The Death Eye

The Death Eye
Eps 10– Nasib Sial


__ADS_3

“Uuuh… gambaran apa ini?” tanya Alivia dengan nada meledek.


Tiny berusaha untuk mengambil kertasnya kembali. Tapi, Alivia lebih tinggi daripada Tiny dan beberapa dari temannya mencegah Tiny untuk mendekati Alivia. Alivia menunjukkan gambaran Tiny itu pada anak di dalam kelas sambil tertawa.


“Haha… anak kecil sepertinya ini, pantasnya tuh gambar gunung sama sawah saja seperti anak TK. Gambar beginian tuh lebih baik nanti saja kalau sudah dewasa.” Ledek Alivia sambil merobek-robek gambaran Tiny itu menjadi kertas kecil-kecil, lalu


menginjak-injaknya.


Tiny berusaha untuk berteriak, dia kesal karena Alivia telah merusak gambarnya itu. Gambar yang dibuat Tiny itu sangat berarti baginya, karena 2 anak kembar dalam gambar itu seperti dirinya dengan kakaknya yang merupakan anak kembar yang akan selalu bersama dan tersenyum juga bahagia setiap saat.


Tiny berlari menghampiri kertas-kertas gambarannya yang sudah menjadi sampah itu. Dia mengumpulkan semua kertas itu dan berniat akan menyatukan kembali kertas itu menjadi gambarannya semula. Alivia tersenyum sinis melihatnya.


“Heh, kalian semua lihat, kan? Haha… si mata satu ini kurang kerjaan sekali mengumpulkan sampah. Eh, apa mungkin… cita-citanya ingin menjadi pemulung sampah, haha…” Alivia mengejeknya lagi. Lalu dia kembali melihat ke sekeliling kelasnya. Dia terheran, kenapa seketika semuanya jadi senyap?


“Eh? Kenapa kalian diam saja? Bukankah hal seperti ini lucu?”


“Hal yang terlucu itu adalah melihat wajahmu yang babak belur!” tegas seseorang dari belakang Alivia.


Alivia terkejut. Dia mengenal suara ini. Dia berbalik badan dan ternyata dugaannya benar. Suara itu berasal dari Tino yang sudah berdiri di belakangnya dengan ekspresi yang menyeramkan.


Di sana juga ada Dio di samping Tino. Tino mengepal tangannya kuat-kuat dan langsung berlari menghampiri Alivia.


“Beraninya kau menghina adikku! Tidak akan kubiarkaaan!!” bentak Tino yang akan memukul wajah Alivia.


Tapi yang saat ini, Alivia tidak menghindar melainkan dia malah tersnyum sinis.


BUAK!


“Aduh!”


Tiba-tiba saja, ada seseorang yang sudah memukul Tino terlebih dahulu sampai terjatuh.


“Haha… aku sudah tau kalau hal seperti ini akan menghampiriku. Maka dari itu… aku mencari teman yang lebih kuat darimu!” Alivia menunjukkan seorang teman barunya yang ukurannya lebih besar daripada Tino. Dia anak dari kelas 6-B, merupakan kakak kelas berbadan besar yang bernama Tito Syaputra. Tito akan menjadi pelindung Alivia disaat seperti ini.


Tino kembali bangkit lagi dan dia berusaha untuk menyerang teman barunya Alivia itu. Tapi tidak berhasil, Tito bergerak sangat cepat. Lalu dengan cepat, Tito menggocoh perut Tino dan meninju wajahnya. Setelah itu, Dia menarik kerah baju Tino dan langsung menyundul kepala Tino dengan keras. Setelah itu, Tito melempar Tino sampai ke belakang kelas.


Tiny segera menghampiri Kakaknya. Dio juga tidak bisa tinggal diam. Dia mengeluarkan matanya dan langsung mengendalikan tubuh Tito.


Kemudian Dio melempar tubuh Tito sampai menubruk teman-teman Alivia yang lainnya. Lalu ini yang terakhir. Dio juga melempar Alivia sama seperti Tito dan berjalan menghampirinya dengan tatapan mata merah yang mengerikan.


“Dengar, yah! Kalau kau memang benci dengan karya orang lain, lebih baik tutup mulutmu dan diam saja. Jangan banyak berkomentar yang dapat menyakiti hati sang penciptanya. Apalagi sampai menghina karyanya seperti itu! Itu… tidak baik!” bentak Dio pada Alivia yang masih duduk di lantai. Setelah itu, Dio pun berlari menghampiri Tino dan Tiny.


Tino terlihat baik-baik saja. Tapi dia sedikit terluka, Dio dan Tiny akan membawanya ke Ruang kesehatan untuk mengobati luka-lukanya itu. Dio dan Tiny pergi bersama Tino. Tina juga ikut bersama mereka.


“Cish! Lagi-lagi aku berakhir seperti ini. Awas saja kalian!” geram Alivia.


“Hei, tapi kata anak yang tadi itu benar juga. Seharusnya kau tidak boleh menghina karya orang lain.” Kata Seorang temannya.


Alivia mengerutkan keningnya. “Heeei… kau siapa? Berani menasihatiku. Sudah! Kalian semua diam saja. Biar aku yang urus! Aku harap, kedua anak kembar itu mendapatkan nasib sial!”


Alivia berjalan menuju kantin. Semua temannya juga mengikutinya. Saat perkataan Alivia yang terakhir ia ucapkan itu, Tino sempat mendengarnya. Ia harap, “Nasib sial” yang dikatakan Alivia itu tidak akan terjadi padanya dan keluarganya juga.


****


Saat di Ruang kesehatan….


“Aw! Pelan-pelan lah… ini menyakitkan!” rintih Tino.


“Tahanlah… sebentar lagi.”


Dio hanya membersihkan kotoran yang ada di luka Tino saja. Mereka akan membiarkan Tino untuk menyembuhkan dirinya sendiri.


Setelah Dio selesai dengan kakaknya, Tiny menulis, ‘Kakak sudah merasa baikkan?’


Tino tersenyum. “Iya, sudah. Kau jangan khawatir.”


‘Tapi aku sedikit kecewa dengan kakak. Kakak sudah berjanji padaku untuk tidak berkelahi lagi, karena aku takut kakak kenapa-napa nanti!’


“Eh, jadi kau marah padaku, Tin?” tanya Tio pelan.

__ADS_1


‘Hanya kecewa. Kakak sudah melanggar janji kakak.’


“Janganlah seperti itu. Semua kulakukan untuk melindungimu, Tin!” tegas Tino.


‘Tapi aku tidak ingin kakak menggunakan kekerasan.’


“Jika tidak menggunakan kekerasan, mereka akan semakin menjadi padamu, Ni!”


Tiny tidak menjawab. Dia membuang muka kesal pada kakaknya lalu berbalik badan membelakangi kakaknya.


Tino menundukkan kepalanya. “Kalau begitu, aku minta maaf.”


Tino menyesal sekali.


“Hei, hei… ayolah kalian berdua. Kenapa jadi marahan begini? Ayooo… kita berdamai. Damai itu indah, lho!” bujuk Dio untuk mempersatukan kembali si kembar. Tapi ternyata tidak berhasil. Sepertinya Tiny sudah terlanjur kecewa dengan Kakaknya.


“Bagaimana ini, Tina?” tanya Dio.


“Aku tidak tahu. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Itu biasa. Mungkin nanti juga akan baikan lagi.” Jawab Tina. “Sekarang ayo kita tinggalkan mereka berdua saja!”


“Baiklah. Hei, kalian berdua, kami duluan.” Kata Dio sambil berjalan ke depan pintu.


Dio dan Tina keluar dari Ruang kesehatan. Sementara kedua si kembar itu masih ada di dalam. Tino duduk di atas ranjang tidur sambil menundukkan kepala. Sedangkan Tiny membelakangi Kakaknya sambil menggenggam kuat-kuat buku Notebook-nya untuk menahan dirinya agar tidak menangis.


****


“Dino, lihatlah, kali ini aku membuat Mie Ramen untukmu!” Kata Yuri sambil memberikan makanannya itu pada Dino.


“Ramen? Wow! Sepertinya enak.” Dino menerima makanan buatan Yuri dan mencicipinya. Ia menyesap kuah ramen itu. Rasanya enak sekali.


“Lezat, kan?” tanya Yuri penasaran.


“Ya… kurang garam.”


“Apa?! Benarkah? Oh tidak! Kalau begitu, akan aku tambahkan sekarang.” Panik Yuri. Dia kembali mengambil sebotol garam yang akan di tuangkan pada semangkuk ramen yang Dino pegang.


“Eh, tunggu! Aku hanya bercanda soal garam itu. Rasa ini luar biasa!” Dino tersenyum pada Yuri.


“Tidak kok! Ayo, kita makan bersama. Aku akan membagi bekalku juga padamu.”


“Ahaha… sepertinya enak!”


Seperti biasa, Dino dan Yuri pergi makan siang bersama di atas atap gedung ini sambil menikmati udara segar yang sejuk.


****


KRIIING… KRIIING… KRIIING….


Bel pulang sekolah berbunyi. Semua anak langsung keluar dari kelas mereka. Begitu pula dengan Tino dan Tiny.


“Tin, aku pikir, mereka masih bertengkar, deh.” Bisik Dio.


“Hmm… ini aneh. Apa Tiny bisa semarah itu dengan kakaknya?” tanya Tina.


“Entahlah.”


Tiny dan Tino masih saling berdiam diri. Mereka tidak saling menatap dan berbicara dengan sesama. Sampai akhirnya, mereka keluar dari lingkungan sekolah dan menemui Ibu mereka.


Tiny dan Tino sepertinya sedang tidak bersemangat. Mereka langsung masuk ke dalam mobil Ibunya tanpa mengucapkan “Sampai jumpa” atau “Dadah!” pada teman-temannya. Dan saat ini juga, Tiny lebih memilih untuk duduk di samping Ibunya daripada di belakang bersama Tino.


Mobil mereka akan berangkat. Tino hanya melambai kecil dengan tatapan dingin pada teman-temannya. Setelah itu, Chelsea mengemudikan mobilnya dan pergi.


Dio cemas kalau mereka tidak akan bisa berbaikan sampai besok. Karena terlalu banyak melamun, dia ditegur Ibunya.


“Hei, Dio! Ayo naik. Kau tidak ingin pulang?” tegur LIena.


Dio tersentak. “Oh iya, maaf, Bu!”


Dio masuk ke dalam mobilnya. Ia membuka kaca mobil dan menengok ke arah Tina yang masih berdiri di depan gerbang.

__ADS_1


“Sebentar, Bu! Hei, Tina! Kau tidak ingin ikut bersamaku? Akan kuantar pulang. Ayolah!” Ajak Dio.


Tina menggeleng sambil tersenyum. “Tidak usah. Aku juga sedang menunggu jemputan Ibuku, kok, hehe… kau duluan saja. Terima kasih tawarannya.”


“Baiklah kalau begitu, aku duluan, oke? Sampai nanti.” Dio kembali menutup pintu mobilnya.


“Eh, temanmu tidak ingin ikut bersama kita?” tanya Liena.


“Dia tidak mau. Ya sudahlah, ayo, Bu! Kita pulang.”


“Iya, baiklah.”


BRRMMM….


Setelah semua temannya pergi, Tina tersenyum sinis. Dia juga langsung berjalan meninggalkan sekolahnya.


“Aku akan menantikan nasib sial kalian. Akan aku akhiri hidup kalian sekarang juga!” gumam Tina sambil berjalan cepat mengikuti jalan yang dilewati mobil teman-temannya tadi.


****


Saat di jalan….


“Jadi anak-anak, apa ada sesuatu yang terjadi di sekolah?” tanya Chelsea.


“Tidak ada, kok, Bu!” jawab Tino pelan.


“Oh, baiklah.” Chelsea melirik ke Tiny yang ada di sampingnya dan bertanya. “Tiny, apa ada masalah denganmu?”


Tiny menggeleng pelan tanpa menatap Ibunya.


Chelsea merasakan ada yang tidak biasa dari anak-anaknya. Mereka menjadi pendiam dan selalu memasang wajah masam saat ini. Chelsea juga jadi penasaran, kenapa hari ini mereka tidak saling dekat?


“Eh, Tiny? Tumben sekali kau mau duduk di depan dengan Ibu?” tanya Chelsea.


Tiny hanya menjawabnya dengan menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya tanpa menatap ke Ibunya.


Chelsea tidak tahu kenapa Tiny jadi seperti ini. Lalu dia akan mencoba untuk bicara pada Tino yang ada di kursi belakang.


“Tino? Kau tau apa yang sedang dipikirkan adikmu sekarang?” tanya Chelsea.


“Entahlah, sembari tadi dia sudah seperti itu.” Jawab Tino dingin.


“Eh, apa kalian berdua bertengkar?” tanya Chelsea pada si kembar.


Mereka hanya terdiam saja tanpa sepetah kata sedikit pun. Chelsea menjadi geram dan gelisah karena anak-anaknya selalu bersikap seperti itu. Dia tidak suka.


“Jawab Ibu, anak-anak! Apa ada masalah antar kalian berdua!?” tanya Chelsea dengan keras. “Ibu tidak suka dengan sikap baru kalian ini.” Lanjutnya.


Tino dan Tiny terkejut dan langsung menatap Ibunya. Tiny menatap ke depan dengan ekspresi yang ketakutan. Dia hanya diam saja, karena Tiny ingin kalau kakaknya saja yang menjawab Ibunya.


Tapi tiba-tiba Tiny terkejut saat melihat ke arah jalanan. Dia menepuk-nepuk tangan Ibunya untuk memperingati sesuatu di depan sana karena Chelsea sedang fokus menatap Tino sambil menyetir tanpa melihat ke depan sana.


Karena tepukan dari Tiny itu, membuat Chelsea kembali menatap Tiny yang terus memanggilnya. Chelsea bingung, kenapa Tiny terus menunjuk-nunjuk ke depan sana.


Chelsea pun kembali fokus dengan jalanan dan dia sangat terkejut, karena di depan sana ada seorang anak kecil yang berdiri membelakangi mereka. Chelsea langsung membanting setir mobiilnya ke kiri untuk menghindari anak kecil di depan sana agar tidak tertabrak. Sampai pada akhirnya….


“Awas di depan buuu!!” teriak Tino.


“Kyaaaa…!”


GUBRAKK!!


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2