The Devil Barra

The Devil Barra
16


__ADS_3

Saat ini Qila dan Barra sudah berada dimobil. keduanya sama sama diam, sibuk dengan pikirannya masing masing. Hingga akhirnya Barra yang kesal dan memulai berbicara lebih dulu.


"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan pria tadi."


Qila terdengar menghela nafas panjang, "Dia sahabatku mas."


"Tapi aku calon suamimu!"


Qila kembali menghela nafas panjang, "Bolehkah aku bertanya mas,"


"Tanyakan apapun."


"Apa mas jarang sholat?"


Deg, Barra diam seolah mulutnya terkunci, tak tahu harus menjawab apa.


"Benar mas?"


"Apa kamu akan menjauhiku?" Barra balik bertanya.


Qila menggelengkan kepalanya,


"Memang benar apa yang dikatakan pria itu, aku bukan orang baik dan beriman, aku tidak pantas menjadi suamimu!" ungkap Barra terdengar kesal.


"Selama kamu mau berubah, aku pikir tidak ada yang salah diantara kita." balas Qila yang membuat Barra terkejut dan menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?"


"Apa kamu tidak mempermasalahkan itu semua?" tanya Barra pada Qila.


Qila menggelengkan kepalanya , "Asal kamu bisa berubah lebih baik, aku terima semuanya mas."


Barra langsung tersenyum lebar, "Aku janji akan berubah menjadi seseorang yang lebih baik untukmu." Barra hendak memeluk Qila namun seketika Qila menghindar.


"Maaf, aku terlalu senang." Barra merasa tak enak melihat Qila yang menghindari pelukan nya.


"Jangan lakukan hal seperti itu sebelum kita halal mas." Qila mengingatkan.


"Tentu saja, aku akan menjaga kehormatanmu sampai waktunya tiba." ucap Barra membuat Qila tersenyum lega.


Barra kembali melajukan mobilnya, hingga keduanya sampai didepan gerbang sekolahan tempat Qila mengajar.


"Dan lagi, apa aku masih boleh meminta satu hal?"


"Tentu saja. katakan apa itu sayang."


Qila tersipu mendengar Barra mengucapkan kata sayang.


"Jangan bermain api ya mas... jika kita menikah cukup aku saja." ucap Qila dengan suara ragu lalu menundukan kepalanya malu.


Barra tersenyum, Ia ingin menyentuh kepala Qila yang tertutup hijab namun diurungkan, "Tidak, aku tidak akan menyakitimu dengan hal seperti itu. percayalah."


Qila mengangguk lega, "Terimakasih mas, aku berangkat dulu. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa-waAlaikumsalam." Barra terdengar berat membalas salam Qila karena selama ini dirinya jarang mengucapkan salam seperti itu pada siapapun.


Qila berjalan memasuki gerbang sekolahan, Barra masih berhento disana memandangi punggung calon istrinya itu.


"Bisakah aku menjadi suami yang baik untukmu Qila?"


Siang hari saat jam makan siang, kaki Barra berjalan keluar dari ruangan nya dan berhenti disebuah ruangan dimana dirinya kini menjadi pusat perhatian para karyawan nya.


Barra saat ini sedang berdiri didepan mushola yang ada diperusahaannya, mushola yang Papanya bangun untuk tempat ibadah semua karyawannya muslim yang ada dikantornya.


Tak menunggu waktu lama, Barra mengambil air wudhu sebelum akhirnya Ia ikut sholat berjamaah dengan para karyawannya. Barra tak peduli dengan tatapan heran para karyawannya karena dirinya memang sedang berniat untuk berubah menjadi calon imam yang baik untuk Qila, dan Barra pikir harus memulainya dengan memperbaiki sholatnya.


Barra tak sholat bukan berarti dirinya tak bisa membaca doa sholat, Barra tahu dan Barra juga hafal namun selama ini memang pikiran Barra sudah dipenuhi gemerlapnya dunia membuat Barra melupakan kewajiban akhiratnya.


Selesai sholat, Barra ingin berdoa namun entah mengapa bibirnya terasa berat untuk mengucap segala keinginannya pada Tuhan, Barra merasa dosanya terlalu banyak hingga membuatnya merasa malu untuk berdoa.


Barra bergegas pergi dari mushola usai selesai sholat dzuhur.


Barra segera melajukan mobilnya untuk menjemput Qila, dan sampai disana bertepatan dengan Qila yang juga sudah keluar dari sekolahan.


"Aku pikir tidak dijemput,"


"Sekarang sesibuk apapun aku akan mengusahakan untuk menjemput bidadari surgaku karena aku tak ingin ada pria lain yang datang menjemput." cibir Barra membuat Qila tersenyum.


"Masih marah?"


"Nggak marah, cuma kesel aja. apa kamu sering dijemput pria tadi?"


"Ayahmu sakit? apa calon mertuaku itu bisa sakit?"


Qila menatap Barra tak suka,


"Aku hanya bercanda sayang. aku biasanya memang sering bercanda dengan Ayah." jelas Barra tak ingin Qila marah.


Qila menghela nafas panjang,


"Aku tadi sudah sholat." ungkap Barra membuat Qila tersenyum.


"Alhamdulilah."


"Apa itu artinya sudah bisa jadi calon suami yang baik untukmu?"


Qila tersenyum, "InsyaAllah, asal jangan sekali sholatnya. usahakan sholat lima waktu dan tepat waktu."


"Siap Bu Ustadzah."


Qila terkekeh, "Apa sih..."


Barra menghentikan mobilnya disebuah restoran, Qila yang baru ingin protes namun Barra lebih dulu berbicara,


"Aku belum makan siang, aku sangat lapar. temani aku makan siang."


Membuat Qila akhirnya menemani Barra makan siang.

__ADS_1


"Mau pesan apa?"


"Apa saja." balas Qila.


"Aku suka wanita yang seperti ini, tidak manja dan penurut." ungkap Barra sambil terkekeh.


"Apa mantan mas dulu tidak penurut?"


Barra tampak gelagapan, selama ini dirinya memang tidak berkencan resmi dengan wanita namun Barra sering pergi dengan wanita yang berbeda dan kebanyakan para wanita Barra, manja dan sering merengek tidak mau makan ini itu.


"Bukan itu maksudku, aku sering makan siang bersama klien wanita dan kebanyakan mereka manja." balas Barra mencari alasan.


Qila tersenyum, "Bukan pacar?"


"Ck, aku belum pernah memiliki pacar."


Qila menggelengkan kepalanya seolah tak percaya, "Mana mungkin mas Barra tidak pernah memiliki pacar."


Menurut pandangan Qila, Barra pria yang perfect, Ia sukses meneruskan perusahaan papanya di usia muda dan dia juga sangat tampan membuat Qila menduga jika mantan kekasih Barra berderet dan mungkin saat ini juga menjadi incaran para wanita diluaran sana.


"Astaga, Kamu nggak percaya? aku serius belum pernah pacaran." Barra berusaha meyakinkan Qila.


Qila tersenyum lalu mengangguk, "Ya mas, aku percaya." bagi Qila, jawaban seperti itu yang mungkin membuat Barra lebih tenang meskipun rasanya Ia masih tak percaya dengan ucapan Barra.


"Kamu terlihat masih tak percaya."


Qila terkekeh, "Aku percaya mas. percaya."


Makanan pesanan mereka sudah datang, Qila dan Barra segera menyantap menu makan siang mereka.


"Apa kamu bisa masak seperti ini?" tanya Barra pada Qila.


"Aku sering makan namun belum pernah mencoba membuatnya sendiri." Balas Qila yang saat ini keduanya sedang makan tom yum seafood, makanan dari thailand yang sangat mendunia itu.


"Ini makanan favoritku." ungkap Barra.


Qila tersenyum, "Aku akan belajar cara memasaknya mas agar nanti bisa membuatkan untukmu."


"Really?" Barra tampak senang mendengar ucapan Qila.


"InsyaAllah."


Barra hendak mengenggam tangan Qila namun dengan cepat Qila menyembunyikan tangannya, membuat Barra gagal menyentuh Qila.


Bertepatan dengan itu, seorang wanita seksi tampak berjalan ke meja Barra,


"Barra... kau kah itu?"


Barra dan Qila sama sama menengok ke arah wanita yang kini sudah duduk disamping Barra.


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komeeen

__ADS_1


__ADS_2