The Death Eye

The Death Eye
Eps 9– Hari Berikutnya


__ADS_3

Malam ini, Yuri baru saja sampai di apartemennya. Dia berlari-lari kecil menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke lantai tiga.


Saat sampai di depan kamarnya dia mengetuk pintu, membuka pintu itu dan langsung masuk ke dalam. Dia melempar tasnya di atas sofa dan langsung membanting tubuhnya ke Kasur.


“Miya Nikamura!” Panggil Yuri dengan cara berteriak.


Lalu perlahan, seseorang datang dari balik kegelapan di ruang dapur. Dia seorang anak perempuan yang merupakan anak dari Yuri.


Anaknya itu bernama Miya Nikamura. Seorang anak perempuan berparas cantik seperti arti dari namanya, berponi lurus dan rambut panjang yang terurai ke bawah sampai lutut kakinya.


Setelah dia menampakkan wajah imutnya, ternyata anak perempuan itu merupakan orang yang sudah berteman dengan Tiny dan Tino, yaitu Tina.


“Miya, bagaimana harimu di sekolah hari ini?” tanya Yuri sambil tidur-tiduran di atas tempat tidurnya dan memainkan ponselnya.


Miya menganggukkan kepalanya. “Semuanya berjalan sesuai dengan rencana, bu!”


Yuri mengelus kepala anaknya dengan lembut. “Bagus. Ibu sudah melihat caramu menjalankan tugasmu. Itu baik sekali. Kerja bagus, Miya.”


Lalu tak lama kemudian, Yuri turun dari tempat tidurnya dan berjalan menghadap lemari baju miliknya. Dia membuka lemari itu dan mengambil sesuatu di dalamnya.


“Miya, karena kerjamu sudah mulai membaik sekarang, maka aku akan mengembalikan mainanmu padamu.” Yuri ternyata mengambil sebuah Kapak bertongkat panjang dari dalam lemarinya.


“Ini!” Yuri memberikan Kapak itu pada Miya.


Miya senang sekali menerimanya. Untuk anak berumur 9 tahun, dia kuat sekali bisa mengangkat Kapak berukuran sedang itu di genggamannya.


“Terimakasih, Bu!” Ucap Miya dengan senangnya.


“Baiklah. Sekarang, silahkan. Kau boleh main malam ini. Pergilah ke luar sana untuk bersenang-senang dengan Kapak itu.” Kata Yuri lirih.


Miya mengangguk senang dan langsung berbalik badan. Tapi sebelum Miya pergi, Yuri kembali memanggil Miya lagi. Miya pun langsung menyahut ibunya.


“Miya, apa kau masih ingin menggunakan nama samaran ‘Tina’ itu dihadapan korban-korbanmu atau bisa dibilang sebagai teman-temanmu itu?” tanya Yuri.


Miya mengangguk. “Iya.” Miya mengeluarkan senyum kejinya. “Karena, seorang pembunuh sejati tidak akan memberikan identitas dirinya yang asli!”


“Bagus. Baiklah, sekarang pergi dan berhati-hatilah!” Pesan Yuri.


Miya mengangguk dan langsung berlari ke luar pintu. Malam ini, anak perempuan itu akan memulai aksinya. Karena dia adalah “Pembunuh Dibalik Kegelapan” yang berparas cantik dan imut.


****


Keesokan harinya…


“Pagi, sayang! Tumben sekali kau bangun pagi hari ini. Biasanya jam segini, kau masih berada di atas tempat tidur.” Kata Chelsea dengan nada meledek.


Dino mengeluarkan senyum yang terlihat menjengkelkan. “Heh? Kau ini bagaimana, sih? Aku bangun telat, salah. Bangun cepat, salah. Maumu itu apa, sayang?” Kemudian ia menarik tangan kanannya Chelsea dan mencium pipinya.


Seketika Chelsea mengeluarkan ekspresi malunya dan pipinya memerah.


“Hei!” Tegur Chelsea sambil memegang pipinya itu.

__ADS_1


“Hehe… maaf! Habisnya, aku rindu dengan ekspresi imutmu yang seperti itu. Makanya aku melakukan ini agar ekspresi yang kuinginkan itu dapat terwujud padamu.” Candanya lirih.


“Huu… apa-apaan sih! Nih, kopimu. Sekarang, aku ingin membangunkan anak-anak dulu.” Kata Chelsea sambil berjalan pergi meninggalkan Dino yang masih duduk di sofa ruang tamu.


Dino menyalakan televisi yang ada di depan sambil menyesap secangkir kopi hangat yang diberikan Chelsea untuknya. Mood-nya sedang baik pagi ini, tapi entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi bad mood saat ia melihat berita pagi ini.


[Berita terkini, pemirsa, kasus kematian mendadak itu telah merebut puluhan nyawa orang lainnya pada pukul 24:33 semalam. Korban yang meninggal sebagian besar adalah Pekerja Kantoran yang pulang pada malam hari. ]


[ Tidak hanya korban dari kasus kematian mendadak itu saja, di waktu dan di tempat kejadian yang sama, Polisi juga telah menemukan 2 mayat Manusia Death Eye yang ditemukan telah meninggal secara mengenaskan, karena mayat itu hanya meninggalkan tubuh mereka dan kepalanya sudah menghilang… ] Jelas Pembawa berita di Televisi.


Dino pun terkejut mendengarnya. “Lagi-lagi kasus kematian mendadak yang misterius itu terjadi lagi?! Saat yang di sekolah saja, Polisi masih belum mengetahui pelakunya, dan sekarang ada di tengah Kota. Jika sudah seperti ini, pasti ada pembunuh lain yang masih berkeliaran di Kota. Tapi siapa pembunuh itu? Aku penasaran dengan orangnya. Kalau begitu, aku akan coba untuk mencaritahunya sendiri!” pikirnya dalam hati.


Secepatnya, ia menghabiskan secangkir Kopi itu dan mematikan televisinya, lalu beranjak dari sofa dan mulai bersiap-siap untuk kerja hari ini.


****


Hari ini Dino lebih cepat datang ke Gedung SDEH karena akan diadakan rapat bersama Manajernya. Karena terlalu pagi, ia sampai tidak sempat untuk menghantar anak-anak pergi ke sekolah mereka.


Chelsea juga sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. Maka dari itu, Dino meminta bantuan Aldy untuk menghantar Tino dan Tiny ke sekolah. Sekalian bersama Dio juga.


Balita-balita Death Eye di lantai 2 akan dijaga oleh Yuri, sementara aku sedang mengikuti Rapat.


****


“Ibu, ke mana Ayah? Bukankah kami akan ke sekolah bersama Ayah?” tanya Tino.


Chelsea tersenyum. “Iya seharusnya begitu. Tapi Ayah kalian harus masuk kerja lebih pagi hari ini. Jadi kalian akan diantar oleh….”


“Hei, kalian! Ayo naik!” Ajak Dio yang berada di dalam mobil bersama Ayahnya. Ia mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil yang terbuka dan melambai.


“Diooo!” teriak Tino senang.


“Nah, untuk sementara, itulah jemputan kalian! Ayo ke sana.” Chelsea mengajak Tiny dan Tino ke depan sana. Mendekati Mobil yang ditumpangi Aldy dan anaknya, Dio.


Tiny dan Tino senang sekali bisa berangkat bersama dengan sahabat mereka, Dio. Chelsea menghadap ke depan kaca jendela pintu mobil paling depan. Aldy membuka kaca jendela mobilnya dan menatap ke Chelsea.


Chelsea berpesan, “Ingat, yah, Dy! Kalau mengendarai mobil itu jangan ceroboh, hati-hatilah. Jangan mengebut. Itu tidak baik. Nanti bisa menyebabkan kecelakaan dan akan berpengaruh buruk pada anak-anak. Juga jangan lupa untuk memakai sabuk pengaman dan–”


“Iya, iya. Aku tahu!” Aldy menyela perkataan Chelsea sambil menutup kembali kaca jendela mobilnya. “Sudah, yah! Kami berangkat sekarang.”


Aldy menginjak pedal gasnya dan langsung melajukan mobilnya dan pergi. Chelsea merasa kesal karena Aldy pasti tidak mendengarkan nasihatnya itu. Dan dia juga mulai merasa cemas, karena Chelsea tau, kalau Aldy membawa mobilnya, dia pasti akan mengebut.


Sedangkan anak-anaknya tidak suka menaiki kendaraan yang berjalan cepat. Bagaimana ini?


Ah, Chelsea akan berusaha untuk tidak cemas lagi. Dia berharap kalau semua keluarganya akan baik-baik saja. Setelah itu, Chelsea kembali masuk ke dalam rumah dan melanjutkan pekerjaan rumahnya.


****


Saat sampai di sekolah….


“Baiklah, sudah sampai. Ayo turun!”

__ADS_1


Saat turun dari mobil, wajah Tino dan Tiny terlihat pucat. Dio terkejut melihat temannya seperti itu. Apalagi Tiny. Dia terlihat ingin muntah sepertinya.


“Eh, kalian baik-baik saja, kan?” tanya Dio cemas.


“Iya, hehe… hanya sedikit pusing.” Jawab Tino. “Maaf, Pak Aldy! Bisakah anda membawa mobil lebih pelan lagi? Karena kami tidak suka mengebut seperti tadi.”


“Eh, jadi kalian seperti ini karena mabuk? Haduh, maaf, yah! Aku tidak tahu.” Gumam Aldy. “Apa kalian tidak terbiasa mengebut?”


Tino dan Tiny menggeleng lemas.


“Ah, Ayah, sih!” bentak Dio sambil menyenggol tubuh ayahnya dengan sikunya.


“Ahaha… sekali lagi, Ayah minta maaf, yah!” Ucap Aldy. “Sekarang, silahakan masuk ke kelas kalian. Sampai jumpa lagi, semoga hari kalian menyenangkan!”


“Yaa… terima kasih karena sudah menghantar kami, Om!” Ucap Tino.


Setelah itu, Tino, Tiny dan Dio pergi bersama masuk ke kelas mereka. Saat di lorong pertama, mereka dikejutkan oleh Tina yang tiba-tiba datang dari belakang mereka. Tiny senang teman terbaiknya itu bisa datang bersamanya.


Akhirnya sampai di di depan kelas. Tiny dan Tina masuk ke kelasnya dan Tino bersama Dio juga masuk ke kelasnya. Tak lama kemudian, bel masuk kelas berbunyi dan pelajaran pun dimulai.


****


Kriiiing… Kriiing….


Bel istirahat pun berbunyi. Semua anak di kelas langsung keluar untuk pergi membeli makanan di kantin. Tina beranjak dari kursinya. Tapi tidak dengan Tiny.


Tina penasaran, sebenarnya dia sedang apa?


Tiny kembali duduk dan mengintip bawah tangan Tiny. Dia menyembunyikan sesuatu. Tina tidak bisa melihat kerjaan yang sedang dilakukan Tiny saat ini, karena dia selalu menutupinya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya terlihat seperti sedang menulis sesuatu di secarik kertas yang ia sembunyikan di bawah tangannya itu.


Karena semakin penasaran, Tina pun bertanya pada Tiny, “Hei, kau sedang apa? Tidak mau ke kantin?”


Tiny mendongak dan menggeleng sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Lalu dia mengambil kertas yang ia tutupi dengan tangan itu dan menunjukkannya kepada Tina sambil tersenyum.


Tina terkejut karena dari tadi Tiny itu sedang menggambar sesuatu di kertasnya. Tiny menggambar 2 orang anak kembar yang sedang tersenyum bahagia. Tina kagum dengan kehebatan Tiny dalam menggambar sketsa.


“Kau hebat, lain kali ajari aku caranya menggambar, dong!” Pinta Tina.


Tiny mengangguk sambil tersenyum.


Lalu di belakang Tina ada Alivia dengan kelompoknya yang sedang berjalan akan menuju ke kantin. Alivia melirik ke secarik kertas yang dipegang Tiny. Kertas itu berisi hasil dari gambarannya. Alivia tersenyum dan langsung merebut kertas itu.


“Uuuh… gambaran apa ini?” tanyanya dengan nada meledek.


*


*


*


To be continued–

__ADS_1


Follow Ig: @pipit_otosaka8


__ADS_2