
“Adu… duh… duh… kepalaku sakit. Yah… berdarah! Aw!” keluh Aldy sambil memegang kepalanya.
Dia mencium bau amis dan bangkai busuk di dalam ruangan itu. Aldy pun berdiri dan mencari asal bau tersebut. Aldy tahu kalau bau itu ternyata berasal dari dalam kotak ini. Dia membukanya.
Saat Aldy sudah mengetahui isi dari kotak-kotak itu, dia sangat terkejut. Ternyata isinya adalah potongan daging manusia yang sudah mulai membusuk. Dengan banyak darah dan belatung yang mulai memakan mayat di dalamnya. Terlihat sangat menjijikkan!
“Hoeeekk!”
Aldy tidak tahan melihat potongan daging itu. Dia semakin takut saja berada di tempat ini. Hari sudah gelap, dan dia kelaparan.
“Apakah aku akan mati di sini?” Pikir Aldy. Dia mulai pasrah sambil duduk dipojokkan dan menangis. Dia ingin pulang, tidak mau berada di tempat seperti ini sendirian.
Ruangan itu gelap dan dipenuhi oleh hal-hal yang mengerikan. Hanya cahaya bulan saja yang dapat memberi sedikit keterangan pada ruangan itu lewat jendela di atas sana. Ia harap, ada seseorang yang akan membantu dirinya keluar dari ruangan mengerikan itu.
“AAAAAKKH!!”
Aldy terkejut mendengar suara teriakkan seseorang yang ia kenal. Tentu saja itu Dino. Lalu dia kembali berdiri dan menggedor-gedor pintu.
“Dino! Dino!! Hey, siapapun keluarkan aku dari sini! Tolong!” teriak Aldy panik.
“Kau tidak akan bisa keluar dari sini, anak kecil! Ketua kami sedang membunuh temanmu itu, lalu selanjutnya itu adalah kau! Jadi tunggu saja yah… hahaha…” Salah satu penjaga yang ada di depan pintu itu malah menakuti dirinya.
Aldy langsung merinding setelah mendengar ucapan mereka. Ia mundur ke belakang secara perlahan. Aldy tidak takut dengan kematiannya, tapi dia takut kalau temannya dibunuh oleh mereka.
Yah… itu hanya setengahnya. Dan setengahnya lagi, dia takut kalau dirinya akan berakhir seperti korban-korban di dalam kotak itu. Tapi walaupun keadaanya sedang seperti ini, Ia tidak akan menyerah.
Aldy mengepal tangannya kuat-kuat. “Bagaimanapun caranya aku harus keluar dari sini dan menyelamatkan Dino!”
Aldy kembali menyusun dua kotak mayat itu, lalu dia memanjat kotaknya sampai ke puncak dan bisa menggapai jendela yang terbuka di atas sana.
Dengan beraninya dan berhati-hati Aldy akhirnya bisa memanjat sampai atas kotak dan meraih jendela itu. Tapi saat ini, Aldy sedang berada di ketinggian 2 meter lebih dari atas jendela itu. Aldy tidak peduli dengan hal itu. Dia perlahan keluar dari jendela dengan hati-hati.
HAP!
Akhirnya Aldy bisa turun dari atas jendela pelarian dirinya dengan selamat dan bebas dari tempat mengerikan itu. Dia senang bisa keluar akhirnya.
Kembali menghirup udara segar dan bukan mencium bau amis darah. Lalu setelah itu, Aldy langsung pergi mencari Dino yang masih ada di dalam rumah ini.
“AAAAAAKKH!!”
Teriakkan Dino terdengar lagi oleh Aldy. Aldy tahu dari mana suara itu berasal. Saat ini dia sedang berada di belakang rumah tua. Aldy akan memberanikan diri untuk pergi ke teras depan rumah.
Dengan mengendap-endap dan berhati-hati, Aldy akhirnya bisa sampai di depan pintu rumah tersebut.
“Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan Dino? Kalau aku mendobrak pintu ini, nanti pasti di dalamnya ada banyak orang jahat lainnya, aku juga tidak bisa berkelahi. Haduh… aku benar-benar tidak berguna!” pikir Aldy kebingunan.
__ADS_1
Ia terus berpikir untuk menemukan rencana cara menyelamatkan Dino tanpa harus melukai dirinya sendiri. Tapi bagaimana caranya? Dia tidak punya ide yang bagus.
Hari sudah gelap, walaupun masih ada cahaya bulan, tetap saja keliling rumah itu gelap. Aldy belum tau kalau dirinya saat ini sedang berada di mana. Tempatnya penuh dengan rumput liar dan pepohonan yang tinggi. Cepatlah pikirkan sesuatu, Aldy!
****
“Ukh! Aaaaa!” Dino merintih kesakitan karena beberapa benda tajam sudah menusuk bagian tubuhnya.
“Dino, Aku baru menusuk kaki dan bahumu saja, tapi kau sudah menjerit keras sekali. Huh, dasar!” ujar orang bertopeng itu dengan santai. Lalu dia mengarahkan pisaunya ke atas lengan Dino, dan merobeknya.
Seketika darah Dino kembali bermuncratan ke mana-mana.
“Aaaaa! Hentikan ini! Kenapa… kenapa kau lakukan ini padaku!?” bentak Dino sambil mengerang kesakitan.
Dino berteriak dan terus meronta-ronta. Sungguh… tubuhnya rasanya sakit sekali. Ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
“Karena… aku suka menyiksamu, Dino! Beruntunglah kau karena aku tidak langsung membunuhmu seperti korban yang lainnya.” Jawabnya dengan santai.
"Luka ini rasanya sakit sekali. Jadi, seperti ini kah rasa sakit yang di derita oleh para korban-korbannya?" Baru Dino.
“Korban lainnya? Apa sebelumnya, kau suka membunuh orang lain?” tanya Dino pelan.
Mata Dino tersentak kaget. Kemudian membentaknya. “Kenapa kau tega sekali membunuh orang yang tidak berdosa seperti mereka!? Kau kejam!”
Orang bertopeng itu mendekatinya dan berbisik, “Tidak semua orang kubunuh, bodoh!”
“Lalu siapa saja korbanmu itu?” tanya Dino pelan.
Ia menaruh pisaunya itu di atas meja, lalu berjalan ke belakang kursi yang Dino duduki. “Apa kau tidak tahu siapa kami ini?”
Dino menggeleng. Orang bertopeng mengelus kepalanya dengan lembut dan berkata, “Kami ini adalah ODEHU, Organisasi Death Eye Hunter. Semua korban kami itu adalah orang yang memiliki Death Eye. Tapi ada juga satu manusia biasa yang sudah kami bunuh.”
“Jadi mereka ini adalah orang-orang dari Organisasi yang dikatakan Chelsea itu! Aku sudah tertangkap oleh mereka. Apakah aku akan mati di sini?” pikir Dino dalam hati. "Tapi aku masih penasaran dengan manusia biasa yang dibunuhnya itu. Siapa orang itu?"
Dino berpikir sejenak, lalu kembali bertanya, “Siapa manusia yang kau bunuh itu?”
“Hah! Dia hanya anak muda sepertimu. Perempuan berambut panjang dengan jepitan pita di rambutnya. Dia cantik dan imut siih… pada awalnya aku tidak berani untuk membunuhnya, yaah… Tapi apa boleh buat sih, dia sempat melihatku membunuh orang lain."
"Aku takut perempuan itu mengadu, jadi kubunuh saja di tempat. Lalu tubuhnya kumutilasi. Tapi pada suatu hari, potongan tubuh itu sudah ditemukan oleh polisi! Sial banget sih, padahal aku mau buat koleksi. Tapi beruntungnya aku karena dengan cerobohnya para polisi bodoh itu menjatuhkan potongan kaki perempuannya. Jadi kupungut kembali. Hah, sampai sekarang aku masih suka mengoleksi potongan tubuh manusia. Hebat kan hobiku ini, haha…” Jelasnya dan terkekeh.
Dia bercerita tentang perempuan muda berambut panjang yang dia bunuh. Dino jadi teringat sesuatu. Perempuan yang ia ceritakan itu mirip sekali dengan ciri-ciri Rinda.
__ADS_1
Mungkinkah itu Rinda?
Dino akhirnya tahu siapa pembunuh Rinda dan letak kakinya berada! Tapi itu juga masih belum pasti, sih. Sekarang yang masih membuatnya penasaran adalah, siapa orang dibalik topeng ini?
“Sudah banyak aku bercerita padamu. Kau sudah tahu terlalu banyak, yah! Sekarang saatnya mengakhiri hidupmu, Dino!” Ia tertawa dengan kejamnya. Kemudian kembali mengambil pisaunya lagi dari atas meja.
Orang bertopeng menarik rambut dan menahan kepala Dino. Lalu Orang bertopeng mendekatkan pisaunya pada mata kirinya. Dia benar-benar ingin membunuh Dino saat ini.
Dino terus memberontak dan berteriak sambil berusaha untuk melepaskan diri dari ikatannya. Karena geram, Orang bertopeng itu membekap mulut Dino dan para anak buahnya menahan Dino dengan kuat. Dino benar-benar tidak bisa bergerak saat ini.
“Selamat tinggal.”
"Oh, tidak!"
GUBRAK!
Tapi sebelum Orang itu ingin menusuk mata Dino, tiba-tiba saja muncul suara gaduh dari depan. Semua penjaga di sana langsung keluar untuk melihat keadaan.
Sementara Dino dan Orang bertopeng masih berada di dalam ruangan. Mereka berdua terlihat kebingungan. Lalu tak lama kemudian, Salah satu dari anak buahnya Orang bertopeng datang. Dia terlihat panik!
“Ada masalah apa!?” tanya Orang bertopeng pada anak buahnya.
“I–itu! Di depan sana ada anak perempuan yang kuat dan… aaaaaakkh!!” Belum selesai menjelaskan, tiba-tiba saja tubuh orang itu melayang dan tubuhnya menjadi tak terkendali.
Lalu tubuh orang itu terbang cepat ke arah Dino dan Orang bertopeng. Dino tertabrak oleh orang berbadan gendut ini!
Dino terjatuh dalam keadaannya yang masih terikat di kursi. "Menyebalkan sekali!" Ia menggerutu kesal.
Dino berusaha melepaskan ikatan itu secepatnya, tapi sangat sulit. Lalu ia melihat ada pisau yang tergeletak di depan matanya.
Dino bisa menggunakan pisau itu untuk memotong tali. Tapi sebelum itu, ia sempat melihat di depan pintu ruangan ini ada seseorang yang datang.
“Kak Dino!”
Itu ternyata Liena! Apa Liena datang untuk menyelamatkan Dino? Tentu saja!
Anak perempuan itu berlari menghampiri Dino. Orang bertopeng terkejut melihat Liena. Ia langsung bangkit kembali lalu pergi meninggalkan ruangan.
Tapi sebelum itu, Orang bertopeng sempat mengeluarkan pistol dari dalam saku celananya dan langsung membibik ke arah Dino. Sasarannya tepat di mata kirinya!
DOR!!
*
*
__ADS_1
*
To be continued-