
Saat di kantin….
“Ayo Kita duduk di sini saja deh! Kebetulan lagi kosong.” Ajak Aldy. Dino dan Chelsea hanya mengikutinya saja, Aldy bersemangat sekali hari ini. Lalu mereka duduk di tempat yang dibilang Aldy itu.
“Hey, kau beli makanan apa tuh? Bagi dong!” pinta Aldy.
“Oh, ini Udang Goreng. Kau mau? Ambilah punyaku!”
Aldy langsung mengambil beberapa Udang milik Dino. “Terima kasih!” ucapnya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Lalu, tak lama setelah itu, ada seseorang yang datang menghampiri mereka bertiga.
“Hai, Dino!” Itu ternyata Liena yang sedang membawa makanannya. Dino kembali menjawab sapaannya.
“Boleh aku gabung di sini bersama kalian?” tanya Liena. Kebetulan ada kursi kosong di samping kanannya Dino.
“Silahkan!”
Liena duduk di kursi yang kosong itu. “Terima kasih!” ucapnya sambil tersenyum.
Kirinya Dino ada Chelsea dan di samping kanannya ada Liena. Aldy yang melihat Dino langsung berusaha untuk menahan tawa, padahal tidak ada yang lucu. Karena mulai kesal, Dino pun bertanya padanya.
“Kau kenapa? Kalau mau ketawa, ketawa saja!”
Aldy pun mengeluarkan tertawaannya yang sebenarnya sudah ia tahan dari tadi. Lalu ia berkata, “Haha… kau dikelilingi 2 perempuan, Dino! Jadi seperti Harem saja!”
Mereka bertiga yang mendengar kata asing itu pun jadi bingung.
“Harem? apaan itu?” tanya Dino.
Aldy menelengkan kepalanya. “Hah…? Kau seorang Wibu, masa dengan kata Harem saja kamu tidak mengerti.”
“Aku tidak mengerti, hehe… Wibu saja aku tidak tau maksudnya. Coba, coba, kau jelaskan saja!” ujar Dino sambil memakan beberapa Udang miliknya. Kedua perempuan ini juga mulai fokus memperhatikan Aldy.
Aldy menghembuskan nafas pelan. Lalu ia mulai menjelaskan. “Jadi… Wibu itu adalah istilah atau bisa juga sebagai julukan untuk orang yang menyukai jejepangan. Seperti kau, Dino! Kamu suka nonton anime dan baca Komik, kan?” tanya Aldy.
Dino mengangguk paham.
“Nah itu! Kau itu adalah seorang Wibu. Dan maksud dari Harem adalah seorang laki-laki yang selalu dikelilingi oleh banyak Perempuan. Contohnya sepertimu, Dino!” Jelas Aldy.
Setelah penjelasannya itu, Dino melirik ke kanan dan kirinya, lalu berujar pelan. “Tapi… ini hanya ada 2 perempuan saja, loh… belum termasuk Harem lah… dasar!”
“Tapi tetap saja kau bisa disebut Harem, haha….”
Semuanya tertawa. Selama di kantin, Aldy selalu melawak hal lucu yang membuat semua temannya tertawa. Dia memang teman yang menyenangkan.
****
Akhirnya pelajaran berakhir sampai jam 13:00 saja. Mereka selesai dengan cepat karena semua murid akan mengikuti Ekskul mereka masing-masing. Dino dan Aldy akan pergi ke ruang Japanes Club yang berada di lantai 2 samping kelas-kelasnya kakak senior.
“Haduh, aku gugup!” gumam Dino sambil menundukkan kepala.
“Santai saja! Tidak ada yang perlu dicemaskan kok!”
Lalu tidak lama kemudian akhirnya mereka sampai. Pintunya penuh dengan tempelan stiker huruf-huruf kanji, katanaka, dan higarana jepang. Benar-benar keren!
“Keren!” puji Aldy kagum saat melihat beberapa stiker huruf jepang itu. Langsung saja mereka membuka pintu klub tersebut.
Tapi saat mereka membuka pintu itu, tidak ada siapapun di sana.
“Aldy… sepertinya kita salah ruangan, deh!” Kata Dino berbisik pada Aldy yang ada di sampingnya.
“Aku juga tidak tahu!”
Mereka pun mencoba untuk masuk dan melihat keliling ruangan itu. Tempatnya lumayan luas, tapi masih berantakkan. Banyak kardus yang berserakkan di sana, dan ada 1 kardus besar tepat di tengah ruangan itu. Lalu tiba-tiba Kardus besar itu bergerak sendiri.
Dino dan Aldy mulai merasa takut. Lalu kardus itu terbuka sendiri. Ada seseorang di dalam kardus tersebut!!
“Baaa! Konnichiwa! Selamat datang di Club Jepang ini!” Seorang Perempuan cantik keluar dari kardus dan mengejutkan mereka berdua. Lalu si perempuan itu keluar dari dalam kardus yang ia pijak. Eh, tapi dia malah kehilangan keseimbangannya dan terjatuh bersama kardus itu.
“Aduh!”
Dino dan Aldy langsung mengahmpiri perempuan itu dan membantunya berdiri.
“Kakak baik-baik saja?” tanya Aldy.
Perempuan itu mengangguk. “Iya! Terima kasih. Hei, apa kalian mendaftar di Ekskul Japanes Club ini?” tanya Perempuan itu.
“Iya….” Dino dan Aldy mengangguk bersamaan.
__ADS_1
Perempuan itu tersenyum. “Baiklah kalau begitu! Perkenalkan, nama kakak Dewi Mista Anggraini, panggil saja kak Mista. Kakak adalah ketua di Club ini.”
Jadi namanya Kak Mista. Dia cantik juga rupanya. Aldy sepertinya tertarik dengan perempuan itu.
“Emm… hajimemashite , Senpai Mista-san ! Namaku Aldy Dimasta Pratama. Aku anak tertampan di kelas, lho!” Aldy memperkenalkan dirinya.
*(Hajimemashite\= Ucapan sebelum memperkenalkan diri. Senpai\= Kakak kelas/senior.)
“Ah, masa?” Dino bergumam sambil menahan tawa.
“Oh, jadi namamu Aldy yah! Oke. Sekarang, siapa nama temanmu ini?” tanyanya sambil menatap ke arah lelaki yang sedikit lebih pendek di samping Aldy. Tentu saja itu Dino.
Dino merasa malu, pipinya sedikit memerah. Perempuan itu menatap Dino terlalu dekat. Dino pun mundur perlahan kebelakang. Ia hanya diam saja. Karena, ia selalu merasa gugup jika memberi tahu namanya pada orang yang baru saja dia temui.
“Kau terlihat tidak asing bagiku. Sepertinya aku pernah melihatmu! Siapa namamu?” tanyanya lagi.
Dino masih gugup. Tapi terpaksa ia harus menjawabnya. “A–aku… Dino. Dino Dirmansyah!” Jawabnya dengan nada suara yang gugup dan ragu-ragu.
“Eh!” Seketika, mata Kak Mista tersentak kaget.
Dino terheran dengan ekspresinya yang tiba-tiba berubah. “Emm… kenapa kak?”
“Eh, tidak apa-apa!” Ia menggeleng pelan. Lalu dia berjalan menuju beberapa kardus dipojokan sana sambil bergumam-gumam kecil.
“Eh, apa kalian bisa membantuku, tidak?” tanya kak Msta sambil membawa beberapa kotak kardus.
“Apa yang bisa aku bantu, kak?” Aldy bersemangat sekali.
“Hehe… tolong bawakan kotak-kotak sisahnya itu yah!” Kata Kak Mista tersenyum. Aldy pun langsung menuruti perkataan kak Mista itu. Dia membantu membawakan kotak-kotak, sementara Dino hanya diam saja di tempatnya berdiri.
Kak Mista dan Aldy pergi keluar ruangan. Entah mereka mau ke mana dengan membawa kotak-kotak kardus itu. Dino tetap tinggal di dalam ruangan.
Lalu sambil menunggu mereka kembali, Dino berjalan melihat-lihat isi ruangan. Di sana ada banyak hiasan dinding bertema jejepangan. Dino sangat menyukainya.
Lalu tiba-tiba….
BRUK!
Dino terkejut mendengar ada suara benda jatuh dari atas meja dekat papan tulis itu. Ia pun langsung mengembalikan barang yang jatuh itu seperti semula.
Setelah semuanya rapih kembali, dia melihat ada satu benda yang masih tergeletak di lantai. Itu sebuah bingkai foto dan ada foto seseorang di sana.
“Sepertinya aku pernah melihat orang ini, tapi…” Batinnya berbicara, tapi entah kenapa mendadak kepalanya jadi sakit.
Di dalam kepalanya terbayang-bayang wajah laki-laki itu, Dino mengingat sesuatu. Sepertinya Laki-laki itu pernah ada di dalam kehidupannya. Tapi ia tidak tau hubungan apa si Dino dengan laki-laki ini. Siapa sebenarnya dia?
tap Tap TAP....
Dino mendengar langkah kaki yang mendekat. Ada seseorang yang datang. Dengan cepat, ia langsung memasukan bingkai foto itu ke dalam kotak kardus yang ada di atas meja. Setelah itu ia berjalan menuju ke pintu depan untuk melihat orang yang datang itu.
Namun saat ia lihat keluar, ternyata hanya beberapa anak perempuan yang lewat saja. Mereka semua menuju ke Ruang Musik yang ada di samping Ruang Japannes Club ini. Ruang Musik itu ramai sekali. Ada suara beberapa alat musik yang dimainkan dan juga ada suara nyanyian yang merdu.
“Aldy dan Kak Mista ke mana, sih?” gumam Dino di depan pintu.
Lalu Dino kembali masuk ke Ruang Japannes Club. Sambil menunggu mereka datang, ia duduk di tempat duduk yang sudah tersedia di sana.
Sudah lama Dino menunggu, tapi kenapa mereka belum kembali juga. Apa telah terjadi sesuatu?
Dino pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju pintu depan. Ia ingin mencari mereka. Tapi.…
BRUK!
“Aduh!”
Dino menabrak seorang anak perempuan. Orang yang ia tabrak itu terjatuh. Haduuuh!
“Hei, kalau jalan pakai mata, dong!” bentak perempuan itu.
“Ma–maaf. Aku tidak sengaja!”
Perempuan itu masih memasang muka kesal dan langsung pergi meninggalkan Dino. Ia merasa bersalah sekali karena sudah menabrak seorang anak perempuan sampai dia terjatuh begitu.
Perempuan itu masuk ke dalam Ruang Musik. Apa dia juga ikut Club Musik, yah?
Dino tidak memikirkan perempuan itu. Jadi ia langsung saja pergi mencari Aldy dan Kak Mista. Eh, akhirnya ia menemukan mereka di tangga.
“Dino, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aldy.
“Aku mencari kalian, dan… eh!” Dino melirik ke arah yang berbeda. Di belakang Kak Mista ada seseorang. Itu Laki-laki yang ia lihat di Foto itu!
__ADS_1
Dino sedikit terkejut dengan kehadirannya. Begitu pula dengan Laki-laki tersebut setelah ia melihat Dino. Lelaki tersebut pergi berlari kembali menuruni tangga. Dino ingin mengejar laki-laki itu.
”Tunggu!” Ia berteriak.
Dino juga berjalan cepat menuruni tangga. Tapi tiba-tiba kepalanya sakit kembali dan bayangan laki-laki itu ada di otaknya.
Dino yang sedang berjalan menuruni tangga langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari anak tangga ke-8, lalu berguling ke bawah sampai akhirnya ia tergeletak di bawah tangga itu.
“Dinoo!” teriak Aldy sambil berlari kecil menuruni tangga untuk menghampiri diri Dino.
Dino masih bisa bangkit kembali. Ia berdiri sambil memegang kepalanya yang masih pusing. Semua murid yang ada di sekitar mulai menatap bingung dan memperhatikan Dino.
Termasuk si perempuan yang ia tabrak tadi. Dino sempat melirik ke arah perempuan itu. Dari atas tangga si perempuan tersebut senyum-senyum sendiri. Dino jadi sedikit mencurigai anak itu.
“Dino, kau terlihat tidak sehat. Ayo aku antar kau ke UKS!” ajak Aldy ingin menarik tangannya.
“Tidak!” Aku menolaknya.
“Tapi nanti kau sakit!”
“Tidak! Aku harus mengejar Laki-laki itu!” Bantah Dino dan langsung pergi meninggalkan Aldy. Dino pun kembali berlari untuk mengejar Laki-laki itu.
“Ke mana dia? Aku harus bicara dengannya!” batinnya berbicara. Ia kehilangan jejak orang yang ia kejar.
Lalu saat ada di tengah lapangan, Dino melihat laki-laki itu sedang berjalan pelan dekat taman sekolah. Dino langsung menghampirinya.
“Kaaak!” teriak Dino padanya.
Laki-laki itu menengok dan dia terkejut lalu kembali berlari. Dino tidak akan menyerah. Ia kejar kembali Laki-laki itu.
Lalu Laki-laki tersebut memasuki sebuah ruangan. Beruntung Dino masih bisa masuk ke dalamnya juga sebelum dia menutup pintunya.
“Apa yang kau inginkan!? Pergi sana!” bentaknya pada Dino.
Laki-laki itu mundur perlahan sampai ke pojokkan ruangan ini. Dino masih berdiri di depan pintu yang tertutup.
“Tenanglah dulu! Aku tidak akan apa-apakan kau, kok!” ujar Dino sambil mengangkat tangannya dan mengibaskannya.
“Lalu apa maumu!? Kenapa kau terus mengikutiku?” tanyanya masih ketakutan.
“Aku hanya ingin mengobrol sebentar saja denganmu!” Dino tersenyum padanya.
“Tidak! Jangan katakan apa-apa lagi padaku! Kau itu anak berbahaya! Aku tidak mau terlibat denganmu lagi! Pergi sana!!” teriaknya.
Dino menelengkan kepalanya heran. “Lho, kakak ngomong apa yah? Aku tidak mengerti!”
Laki-laki itu memasang muka kesal, lalu dia berlari menghampiri Dino dan langsung menarik kerah bajunya.
“Apa kau belum puas untuk menghancurkan kehidupanku, hah!?” bentaknya.
Dino semakin bingung saja.
“Hah? Kapan aku pernah berurusan dengan kakak? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?! Bisa kau ceritakan secara baik-baik?”
“Aku tidak bisa cerita dengan cara yang lembut padamu, karena kau itu adalah musuhku!” bentaknya lagi.
BUGH! BUAK!
Tiba-tiba saja Laki-laki itu menendang perut Dino dan membenturkan kepalaku ke tembok. Seketika penutup mata milik Dino pun terlepas dari kepalanya. Tapi Dino berusaha untuk menutup mata kirinya demi keselamatan orang di dekatnya.
“Kau sudah membunuh kakakku!” teriaknya kesal sambil menahan tangis.
Lalu dia membanting tubuh Dino ke lantai dan langsung menginjak-injaknya. Setelah itu, Ia mengambil kursi di ruangan itu dan mengangkatnya.
“Lebih baik kau mati saja!”
Tubuh Dino tidak bisa tahan pukulan. Saat ini ia hanya bisa terbaring lemah di lantai sambil menggenggam perutnya. Laki-laki itu ingin membanting kursi itu ke arah Dino.
Namun sebelum lelaki tersebut mulai membanting kursinya, pandangan Dino mulai kabur. Sebelum semuanya menjadi gelap, Dino sempat melihat Aldy datang dan mengehtikan Laki-laki itu.
BUGH!
*
*
*
To be continued-
__ADS_1