The Death Eye

The Death Eye
Eps 1– Awal


__ADS_3

“DINOOO…!” Chelsea berteriak.


“Uwwaaa… apa?!” Mendadak Dino yang sedang tertidur itu pun terbangun dari dan terjatuh dari atas tempat tidur. “Aduh… aduh… Chelsea, ada apa denganmu?!” tanyanya geram sambil mengelus kepalanya.


Chelsea berjalan menghampirinya. “Dari dulu sampai sekarang, kau selalu saja seperti ini. Cepat bangun! Kau harus bangunkan anak-anak sekarang! Mereka harus sekolah. Nanti terlambat.” Perintah Chelsea.


“Kenapa tidak kau saja yang membangunkan anak-anak? Ayolah, Sea!” Dino mengeluh.


Chelsea menggeleng. “Tidak, tidak, tidak! Harusnya kau yang membangunkan anak-anak. Kalau tidak dibiasakan, nanti kau malah keenakan tidur sampai lupa waktu. Sekarang cepatlah! Anak-anak akan terlambat tuh!”


“Baiklah, baik!” Dino berdiri dan langsung pergi keluar kamar. Setelah Dino pergi, Chelsea membanting tubuhnya di Kasur dan dengan santainya, dia seenaknya kembali tidur di Kasur itu. Sementara sekarang Dino lagi-lagi harus harus mengurus anak-anaknya. Dasar Chelsea


****


KRIEET….


Dino membuka pintu kamar Tino dan Tiny, sedikit mengintip ke dalam dan ia bisa melihat kedua anak kembarnya tidur seperti bayi. Mereka terlihat manis kalau sedang tidur.


Dino sebenarnya tidak tidak tega membangunkan mereka. Tapi yah, apa boleh buat, mereka harus sekolah hari ini.


Ia berjalan perlahan ke tempat tidur si kembar lalu menggoyangkan tubuh Tiny dan Tino untuk membangunkannya. Akhirnya mereka pun bangun juga. Anak-anak Dino memang paling mudah dibangunkan daripada ayah mereka.


****


“Kami berangkat dulu, Bu!” Tino melambai tinggi pada ibunya dari samping mobil.


“Aku pergi menghantar anak-anak dulu yah, sayang.” Ujar Dino pada Chelsea sebelum ia memasuki mobilnya.


Chelsea melambai sambil tersenyum pada kami. Setelah itu, Dino dan anak-anak masuk ke dalam mobil. Mengemudikan mobilnya secepat yang ia bisa, agar Tino dan Tiny bisa sampai di sekolah dengan cepat.


Tidak seperti biasanya, hari ini langitnya sedang tidak mendukung dan Jalan menjadi sepi. Ke mana semua orang? Apa mereka sedang berada di dalam rumahnya masing-masing untuk menghindari bahaya cuaca hari ini?


“Ayah, apakah hari ini akan turun hujan? Atau badai yang mengerikan?” tanya Tino cemas.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, anak-anak. Mungkin hari ini akan hanya turun hujan biasa saja.” Dino menjawab.


Tino dan Tiny menghela napas berat. Mereka terlihat khawatir sekali. mata kanan Dino melirik sejenak ke belakang, lalu kembali melirik ke jalan di depan. Semoga saja tidak akan terjadi hal yang buruk hari ini.


****


Akhirnya sampai di sekolah….


“Sampai jumpa lagi, anak-anak. Belajar yang rajin, oke. Nanti saat pulang sekolah, Ibu akan menjemput kalian.” Ucap Dino sambil melambai kecil.


Tino mengangguk senang. Tapi tidak dengan Tiny. Dia diam saja daritadi dan wajahnya terlihat pucat. Ayahnya jadi cemas dengan keadaanya. Tadinya Dino akan bertanya tentang keadaanya pada Tiny, tapi dia sudah pergi duluan bersama kakaknya, Tino. Semoga tidak terjadi sesuatu padanya hari ini.


GLUDUK….


Suara sambaran petirnya sangat menggelegar dan keras. Sepertinya hari ini akan turun hujan yang sangat lebat. Dino harus segera kembali ke rumah seperti orang lainnya. Tapi hari ini juga ia harus bekerja.


Dino kembali masuk ke dalam mobilnya. Tapi sebelum itu, ia sempat melihat seseorang yang datang dengan mobilnya. Mobil itu berhenti di samping punya Dino. Kemudian pengemudi mobil itu keluar.


Ternyata Aldy. Dia juga menghantarkan anaknya juga ke sekolah.


Setelah turun dari mobil, Aldy langsung berlari senang menghampiri Dino. Ia melambai padanya sambil tersenyum, lalu tidak lupa menyapanya juga, “Hai, Dino!”


“Ya, hai juga.” Dino menyahut dengan senyum.


Aldy sudah terlihat dewasa semenjak dia menikah dengan Liena. Dia terlihat berbeda. Dari sikapnya, maupun dengan penampilannya. Tapi kalau diperhatikan, model rambutnya tetap sama saja. Dia suka sekali memiliki rambut tebal dan acak-acakan seperti itu.


Ah, mungkin saja Aldy malas merapihkan rambutnya karena amarah Liena. Biasanya kan, jika LIena marah atau kesal pada Aldy, Liena selalu menjambak rambut Aldy. Maka dari itu Aldy tidak ingin merapihkan rambutnya lagi. Karena akan percuma.


Tok tok tok….

__ADS_1


Ada yang mengetuk kaca mobil dari dalam. Lalu seseorang berteriak dari dalam sana, “Ayah! Buka pintunya. Aku bisa terlambat, nih!”


Aldy terkejut. Ia menepuk keningnya sambil tertawa. Ternyata dia lupa membukakan pintu mobil belakang untuk anaknya keluar. Haduh, dia ternyata masih saja ceroboh.


“Oh, iya, nak! Ayah lupa,” Aldy langsung membukakan pintu mobil belakang agar anaknya bisa keluar.


“Huh, Ayah!” Keluh Dio. Wajah anak kecil itu terlihat cuek dan sinis sekali. Sikapnya seperti ibunya.


Dio Halfir Pratama adalah anak pertama Aldy dan Liena. Dia anak yang baik dan hebat. Suka membela dan menolong temannya. Tapi terkadang suka memaksa dan manja. Dia juga bersahabat dengan Tino dan Tiny.


“Nah, Dio. Sekarang apa yang kamu tunggu? Masuk kelas, sana. Nanti telat, lho!” Kata Aldy.


Dio melirik ke sekitarnya mencari sesuatu. Dino jadi bingung. Apa yang dia cari?


Karena penasaran, Dino pun bertanya padanya, “Kau cari apa, Dio?”


Dio menatap padaku. “Emm… Tiny dan Tino di mana?” tanyanya.


“Oh, mereka sudah masuk kelas duluan.” Jawabnya.


Dio terkejut. “Eh? Kenapa tidak bilang daritadi! Ah, payah kau!” Bentak Dio dan langsung berlari masuk ke dalam gedung sekolahnya.


Dino tersentak. Tidak ia sangka ternyata Dio bisa membentak Orangtua seperti itu. Aldy menatap ke arah anaknya dengan tatapan sinis. Lalu dia menengok ke arahku dan tertawa kecil.


“Dino, maaf atas kelakuan anakku itu yah. Aku jadi tidak enak.” Ucapnya Aldy merasa tidak enak.


Dino menggaruk kepala dan tertawa. “Haha… tidak apa-apa. Namanya juga anak-anak.” Aku membuka pintu mobilny. “Dah, sekarang aku mau kembali ke rumah. Chelsea menungguku.”


“Kau tidak pergi kerja hari ini?”


“Aku akan pergi setelah sarapan dengan Chelsea dulu. Kebetulan aku lagi masuk siang.”


“Oh gitu,”


“Ya sudah aku pergi, ya?”


Dino dan Aldy keluar dari lingkungan sekolah dengan mobil yang kami kendarai dan pergi kembali ke rumah masing-masing.


****


Tino sudah sampai di kelasnya. Begitu pula dengan Tiny. Tiny berbeda kelas dengan kakaknya. Tapi kebetulan kelas mereka bersebelahan walaupun berbeda ruangan. Pertama, Tino mengantar Tiny ke depan kelasnya.


“Sudah, yah! Aku ke kelasku dulu. Kau sudah bisa kutinggal, kan? Nanti jam istirahat Aku akan menjemputmu lagi. Kita bermain bersama, oke.” Kata Tino dan berjalan meninggalkan Tiny di depan kelasnya.


Tapi sebelum Tino menjauh darinya, Tiny sempat menarik tangan kakaknya kembali. Tino tersentak dan menatap bingung pada Tiny. Adiknya itu menatap Tino dengan ekspresi ketakutan. Dia menggeleng. Melarang Tino untuk meninggalkannya. Tino pun kembali berhadapan dengan Tiny.


“Tiny, kau kenapa?” tanya Tino cemas.


Tiny tidak berkata apa-apa. Dia hanya menggeleng sambil melirik ke ruang kelasnya. Tino bingung. Dia juga melirik ke dalam kelas Tiny. Sebenarnya apa yang dia takutkan dari kelasnya itu? Tino melihat, kelasnya baik-baik saja. Tidak ada yang aneh.


Setelah melirik ke sekitar kelas, Tino kembali menatap adiknya dan bertanya, “Umm… Tiny, apa kau takut masuk ke kelas ini?”


Tiny hanya mengangguk.


“Oh, kenapa?”


Tiny tetap tidak menjawab. Tino tersenyum padanya lalu berujar, “Ya sudah, ayo aku hantar kamu masuk ke dalam. Ayo cepat.” Tino menarik tangan Tiny ke dalam kelasnya.


Semua anak di dalam tersenyum pada mereka. Beberapa anak menyapa Tino. Tapi bagaimana dengan Tiny? Kenapa hanya Tino yang mereka sanjung?


Nah, Tiny sudah sampai di tempat duduknya. Dia duduk di baris ke-3, kursi paling depan.


“Sudah, yah, Ny! Aku mau masuk ke kelasku dulu. Kau sudah merasa baikkan?” tanya Tino pada Tiny.

__ADS_1


Tiny menjawabnya dengan mengangguk kecil sambil menundukkan kepalanya. Oke, kalau Tiny sudah merasa nyaman, Tino pun pergi meninggalkannya. Sesaat setelah Tino pergi keluar kelasnya, perasaan Tiny langsung tidak enak. Tiny melirik ke sekelilingnya.


Seperti biasa, teman-teman sekelasnya menatap tajam ke Tiny. Tiny ketakutan berada di kelas itu. Di kepala Tiny, semua teman-temannya itu adalah monster pengganggu baginya yang harus ia hindari.


KRIING… KRIIING….


Bel masuk berbunyi. Semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Lalu ada anak perempuan yang masuk ke kelas Tiny. Anak itulah yang paling ditakuti Tiny. Dia bernama Olifa Alivia, anak perempuan paling popular di kelasnya. Temannya banyak, wajahnya cantik dan dia orang yang kaya akan harta bendanya.


Dia juga merupakan ketua dari kelompok terbaik di sekolah. Semua orang yang masuk dalam kelompoknya maka akan dianggap sebagai anak terbaik di sekolah. Kelompoknya hanya beranggota 6 orang, yaitu 2 laki-laki dan 4 perempuan, juga ketuanya yaitu Alivia.


Mereka memang kelompok paling hebat. Tapi apakah sikap mereka juga hebat? Tidak. Hobi mereka mengganggu orang lain dan semua orang juga takut dengannya. Alivia seperti orang yang paling berkuasa di sekolah itu. Jika ada yang melanggar peraturannya atau tidak patuh dengan perintahnya, maka ia akan langsung mengganggu orang itu dan bahkan sampai berani mengeluarkan seorang murid dari sekolah, karena… ayahnya adalah kepala sekolah tersebut.


Yang paling Tiny takuti adalah sikap Alivia terhadap dirinya. Tiny dijadikan sebagai bahan bullian dan sebagai tukang pesuruh baginya. Tapi yang paling mengerikannya lagi, Alivia ternyata menyukai Kakaknya Tiny, yaitu Tino. Kan sangat gawat!


Alivia berjalan melewati tempat Tiny. Dia menatap Tiny sinis sambil senyum-senyum sendiri. Lalu tak lama kemudian, saat Alivia berjalan di samping meja Tiny, dia tiba-tiba saja terjatuh. Semuanya sangat terkejut dan langsung menghampiri Alivia.


“Aduh… duh… aduh kakiku sakit!” Rintih Alivia sambil mengelus-elus kakinya. “Ah, ini gara-gara anak bermata satu ini! Aku tersandung kakinya!”


Tiny terkejut. Dia merasa tubuhnya dingin merinding penuh dengan ketakutan. Alivia kembali berdiri dan langsung menarik kerah baju Tiny.


“Hei, mata satu! Kalau taruh kaki tuh yang benar! Jangan sembarangan saja!” Bentak Alivia.


Tiny menatap Alivia ketakutan. Matanya berkaca-kaca hendak ingin menangis. Tubuhnya terus menggetar.


“A-aku… aku tidak melakukan apapun. Da-daritadi aku diam saja…” Kata Tiny terisak-isak.


Alivia menggeram dan langsung mencengkram rambut Tiny lalu melemparnya ke lantai. Tiny mengerang. Alivia berjalan ke arah Tiny yang tergeletak di lantai. Dia berdiri dihadapannya.


“Tidak mungkin kau tidak melakukan apapun padaku. Kau pasti menggunakan matamu itu untuk mencelakakan aku, kan!? Makanya aku jadi dapat nasib sial begini gara-gara matamu!” bentak Alivia kesal.


Tiny benar-benar sangat ketakutan saat ini. Dia berharap kakaknya datang dan menolongnya. Semua teman sekelasnya hanya menonton sambil menertawakan Tiny. Lalu Alivia menarik tangan Tiny dan menggenggamnya kuat.


Alivia mengepal tangannya dan berniat untuk memukul Tiny. “Sekarang, kau harus kuberi pelajaran dahulu, agar kau tidak-”


“Tiny!” Seru seseorang memanggil namanya dari depan pintu kelas. Serontak semua orang yang ada di sana pun langsung menengok ke arah orang itu. Harapan Tiny terkabul. Ternyata yang datang itu adalah kakaknya, Tino.


Tino berlari menghampiri adiknya. Dia terkejut melihat adiknya dalam keadaan tidak baik dan penuh dengan air mata.


“Tiny, kau kenapa?” tanya Tino cemas. Lalu Tino melirik ke tangan Alivia yang menggenggam pergelangan tangan Tiny. “Apa yang kau lakukan pada adikku?” tanya Tino pada Alivia.


Alivia tertawa kecil. Lalu dia menarik tangan Tiny secara perlahan dan membantunya berdiri kembali.


“Oh, tadi aku hanya ingin membantu Tiny berdiri. Dia tadi terjatuh ke lantai dan menangis.”Jawab Alivia.


Tino masih belum percaya dengan kata-kata Alivia. Dia kembali bertanya pada adiknya untuk memastikan perkataan Alivia. “Apa yang dikatakan Alivia itu benar, Tin?”


Tiny melirik ke sekitarnya. Semua temannya menatapnya dengan tatapan tajam menyeramkan. Tiny semakin takut. Lalu dia melirik ke belakang bahu Tino. Di sana ada Alvia sedang berdiri di belakang tino sambil menatap Tiny dengan menyipitkan matanya.


“Kenapa diam saja? Ayo katakan saja padaku. Apa yang terjadi padamu? Apa kau benar-benar terjatuh dan Alivia yang membantumu?” tanya Tino lagi.


Tiny mengangguk kecil. “Iya. Aku tadi terjatuh.”


Tino merasa lega adiknya tidak apa-apa. Ia tersenyum menatap adiknya. “Huh, baiklah kalau begitu, lain kali lebih hati-hati lagi, yah.” Pesan Tino. Lalu dia berbalik badan dan kembali ke kelasnya. Sebenarnya Tiny tidak mau ditinggal Tino lagi. Dia ketakutan di sini.


Setelah Tino pergi, Alivia kembali mendorong Tiny sampai terjatuh. Seketika semua anak di kelas langsung menertawainya.


“Haha… lain kali, tutup mulutmu itu! Jangan beritahu kakakmu tentang ini atau kau rasakan sendiri akibatnya!” ancam Alivia sebelum dia pergi meninggalkan Tiny. Semuanya pun kembali ke tempat duduk masing-masing. Lalu tak lama kemudian, guru yang mengajar di kelas itu pun datang dan pelajaran dimulai sekarang.


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2