The Death Eye

The Death Eye
Eps 7– Kematian Mendadak yang Misterius


__ADS_3

1 minggu kemdian….


“Sayang, kamu yakin ingin masuk hari ini? Kan, kamu baru keluar dari rumah sakit. Apa kau sudah merasa sehat?” tanya Chelsea.


Dino pun mengangguk. “Iya. Kau jangan mencemaskanku. Aku akan baik-baik saja, kok! Sudah, yah. Aku berangkat!”


“Baiklah kalau begitu, aku ingin masuk dan memotong rambutku. Sudah panjang nih!”


“Jangan!” Dino melarangnya. “Jangan memotongnya!”


“Eh, kenapa?”


“Karena, kau terlihat lebih cantik jika rambutmu panjang. Jadi, jangan dipotong, ya?”


Chelsea jadi tersipu malu mendengarnya. Ia menurut. “Oke, oke. Baiklah!”


Dino pun tersenyum padanya. Sebelum berangkat, ia mencium kening Chelsea terlebih dahulu agar dia merasa nyaman.


“Oke, yah, sayang. Jangan cemaskan aku.” Pesan Dino.


Chelsea mengangguk. Dino pun langung menuju mobilnya dan masuk kedalamnya, lalu pergi ke tempat kerjanya dnegan mengendarai mobil itu. Setelah ia pergi, Chelsea menurunkan lambaian tangannya.


“Aku harap kau akan selalu baik-baik saja, No!” gumam Chelsea dan kemudian langsung pergi masuk kembali ke dalam rumah.


****


Saat sampai di gedung SDEH tempatnya bekerja, pagi ini banyak sekali yang menyapanya. Dino senang sekali. Lalu sebelum ke ruangannya, ia akan pergi ke lantai 2 terlebih dahulu untuk menemui balita-balita Death Eye.


Saat sampai di sana, ia dikejutkan oleh semua balita-balita itu. Mereka suka bersamanya. Walaupun cara bicara mereka masih belum lancar, tapi Dino mengerti apa yang mereka katakan.


Sebagian ada yang memberikan mainan dan bunga kepadanya sebagai ucapan terimakasih karena sudah menolong mereka dari tragedi kebakaran di gedung ini.


Dino senang menerima hadiah dari mereka. Lalu sebagai balasannya, ia akan membuatkan makanan yang enak untuk balita-balita ini. Semuanya senang sekali.


Dino membiarkan mereka bermain di ruangan bermain mereka terlebih dahulu. Sementara ia akan ke dapur untuk membuatkan makanan untuk balita-balita mungil itu.


Eh, saat Dino tiba di dapur, ternyata di dapur sudah ada Yuri. Dia sedang membuat makanan juga.


Tapi apa itu?


Dino melihat sesuatu. Karena penasaran, Dino mendekati Yuri untuk melihat makanan apa yang ia buat.


“Hai, Yuri! Itu apa? Kelihatannya lezat.” tanyanya mengejutkan wanita itu.


Yuri tersentak kaget dan langung berbalik badan menghadap padany. “Eh, Dino! Hai juga. Kau sedang apa di sini?”


“Aku ingin membuatkan makanan untuk balita di lantai 2 itu. Kau sendiri sepertinya sedang membuat sesuatu yang enak.”


“Eh, tidak ada, kok!”


“Tidak mungkin. Itu ada makanan di belakangmu. Kau membuat apa itu?” tanya Dino. Ia jadi semakin penasaran.


Yuri memperlihatkan makanan yang ia buat dengan ekspresi yang malu-malu dan takut. “I–ini. Aku membuat Onigiri isi salmon.” Jawabnya sambil menunjukkan sepiring makanan yang dibuatnya itu.


“Sepertinya aku pernah lihat makanan ini. Makanan jepang, yah?” tanya Dino lagi.


Yuri mengangguk. “Iya. Tapi aku belum pasti dengan rasanya.”


“Waah… kalau begitu, boleh aku mencobanya?”


“Hmm… baiklah. Nih, silahkan, semoga kau suka.” Yuri memberikan satu Onigiri buatannya pada Dino.


Ia menerimanya dengan senang hati dan langung melahap makanan khas jepang itu. Dino terus mengunyah makanan itu. Ternyata rasanya....


“Bagaimana rasanya?” tanya Yuri penasaran.


“Hmm… rasanya enak sekali. Ini lebih enak daripada yang pernah kurasakan sebelumnya.” Jawabnya sambil terus mengunyah makanan itu. Ia sangat menikmatinya.


Yuri tersipu. “Ouh… kau berlebihan. Padahal aku pakai resep biasa kok. Hanya Daging salmon dengan nasi dan Nori .”

__ADS_1


“Iya, tapi aku serius! Ini enak sekali. Kau pintar masak juga, yah. Hebat!”


Yuri tertawa kecil dengan pipinya yang sedikit memerah.


“Oh iya, selain jepang, apa kau mau mencoba masakan Indonesia?” Dino menurunkan tasnya dan mengambil sesuatu di dalamnya. Akan ia keluarkan bekal makanannya. Ia membuka bekal itu dan ia memperlihatkan isinya pada Yuri.


“Ini. Ini namanya Udang Goreng. Makanan terenak di Indonesia. Cobalah. Buatan Chelsea memang yang terbaik, lho!”


“Benarkah? Waah… biar kucoba, yah!” Yuri mengambil sepotong udang goreng yang ada di dalam bekalku. “Itadakimasu … amm!”


“Nah, bagaimana rasanya?”


“Wah, ini enak sekali. Tekstur daging udangnya lembut dan kenyal.” Jawab Yuri dengan senangnya.


“Kan, aku sudah bilang. Chelsea memang pintar memasak,” Dino kembali menutup bekalnya dan memasukannya ke dalam tas. “Saat jam istirahat nanti, ayo kita makan bersama, Yuri!”


Yuri menjawabnya dengan mengangguk dan senyumnya yang manis. Sebelum mereka kembali ke lantai 2 untuk kembali merawat balita di sana, mereka berdua kembali menyantap Origiri buatan Yuri yang tersisah.


****


Di sekolah….


“Jadi, anak-anak, seperti inilah caranya. Apa kalian semua mengerti?” tanya Bu guru di kelas Tiny.


“Mengerti bu!” Jawab semuanya.


“Baiklah, kalau sudah mengerti, silahkan kalian buka buku paket halaman 45. Kerjakan soal no 1-3 saja dahulu,” Perintah Bu Guru. “Baiklah, sekarang, Ibu tinggal dulu sebentar. Jangan buat keributan selama Ibu pergi, yah!”


“Ayo, Tiny! Kita kerjakan soal ini bersama-sama.” Ajak Tina.


Tiny mengangguk senang.


Tapi saat ingin mengerjakan soal-soal itu, tiba-tiba saja ada beberapa tumpuk buku tulis yang diletakan Alivia di atas meja Tiny. Tina dan Tiny pun terkejut.


“Hei, mata satu! Sekarang juga, kau kerjakan soal-soal kami, ya!” Suruh Alivia.


“Eh, kenapa harus Tiny yang mengerjakan? Ini soal kalian. Kerjakanlah sendiri!” bentak Tina.


“Dasar mereka itu yaa…!” Geram Tina.


Tiny menepuk-nepuk pundak Tina dan menggeleng padanya, lalu memperlihatkan tulisannya di Notebook-nya sambil tersenyum.


‘Sudah, biarkan saja! Ayo kita kerjakan ini bersama^^’


Tina menatap sinis pada kelompok Alivia, kemudian dia kembali ke tempat duduknya dengan tenang. Dia akan membantu Tiny mengerjakan semua soal itu. Dengan adanya Tina di kelas Tiny, ternyata sangat membantu bagi Tiny.


****


Saat jam istirahat tiba….


Tino datang masuk ke kelas Tiny dan mengajaknya pergi ke kantin bersama-sama. Begitu juga dengan Tina. Mereka bertiga pergi bersama ke kantin.


Saat melewati lorong di lantai 2 sekolah mereka, Tino, Tiny dan Tina bercanda-canda bersama. Lalu ada 2 orang anak perempuan yang sempat lewat di samping mereka.


Sesaat setelah 2 orang anak perempuan itu melewati Tiny, Tino dan Tina, tiba-tiba saja anak perempuan yang ada di samping kanannya Tiny terjatuh dan tidak bergerak kembali.


Teman yang ada di samping anak perempuan itu pun terkejut. Dia berusaha membangunkan temannya yang jatuh itu, tapi ternyata tidak berhasil. Semua anak yang lewat sana langsung mengerumuni anak malang itu.


Tak lama kemudian, Guru BK dan Perawat Kesehatan datang untuk menolong anak tersebut. Saat diperiksa keadaanya, ternyata anak malang itu telah meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak.


Semuanya sangat terkejut. Lalu Guru BK akan membawa anak itu ke rumah sakit dan menghubungi keluarganya.


Tapi tak lama setelahnya, tiba-tiba teman dekat dari si korban juga mengalami hal yang sama. Dia terjatuh dan langsung meninggal di tempat.


Lalu, karena semuanya tidak percaya dengan kejadian yang mereka lihat itu, semuanya pun langsung melangkah menjauh dari kedua mayat tersebut.


Kemudian tak lama setelah kedua perempuan itu, ada seorang laki-laki yang ada di belakang kerumunan itu pun juga ikut terjatuh dan meninggal ditempat. Dan yang lainnya juga ada lagi. Dan lagi, dan lagi. Hampir semua anak yang ada di sana ikut meninggal tanpa sebab. Tino dan Tiny tidak percaya melihat kejadian ini.


“Apa-apaan ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Mungkin saja jika ada 1 atau 2 orang yang meninggal dalam satu hari. Tapi ini tidak wajar, dalam satu hari, ada banyak sekali korban yang meninggal dunia dalam satu waktu dan tempat.” Batin Tino bingung sekaligus merinding.

__ADS_1


Semua anak langsung berlari pergi menjauh dari tempat itu. Panik dan ketakutan. Semua anak dalam satu sekolah itu panik tak karuan, sampai-sampai banyak anak-anak lain yang terinjak-injak karena berusaha untuk menghindar dari kejaran malaikat maut yang akan mengambil nyawa mereka.


Tino dan Tiny masih berdiri di tempat mereka berada. Kemudian setelah melirik ke segala arah, mereka baru sadar kalau sebenarnya daritadi Tina sudah menghilang duluan. Di lantai tak jauh dari mereka, Tiny melihat ada bercak-bercak darah di sepanjang lorong. Tino dan Tiny pun mengikuti bercak darah itu.


Eh, ternyata bercak darahnya menghiang sampai di depan lorong dekat kantin dan Toilet, karena sisahnya sudah tergesek-gesek oleh injakkan dari sepatu para murid yang berlari tadi.


Lalu tak lama kemudian, terdengar suara pengumuman dari kepala sekolah. Kepala sekolah meminta semua murid dan guru-guru untuk berkumpul di lapangan.


Tino dan Tiny pun pergi meninggalkan lorong tersebut, menuruni tangga dan berlari sampai ke tengah lapangan.


Di sana ramai sekali. Semua warga sekolah berkumpul di sana. Sebagian anak ada yang masih panik, gelisah, dan ada yang menangis ketakutan dan gemetaran.


“Apakah benar kematian mendadak yang dialami para korban itu akibat dari serangan jantung mendadak? Atau malaikat maut memang sedang berada di sekolah ini? Apa jangan-jangan… ada Death Eye lain di sini?” Pikiran Tino semakin kacau gara-gara peristiwa ini. Sebenarnya apa yang telah terjadi di sini!?


“Semuanya diam dulu. Jangan panik! Berbarislah perlahan. Tenang! Semuanya akan baik-baik saja.” Ujar sang Kepala sekolah.


Perkataan Pak Kepala Sekolah telah membuat semuanya semakin ribut saja. “Bagaimana mau tenang?!”


“Anda ini bagaimana sih? Keadaan seperti ini disuruh tenang!”


“Tolong kami semua, Pak! Apa maksud dari kejadian ini?”


Semuanya saling ribut dan saling adu mulut. Tino dan Tiny hanya diam saja di tempat mereka. Lalu tak lama kemudian, Tina datang mengejutkan mereka.


Tiny menulis, ‘Kau habis dari mana?’


Tina menggeleng pelan. “Aku hanya ke toilet sebentar. Ada apa di sini?” tanyanya.


Tino menggeleng sambil mengangkat bahunya. “Entahlah. Eh, ngomong-ngomong, kok, kamu tidak panik seperti yang lainnya?”


Tiny memukul tubuh kakaknya dan menulis. ‘Kakak bilang apa, sih? Memangnya kakak mau kalau Tina bersikap seperti yang lainnya!?’


Tino tertawa kecil sambil menepuk-nepuk kepala adiknya. “Tidak, kok. Mana mungkin kakak berpikiran seperti itu.” Tino melirik ke Tina dan menghadap ke arahnya. “Eh, syukurlah kau tidak bersikap seperti yang lainnya!”


Tina menggeleng. “Uumm… tidak apa. Sebenarnya, aku sendiri juga sedikit takut. Tapi aku akan berusaha untuk menenangkan diriku.”


Tino mengacungkan jempolnya. “Hebat!”


Tiny tersenyum pada Tina. Dia memperhatikan keadaan Tina dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Eh, Tiny sedikit terkejut.


Karena saat Tiny memperhatikan sepatu yang dikenakan Tina, tiny tak sengaja melihat ada bercak warna merah di sepatunya itu. Tadinya dia ingin bertanya pada Tina, tapi Kepala Sekolah di depan sana telah mengejutkannya….


“Semuanya diamlah!”


Seketika semuanya langsung senyap dan pandangan mereka terpaku pada Pak Kepala sekolah di depan sana. “Kalian harus tenanglah. Kalian jangan takut. Kami telah memeriksa semua keadaan teman kalian yang meninggal secara mendadak itu. Semuanya terjadi akibat gagal jantung mendadak. Lalu untuk lebih lanjutnya, kami akan menyelidik penyebab lain dari kejadian ini. Apa ada yang tahu, siapa penyebab semua ini? Maaf bapak berpikir seperti ini, tapi firasat saya mengatakan kalau semua ini terjadi karena kasus pembunuhan.” Terang Kepala Sekolah.


Semuanya terkejut dan saling menatap satu sama lain dengan ekspresi ketakutan.


“Yaaa! Itu mungkin saja!” Seorang murid dari kelas tertua pun berteriak. “Karena setelah ku pikir-pikir, tidak mungkin kematian seperti ini bisa terjadi. Maksudku, masa dalam satu hari bisa ada puluhan orang yang meninggal! Apalagi, meninggalnya tepat sekali dalam satu waktu dan tempat! Ini kan tidak masuk akal. Pasti ada dalang buruknya yang bersalah dibalik semua kejadian ini.” Tegasnya.


“Eh, ternyata orang itu memiliki pemikiran yang sama denganku. Dia benar, pasti ada pelaku yang bersalah dalam kejadian ini! Tapi siapa dia?” pikir Tino dalam hati.


Semuanya ribut lagi, saling berisik dan bercakap-cakap sambil berpikir untuk menyampaikan usul yang lain.


“Aku juga berpikir seperti itu. Jadi siapa pelaku dari pembunuhan ini semua?” tanya seorang dari kelompok Alivia.


Alivia juga sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Dia melirik ke arah Tiny dan Tino, lalu mensipitkan mata sambil tersenyum. Setelah itu, dengan cepat dia mengacungkan tangannya dan berjalan ke hadapan ayahnya.


Semua murid menyingkir untuk memberikan Alivia jalan. Alivia mendekati ayahnya dan langsung merebut Mikrofon yang dipegang ayahnya.


“Hei, kalian semua! Sepertinya aku tahu siapa pembunuh teman-teman kita!” Seru Alivia.


*


*


*


To be continued–

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2