
*Spesial tahun baru :) Eps kali ini agak panjang, jadi... selamat membaca ♪
_________________
Saat di kelasku…
Aku dan teman-temanku selalu bercanda seperti biasa sambil menunggu bel masuk. Liena juga masih ada di kelasku. Dia belum masuk ke kelsanya sendiri.
“Dino? Ada yang ingin kubicarakan padamu!” ujar Liena. Dia mengejutkanku.
“Eh? Mau bicara apa?”
“Dino, aku ingin mengungkapkan perasaanku pada kalian semua. Dulu saat pertama kali aku bertemu dengan kamu, Dino. Aku langusng punya perasaan suka padamu. Maka dari itu aku selalu mengincar dirimu. Tapi sekarang, perasaan suka padamu sudah hilang. Aku sudah punya orang lain yang kusukai sekarang.” Liena melirik ke Aldy. Aldy tersentak kaget.
“Chelsea, aku tahu kau pasti menyukai Dino. Maka dari itu, dengan cara ini, aku tidak akan egois lagi untuk merebut Dino darimu. Aku akan membiarkanmu untuk bersama Kak Dino! Selamat yah. Aku lebih menyukai orang lain di sini.” Kata Liena dalam hati.
“Oh, aku mengerti kenapa kau membicarakan soal ini sekarang. Terima kasih, Na!” batin Chelsea.
“Eh, jadi, siapa orang yang kau suka, Na?” tanya Aldy gugup.
Liena tersenyum sambil melirik ke Aldy. Pertama ia tertawa kecil, lalu menjawab, “Jujur, aku… suka padamu, Dy!”
“Eeeh…!? Benarkah?” tanya Aldy tidak percaya.
Liena mengangguk sambil melirikkan matanya kebawah. Pipi Aldy memerah, wajahnya mengekspresikan muka bingung. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Liena padanya tadi.
“Tidak, tidak! Apa aku dan Liena akan menjadi pasangan? Tidak mungkin, kan? Eh! Apa yang ku pikirkan!?” Batin Aldy kebingungan sendiri.
KRIIIING… KRRIIING….
“Oke baiklah teman-teman, bel masuk sudah berbunyi. Aku mau masuk ke kelasku dulu, yah! Bye!” Kata Liena sambil berlari keluar dari kelasku. Aku dan Chelsea melambai pada Liena. Aldy masih terdiam dengan ekspresi seperti tadi.
“Aldy? Kau… baik-baik saja, kan?” tanyaku heran.
Aldy masih terdiam sambil senyum\-senyum sendiri. Lalu tak lama kemudian, tiba\-tiba dia terjatuh. Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Aku sempat menahan Aldy.
“Aldy! Kau kenapa!?”
Aldy mendongak, menatapku dengan senyum, mendesah pelan dan wajahnya memerah. Aku kaget melihat ekspresi Aldy yang tidak biasa seperti itu.
“Aldy? Kau sehat?” tanyaku.
“Dino… uwoow! Ini hebat.” Jawabnya singkat. Aldy kembali berdiri dan berjalan sempoyong ke tempat duduknya.
“Tidak dapat dipercaya… tidak dapat dipercaya….” Aldy bergumam-gumam.
“Aldy, awas jatuh lagi nanti!” teriakku padanya. Aldy mengacungkan jempol.
“Haduh… dia jadi salah tingkah begitu, yah!” kata Chelsea sambil tertawa.
“Iya, haha… aku tidak percaya kalau Liena benar-benar sudah mengungkapkan perasaanya pada Aldy seperti itu.”
“Biarkan saja. Mereka sedang memulai masa pubertasnya.”
Kami berdua tersenyum. Setelah itu, aku dan Chelsea duduk ditempat masing-masing. Lalu akhirnya Bu Alise yang merupakan guru matematika kami datang. Kelas seketika menjadi hening sejak Bu Alise datang.
Aku langsun merinding dengan kehadiran guru itu. Karena hari ini adalah hari paling menegangkan untuk semua murid kelas A-4 ini karena nilai ulangan mendadak minggu kemarin akan dibagikan hari ini!
“Selamat pagi anak-anak!” sapa Bu Alise.
“Pagi bu!”
Bu Alise duduk di tempatnya. Setelah itu, ia mengeluarkan setumpuk kertas lembar yang merupakan kertas ulangan matematika dari dalam tasnya. Aku semakin merinding.
“Pssst! Chelsea… apa kau yakin saat ini akan aman?” bisikku pada Chelsea.
“Tenang saja, Dino! Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Bu Alise baik kok kalau soal ulangan.” Jawab Chelsea.
Aku mengangguk. “Oh, baiklah.”
Bu Alise berdiri di depan kelas dengan setumpuk kertas ulangan di atas meja. “Baiklah anak-anak. Saat ulangan kemarin, apakah ada orang yang kesulitan dalam mengerjakannya?” tanya Bu Alise pada semua murid di kelasku.
Semuanya menjawab dengan cara menggelengkan kepala mereka tanpa berkata apa-apa. Bu Alise membenarkan kaca mata yang dikenakannya.
“Oke. Bagus kalau begitu! Nah, ini hasil nilai ulangan kalian. Ibu lihat bagus-bagus sekali hasilnya. Sekarang akan ibu bagikan, yah! Biar kalian lihat sendiri hasil dari perjuangan kalian.” Kata Bu Alise.
Setelah itu, Bu Alise mengambil tumpukan kertas itu, lalu berjalan ke sekeliling kelas untuk membagikan kertas-kertas itu pada setiap murid di kelas. Setelah mereka melihat hasil dari ulangan itu, mereka langsung memasang muka kecewa. Ini bencana.
Gawat!
Lalu akhirnya aku juga dapat kertas milikku sendiri. Perlahan aku melirik tulisan angka nilai di kertas itu. Dan betapa terkejutnya aku melihat hasil dari ulanganku itu tidak mendapatkan nilai yang kuharapkan. Nilaiku 40. Hasil yang tidak memuaskan. Aku memang paling payah dalam mata pelajaran Matematika.
Setelah membagikan semua kertas ulangan itu, Bu Alise kembali ke tempatnya.
“Bagaimana anak-anak? Puas tidak dengan hasilnya?” tanya Bu Alise.
Semuanya menggeleng. Bu Alise tersenyum. “Oh, baiklah. Kalau belum puas, ibu akan memberikan remedial untuk kalian, bagaimana?”
Semuanya mengeluh keras karena diadakan remedial itu. Seketika kelas menjadi berisik.
“Tidak bu!”
“Janganlah remedial!”
“Iya, Bu! Nanti otak saya hancur, nih!”
“Aman apaan ini!? Yang ada malah tambah lebih buruk lagi!” Batinku kesal.
“Baik, semuanya diam! Kalau tidak mau remedial, lebih baik kalian membersihkan kamar mandi saja bagi yang nilainya dibawah 70. Ayo pilih! Mau remedial atau membersihkan kamar mandi?” tanya Bu Alise.
Semuanya berpikir sejenak.
“Hmmm.…”
****
5 menit kemudian…
Keputusan kami semua sudah diambil. Pada akhirnya… satu kelas bersamaan membersihkan kamar mandi. 15 anak laki-laki membersihkan toilet pria, sedangkan 12 perempuan membersihkan toilet wanita.
“Tidak apa yah, Dino! Lebih baik kita mengepel lantai kamar mandi, daripada harus soal remedial itu. Kalau seperti ini kan… tidak perlu menggunakan otak, hehe…” Canda Aldy.
“Hehehe… iya deh, terserah kamu saja!” kataku dengan nada geram.
“Seru apanya seperti ini. Ini menguras tenagaku!” batinku kesal.
“Kalian berdua jangan mengobrol saja. Cepat bantu temannya yang lain!” perintah Bu Alise.
Aku dan Aldy terkejut. “Eh, I–iya bu!”
Bu Nirmala datang menghampiri Bu Alise.
“Ehh… Bu Alise, ini semua dari anak kelas mana bu?” tanya Bu Nirmala.
“Kelas A-4, Bu! Saya meminta anak-anak ini untuk membersihkan toilet agar terbiasa untuk selalu menjaga kebersihan.” Jawab Bu Alies.
“Ooh… bagus-bagus kalau begitu!” Bu Nirmala mengangguk senang.
“Bu Nirmala percaya saja dengan kata-kata Bu Alies!” Batinku geram.
****
Saat jam istirahat….
“Huuaaaa…” Keluhku dan Aldy bersamaan.
Liena bingung melihat keadaan kami berdua. Dia akan bertanya pada Chelsea.
“Chelsea, mereka berdua itu kenapa, sih?”
__ADS_1
“Mereka kelelahan karena habis membersihkan kamar mandi.” Jawab Chelsea yang sedang membaca bukunya.
“Untuk apa mereka membersihkan Kamar mandi?” tanya Liena lagi.
“Semua anak di kelasku mendapatkan nilai matematika dibawah 70. Termasuk aku. Jadi sebagai hukuman, kami semua disuruh membersihkan kamar mandi, deh!” Jelas Chelsea.
“Huh, guru matematika itu memang sadis!” Liena geram.
Aku kembali mengangkat kepalaku. “Sabar, Na! Kami menikmatinya kok. Iya kan, Dy?”
“Iya, iya! Membersihkan kamar mandi itu menyenangkan! Kami bisa main sabun, menyipratkan air, membersihkan kotoran, main kejar-kejaran, terpeleset dan jatuh, deh! Hahaha…” Canda Aldy.
“Lah, ini anak kenapa?” batinku heran.
“Oh, syukurlah kalau kalian bersenang-senang.” Liena tertawa.
****
Saat dirumahku….
Aku sedang duduk dipinggir tempat tidurku sambil menulis pengalamanku hari ini di buku catatanku.
Aku menulis, "Hari ini aku bahagia bersama sahabat-sahabatku. Tanpa bantuan dari mereka, entah jadi apa aku saat ini. Aku sayang mereka.
Hmm… Tapi sekarang salah satu temanku sudah pergi. Dia bernama Rinda. Aku tidak tahu dia kenapa pergi meninggalkanku. Tapi… Saat itu aku mendengar dia mengucapkan kata 'Terima kasih' padaku sebelum dia pergi. Aku rindu padanya. Andai kita bisa bertemu lagi… Mungkin disurga nanti kita bisa bertemu!"
Aku tidak terlalu suka menulis. Tapi kalau menulis tentang pengalamanku, aku merasa bersemangat sekali. Aku juga sudah menyelesaikan misteri-misteri yang ingin ku ketahui.
Semua masalah itu ternyata pelakunya adalah Kak Devan. Setelah itu, aku memeluk buku catatanku dan langsung tiduran di atas tempat tidurku. Aku menyalakan televisiku.
Huh! Lagi-lagi seperti ini! Kenapa berita di televisi itu selalu tentang pembunuhan. Tadinya aku akan mengganti siaran lain, tapi… eh?! Itu kan….
[ Berita terkini! Pemirsa, Seorang perempuan muda meninggal dunia karena korban pembunuhan Setahun yang lalu. Tubuh korban dimutilasi oleh pelaku untuk menghilankan jejak. Polisi masih belum menemukan salah satu potongan tubuh korban, yaitu kaki korban. Hingga saat ini, akhirnya Polisi berhasil menemukan potongan kaki korban yang menghilang itu di dalam sebuah rumah kosong di ujung kota… ] Ujar pembawa berita televisi.
Rumah di ujung kota? Bukankah itu tempat markasnya pemburu Death Eye? Eh, oh iya! Aku ingat! Dulu saat pertama kali aku ditangkap oleh mereka, Orang bertopeng itu ternyata Kak Devan. Dia pernah bilang kalau dirinya pernah membunuh perempuan cantik berambut panjang. Itu Rinda.
Lalu dia memutilasi tubuh Rinda untuk dijadikan koleksinya. Lalu akhirnya potongan itu bisa ditemukan oleh Polisi, tapi polisi tak sengaja menjatuhkan potongan kaki Rinda sehingga Kak Devan dapat menemukannya lagi dan menaruhnya di markas sebagai koleksinya (mungkin).
Jadi korban yang dibicarakan di berita ini adalah Rinda. Hm! Aku tahu skekarang kenapa dia pergi menghilang. Rinda sudah kembali ke alam terakhirnya karena urusan mencari kaki yang hilang di dunianya itu sudah ditemukan. Maka dari itu, Rinda pergi. Aku pusing memikirkan ini semua!
Aku kembali menonton siaran berita di televisi.
[ … Inilah pelaku dari semua pembunuhan tersebut. Pembunuh berinisial DID…. ]
“Eh, itu, kan… Kak Devan!” Aku terkejut.
[ …DID telah mengaku sudah membunuh banyak Manusia Death Eye yang ada di Kota Besar dan sekitarnya. Pelaku akan menjalani hidupnya di penjara selama 20 tahun…. ]
“20 tahun itu waktu yang lama sekali. Kasihan Liena. Dia… pasti kesepian.” Gumamku.
Aku kembali fokus mendengarkan berita di televisi.
[ … Manusia Death Eye saat ini semakin langka diakibatkan karena pembunuhan ini. Maka dari itu, pemerintah mengadakan sebuah organisasi perkumpulan Manusia Death Eye. Akan disediakan satu gedung besar sebagai markas perlindungan para Death Eye sehingga mereka dapat hidup aman dan damai. Fasilitas gedung juga menyediakan rumah sakit, tempat tinggal, bahkan perlindungan yang ketat untuk para Death Eye. Pemerintah akan memastikan para Death Eye akan hidup dengan aman seperti manusia lainnya tanpa ada gangguan sedikit pun. ]Jelas Pembawa siaran berita.
Aku terharu. Akhirnya orang lain bisa mengerti perasaan menderita kami para Death Eye. Pada akhirnya, semua pemilik Death Eye bisa hidup aman kembali. Semoga, Manusia Death Eye dapat berkembang dan hidup aman kembali.
TING TONG…
Aku terkejut saat mendengar suara bel rumahku yang tiba-tiba berbunyi. “Malam-malam begini siapa yang datang?” gumamku.
Aku turun dari tempat tidurku dan langsung menuju pintu depan. Kubuka pintunya, ternyata yang datang itu Chelsea dan Liena.
“Hai, Dino!” Sapa mereka berdua.
“Hai, juga! Kalian berdua mau apa datang kemari?” tanyaku.
“Kami tidak hanya berdua, kok!” Mereka berdua tersenyum.
“Ha?” Aku menelengkan kepalaku. Siapa lagi yang datang selain mereka. Padahal di depan pintu hanya ada mereka berdua saja.
“Hehe… ayo kalian semua, silahkan masuk!” Liena melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi.
Aku terkejut. Tidak hanya Chelsea dan Liena saja yang datang ke rumahku. Ternyata… teman-teman sesama jenisku juga datang. Ada Belia, Randy, Vina, Riko dengan Ibunya, dan Aldy juga datang. Aku senang sekali mereka semua datang!
“Iya. Kami ingin mengunjungimu dan mengucapkan terima kasih padamu karena sudah menyelamatkan kami semua waktu itu. Aku rindu padamu, Kak!” ujar Riko.
“Iya. Terima kasih banyak atas bantuanmu, Dino!” Ucap semuanya serentak dan langsung memelukku.
“Eh, eh… oke! Terima kasih kembali untuk kalian semua!” Aku tersenyum. “Randy dan Belia datang?” tanyaku.
“Tentu saja!” Jawab Belia.
“Emm… saat kejadian waktu itu, kenapa kalian berdua menyerangku?” tanyaku lagi.
Belia dan Randy saling menatap bingung. “Menyerang? Kami tidak pernah menyerangmu, kok!”
“Oh, berarti bukan salah mereka!” gumamku. “Oke, kalau begitu lupakan saja.”
“Jadi benar dugaanku, Belia menusuk perutku dan Randy berusaha untuk memukulku saat itu bukan karena mau mereka sendiri. Tapi ternyata pikiran mereka telah diambil alih oleh Kak Devan. Sama seperti Bu Nirmala!” Pikirku.
“Eh, oh iya, kenapa kita hanya berdiam diri di sini? Ayo silahkan masuk!” Ajakku sambil membukakan pintu untuk para tamu istimewaku.
“Oke, bagus! Lagi-lagi hanya aku sendiri manusia tanpa keahlian khusus seperti kalian.” Keluh Aldy.
“Eh, oh iya, umm…”
“Kau tidak sendirian, Aldy!”
Eh, ada 2 orang lagi yang datang. Dan suara ini… sepertinya aku mengenal suara ini.
Eh, ternyata ini adalah suara Kak Mista dan… Kak Dimas juga ada! Mereka juga datang?
“Senpai Mista-san!” Seru Aldy senang.
“Hai, Aldy!”
“Ka–Kak Dimas? Ke–kenapa kakak bisa ada di sini?” tanyaku gugup.
Tanpa berkata apa-apa, Kak Dimas menghampiriku dan langsung memelukku. Aku terkejut.
“Dino adikku, maafkan kakak! Selama ini, Kakak salah paham padamu. Maaf! Kau sekarang menjadi adikku lagi!” Kata Kak Dimas.
Semuanya tersentak kaget. “E–eh? Jadi selama ini, dia adalah Kakakmu, No?” tanya Chelsea.
Aku mengangguk.
“Sudah kuduga.” Gumam Chelsea.
“Iya, kak. Tidak apa-apa! Aku senang kok bisa mempunyai Kakak lagi sekarang!” Kataku sambil menepuk-nepuk punggung Kak Dimas dengan lembut.
Kak Dimas masih belum melepaskan pelukannya. Dan dia seketika langsung menangis.
“Semua kecelakaan dan tentang kasih sayang yang dialami Kak Iyan itu bukan salahmu. Kemarin aku menemukan buku catatan Kak Iyan di kamarnya." Kak Dimas berhenti sejenak untuk mengelap air matanya.
Lalu kembali berbicara dengan suaranya yang masih terisak. "Dia menulis ‘Aku menyayangi semua adik-adikku. Dimas, Mista dan Dino. Aku tidak membandingkan kalian. Aku sayang pada kalian. Dan untuk Mista dan Dimas, tolong jangan salah paham karena kakak sering bermain dengan Dino bukan karena kakak tidak sayang pada kalian, tapi Karena Dino memang memerlukan perhatian penuh karena dia masih kecil. Maaf Kakak tidak ada waktu untuk bermain dengan kedua adik kandungku.’ Begitu katanya. Dan aku juga mendapatkan pesan terakhirnya yang dia tulis. Dia bilang, ‘Aku mohon kepada kedua adikku yang tersayang, Dimas dan Mista. Kumohon, jika aku sudah tiada, tolong rawat Dino untukku. Ya!’ Begitulah, No. Jadi mulai sekarang aku dan Mista akan jalankan pesan yang ditulis oleh Kakaku itu.”
Kak Dimas akhirnya terdiam setelah ia menjelaskan semua ceritanya itu.
Aku tidak menjawab. Hanya diam membatu sambil menundukkan kepala. Tanpa sadar, air bening pun mengalir melewati pipiku. Aku menangis tersedu-sedu dan langsung memeluk Kak Dimas.
Sungguh! Aku menangis karena bahagia. Betapa senangnya aku dapat memiliki keluarga baru yang ingin menjagaku.
“Kakak… hiks… akhirnya aku memiliki keluarga baru, hiks. Terima kasih. Terima kasih banyak, Kakak!”
Kak Dimas melepaskan pelukannya. Ia menatapku sambil tersenyum lalu mengusap air mataku dan langsung menggendongku dibahunya. Seketika Kak Dimas tertawa bahagia.
“E–eh! Kakak?” Aku tersipu malu.
“Ayo! Sekarang semuanya masuk. Kita bersenang-senang!” Ajak Kak Dimas.
__ADS_1
“Ayo! Yeah!” Semuanya gembira.
Malam ini, aku bisa bersenang-senang bersama dengan teman-teman baruku. Moment yang paling menggembirakan dalam hidupku.
Aku harap, Zikri dan Rinda dapat merasakan kesenangan ini di Surga sana. Begitu juga dengan Kakak yang sudah merawatku dari kecil sampai aku sebesar ini. Terima kasih, Kak. Semoga kakak bahagia di sana.
****
Keesokan harinya.…
Pada jam istirahat hari ini, Aku tidak ikut bersama sahabat-sahabatku. Aku memutuskan untuk tidur siang di Taman. Di atas rumput hijau, Aku bersandar di bawah bayangan pohon dan tidur di sana. Nyaman sekali.
Lalu tiba-tiba Aldy datang memanggil namaku….
“Dino!”
Aku kaget dan langsung membuka mataku dengan cepat. “Eh, iya? Ada apa!?”
Aldy terlihat panik. “Dino… ini gawat! Barusan tadi aku dapat pesan dari Chelsea. Dia ingin aku menyampaikan pesannya ini padamu!”
“Apa pesannya?” tanyaku.
“Dia bilang begini ‘Aku akan menembak Dino!’ Katanya seperti itu! Bagaimana ini? Apa kau menerimanya?” tanya Aldy.
“Huh, aku terima saja!” Jawabku santai. “Aku sudah biasa kok ditembak sama dia. Kalau mau sekalian saja di kepalaku dengan pistol mainannya!” Lanjutku.
Aldy bingung. “Eh, apa kau tidak mengerti apa yang kukatakan tadi, No?”
“Kenapa? Tadi kau bilang Chelsea akan menembakku, kan? Ya sudah aku terima saja! Lagi pula, aku tidak akan mati kalau ditembaknya. Itu hal biasa.” Jawabku. Aku kembali menyenderkan tubuhku di pohon dan memejamkan mata.
“Bukan tembak itu yang kumaksud!” Aldy kesal.
“Lalu apa?”
“Chelsea ingin menembakkmu karena perasaan cinta. Dia bermaksud ingin mengungkapkan perasaannya padamu!” Jelas Aldy.
“Appaaaa!?” Aku kembali membuka mataku dan terkejut.
****
Sore ini, Chelsea memintaku untuk menemuinya di depan gerbang sekolah. Chelsea ingin membicarakan sesuatu denganku. Aku sepertinya sudah tahu dengan topik perbincangan hari ini. Aku tahu Chelsea ingin membicarakan apa padaku.
Chelsea mulai membuka mulutnya. “Dino, dari pertama kali aku bertemu denganmu-”
“Chelsea, aku menyukaimu. Sungguh!”
“Eh?”
Tanpa sadar, tiba-tiba saja aku menyela perkataan Chelsea. Biarkan aku yang mengatakan ini terlebih dahulu. Akan ku keluarkan semua tentang perasaanku padanya. Ini… sangat memalukan. Tapi aku akan mencoba untuk memberanikan diri.
Jangan takut!
Ucapkan semuanya pada orang yang kusukai.
“Sebenarnya, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah menilai dirimu. Saat pertama kali aku masuk ke sekolah ini, aku melihatmu begitu cantik. Benar-benar cantik. Aku suka bandomu itu, eh! Maksudnya wajahmu! Dan juga, aku menyukai sikapmu. Aku suka dengan perempuan yang memiliki sikap dingin dan tidak mudah untuk dibodohi, pintar dan suka membaca buku. Kau benar-benar tipe untukku.”
Entah kenapa, aku mengatakannya secepat ini. Apa dia akan mengerti? Tapi sepertinya, Chelsea mendengarkanku. Dan dia juga tersenyum sambil menatapku. Itu benar-benar manis. Aku harus lebih berani lagi!
“Entah kenapa ketika aku bersamamu, aku merasa menemukan kedamaian dalam hatiku. Dulunya, aku adalah anak yang penakut dan cengeng. Tapi, semenjak kita berteman, aku jadi belajar banyak hal tentang keberanian bersamamu. Aku sangat menghargai itu. Aku harap, kau tahu bagaimana perasaanku ini. Jadi….”
Apa ini sudah saatnya? Aku benar-benar gugup. Dadaku terasa sakit. Aku tidak bisa mengatakannya. Bagaimana ini? Wajahku terasa panas, apa wajahku memerah?
Aku melihat mulut Chelsea agak terbuka sedikit, seolah ia ingin mengatakan sesuatu padaku juga. Tapi ia tidak bisa karena ia sedang menungguku melanjutkan ucapanku. Tekad dan keberanianku merendah. Aku benar-benar sudah berniat untuk mengatakan ini, tapi aku belum terlalu siap.
Aku hanya berdiri diam saja di hadapan Chelsea yang terus menatapku bingung. Lalu aku melirik ke belakang bahu Chelsea. Tak jauh dari depan gerbang itu, ada Aldy yang sedang berdiri di sana.
Dia mengangguk-angguk padaku. Mengisyaratkan, kalau aku benar-benar harus melanjutkan perkataanku itu. Aldy juga memberikan semangat dan dorongan padaku dengan gerakan tubuhnya. Chelsea menelengkan kepalanya.
Haduh….
Aku ingin mengatakannya, tapi… takut Chelsea tidak enak padaku. Apa dia bisa membaca isi perasaan dalan hatiku ini?
Jika iya, mungkin dia bisa tahu bagaimana perasaanku saat ini.
“Dino… kenapa kau-”
“Chelsea, aku menyukaimu! Benar-benar suka. Aku selalu merasa nyaman di dekatmu. Jadi, maukah kau menjadi pacarku? Aku berjanji akan menjadi kekasih yang terbaik untukmu. Aku akan berusaha untuk membuatmu tersenyum selalu, tidak akan mengecewakanmu, dan aku akan terus melindungi dirimu. Kumohon, terimalah aku!”
Eh! Aku bicara apa tadi?!
Jujur! Kata-kata itu terucap begitu saja. Dan aku mengatakannya dengan cepat sekali dan keras di hadapan Chelsea. Dan setiap kali Chelsea ingin bicara, selalu saja kusela. Oh tidak! Bagaimana ini? Aku takut Chelsea akan merasa tidak enak padaku.
Aaaa… berakhir sudah!
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku karena malu. Wajahku benar benar memerah. Aku terus menggelengkan kepalaku dan tingkahku menjadi tak terkendali.
Tapi… tiba-tiba saja….
CUP~
Aku sangat terkejut. Aku menurunkan kedua tanganku dan kubuka mataku.
Chelsea… dia….
Dia mencium pipiku?!
Uwaaaa… yang barusan itu? Apakah... apakah… Tidak mungkin….
“Aku terima!”
Aku kembali mendengar suara Chelsea yang lembut. Aku kembali menatap wajahnya.
“A, apa?”
“Aku terima!” ucapnya sekali lagi. “Sebenarnya, aku ingin mengatakan itu duluan… tapi kamu malah menyelanya. Aku juga menyukaimu, Dino!”
Jantungku berdetak cepat sekali. Tapi aku berusaha untuk tersenyum padanya.
“I, iya, Chelsea. Aku juga… suka padamu. Ba, bagaimana kalau kita mulai dari sekarang?” tanyaku gugup.
“Waaah… aku mau! Baiklah, Dino! Terima kasih.” Chelsea bahagia. Dia memelukku. Wajahku memerah. Aku senang melihatnya seperti ini.
“Terima kasih kembali!” Aku kembali memeluknya.
Kami berpelukan bersama di depan gerbang sekolah. Untung saja murid yang lainnya sudah pulang ke rumahnya, jadi tidak ada yang melihat kejadian ini, kecuali Aldy.
Aku menatap Aldy yang ada di belakang Chelsea dan berbisik mengucapkan “Terima kasih” padanya. Aldy pun mengangguk. Lalu secara diam-diam, dia berjalan ke arah jalan menuju rumahnya.
Jujur, sebenarnya, kata-kata untuk mengungkapkan perasaanku itu, adalah ajaran dari Aldy. Hehe….
“Jadi, Dino? Kapan kau akan melepaskanku? Kita harus pulang sekarang.” ujar Chelsea yang tiba-tiba. Ia mengejutkanku.
“Eh! Maaf.”
Aku lupa melepaskan pelukanku padanya. Apa dia merasa tidak nyaman? Aduh, Dino… kau ini payah!
Kami pun bergandengan tangan dan jalan bersama menuju rumah masing-masing. Sahabatku, menjadi pasanganku. Sore ini, aku senang sekali. Begitu juga dengan Chelsea.
****
Selama SMA, aku berpasangan dengan Chelsea. Aku bahagia bersamanya. Sampai bertahun-tahun… kami selalu bersama hingga dewasa.
Sampai kami akhirnya menikah dan dikaruniai 2 anak kembar yang memiliki Death Eye sepertiku dan Chelsea. Aku senang bisa kembali menghidupkan keturunan Manusia Death Eye. Manusia Death Eye semakin lama, semakin berkembang jenisnya. Keturunan kami terlahir kembali.
Tapi… apakah di luar sana masih ada orang yang berniat jahat untuk kembali memusnahkan Death Eye? Semoga saja tidak!
Apakah hidupku akan bahagia selamanya bersama keluarga baruku? Aku belum tahu bagaimana takdirku kedepannya. Kita hanya bisa menunggu!
____________________________________♥
__ADS_1
-Bersambung– Season 1, End....
~Coming soon, Season 2!