
Dino bekerja di dalam gedung Shelter of Death Eye Humanity (SDEH) sebagai penjaga dan pelindung Manusia Death Eye yang terlantar.
Hari ini petugas yang lainnya menemukan beberapa Manusia Death Eye yang terlantar di jalanan dan memerlukan perlindungan khusus. Kebanyakkan adalah anak kecil. Jumlah mereka lebih banyak dibanding pencarian bulan kemarin.
Kalau tugas Dino adalah merawat para manusia Death Eye dan mencarikan tempat tinggal untuk mereka. Tapi untuk saat ini, mereka semua akan tinggal di dalam gedung SDEH dahulu.
Karena semuanya kebanyakkan anak kecil, Dino pikir, ia akan pulang telat hari ini. Karena tidak mudah merawat anak kecil dan mereka juga memerlukan perhatian penuh. Tapi aku suka anak-anak, mereka sangat manis dan imut seperti anak-anakku.
Saat ini, Dino sedang beristirahat di ruanganku. Sekarang waktunya memberitahu Chelsea kalau aku hari ini akan lembur dan pulang lebih larut dari biasanya.
Ia mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa nomor dan menempelkannya ke telinga.
TUT!
[ Halo? Ada apa, sayang? ] Chelsea menjawab telepon dari Dino.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memberitahumu untuk berhati-hatilah di rumah bersama anak-anak. Karena aku hari ini akan lembur karena pekerjaanku sedang menumpuk. Maaf yah, sayang.”
[ Oooh, iya tidak apa-apa. Aku dan anak-anak bisa jaga diri, kok. Harusnya kamu lah yang berhati-hati. Karena, para penjahat bisa ada di mana saja, loh! ]
“Tidak. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Kau jangan berpikir yang macam-macam, ah!”
Chelsea tertawa kecil. [ Haha… tidak akan kok. ]
Dino menghela napas pelan. “Yah, hmm… apa anak-anak sudah pulang?” tanyanya.
[ Belum. Sekarang baru jam 11 siang. Nanti aku akan jemput mereka jam 1. ] Jawab Chelsea.
TOK TOK TOK….
Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangannya. Dino sedikit terkejut dengan suara ketukan pintunya.
Sambil memegang ponsel, tangannya yang satunya merapihkan meja dari kertas-kertas yang berserakkan.
“Iya, silahkan masuk!” Kata Dino pada orang yang ada di depan pintu ruangan. “Sudah dulu, yah, sayang. Aku ada kerjaan lagi.” Ujarku pelan pada Chelsea lewat telepon.
[ Oke, baiklah. ]
TUT!
Telpon diakhiri. Lalu Orang yang ada di depan pintu sana pun masuk ke dalam ruangan. Ternyata ada seorang wanita berambut panjang berwarna merah muda. Dia memakai seragam pekerjanya. Tapi sepertinya Dino tidak pernah melihat wanita ini.
Apa dia karyawan baru?
Wanita itu berjalan menghampirinya, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan di depan meja.
“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Dino lembut pada wanita di hadapannya.
“Iya. Apa anda yang bernama Dino Dirmansyah?”
“Iya, saya sendiri. Ada perlu apa?”
Wanita itu mengulurkan tangannya hendak memperkenalkan diri. Dengan senang hati, Dino menjabat tangan dengannya.
Wanita itu tersenyum pada Dino, lalu kembali membuka mulut. “Perkenalkan, saya Yuri Nikamura. Saya berasal dari Jepang yang ingin mencari pekerjaan di Indonesia. Saya mencoba bekerja di sini sebagai penjaga Manusia Death Eye. Manejer di sini bilang, katanya anda paling ahli dalam menjaga mereka-mereka itu. Maka dari itu saya ingin meminta bantuan dan bimbingan anda.”
“Bisa anda tunjukkan pada saya bagaimana cara merawat Manusia Death Eye?” lanjutnya bertanya.
Dino mengangguk. Kembali melepas tangan Yuri, lalu berdiri dari kursi. “Hm! Baiklah, dengan senang hati, aku akan membantumu. Ayo kita mulai dari yang paling dasar. Yaitu mengajak bermain anak-anak bermata Death Eye!”
Yuri menepuk tangannya dan tersenyum senang. “Wow, itu kelihatannnya menyenangkan.”
****
Pukul 13:00–
KRIING… KRIING… KRIIING....
“Pelajaran sampai di sini saja, yah, anak-anak. Jangan lupa pekerjaan rumah kalian. Sekarang rapihkan barang-barang kalian dan kembalilah ke rumah kalian. Hati-hati di jalan, yah.” Kata Bu guru di kelas Tino sambil melambai kecil, lalu membereskan buku-bukunya di atas meja guru.
__ADS_1
“Iya, bu!” Sahut semua murid.
Akhirnya waktunya pulang. Tino keluar dari kelasnya dan langsung menuju ke kelas di sampingnya, yaitu kelas Tiny. Tapi saat Tino sampai di kelasnya, dia tidak menemukan adiknya di sana.
Di mana Tiny?
Tapi yang aneh di tempat duduknya, tas Tiny masih tergeletak di kursinya. Sebenarnya di mana anak itu?
Apa Dia ke Toilet?
Karena Tino berpikir kalau Tiny pergi ke toilet, maka ia langsung berlari menuju toilet untuk mencari adiknya. Tapi ternyata orang yang dia cari tidak ada di sana.
Kemudian, Tino pergi ke Perpustakaan, karena biasanya adiknya suka membaca buku di tempat itu. Tapi saat sampai di sana, Tiny tidak ada. Tino sudah menyusuri seluruh Perpusatakaan. Tetap tidak menemukan adiknya.
Setelah itu, Tino keluar dari Perpustakaan itu. Semua murid sudah pulang. Sekolah sudah mulai sepi. Tino terus berteriak memanggil nama adiknya.
Tapi tidak ada seorangpun yang menjawabnya. Tino jadi cemas dengan keadaan adiknya.
BUK!
Tino terkejut. Tiba-tiba saja dia mendengar suara benda jatuh yang sangat keras. Sebenarnya apa itu?
Suaranya berasal dari depan kelas Taman Kanak-kanak. Tino langsung berlari menuju asal suara itu.
Saat Tino sampai di sana, dia melihat banyak sekali orang yang berkumpul. Karena penasaran, Tino pun menerobos kerumunan orang-orang itu. Sebenarnya apa yang mereka lihat di dalam sana?
Tino bisa menerobos dan akhirnya berada di barisan paling depan dari banyaknya kerumunan itu. Tino terkejut. Di depan sana dia melihat ada Tiny yang tergeletak bersimbah darah di tanah. Apa yang terjadi pada adiknya ini?!
“Tiny! Tidaaak!” teriak Tino. Kemudian dia menengok ke arah gurunya yang tepat berada di sampingnya. “Ibu guru, apa yang telah terjadi pada Tiny?” tanyanya.
Ibu gurunya menggeleng. “Ibu juga tidak tahu. Tapi menurut para saksi yang melihatnya, kalau Tiny melompat dari atas gedung sekolah ini.”
“Melompat?” Gumam Tino. Kemudian Tino mendongak ke atas untuk melihat ke atap gedung. Tino terkejut, setelah ia melihat ke sana, dia melihat ada seseorang di atas atap itu. Orang itu terlihat agak samar.
Tino yakin kalau Tiny pasti tidak mungkin sengaja melompat dari atap. Ini pasti disebabkan dari pelaku yang berdiri di atas atap yang telah mendorong Tiny. Pelaku itu telah mendorong dengan maksud untuk membunuhnya.
Setelah orang yang ada di atas sana menyadari kalau dirinya sudah dilihat oleh Tino, orang itu pun langsung berbalik badan dan melarikan diri.
Tino terus berlari sampai dia menaiki beberapa tangga menuju atap. Akhirnya Tino sampai di sana. Tapi ternyata orang itu tidak ada. Dia ke mana?
Jika orang itu melarikan diri, pasti dia bertemu dengan Tino di tengah jalan. Tapi selama Tino berlari, dia tidak melihat siapapun. Ini aneh. Orang itu menghilang atau dia terbang ke langit?
Tino tidak tahu. Tapi intinya sekarang ke mana perginya orang itu?
****
Saat di dalam gedung SDEH–
Dino saat ini sedang mengajari Yuri caranya untuk memberi makan pada anak-anak Death Eye di tempat makan khusus.
Menurut Dino, Yuri sangat baik dan dia cepat memahami tutorial darinya yang harus dia lakukan. Dia cepat sekali belajar dan bisa dalam merawat anak-anak.
“Wow, Dino. Ini menyenangkan sekali. Aduh duh… anak ini menarik rambutku!” Kata Yuri sambil berusaha untuk melepaskan rambutnya dari genggaman balita-balita itu.
“Anak-anak, jangan yah! Ayo main dengan yang lain sana.” Suruh Dino pada anak-anak itu. Mereka semua menurut dan langsung bergerak menuju ke tempat bermain mereka.
“Hehe… mereka lucu sekali, yah.” Kata Yuri sambil tertawa dan merapihkan kembali rambutnya yang berantakan.
“Iya begitulah. Mereka mirip seperti anak-anakku.”
Yuri tersentak dan langsung menoleh ke arahnya. “Eh? Kau sudah punya anak?” tanyanya dengan tatapan tidak percaya.
Dino tertawa kecil. “Iya. Aku sudah memiliki keluargaku sendiri.”
Yuri tersenyum. “Oh, begitu.”
Hening. Saat ini hanya terdengar suara tertawaan anak-anak di ruangan ini yang sedang bercanda.
Lalu tak lama kemudian seseorang datang tergesa-gesa dan memanggil nama lengkap Dino. Ia pun terkejut dan langsung berdiri dari tempat duduknya lalu berlari menghampiri orang yang memanggilnya itu.
__ADS_1
“Ada apa ini?!”
“Anak anda. Dia… mengalami kecelakaan!”
Dino mengerutkan keningnya. “Apa katamu? Siapa dia?!”
“Tiny Willona. Dia terjatuh dari atas atap gedung sekolahnya!”
“Ti–tidak mingkin. Di mana dia sekarang?”
“Dia sudah di dalam gedung ini. Tepat di lantai 4, ruang Darurat korban kecelakaan Death Eye!” Jawab orang itu.
“Baiklah. Terima kasih.” Ucap Dino.
Setelah orang yang memberi kabar itu pergi, Yuri datang menghampiri Dino. “Dino, ada apa?”
“Anakku mengalami kecelakaan.” Jawabnya.
“Oh, ya Tuhan! Kasihan sekali. Aku turut prihatin, No.”
Dino tersenyum. “Iya, terima kasih. Sekarang aku harus menjenguk anakku. Kau di sini saja menjaga balita-balita yang lain, oke!”
Yuri mengangguk cepat. Ia bisa mempercayai para balita Death Eye pada Yuri. Setelah itu, Dino berlari menuju ruangan yang dikatakan orang tadi.
Saat sampai di sana, Dino melihat ada Chelsea dan Tino yang sedang menunggu di depan pintu ruangan itu. Dino menghampiri mereka.
Semuanya terlihat sangat cemas sekali. Apalagi dengan Tino. Saat ini kami masih menunggu dokter yang di dalam sana keluar dan memberitahu keadaan Tiny. Dino terlihat sangat khawatir.
Lalu beberapa menit kemudian, seseorang keluar dari dalam ruangan itu. Eh, ternyata itu Tiny. Apa dia baik-baik saja?
Setelah Tiny keluar, Dokter yang merawatnya juga ikut keluar dari dalam ruangan itu. Tiny hanya diam saja tanpa berkata sepatah kata apapun.
Tino langsung memeluk adiknya, lalu menggenggam kedua pipi lembutnya. “Tiny! Syukurlah kau baik-baik saja. Aku sangat khawatir.”
Dino dan Chelsea mendekati Tiny. Chelsea bertanya padanya, “Tiny? Kau sudah merasa baikkan sekarang?”
Tiny tidak menjawab. Dengan wajah polosnya, dia hanya diam saja sambil menggigiti bibirnya.
“Tiny, jawab kami, sayang.”
Tapi Tiny tetap diam saja sambil melirikkan matanya ke bawah. Dia tidak ingin menatap kami semua. Dino bingung.
“Dok, bagaimana pemeriksaan Tiny?” Dino bertanya untuk mengetahui keadaan Tiny.
“Dia sudah merasa baikkan saat ini. Tapi…” Dokter itu mendesah berat. “Tapi… Tiny sudah tidak bisa berbicara dengan semua orang lagi.”
Kami semua terkejut. “A-apa maskdunya, Dok? Kenapa anak saya bisa jadi seperti itu?” tanya Chelsea.
“Tiny mengalami patah tulang pada bagian lehernya dan benturan keras di kepalanya. Tapi berkat dia memiliki Death Eye, semuanya bisa disembuhkan. Tapi pita suaranya mengalami gangguan. Karena kecelakaan itu, Tiny tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi. Tapi tenang saja, pendengarannya masih sehat.” Jelas dokter itu.
“….”
Kami hanya terdiam saja setelah mendengar penjelasan dari Dokter yang telah merawat Tiny. Walau dia masih bisa selamat berkat Death Eye, tapi tetap saja dia tidak bisa berbicara lagi.
****
Kasihan Tiny. Semenjak kecelakaan itu, dia menjadi pendiam dan pemurung.
Kesehariannya tidak dapat berbicara dengan orang lain. Dia hanya bisa menulis beberapa kata-kata di secarik kertas yang diucapannya untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Tiny juga sudah terlihat pasrah dengan hidupnya. Dia tidak memiliki harapan apapun dalam dirinya. Tapi untungnya, Tiny mempunyai seorang kakak yang selalu menemani dan menyemangati dirinya. Berkat Tino, Tiny menjadi anak yang bahagia kembali.
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8