
Qila berbaring disofa, dengan mata mengantuk Ia kembali melirik ke arah jam dinding. sudah pukul satu malam dan suaminya masih belum pulang bahkan belum ada pesan dari suaminya lagi.
"Kemana mas Bara? apa lembur sampai semalam ini?" batin Qila merasa cemas.
Qila pernah mendengar cerita tentang rekan sesama gurunya, suaminya selalu pulang larut sampai akhirnya temannya itu mengetahui jika suaminya memiliki istri lain.
Qila menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak! jangan sampai seperti itu."
Qila bangun lalu meraup wajahnya dikamar mandi, Ia harus menunggu mas Barra pulang agar bisa menanyakan kemanakah suaminya itu.
Qila kembali duduk dan menyalakan televisi, Ia melihat acara komedi agar bisa tertawa dan tidak mengantuk namun tetap saja, Ia tak bisa tertawa, pikirannya masih melayang memikirkan keberadaan Mas Barra sampai akhirnya mata Qila tak tahan lagi dan akhirnya tertidur disofa.
Barra keluar dari mobilnya, Ia sempat melirik arlojinya sudah pukul dua kurang lima belas menit, sudah sangat terlambat untuk pulang.
Barra memencet beberapa angka yang dijadikan sandi pintu apartemen, pintu terbuka dan membuat Barra terkejut karena langsung melihat Qila yang terlelap di sofa, tanpa selimut.
"Sepertinya ketiduran." gumam Barra berjalan mendekati Qila.
Barra tampak berjongkok dan memandangi wajah Qila, tangannya terangkat dan mulai mengelusi pipi halus Qila. jilbab yang sudah tidak rapi lagi tidak memudarkan kecantikan Qila.
Tanpa sadar, elusan tangan Barra mengusik tidur Qila, membuat Qila terbangun dan langsung terkejut.
"Mas baru pulang?" tanya Qila langsung duduk, melirik jam lalu menatap Barra.
Barra tersenyum dan mengangguk,
"Apa lembur sampai jam 2 pagi?" curiga Qila.
"Tidak, aku tadi sempat ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu."
"Suatu tempat? dimana?" Qila semakin curiga.
"Ada lah."
"Mas nggak se-"
"Aku mandi dulu." ucap Barra langsung bangkit dan berjalan memasuki kamar mandi.
Qila menatap punggung suaminya, wajahnya berubah sedih serta pikirannya kacau. Baru juga tiga hari mereka menikah, Barra sudah memiliki rahasia darinya, Barra sudah membuat Qila tak tenang, entah apa yang Barra lakukan diluar, Qila benar benar curiga.
Qila beranjak dari duduknya, ikut memasuki kamar dan sudah mendengar suara gemericik air. Qila menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan mulai memanaskan makan malam.
Ia yang tadinya tak tahan lapar sudah makan lebih dulu.
__ADS_1
Tak berapa lama Barra berjalan mendekat ke meja makan dengan wajah bersih dan tubuh yang segar wangi sehabis mandi.
"Masak apa?" tanya Barra menyeret salah satu kursi lalu duduk disana.
"Tumis kangkung sama ikan goreng, Mas mau dibuatkan yang lain?"
Barra menggeleng, "Seadanya saja."
Qila mengangguk dan langsung mengambilkan nasi di piring beserta lauknya lalu meletakan didepan Barra.
"Maaf mas, aku sudah makan malam." ucap Qila dengan nada merasa bersalah.
Barra tersenyum, "Tidak apa apa, tidak harus menungguku sayang." balas Barra mengucapkan kata sayang yang entah mengapa membuat hati Qila berdesir.
Qila menemani makan, mereka berdua duduk bersama tanpa ada yang memulai bicara. Qila menatap wajah Barra tampak lelah, membuat Qila tak lagi berani bertanya tentang apapun meskipun dirinya juga sangat penasaran ingin bertanya.
Selesai makan, Qila langsung mencuci piring dan membereskan meja makan dibantu oleh Barra.
"Sudah, mas istirahat saja." kata Qila pada Barra.
"Tidak apa, hanya sebentar ini." Barra tetap membantu Qila meskipun Qila menolak bantuannya.
"Aku ingin merokok dulu." ucap Barra setelah selesai mencuci piring.
"Tidak langsung tidur mas? memang tidak capek?" tanya Qila.
"Tidak, aku hanya ..."
"Ya sudah, ayo kita tidur sekarang." ajak Barra akhirnya.
Qila berbaring diranjang, diikuti Barra. keduanya sama sama diam hingga Barra akhirnya memberanikan diri berbalik menghadap Qila.
"Kalau aku bisa membuktikan jika ucapan wanita yang ada direstoran itu bohong, apa kamu mau memaafkanku?"
Qila terkejut dan langsung menatap Barra, Qila bahkan hampir melupakan kejadian itu karena memang sekarang fokus Qila hanya ingin menjadi istri yang baik untuk Barra.
"Aku sudah tidak memikirkan itu mas." balas Qila membuat Barra menghela nafas panjang.
Barra bangun dari tidurnya, Ia keluar dan mengambil laptopnya lalu duduk disamping Qila yang masih berbaring.
"Bangunlah." pinta Barra yang akhirnya dituruti Qila.
Qila bangun dan duduk disamping Barra, memperhatikan layar laptop dan entah apa yang akan Barra tunjukan.
__ADS_1
Qila langsung saja terkejut setelah melihat isi dari video yang Barra perlihatkan. Dimana video itu adalah video Cctv divilla ada Barra dan Nara.
Barra yang terlihat mabuk tengah di papah oleh Nara memasuki kamar Barra.
Barra mematikan videonya lalu membuka cctv yang ada dikamarnya, Disana Qila kembali terkejut melihat Nara wanita yang mengaku telah diperkosa Barra tengah mengoda Barra yang mabuk berat, namun Barra menolak terus menerus hingga akhirnya Barra terlelap.
Nara terlihat berdiri sejenak didepan ranjang seperti sedang memikirkan sesuatu hingga akhirnya Nara membuka semua baju Barra. Qila yang melihat adegan itu tak henti hentinya mengucap istigfar sambil menutup matanya melihat tubuh Barra yang ditelanjangi.
Barra segera menghentikan video rekaman cctvnya, "Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak pernah bermain api dengan wanita lain setelah mengenalmu, aku dijebak waktu itu." jelas Barra.
"Ma maaf mas... maafkan aku sudah salah paham." balas Qila merasa sangat bersalah.
"Seharusnya aku yang meminta maaf, sudah membuat kekacauan ini dan sekarang sudah jelas Qila, aku tidak meniduri wanita itu. malam itu memang aku mabuk karena aku merasa tak enak dengan temanku. mereka menawariku tidur dengan wanita tetapi aku menolak dan aku lebih memilih minum alkohol yang menyebabkan tak sadar dengan apa yang aku lakukan. maafkan aku Qila." ungkap Barra.
"Ayah harus tahu mas, Ayah harus tahu semua ini. Aku nggak mau Ayah masih salah paham dan menganggapmu selalu buruk." kata Qila.
Barra tersenyum, "Ayah pasti sudah tahu dari Papa."
"Papa?"
"Iya karena diam diam Papa menyelidiki kasus ini."
Qila tampak bernafas lega, "Syukurlah mas, aku hanya ingin hubunganmu dengan Ayah kembali membaik."
"Dan aku juga ingin hubungan kita kembali membaik."
Qila menunduk, menyembunyikan raut merah diwajahnya.
"Bisakah kita kembali seperti awal saat kita bertemu Qila?"
Qila mengangguk, "Kita mulai dari awal lagi ya mas."
Barra langsung tersenyum sumringah, Ia tak sabar akhirnya memajukan bibirnya menempel dibibir Qila.
Tak ada penolakan dari Qila membuat Barra melanjutkan merasakan bibir Qila yang terasa sangat manis.
Bibir ranum merah muda yang sama sekali belum tersentuh itu membuat Barra melayang menginginkan lebih.
"Mas..." Qila melepaskan ciuman Barra.
"Kenapa?" Mata Barra sudah memburu, dipenuhi hasrat yang ingin lebih malam ini.
"Aku, aku sedang datang bulan."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komennn