
“DINO! AWAS!!"
Dino menggelengkan kepalaku dengan cepat, lalu mendongak ke atas. Ia terkejut begitu melihat Miya yang sudah mengayunkan kapaknya.
Dino pun langsung menghindar secepat yang ia bisa. Tapi ternyata tidak sempat. Walaupun kapak itu tidak mengenai kepalanya, tapi ayunan Kapak itu berhasil merobek lengannya.
“Akh! Aduh!”
Tubuhnya terjatuh ke lantai. Meneteskan beberapa darah yang keluar dari lukanya. Miya kembali menyerang lagi. Dino menghindar dari anak itu dengan menggulingkan tubuhnya. Kemudian Miya mengayunkan kapaknya lagi.
Namun sebelum kapak itu menyentuh kepalanya, tiba-tiba saja ada yang menggenggam tangan Miya dan menahan kapaknya. Miya menengok ke sampingnya. Orang yang telah menghentikannya itu adalah Ryo!
“Berhenti. Jangan lakukan hal seperti ini.” Ujar Ryo lirih pada Miya.
“Tidaaakk!” Miya berteriak. Lalu dia memberontak berusaha untuk melepaskan diri. Ryo terkejut. Ternyata untuk seorang anak kecil, kekuatan Miya itu sangat kuat dari dugaannya.
Tak sengaja, Kak Ryo melepaskannya. Miya kembali berdiri. Lalu dia mengambil kembali kapaknya yang terjatuh itu dan mengayunkannya untuk menyerang Ryo.
Ryo menghindari serangannya. Tapi karena terlalu banyak bergerak, ia pun tersandung kakinya sendiri lalu terjatuh. Miya kembali melompat dan menyerang. Tapi Dino sempat menghadangnya. Ia mendorong tubuh Miya dan mereka berdua pun terjatuh bersama. Miya kembali berdiri, lalu menghampiriku dengan kapaknya. Miya menginjak tubuhnya Dino.
“Tidak ada main-main lagi, Kakak Dino! Pokoknya sekarang juga, aku akan membunuhmu!”
Miya mengangkat Kapaknya ke atas, lalu mengayunkannya dengan cepat.
“AYAAAH!”
BUK!
Dino kembali membuka matanya. Miya menatap Dino dengan mata besarnya. Lalu Dino melirik ke samping dan terkejut. Ujung mata pisau kapak itu menancap di lantai. Tepatnya di samping kepala Dino hanya dengan jarak beberpa centimeter saja.
Mata Miya perlahan berubah menjadi gelap dan merah. Lalu Miya kembali berdiri. Dino pun bangun. Di depannya, ia melihat sudah ada Tino dan Tiny di sana. Tentu Dino senang sekali.
“Ayah baik-baik saja?” tanya Tino. Kedua anak-anaknya langsung memeluk ayah mereka.
“Ayah, baik-baik saja.”
Setelah itu, Tiny melepaskan pelukannya lalu ia berjalan menghampiri Miya yang sedang berdiri dengan tatapan kosongnya. Kenapa bisa seperti itu?
Ya… karena Devan telah menggunakan Cont Eye miliknya. Dino senang akhirnya mereka bisa datang menemuinya di sini. Semuanya telah banyak membantunya.
__ADS_1
Kemudian Dino memperhatikan keadaan anak-anaknya. Di baju mereka ada bekas noda darah. Dino pun bertanya kepada Tino dan Tiny. “Anak-anak? Ini darah siapa?”
“Oh. Ini darahku, Ayah.”
“Tino, apa kau terluka?!”
“Sedikit. Tadi kami di kurung di dalam suatu ruangan. Tapi Liena datang dan menyelamatkan kami keluar dari tempat itu.” Jelas Tino.
“Oh. Siapa yang telah mengurung kalian?”
Tino dan Tiny menggeleng. Mereka tidak tahu. Tapi, sepertinya Dino tahu. Yang membawa mereka ke sini pasti si Ibu penjaga perpustakaan itu.
“Hai, Dino!” Sapa Liena. Ia berjalan menghampirinya. “Kau baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka?”
“Iya. Hanya sedikit. Tapi tidak apa.”
“Dino, kau bilang Chelsea ada di tempat ini. Di mana dia?” tanya Aldy.
"Oh iya! Aku lupa dengan Chelsea. Tadi aku sempat mendengar teriakannya, tapi aku tidak tahu di mana dia."
“Iya! Aku akan mencarinya.”
Dino dan Aldy pergi berlari menyusuri lorong. Lalu yang lainnya juga ikut kecuali Devan dengan Dio yang harus tetap berdiam diri di sana untuk menahan Miya.
Dino tidak tahu di mana Chelsea. Jadi, mumpung mereka masih berada di lantai 2, jadi Dino akan pergi ke ruangan Balita Death Eye. Sekalian ia juga ingin memeriksa keadaan anak-anak Death Eye di sana.
Saat Dino dan Aldy sampai, mereka langsung membuka pintu itu. Ternyata ruangannya tidak dikunci. Mereka masuk ke dalamnya.
Di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Lalu Dino akan mengecek di ruang bermain. Mereka tidak ada. Apa di kamar tidur?
Tetap saja, anak-anak itu tidak ada di sana. Tidak ada satu pun dari mereka yang ia temui hari ini. Semuanya ke mana?
Kalau begitu, Dino akan memeriksa di kamar mandi. Perlahan ia buka pintu kamar mandi itu. Dino pun mengintip ke dalamnya dan terkejut.
Di dalam kamar mandi benar-benar mengerikan. Darah merah berada di mana-mana. Dan yang lebih mengerikan lagi, ada banyak kepala manusia di dalam bak mandi.
Mereka pasti adalah korban pembunuhan Death Eye. Karena yang Dino lihat di sana, setiap kepala-kepala itu tidak memiliki mata. Mata yang sudah diambil dari si pembunuhnya langsung. Mata itu pasti adalah Death Eye!
Dino kembali menutup pintu kamar mandi itu. Aldy merasa perutnya mual karena melihat kepala-kepala tadi. Lalu setelah itu, Dino dan Aldy pergi meninggalkan ruangan balita Death Eye.
__ADS_1
Namun saat Dino membuka pintu, ia dikejutkan dengan kehadiran Liena di depan pintu. Tak hanya Liena, tapi juga ada Tino dan Tiny, juga ada Ryo.
“A–apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Dino.
“Tentu saja kami ingin menemanimu. Dan kita bersama-sama akan mencari Chelsea.” Jawab Liena.
“Ayah… apa Ibu ada di sini? Apa dia dalam bahaya?” tanya Tino cemas.
Dino menggeleng cepat. “Tidak. Ibumu tidak mungkin dalam bahaya. Ibu kalian adalah Ibu yang terkuat. Jika dia dalam bahaya, maka ia akan langsung bertindak. Ibumu bisa menjaga dirinya sendiri,” Jelasnya. “Tapi, tidak bisa memakan waktu lama. Kita harus cepat. Ayo!”
Semuanya pergi mencari lagi. Lalu tak lama kemudian, Liena memberhentikan langkahnya. Sepertinya, ada yang ingin Liena beritahu pada Dino.
“Dino, daripada kita bersama, lebih baik kita berpencar saja. Agar lebih cepat!” usul Liena.
Dino pun mengangguk pelan. “Iya, oke. Baiklah kalau begitu.”
“Lihat, di sekitar sini terdapat 2 lorong lagi yang tersisah. Aku dan Aldy akan pergi ke lorong pertama itu. Kak Ryo pergi ke lorong kedua di sana. Dan Dino bersama Tino dan Tiny pergi ke lantai berikutnya. Setelah kedua lorong di sini sudah kami periksa dan tidak menemukan apapun, maka kami semua akan menyusulmu ke lantai 3. Tapi, jika salah satu dari kalian menemukan Chelsea, lekas beritahu yang lainnya dengan lewat ponsel atau berteriak.” Jelas Liena.
“Tapi Liena, kita tidak mungkin membiarkan Kak Ryo sendirian. Dia kan tidak memiliki kekuatan khusus. Tidak ada yang melindunginya. Jika dia dalam bahaya bagaimana?”
“Kalau begitu, aku saja yang akan menemani Kak Ryo, ayah!” kata Tino. “Biarkan Ayah bersama dengan Tiny saja.”
“Oh, oke, baiklah!”
“Baik, semuanya mengerti, kan?” tanya Liena.
Semuanya mengangguk. Lalu, mereka semua mulai bergerak. Kembali mencari Chelsea lagi. Dino dan Tiny menaiki tangga menuju lantai 3.
Lantai 3 adalah tempat yang paling luas di gedung ini. Banyak ruangan dan koridor. Memerlukan waktu lama untuk memeriksa semuanya.
*
*
*
To be Continued-
IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1