The Death Eye

The Death Eye
Eps 6– Kecemasan (2)


__ADS_3

Dino tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Pedang itu terus menusuk masuk sampai mata pisaunya menembus depan dadanya dan kemudian mendorongnya ke depan sehingga banyak orang di bawah sana yang melihat dirinya seakan bergelantungan di depan jendela.


Orang-orang di bawah sana terlihat panik dan ketakutan melihatnya. Kemudian salah satu penjaga segera bergegas menaiki tangga untuk membantu Dino. Tapi Orang yang menusuknya dari belakang ini, seketika langsung mencabut pedangnya dan tubuh Dino pun langsung terjatuh ke bawah dari atas jendela tadi.


Beruntung, petugas yang sudah naik sampai puncak tangga tadi sempat menggenggam tangannya agar tidak jatuh membentur tanah.


Tapi, Orang misterius yang di dalam gedung itu langsung menendang tangga yang dipijak petugas penyelamat itu dengan keras, sehingga tangganya terjatuh ke bawah.


Petugas itu tertimpa tangga, dan melepaskan genggaman tangannya pada Dino. Seketika tubuh Dino pun terjatuh dan menghantam tanah. Darah mengalir dari dalam luka tusuk dan kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Ponselnya tergeletak di samping kepalanya. Ia menatap ponsel itu, lalu tersenyum. "Rasanya memang sakit. Tapi aku tahu, kalau aku tidak bisa mati. Hehe... sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini, Chelsea."


****


“Huh, akhirnya selesai juga.”


Chelsea baru saja merapihkan dapur dan membersihkan ruang tamu. Sekarang, dia akan berbaring di sofa sambil menonton Televisi dan beristirahat sejenak. Tak lama setelah duduk, ia melirik jam dan terkejut.


“Sudah jam setengah 11!? Tapi kenapa Dino masih belum pulang juga? Apa dia tidak pulang lagi hari ini? Kok, aku jadi khawatir dengannya, yah.” Batin Chelsea cemas.


Chelsea mengambil ponsel yang ada di atas meja dekatnya, lalu mengetik beberapa nomor dan langsung menempelkan ponsel pada telinganya.


Ponsel Chelsea terus berbunyi menunggu orang yang diteleponnya itu menjawab panggilannya. Tapi lama sekali.


[Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak berada dalam jangkauan saat ini. Mohon coba lagi nanti.]


TUT…TUT….


Karena telpon yang barusan tidak tersambung, maka Chelsea akan mencobanya sekali lagi. Tapi tetap saja tidak bisa. Lalu mencoba lagi. Dan terus mencoba. Ini sudah yang ke lima kali Chelsea menghubungi Dino, tetap tidak ada jawaban dari ponselnya. Dia semakin cemas saja. Lalu Chelsea akan mencobanya sekali lagi.


“Dino, kumohon, angkatlah! Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu saja.” Gumam Chelsea sambil menggertakkan giginya dan berusaha untuk menahan tangis.


Untuk yang kali ini juga, tidak ada jawaban. Karena sudah merasa menyerah, Chelsea pun melempar ponselnya di atas meja karena kesal. Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menundukkan kepala.


Lalu tak lama kemudian, Tiny dan Tino datang menghampiri Ibunya. Chelsea sangat terkejut dan langsung membenarkan posisi duduknya.


“Eh, kalian? Kok belum tidur? Ini sudah malam, lho! Besok kalian harus sekolah.” Kata Chelsea.


Tino mengucek-ngucek matanya. “Iya, tadinya kami mau tidur. Tapi kami ingin menunggu Ayah pulang dulu.” Jawabnya.


Tiny yang ada di sampingnya hanya bisa mengangguk-angguk. Lalu dia memperhatikan Ibunya. Tiny mengerutkan keningnya dan menulis sesuatu di Notebook-nya. Lalu memperlihatkan tulisan itu pada Chelsea, Ibu kenapa? Ibu menangis? Itu mata Ibu berkaca-kaca’


Chelsea langsung mengusap-usap matanya dan menjawab, “Tidak, kok. Ibu tidak menangis. Ibu tadi habis menonton film sedih di Televisi.”


“Ibu, bohong, yah? Ibu pasti habis menangis karena hal lain, kan?” Tino tidak mempercayainya.


Chelsea tersenyum. “Tidak, Ibu hanya….”


TRIIIING… TRIIING….


Tiba-tiba saja Ponsel Chelsea berdering. Chelsea senang sekali. Ternyata telepon dari Dino. Dia langsung mengangkatnya.


“Ha–halo, Dino! Kau ada di mana, sayang?” tanya Chelsea lirih.


[Maaf, apakah anda ini istri dari Pak Dino Dirmansyah yang bernama Chelsea Willona?]


Chelsea terkejut, karena suara orang yang ia cintai itu menjadi berbeda. Menjadi lebih berat. Chelsea menggenggam Ponselnya lebih kuat lagi dan menjawab, “Iya, saya sendiri. A–apa ada masalah?”


[Saya hanya ingin memberitahu kabar penting. Saat ini, Suami anda sedang berada di Rumah Sakit Death Eye Humanity. Dia mengalami kecelakaan.] Terang orang yang ada di dalam telpon itu.


Chelsea, Tino dan Tiny terkejut mendengarnya. Chelsea menjatuhkan ponselnya dan langsung duduk di sofa sambil menangis tersedu-sedu. Tiny dan Tino menghampiri dan langsung memeluk Ibunya.

__ADS_1


****


Lokasi: Death Eye Humanity Hospital–


DRAP! DAP! TAP!


Tepat pukul 11 malam, Chelsea datang bersama Tiny dan Tino. Chelsea dan anak-anak, berlari melewati lorong-lorong rumah sakit. Kamar no.102 adalah kamar tempat Dino dirawat saat ini. Chelsea bersama anak-anak akan pergi ke sana untuk menjenguknya.


Saat sampai di sana, ada beberapa orang di depan kamar no.102 yang sedang menunggu dokter yang memeriksa Dino segera keluar. Salah satu dari beberapa orang yang menunggunya itu, ternyata ada Yuri di sana. Chelsea mengenal wanita itu. Mereka saling menyapa.


 


“Hai, kau pasti temannya Dino yang waktu itu, benar?” tanya Chelsea. “Tadi siang kita bertemu di Mini Market, kan?”


 


“Eh, iya! Kamu pasti Istrinya Dino, kan?” tanya Yuri balik.


“Iya. Eh, kita belum berkenalan. Namaku Chelsea Willona.” Chelsea mengulurkan tangannya.


Yuri menjabat tangan Chelsea. “Namaku Yuri Nikamura.”


“Eh, namamu terdengar asing. Dari mana kau berasal?” tanya Chelsea.


“Emm, aku dari Jepang. Hehe…” Jawabnya sambil tertawa kecil.


“Owh, pantas saja. Haha… habisnya aku baru dengar nama yang seperti itu. Maaf yah. Apa kata-kataku menyinggung perasaanmu?” tanya Chelsea tidak enak.


“Ahaha… tidak apa, kok!”


Setelah Chelsea mengobrol sebentar dengan Yuri, tiba-tiba saja ada yang datang menghampiri Chelsea dan memberikan Ponsel milik Dino padanya.


“Ah, iya! Terima kasih banyak!” Ucap Chelsea.


Tak lama kemudian orang-orang yang ada di sana pun pergi meninggalkan rumah sakit ini. Yang tersisah di depan pintu kamar rawat Dino hanya Chelsea, anak-anak dan Yuri saja. Mereka mungkin pergi karena orang yang terpenting untuk menjaga Dino sudah datang.


Beberapa menit kemudian….


GREEEKK….


Seorang Dokter perawat Dino pun akhirnya keluar. Chelsea dan Yuri langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Dokter itu.


“Bagaimana keadaanya, Dok!?” tanya Chelsea cepat.


Dokter itu menghela napas pelan dan tersenyum. “Dia baik-baik saja. Tidak ada yang serius. Luka-lukanya juga sudah sembuh dengan baik. Beruntunglah dia memiliki Death Eye. Karena kalau keadaan seperti itu ada pada manusia biasa, mungkin tidak akan bisa diselamatkan.” Jelas Dokter itu. “Kalau kalian ingin menjenguknya, silahkan saja. Saya ingin ke ruangan saya dulu. Nanti saya akan kembali lagi.” Lanjut dokter itu sambil berjalan pergi.


Chelsea lega mendengarnya. Yuri hanya bengong saja dengan mimik wajah yang kebingungan sambil mengerutkan keningnya. Chelsea mengajak Yuri untuk masuk bersama ke kamar Dino.


Ketika masuk ke kamar rawatnya, Chelsea melihat Dino sedang duduk bersandar di bantal-bantal di atas ranjang sambil mengobrol dengan manejerku. Setelah melihat Chelsea sudah datang dihadapannya, Dino langsung tersnyum padanya. Ia senang sekali, wanita yang ia cintai saat ini ada berada di dekatnya.


“Baiklah, karena Istrimu sudah datang, kita akan lanjutkan pembicaraan ini lain waktu, yah, No! Sekarang saya permisi dulu. Terima kasih untuk semuanya!” ucap sang Manajer sambil beranjak pergi dan meninggalkan ruang rawatnya.


Dino hanya mengangguk. Setelah sang manajer itu keluar, Chelsea mendekat ke arahnya dengan tampang yang tidak biasa.


“Hai, sayang. Kau datang? Hihi...” tanya Dino dengan senyum manis.


BUK!


“Aw! Kau ini kenapa? Kenapa memukulku? Sakit tau!” geramnya sambil mengusap-usap kepalanya yang sudah dipukul Chelsea.


Chelsea hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya. Lalu tak lama kemudian, dia memeluk Dino dengan cepat. Dan… eh?

__ADS_1


Dia menangis di pelukannya.


“Kau bodoh! Kenapa dirimu bisa sampai seperti ini, sih!? Kau tahu? Aku khawatir sekali kau tidak pulang ke rumah!” gerutu Chelsea sambil menangis terisak-isak.


Dino menggenggam erat tangannya. Chelsea melepaskan pelukannya dan menatapku serius dengan mata yang masih berkaca-kaca.


Dino hanya tersenyum padanya. “Maafkan aku, sayang. Apa aku telah membuat semuanya menjadi cemas?”


Chelsea kembali menggenggam tangan kanan Dino dengan kedua tangannya. Matanya terpaku pada tangannya yang menggenggam Dino ketika ia berkata pelan, “Tolong, jangan membuatku cemas lagi.”


Dino menatapnya, tapi tidak menjawabnya. Ia tidak tahu kalau Chelsea bakal secemas ini padanya. Ia jadi merasa bersalah karena sudah membuat orang tercintanya jadi cemas.


“Dino, Jangan diulangi lagi!” tegas Chelsea.


Dino hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu tertawa kecil dan berkata, “Kuanggap pukulanmu tadi sebagai kasih sayangmu padaku.”


“Heeh? Jadi apa kau mau dipukul lagi, hah?”


“Tidak. Tidak! Satu pukulan saja sudah cukup,” Gumamku. “Oh iya, anak-anak. Kalian kenapa belum tidur? Ini sudah larut malam, lho!” Kemudian Dino kembali mengalihkan pandangannya pada Chelsea. “Chelsea? Kenapa anak-anak kau ajak?”


“Umm… itu….”


“Bukan Ibu yang ngajak, kok, Yah!” Sela Tino. “Kami sendiri yang ingin ikut.”


Tiny mengangguk.


Dino tertawa kecil. “Oh, baiklah tidak apa. Kalian anak-anakku yang baik.” Ia mengelus kepala mereka.


Yuri berdeham kecil dan bertanya, “Dino, kalau boleh tahu, emm… kenapa lukamu itu bisa cepat sembuh?”


“Padahal kalau tertusuk benda tajam pada bagian organ vital itu bahaya sekali. Apalagi, tusukan itu mengenai paru-parumu, bukan? Kalau manusia biasa, hal seperti itu bisa langsung menyebabkan kematian. Tapi kenapa tidak denganmu? Eh, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku senang kau selamat, tapi aku hanya penasaran saja. Baru pertama kali ini aku melihat hal seperti ini.”


“Eh, kakak kenapa bertanya seperti itu? Apa kakak tidak tahu?” tanya Tino tidak percaya.


Yuri tertawa kecil. “Tidak, haha… karena aku tidak pernah mengamati tentang manusia Death Eye.”


“Hmm… baiklah kalau begitu. Sebenarnya, kami para Death Eye memiliki kemampuan khusus untuk kekebalan tubuh dan penyembuhan otomatis dengan cepat. Jadi, karena mataku inilah yang sudah menyembuhkan lukaku dengan sendirinya.” Jelas Dino.


Yuri menatapnya tidak percaya. “Wow, ternyata hebat juga, yah! Aku baru mengetahuinya, haha….” Kemudian ia tertawa. “Terimakasih atas infonya, Dino!”


Lalu setelah itu, Yuri mundur perlahan ke belakang dengan ekspresi yang sama. Ia menyentuh kenop pintu, lalu melambai pada Dino dan Chelsea.


“Eh, No! Aku pulang dulu, yah. Dan Chelsea senang bisa berkenalan denganmu. Sampai jumpa lagi.” Kata Yuri. Setelah itu ia berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang rawat Dino.


“Ada apa dengannya? Kenapa dia terburu-buru sekali. Jadi terlihat mencurigakan.” Gumam Chelsea.


“Kau jangan salah paham dulu. Mungkin ini karena sudah larut malam, maka dari itu, dia terburu-buru ingin pulang.”


“Tapi tetap saja kita harus mewaspadai orang asing itu, No!” tegas Chelsea.


Dino terdiam. Tidak menjawab perkataan Chelsea. “Benar juga. Aku juga harus mewaspadai orang di sekitarku. Apalagi terhadap Yuri. Akhir-akhir ini, sikapnya agak aneh.” Batinnya.


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2