
GUBRAKK!!
Mobil yang mereka tumpangi menabrak Pohon besar yang ada di pinggir jalan. Setelah tabrakan itu, anak kecil yang berdiri tepat di dekat kecelakaan itu pun menunjukkan sosok aslinya.
Ternyata anak itu adalah Tina atau bisa dibilang juga sebagai Miya Nakamura.
Anak perempuan dengan nama asli Miya ini, berjalan perlahan sambil membawa Kapaknya ke arah mobil yang menabrak pohon itu. Mumpung keadaan jalan masih sepi dan tidak ada orang lain yang lewat jalan itu, ini kesempatan Miya untuk menyerang.
Miya menghancurkan pintu Mobil bagian kiri dengan Kapaknya, lalu menarik kaki Tiny yang dalam keadaan tak sadarkan diri sampai keluar dari mobil.
Kemudian, Miya membawa Tiny masuk ke dalam hutan dengan cara menarik kaki dan menyeret tubuhnya. Tak lama setelah Miya menculik Tiny, Tino akhirnya sadar.
“Aduh, apa yang terjadi? Kepalaku sakit sekali.” Tino melirik ke sekitar dan terkejut. “Eh! Ada apa ini!? Mobilnya menabrak pohon dan… oh, tidak! Tiny menghilang ke mana? Ibu! Ibu baik-baik saja. Syukurlah. Tapi Tiny?”
Setelah menyadari kalau adiknya hilang, Tino segera bergegas keluar dari Mobil dan mencari Adiknya. Tino mendapatkan petunjuk dari depan pintu depan mobil yang terbuka.
Ada segaris darah di atas tanah dan rumput yang tergesek masuk ke dalam hutan. Tino berpikir kalau itu adalah darah Tiny. Tino pun segera berlari masuk ke dalam hutan untuk mencari adiknya.
Miya berhasil membawa Tiny sampai ke tempat tujuannya, di mana dia akan membunuh temannya itu. Tepat di pinggir jurang yang dalam, Miya menggeletakkan tubuh Tiny di pinggir Jurang dalam hutan dan menginjak tubuhnya.
Kemudian, Miya kembali mengambil Kapaknya. Dia akan membunuh Tiny dengan kapaknya itu. Tapi sebelum itu, tiba-tiba Miya merasakan pergerakan dari dalam tubuh Tiny.
Lalu perlahan Tiny membuka matanya dan dia melihat Miya yang sudah mengangkat Kapaknya tinggi-tinggi. Tiny sangat terkejut. Dia pun langsung memberontak untuk melepaskan diri dari sana, tapi sangat sulit karena tangan kanannya diinjak kaki Miya dan Dadanya juga.
“Tina? Ini dirimu? Kenapa kau melakukan ini padaku? Bukankah kita berteman." Batin Tiny ketakutan. "Andai saja aku bisa mengatakannya langsung padanya, tapi sayang, aku sudah tidak bisa berbicara lagi!”
Tiny berusaha untuk teriak untuk meminta pertolongan, tapi dia tidak bisa karena suaranya tidak ada yang keluar sama sekali. Dadanya semakin sesak karena dia merasa paru-parunya sudah semakin sempit karena tidak ada ruang untuk memasukan oksigen ke dalam tubuhnya. Tiny selalu menggeleng pada Miya untuk tidak membunuhnya saat ini.
“Kau bisa diam, tidak!? Aku harus menyelesaikan tugasku, tau! Sekarang… apakah ada kata-kata terakhirmu? Hahahaha...” Miya mengeluarkan ketawa kejinya.
“Andai aku bisa bilang kata terakhir ini padanya, kalau aku… senang bisa memiliki teman seperti Tina walaupun pada akhirnya, dia berkhianat padaku.” Batin Tina.
“Oh iya, aku lupa kalau kau itu tidak bisa berbicara. Sudahlah kalau begitu, daripada buang-buang waktu, lebih baik aku langsung saja mengakhiri hidup Death Eye yang tidak berguna ini!”
Miya kembali mengangkat Kapaknya ke atas, dan langsung saja Kapak itu akan membelah kepala Tiny.
GREP!
“Apa yang akan kau lakukan pada adikku? Pengkhianat!” bentak Tino yang tiba-tiba muncul dan dia berhasil menggenggam tongkat kapak itu agar tidak dapat melukai Tiny.
Miya tersentak kaget, “Ti–tino!?”
Tino menarik tangan Miya dengan kuat dan kembali menggenggam tongkat Kapak itu, lalu berhadapan dengan Miya dan membelakangi Tiny. Tiny pun kembali berdiri, lalu dia menengok ke belakangnya ternyata ada jurang yang sangat dalam.
Miya berusaha untuk menarik kembali Kapaknya itu. Tapi tidak bisa karena Tino menahan bagian dekat mata pisaunya. Dalam posisi Tino yang seperti itu, Miya langsung mendapatkan ide untuk membunuh kakaknya dahulu.
Miya tersenyum sambil menatap dingin pada Tino. “Heh, kau datang ke sini hanya untuk menyelamatkan adikmu?”
“Ikh! Tentu saja. Karena adikku adalah orang yang paling kusayangi. Maka dari itu, aku harus melindunginya.” Jawab Tino.
“Oh, begitukah? Tapi sekarang, usaha untuk melindungi adikmu akan sia-sia saja! Sekarang… matilah kau!”
JLEB!
Tiba-tiba saja Miya mendorong Kapak itu dan ujung dari Mata pisaunya sedikit menusuk dada Tino. Tino menahan sakitnya itu. Dan lebih parah lagi, Tiny terperosot masuk ke dalam jurang duluan karena terdorong oleh tubuh Tino.
“Ugh! Ti–tiny! Ti… dak….”
“Kan sudah aku bilang, usahamu itu sia-sia. Sekarang, kau ikutlah bersama adikmu!”
Miya menendang tubuh Tino masuk ke dalam jurang juga. Saat mereka terjatuh bersama, Tino memeluk adiknya dan berusaha untuk melindungi Tiny dari benturan dan hantaman keras batu-batu dan ranting pohon di bawah sana.
BRUK….
Setelah mendengar suara itu, Miya pikir, Tino dan Tiny sudah terjatuh sampai dalam dasar jurang. Lalu dia langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu.
Tak lama setelah Miya pergi, Chelsea pun muncul. Dia ingin mencari anak-anaknya yang hilang. Lalu saat sampai di pinggir jurang itu, Chelsea berhenti melangkahkan kakinya dan berpikir sejenak.
__ADS_1
“Tidak mungkin Tiny dan Tino berada di sini. Jalan ini buntu. Mungkin aku harus mencarinya lagi ke suatu tempat.”
Tapi sebelum Chelsea pergi, dia sempat melihat bercak-bercak darah di atas rumput pinggir jurang. Chelsea mencurigai kalau ini adalah darah dari salah satu anaknya. Tapi dia tidak melihat Tino dan Tiny di sekitar situ.
“Tidak mungkin. Aku yakin mereka ada di sekitar sini. Tapi di mana anak-anakku?” pikir Chelsea sambil celingak-celinguk mencari mereka.
Kemudian Chelsea melirik ke dalam jurang itu. “Apa mungkin mereka ada di dalam sana? Eh! Anak-anakku terjatuh ke dalam sana. Oh tidak!”
Chelsea panik setelah mengetahui kalau anak-anaknya ada di dalam sana. Tapi dia belum pasti betul kalau Tino dan Tiny ada di dalam sana. Kalau begitu, untuk memastikan, Chelsea menghubungi 112 untuk meminta bantuan. Lalu setelah itu, ia juga menghubungi Dino pastinya.
****
TRINIIING… TRINIIING…
“Eh, Dino! Itu Ponselmu berbunyi. Apa kau tidak mengangkatnya?” tanya Yuri.
Dino merogoh kantung celananya dan mengambil Ponselnya yang tiba-tiba berdering. “Oke, baiklah. Aku akan keluar sebentar.”
“Iya.”
TUT.
“Emm… halo? Chelsea, ada apa? Hah! Apa? Tidak mungkin. Kenapa mereka bisa seperti itu!? Oke, baiklah. Aku akan segera menemuimu. Di mana kau sekarang? Oh, oke. Aku mengerti. Tunggu di sana! Aku akan datang. Tenanglah!”
TUT.
“Ada apa, Dino?” tanya Yuri.
“Ini darurat. Keluargaku mengalami kecelakaan. Aku harus menemui mereka. Semua balita-balita ini, akan kupercayakan padamu. Tolong jaga mereka dengan baik.” Pesannya pada Yuri. Ia sedikit tergesa-gesa. Memakai jaketnya, lalu menggendong tasnya dan pergi.
Namun setelah Dino pergi, Yuri tersenyum. “Semoga berhasil, Dino. Akan kujaga anak-anak ini dengan baik… hehe…” Di genggamannya, Yuri memegang sebotol posion yang tentu saja mematikan.
****
Tiny membuka matanya. Dia melihat ke sekelilingnya, keadaan di sana agak sedikit gelap, penuh dengan dedaunan yang gugur dan kotor.
Sangat buruk!
Tino penuh dengan luka. Yang paling parah adalah luka di dadanya yang masih terbuka.
“Aku tidak mengerti, kenapa kakak sampai segitunya ingin melindungiku? Padahal semua ini salahku. Andai saja aku tidak marah pada kakak, pasti semua ini tidak akan terjadi.” Batin Tiny.
Sekarang Tiny khawatir. Sudah lama Tino tidak bangun juga dan saat ini dia semakin takut karena tidak akan ada yang dapat menemukan dan menyelamatkan dirinya dari sana.
ZRRUG!
Tiny terkejut. Tiba-tiba dia mendengar ada suara benda yang jatuh di sekitarnya. Tiny mendengar suara langkah kaki seseorang yang menghampirinya. Karena ketakutan, Tiny memeluk Tino dan menggenggam tangannya kuat-kuat sambil menutup mata.
Tiny harap, makhluk yang menghampirinya itu tidak ada niat jahat padanya. Tapi Tiny seperti mendengar suara seorang manusia yang bicara. Suara itu semakin jelas dan terdengar keras. Semakin dekat, dan semakin dekat.
Lalu seseorang merobek beberapa daun-daun besar yang menutupi wajah Tiny. Cahaya matahari yang bersinar menyoroti wajah Tiny. Sangat menyilaukan.
“Ah, akhirnya. Hei, korban telah ditemukan! Bawakan bantuan, segera!”
Tiny mengedipkan-kedipkan matanya, lalu tersentak. Tiny senang sekali. Seorang pemadam kebakaran datang menyelamat dirinya dan Kakaknya.
Para tim penyelamat itu, membantu Tiny dan Tino keluar dari dalam jurang itu. Sesampainya di atas sana, Tiny senang sekali bisa melihat kedua orang tuanya lagi.
Dino dan Chelsea senang sekali anak-anak mereka bisa selamat. Tapi tetap saja, Tino harus di berikan perawatan khusus di rumah sakit.
“Tiny! Kau baik-baik saja, kan? Sebenarnya apa yang terjadi padamu, sayang?” tanya Chelsea cemas.
“Maaf Chelsea, sepertinya Tiny mengalami trauma berat.” Dino menghadap ke Tiny. “Sekarang, ayo kita ikut mereka membawa kakakmu ke rumah sakit.” Kemudian ia menarik tangan Tiny. Setelah itu Dino menengok ke arah Chelsea dan berbisik. “Kita bisa bicarakan ini nanti!”
****
Saat di rumah sakit, Tiny selalu setia untuk menemani Kakaknya dan menunggu sampai kakaknya sadar kembali. Sambil menunggu, Tiny juga menulis surat untuk kakaknya sebagai ucapan terima kasih karena sudah melindunginya.
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian, Dino dan Chelsea masuk ke ruang rawat Tino dan bertemu dengan Tiny.
“Tiny? Kau sudah baikkan sekarang?” tanya Chelsea.
Tiny mengangguk sambil tersenyum.
“Ah, baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita pulang sekarang. Besok ujian tengah semester. Oleh karena itu, kamu harus sekolah, kan?” tanya ayahnya.
Tiny menulis. ‘Iya. Tapi… aku tidak ingin meninggalkan Tino sendirian.’
Dino menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tidak apa, Tiny! Tino akan dijaga Ibu semalaman ini. Jadi ayo kamu pulang bersama dengan Ayah. Ayo sayang!”
Tiny mengangguk sambil menunjukkan tulisannya pada Chelsea. ‘Jaga kakak baik-baik, yah, Bu!’
“Iya, tenang saja.” Jawab Chelsea. “Sekarang ayo kita keluar bersama. Biarkan kakakmu beristirahat.”
“Kakak, cepat sembuh, yah! Aku akan kembali lagi besok.” Batin Tiny.
Tiny melambai, lalu keluar dari ruang rawat Tino bersama ayahnya. Dino dan Tiny kembali pulang ke rumah. Sementara Chelsea tetap di rumah sakit untuk menjaga Tino di sana.
****
“Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik sekali hari ini, Miya! Kerja bagus.” Puji Yuri pada anaknya.
“Tentu saja, Bu! Tapi… aku masih belum pasti kalau kedua anak-anak itu beneran mati.”
Kata Miya dengan perasaan menyesal.
“Tidak masalah. Yang terpenting sekarang, kau tetap harus melakukan tugasmu dan hancurkan siapa saja yang mengganggu rencanamu itu.” Ujar Yuri.
“Ah, baiklah, Bu! Sekarang aku ingin berangkat ke sekolah.”
“Ets! Tunggu dulu. Kau hari ini tidak boleh sekolah!” larang Yuri.
“Lho? Kenapa, Bu?” tanya Miya.
“Kau tahu, kan? Anak yang kau serang kemarin itu bukannya dia sebangku denganmu? Kalau dia sudah mengetahui perbuatanmu, lebih baik kau sembunyi darinya kau tidak boleh berteman dengan anak bernama Tiny itu.” Larang Yuri lagi. “Tapi kalau kau tetap ingin kembali ke sekolah itu, lebih baik kau menjadi penyusup di sekolahmu saja dan lakukan tugasmu itu!”
“Oh, baiklah, Bu!” Miya mengangguk pelan.
Miya pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Karena dia tidak di perbolehkan untuk menjadi murid di kelas Tiny lagi, maka Tiny akan memakai baju penyamarannya, yaitu sebuah jubah hitam besar dengan tudungnya yang lebar. Baju selalu dia andalkan untuk memulai misinya. Tapi karena perkataan Ibunya tadi, Miya jadi teringat sesuatu.
•Flashback 2 hari yang lalu….
Miya dan Tiny sedang mengerjakan sebuah prakarya yang ditugaskan oleh bu guru. Lalu tak lama kemudian, akhirnya pembuatan karya Bingkai Foto dari Stik bekas itu pun selesai. Miya dan Tiny senang sekali bisa menyelesaikannya bersama.
Tiny menulis. ‘Senang sekali, yah! Akhirnya kita bisa menyelesaikannya dengan cepat.’
“Iya. Haha… kenapa kita bisa menyelesaikan ini dengan mudah, yah? Padahal kita hanya berdua saja loh.”
Tiny menulis lagi dan menunjukkan tulisannya itu pada Miya sambil tersenyum. ‘Karena kita mengerjakannya bersama. Tanpa bekerja sama, kita tidak akan berhasil mengerjakan apapun.’
Miya mengangguk paham. “Oh, jadi seperti itu. Jadi mulai sekarang, ayo kita selalu bekerja sama agar pekerjaan kita cepat selesai!”
Tiny mengangguk dan tertawa. Lalu mereka mengayunkan jari kelingkingnya bersama.
****
“Waktu itu, sangat menyenangkan sekali. Aku sangat bahagia jika bersama Tiny. Kenapa bisa begitu, yah?” batin Miya bingung sambil menatap dirinya di cermin.
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8