The Death Eye

The Death Eye
Eps 25– Masa Lalu


__ADS_3

“Kak! Kakak… Iyan!”


“Wiih, Adik Dino sudah bisa bicara! Manggil nama kakak juga bisa. Hebat!”


“Kak, main… main bola!”


“Baiklah, ayo kita main bolanya yah!”


~Tertawa…


“Ayo. Kamu pasti bisa nendang bolanya, Dino!”


“Dino, bisa kok! Hiya…!”


Duk!


Si kecil Dino menendang bolanya sampai ke tengah jalan….


“Yah… meleset! Bolanya pergi jauh ke sana!”


“Tenang saja, kakak akan ambilkan bolanya. Adik kecil di sini saja, yah!”


“Dino, juga ikut!"


-Tap Tap Tap


Dino melangkahkan kaki kecilnya ke arah jalan di depan…


Namun…..


“Eh, Dino! Kakak bilang jangan ke sini!”


BRUMMM…


“Kakak, ada mobil lewat! Aku mau liat!”


“Eh, Dino! Tidak! Pergi dari sana, Dino Awwaaass!!”


Kak Iyan mendorong Dino untuk menghindar dari mobil yang sedang melaju itu.


BRUK!!


“Kakak?”


Darah bercipratan ke mana-mana. Kak Iyan tertabrak mobil itu, kemudian Dino menghampirinya….


“Kakak… bangun! Kok tidur di jalan?”


Sembari membangunkan Kakaknya, Dino yang masih polos memainkan darah yang berecetan itu.


“Kakaaakk!!”


Seseorang menghampiri mereka berdua.


“Dino! Kau apakan kakakku!?”


Dino hanya bisa menggeleng dengan wajah polosnya. “Tidak, kok! Kak Iyan tidur sembarangan di jalan. Bangunin yuk, Kak!”

__ADS_1


“Dino! Dia tidak sedang tidur lagi! Kak Iyan sudah meninggal!”


Tanpa ekspresi, Dino hanya memasang wajah biasa dengan mata besarnya yang sebelah kiri memakai penutup mata. “Tidak kok! Dia baik-baik saja. Kak… Ayo bangun! Kita main lagi. Kak?”


“Percuma kau bangunkan dia! Dia sudah


meninggal, Dino!! Ini semua salahmu! Ini salahmu!”


“Kak Iyan meninggal? Kak Iyan! Kak? Bangun kak! Kaaaa….”


****~


“Kak Iyan! Tidak!”


Dino tiba-tiba berteriak dan langsung membuat Aldy dan Chelsea yang ada di dekatnya terkejut.


“Aduh, kaget aku.” Aldy langsung berdiri dari kursi kecil yang ia duduki. Matanya menatap serius pada Dino.


“Dino? Ada apa!?” tanya Chelsea panik.


Nafas Dino masih terengah-engah. Lalu ia bergumam, “Ternyata hanya mimpi!”


Dino yang sudah merasa tenang pun melirik ke kedua temannya lalu melihat ke sekeliling.


“Ini di mana?” tanyanya bingung.


“Kau sedang berada di UKS.” Jawab Chelsea lembut.


“Oh.” Dino sedang berada di atas ranjang tidur di UKS. Ia menghembuskan napas berat, lalu kembali merebahkan badannya di sandaran bantal.


“Kenapa aku dibawa ke sini?” tanyanya lagi.


Dino meneleng lalu menunduk. ”Berkelahi?”


~“Kau sudah membunuh kakakku!”~


~“Lebih baik mati saja sana!” ~


Dino ingat dengan kata-kata itu. Laki-laki yang habis berkelahi dengannya tadi, ternyata adalah Kakaknya. Tapi sebenarnya ia masih belum yakin dengan mimpi tersebut.


Dino bahkan tidak percaya kalau dirinya memiliki seorang kakak. Tapi anehnya di dalam mimpi ia dapat melihat seorang kakak yang baik untuknya.


Namun ada seorang kakak yang jahat padanya. Dari orang itulah, Dino tidak percaya kalau ia benar-benar mempunyai saudara.


“Laki-laki itu kakakku!” Tiba-tiba Dino berteriak setelah terdiam sejenak.


“Eh, laki-laki mana yang kau maksud?” tanya Chelsea.


“Umm… tidak apa kok!” Jawabnya mengelak. Ia menggeleng pelan lalu kembali menunduk.


“Ah, tidak jelas kau!” Aldy tertawa memukul pundaknya.


“Aku tidak boleh memberitahu pada siapapun tentang laki-laki itu. Tapi… maksud dari mimpi itu apa yah?” batinnya.


Lalu Dino melirik ke Aldy dan bertanya, “Eh, Aldy! Kenapa dahimu di perban?”


“Owh, ini gara-gara kakak kelas yang menyebalkan itu. Tadinya dia kan ingin memukulmu dengan kursi, eh, malah kena aku pas aku datang. Hehe….” Jawabnya sambil tertawa.

__ADS_1


Aldy sudah menolong Dino lagi. Karena hal itu, Dino jadi merasa tidak enak pada Aldy karena selalu merepotkannya dan membawanya ke dalam masalahnya. Ia banyak berhutang budi dengan teman baiknya itu.


“Eh, tapi kakak kelas itu ada di mana sekarang?” tanya Dino lagi.


“Dia sedang ada di….”


“Aku di sini!”


Semuanya terkejut dan serontak langsung menengok ke belakang. Kakak kelas itu datang. Dia sudah berdiri di depan pintu.


“Bisa kalian berdua keluar dulu? Aku dan Dino ingin bicara sebentar,” ujar Laki-laki itu sambil berjalan menghampiri Dino.


Aldy dan Chelsea mengangguk pelan. Mereka keluar dari ruang UKS, tapi mereka tetap masih menunggu di luar pintu. Pintu ditutup. Laki-laki itu berdiri di depan jendela sambil menghadap ke arah Dino yang masih terduduk di atas ranjang.


“Dino Dirmansyah, itu nama lengkapmu, bukan?” tanya laki-laki itu.


Dino mengangguk pelan. ”Iya.” Dia masih takut dengan kakak kelas yang telah ribut dengannya tadi.


“Apa kau ingat denganku?” tanyanya lagi.


Dino berusaha untuk mengingatnya, tapi itu semua jadi membuat kepalanya semakin pusing. Ia pun menjawab dengan menggeleng.


“Namaku Dimas Dirmansyah. A–aku adalah… Kakakmu!” Kata Laki-laki itu sambil menundukkan kepala.


Dino terbelalak kaget dan langsung membentak. “Tidak mungkin kamu kakakku! Dari kecil aku tidak memiliki kakak!”


“Dino, aku serius!”


Dino masih tidak percaya dengan kata-katanya. Untuk membuktikannya, Dino ingin kakak kelas itu memberitahu yang sebenarnya.


“Apa kau tau tentang masa laluku?”


“Apa kau tidak tahu masa lalumu bagaimana?”


Dino menggeleng. “Coba ceritakan!”


Dimas berpikir sejenak. Lalu ia kembali melirik ke arahnya. “Aku hanya bisa cerita sedikit saja padamu.”


“Tidak apa, kak!”


Dimas menatap keluar jendela sambil mengingat kenangan masa lalunya yang akan ia ceritakan pada orang yang ia akui sebagai adik.


“Seingatku dulu, kau itu sudah membunuh kedua orang tuamu saat masih bayi dengan Mata Kematianmu.”


Dino sekali lagi terkejut. “Tidak kok! Kata orang-orang kalau orang tuaku itu meninggal karena serangan jantung mendadak!”


“Iya, aku tau! Tapi penyebabnya juga berawal darimu! Lalu apa kau tau siapa yang sudah merawatmu setelah orang tuamu meninggal?” tanya Kak Dimas.


“Tidak. Aku tidak tahu!”


“Orang itu adalah Kak Iyan, dia Kakakku yang sudah meninggal.”


*


*


*

__ADS_1


To be continued–


__ADS_2