. Tina terkejut. Tino dan Tiny berhenti sejenak sambil berhadapan dengan Tina.
“Tina, apa yang kau lakukan?” tanya Tino.
Tiny menulis. ‘Apa kau ingin pulang bersama kami?'
Tina mengangguk. “Aku ingin pulang bersama kalian.” Jawabnya.
Tino berpikir sejenak. “Hmm… tapi kami dijemput oleh ibu kami.”
Tina memasang muka kecewa sambil menundukkan kepalanya. Tiny tidak tega melihat temannya seperti itu. Lalu Tiny menarik-narik baju Tino dan merajuk. Tino bingung dengan Tiny. Dia kenapa?
“Tiny, ada apa?” tanya Tino.
Tiny menulis. ‘Biarkan Tina ikut bersama kita! Dia sendirian. Aku tidak tega meninggalkannya.’
Tino menghela napas berat, lalu mengangguk. “Huh, baiklah. Ayo cepat. Ibu sudah menunggu kita di mobil.”
Tiny kembali ceria. Dia senang sekali bisa pulang bersama Tina. Tina juga senang. Lalu tak lama setelah mereka mulai berjalan kembali, tiba-tiba saja ada yang memanggil nama Tino. Ah, ternyata itu Dio.
“Tino!” Serunya.
Tino pun menengok ke belakang dan tersenyum lebar. Dia senang melihat temannya itu datang.
“Tino, lagi-lagi kau meninggalkanku. Jahat!” bentak Dio.
“Eh, siapa yang duluan mulai? Kemarin kamu juga meninggalkanku.” Balas Tino.
“Oh, emang iya, yah?”
“Ah, sudahlah. Lupakan saja. Sekarang ayo pulang bersama.” Ajak Tino.
Mereka berempat berjalan bersama melewati lorong sekolah hingga akhirnya keluar dari gedung sekolah dan mereka langsung menuju ke pintu gerbang paling depan untuk menunggu jemputan mereka.
Ternyata di depan gerbang sudah ada Chelsea yang merupakan Ibunya Tiny dan Tino dengan mobilnya. Di sampingnya juga sudah ada Liena dengan mobilnya yang datang untuk menjemput Dio.
“Anak-anak, kenapa kalian keluarnya lama sekali?” tanya Chelsea cemas.
“Ehehe… Kelasnya baru selesai soalnya.” Jawab Tino dengan ketawa kecilnya.
Chelsea tersenyum. “Oh, begitu.” Lalu dia melirik ke Tina yang berada di samping Tiny. “Hmm… Tiny, apa itu temanmu?” tanya Chelsea.
Tiny menagngguk.
“Oh. Apa dia tidak dijemput oleh orangtuanya?” tanya Chelsea lagi.
Tiny mengangkat kedua bahunya dan menggeleng pelan, lalu dia menengok ke Tina. Tina menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya. Dia malu. Chelsea bingung. Kemudian dia melirik ke Tino. Tino meneleng, lalu menengok ke Tina.
“Tin, katanya kamu mau menumpang bersama kami. Jadi tidak?” tanya Tino.
Tina tersentak. “Ba–baiklah. Kalau kalian memperbolekanku.”
Chelsea mengangguk sambil tersenyum lebar. “Tentu. Tentu saja boleh. Ayo kalian semua masuk ke mobil.”
“Baiklah, teman-teman. Aku pulang duluan, ya!” kata Dio sambil melambaikan tangan. Dia memasuki Mobil ibunya.
“Aku duluan, yah, Sea!” ujar Liena.
Chelsea mengangguk. “Baiklah. Hati-hati!”
“Iya. Kau juga.”
BRRMMM….
Liena sudah jalan duluan dengan mobilnya. Sekarang, Chelsea juga akan menjalankan mobilnya setelah anak-anaknya masuk. Tino duduk di depan di samping Chelsea. Tiny dan Tina di kursi belakang. Sabuk pengaman sudah terpasang, dan sekarang saatnya jalan. Chelsea menginjak pedal gasnya dan mobil pun langsung bergerak maju di jalanan.
Sebelum ke rumahnya, Chelsea akan menghantar Tina terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, Chelsea ingin bertanya kepada Tina.
“Tin, di mana rumahmu?”
__ADS_1
Tina berpikir sejenak. “Hmm… turunkan saja aku di jalan perempatan di sana itu. Karena rumahku masuk gang, jadi tidak akan muat untuk dilewati oleh mobil.” Jawabnya.
Chelsea mengangguk. “Hmm… oke.”
****
Saat sampai di tempat yang dikatakan Tina, Chelsea pun memberhentikan mobilnya. Tina membuka pintu dan langsung melompat turun dari mobil. Dia mengucapkan “terima kasih” dan melambai pada Tiny sebelum Mobil Chelsea berjalan lagi. Setelah Tina turun, Chelsea kembali mengendarakan mobilnya.
“Aku ingin tahu di mana rumah Tina berada.” Batin Tiny.
Sebelum menuju ke rumah, Chelsea ingin mampir ke Mini Market dulu untuk membeli sesuatu. Saat sampai di sana, Chelsea mematikan mesin mobilnya dan langsung turun dari dalam Mobil. Begitu pula dengan Tino dan Tiny. Mereka berdua akan ikut bersama dengan Ibu mereka.
“Selamat datang!” Sapa salah satu pegawai di Mini Market itu.
Chelsea membalasnya dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian seperti biasa, Tino dan tiny menghampiri tempat menyimpan makanan kesukaan mereka dan Chelsea pergi ke arah lain untuk mencari sesuatu yang ingin dibelinya.
****
Saat di gedung SDEH–
“Dino! Kita kehabisan bedak bayi. Sampo mereka juga hampir habis. Bagaimana ini!?” Panik Yuri.
Dino terkejut. “Hah!? Cepat sekali sudah habis.”
“Iya. Lalu ini juga. Minyak bayinya dan minyak wanginya juga!”
“Minyak bayinya juga? Eh, tidak boleh habis! Nanti perut bayi-bayi itu bisa kedinginan!” Kata Dino. “Kalau begitu kita harus beli lagi!”
Dino dan Yuri akan pergi ke Mini Market untuk membeli perlengkapan bayi yang habis.
****
Saat sampai di sana…
Dino dan Yuri bergegas masuk ke dalam Mini Market itu. Setelah masuk, Dino dan Yuri langsung mencari barang-barang yang akan mereka beli.
Tapi saat di tempat penyimpanan Kosmetik, Aku sempat bertemu dengan Chelsea di sana. Chelsea terkejut melihatku berdua dengan wanita lain.
“Dino! Siapa dia!?” tanya Chelsea tegas.
“Aku hanya ingin membeli bahan untuk makan malam. Sekalian, anak-anak ingin membeli cemilan mereka.” Jawab Chelsea. “Kalau kau? Sedang apa di sini?”
“Aku hanya ingin membeli beberapa perlengkapan perawatan bayi. Semuanya sudah habis.”
Tak lama kemudian, Tino dan Tiny datang menghampiri orangtuanya setelah mereka mendapatkan makanannya.
“Eh, ayah juga ada di sini?” tanya Tino.
“Iya.”
Mereka berdua memeluk Dino. Mungkin saja mereka rindu dengan ayahnya.
“Baiklah anak-anak, kalau kalian sudah selesai, ayo kita pulang!” ajak Chelsea.
“Eh? Ayah tidak ikut bersama kita?” tanya Tino.
Dino berjongkok dihadapan anak-anaknya dan mengelus kepala mereka. “Ayah masih ada pekerjaan. Ya, nanti malam ayah akan pulang dan kita akan bermain bersama lagi dirumah, oke!”
Tiny dan Tino mengagguk senang. Lalu setelah itu, mereka langsung berlari menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.
“Baiklah, sayang, aku duluan dengan anak-anak, yah.” Kata Chelsea. “Kau akan pulang, kan?”
“Iya. Aku akan pulang nanti malam.” Jawab Dino.
Setelah itu ia menyingkirkan rambut Chelsea ke samping dan mencium pipinya. Seketika, Yuri yang ada dibelakangku langsung berdeham dan tertawa kecil.
Dino dan Chelsea langsung tersipu malu. Ia lupa kalau Yuri sedang bersamanya. Haduh, pasti malu rasanya.
Chelsea sudah pergi dengan anak-anak. Saat ini Dino masih berada di dalam Mini Market bersama Yuri.
“Ehem. Jadi itu keluargamu?” tanya Yuri.
“Iya.”
__ADS_1
“Kau dan Istrimu akrab sekali, yah? Dan anak-anakmu juga lucu-lucu dan baik.” Puji Yuri.
“Ah, iya begitulah. Terima kasih. Sekarang ayo kita lanjut mencari perlengkapan bayi lagi. Kita harus segara kembali ke SDEH!”
“Ya!”
****
Saat dirumah–
“Tiny! Ayo makan dulu.” Ajak Tino. Dia membuka pintu kamarnya dan terlihat Tiny sedang menulis sesuatu di kertasnya. Tino pun mendekati adiknya.
Ooh… ternyata Tiny bukan sedang menulis. Dia sedang menggambar. Tiny sangat terkejut saat Kakaknya datang dan melihat gambarannya. Tiny langsung menutupi gambarnya dengan tangannya itu. Ternyata Tino tidak boleh melihat hasil gambarnya.
Tino tertawa kecil. “Hei, kenapa aku tidak boleh lihat gambarmu? Padahal bagus, loh!”
Tiny membuka matanya lebar-lebar dan menatap Tino bingung. Kemudian dia tersenyum dan tertawa kecil. Lalu Tiny kembali membuka tangannya dan memperbolehkan kakaknya untuk melihat hasil gambarnya itu.
Tino terkejut. Dia tidak percaya, ternyata adiknya berbakat dalam menggambar. Gambarannya sangat bagus. Tino menyukainya.
Kemudian, hasil gambar itu, Tino tempelkan di dinding samping tempat tidur mereka. Tiny dan Tino menyukainya.
“Bagus kan?” tanya Tino.
Tiny mengangguk senang.
“Lain kali, buatlah lagi gambarmu yang bagus itu, yah! Nanti kita hias kamar kita dengan gambar-gambarmu yang bagus itu, agar Ayah dan Ibu bisa melihatnya juga!” Ujar Tino.
Tiny menulis. ‘Ya! Akan aku usahakan. Terima kasih sudah memuji gambarku, kak!’
“Iya. Sekarang ayo kita pergi ke dapur. Ibu sudah menyiapkan makan malam. Ayo!” Ajak Tino.
Tiny mengangguk. Lalu dia menarik tangan kakaknya dan pergi keluar dari kamar.
“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Chelsea.
Tino menggaruk kepalanya. “Maaf, bu. Hehe…, tadi kami habis dari kamar dan Ibu tahu tidak?”
“Tahu apa?”
“Tiny! Dia sudah punya bakat yang terpendam dalam dirinya, lho, bu!”
“Benarkah? Bakat apa itu?”
“Dia pintar menggambar!”
“Benarkah? Hebat sekali. Ibu turut senang mendengarnya.”
“Lihatlah, Tiny! Ibu juga menyukai karyamu.”
Tiny tersenyum dan tersipu. Tapi dia bahagia karena sudah ada orang yang menyukai hasil karyanya. Hari ini, Tiny senang sekali. Dia juga akan memberitahukan tentang kemampuannya itu pada ayahnya.
Tiny menulis, ‘Terima kasih sudah memuji karyaku. Hanya kemampuan itulah yang bisa kulakukan.’
Tino mengelus rambut Tiny. “Tidak apa, Ny. Itu juga sudah bagus. Kau adikku yang terhebat. Jadi sekarang, apa impianmu yang bisa diambil dari bakatmu itu?” tanya Tino.
Tiny tersenyum. Kemudian dia kembali menulis untuk menjawab pertanyaan kakaknya, ‘Aku ingin menjadi seorang penulis dan pelukis yang hebat’
Tino tersenyum dan tertawa lebar. “Waah! Hebat sekali. Aku harap, impianmu itu bisa menjadi kenyataan!”
“Iya, Ibu harap begitu. Semangat Tiny! Kau harus bisa mewujutkan impianmu itu, Nak.” Ujar Chelsea.
Tiny senang sekali. Dia tersenyum lebar dan sembari menulis, ‘Terima kasih banyak! Aku senang sekali!’
Kemudian setelah itu, Tiny memeluk Ibu dan kakaknya. Perasaan Tiny sedang membaik saat ini.
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8