The Devil Barra

The Devil Barra
48


__ADS_3

Awalnya Qila hanya pura pura tidur namun akhirnya Ia malah terlelap sendirinya. Dan tengah malam Qila terbangun karena merasakan ingin buang air kecil.


Qila menatap ke arah Barra yang berbaring disofa, Qila bangun sendiri dan hendak berjalan ke kamar mandi sambil membawa kantung infus namun suara Barra menghentikan langkahnya,


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Barra yang kini sudah bangun dan berada disamping Qila meminta kantung infus yang dipegang Qila.


"Tidak ingin merepotkan mas."


Qila berjalan memasuki kamar mandi, terlihat mengabaikan Barra.


Setelah buang air kecil dibantu Barra, Qila kembali berbaring diranjang sementara Barra tampak mengembalikan infus pada tempatnya.


"Tidur lagi sayang." ucap Barra sambil mengelus dahi Qila.


Qila hanya mengangguk dan memejamkan matanya membuat Barra tersenyum geli.


Tadinya Qila pikir Barra kembali ke sofa namun nyatanya Barra malah duduk dikursi dan memandanginya membuat Qila akhirnya ketahuan jika hanya pura pura tidur.


"Kenapa masih disini?"


Barra kembali tersenyum, melihat Qila membuka matanya dan terkejut melihat dirinya.


"Aku masih ingin memandangi istriku."


Qila berdecak, tampak kesal membuat Barra semakin menertawakan Qila.


"Marah hmm?" tanya Barra kembali mengelus dahi Qila.


"Sebenarnya mas kemana seharian? Mama bilang kerjaan dihandle sama papa."


Barra terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali tersenyum, "Ada yang harus ku kerjakan sayang."


"Apa mas?" Qila ingin tahu.


"Rahasia."


Wajah Qila kembali murung, pikiran Qila seharian sudah kalut karena merasa dibohongi oleh Barra dan sekarang ditambah Barra tak jujur padanya kemana Barra pergi seharian ini membuat Qila semakin kalut dan mempunyai pemikiran negatif tentang Barra.


"Tidur lagi sayang." Barra menaikan selimut Qila dan merapikan bantal yang Qila pakai agar terasa nyaman, Sementara Qila yang kesal kembali memejamkam mata padahal dirinya masih belum ingin tidur.

__ADS_1


Setelah dirasa Qila benar benar sudah terlelap, Barra kembali ke sofa untuk membaringkan tubuh lelahnya.


Seharian berada diluar membuat Barra merasa sangat lelah namun Ia tak ingin terlalu memperdulikan lelahnya, yang Ia pikirkan saat ini hanya kesembuhan Qila dan bagaimana caranya agar Qila tidak kembali sakit lagi seperti ini.


Paginya, dokter datang untuk memeriksa keadaan Qila. melihat Qila sudah membaik, Dokter mengizinkan Qila pulang hari ini.


Mendengar ucapan Dokter, Barra tampak tersenyum lega sementara Qila masih saja acuh efek masih kesal dengan Barra.


"Ingat baik baik Barra, jangan terlalu memikirkan perusahaan hingga membuatmu melupakan istrimu. Mama nggak mau hal seperti ini terjadi lagi." omelan Anya masih saja mengema diruangan rawat Qila saat Barra tengah membereskan barang barang milik Qila.


Qila yang juga masih berada disana tampak diam sesekali tersenyum geli memdengar suaminya kena marah oleh ibu mertuanya, bukan Qila tak ingin membela suaminya namun apa yang Mama mertuanya ucapkan itu memang benar. Jika Barra sudah sibuk dengan sesuatu pasti akan melupakan Qila dan jarang memperhatikan Qila.


"Mama nggak capek apa?" heran Barra mendengar omelan Anya.


"Kamu kalau dibilangin-"


"Iya iya Mama, nggak akan terjadi lagi seperti ini. Barra pastiin Qila aman." ucap Barra mengakhiri omelan Mama mertuanya.


Kini Qila dan Barra sudah berada didalam mobil pulang menuju apartemen mereka. Qila masih saja diam dan Barra pun ikut diam, sama sekali tak mengatakan apapun sampai mobil yang dikemudikan Barra belok ke arah kanan padahal seharusnya jalan menuju apartemen belok ke arah kiri membuat Qila akhirnya membuka suara.


"Kok lewat sini mas, mau kemana?"


"Pulang dong sayang."


Barra hanya tersenyum, sampai akhirnya mobilnya memasuki sebuah pelataran rumah yang sangat besar dan mewah bahkan lebih dari milik Sean dan juga Zayn.


"Rumah siapa mas?" tanya Qila keheranan.


"Rumah kita dong sayang." balas Barra sambil tersenyum lalu keluar untuk membukakan pintu mobil Qila.


Qila keluar dibantu Barra, keduanya memasuki rumah yang hampir mirip istana itu. Qila masih tak mengerti apa maksud Barra yang mengatakan istana itu rumah mereka. saat Barra merangkul bahunya dan keduanya memasuki rumah mewah itu, Qila dikejutkan oleh banyaknya orang yang mengenakan seragam maid yang ada didalam istana itu.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya." ucap semua orang serentak menyambut kedatangan Qila dan Barra.


Ada tujuh orang wanita, Maid yang berada di istana ini dan ditambah tiga ora pria yang sepertinya penjaga istana ini.


"Apa maksudnya ini mas?" tanya Qila masih kebingungan.


Barra tak menjawab Qila dan hanya tersenyum,

__ADS_1


"Perkenalkan diri kalian." perintah Barra.


Satu persatu maid disana menyebutkan nama mereka masing masing begitu juga dengan ketiga pria penjaga rumah mewah ini.


Setelah sesi perkenalan selesai, Barra mengajak Qila naik mengunakan lift yang tersedia di istana itu. Barra mengajak Qila memasuki kamar yang didalamnya sangat mewah bahkan kemewahannya membuat Qila takjub. Jika dulu kamar miliknya waktu masih tinggal bersama Sean sudah terbilang mewah namun kamar ini berlipat lipat lebih mewah dari kamarnya yang dulu.


"Sebenarnya apa maksudnya ini mas?"


Barra mengajak Qila duduk diranjang karena Barra tak ingin Qila kelelahan berdiri keheranan sedari tadi.


"Mulai sekarang ini rumah kita."


"Rumah kita?"


Barra mengangguk, "Iya rumah kita sayang, kita tinggal disini mulai sekarang."


Qila masih saja terkejut tak percaya, "Aku nggak tahu mas ternyata sudah..."


"Kemarin aku pergi seharian untuk membeli rumah ini, mencari asisten rumah tangga sekaligus penjaga rumah, itu alasan kenapa aku kemarin pergi seharian." jelas Barra yang membuat Qila terharu dengan perjuangan Barra.


"Aku nggak mau kamu sakit atau sampai kelelahan, disini ada banyak maid yang akan bantuin kamu dan akan melayani kamu jadi biar kamu nggak perlu repot masak lagi apalagi bersih bersih apartemen, kamu harus jadi ratu disini yang hanya melayani rajanya." jelas Barra membuat Qila tersipu malu mendengar ucapan terakhir Barra.


"Tapi apa ini nggak berlebihan mas? aku mampu kok masak, nyiapin semua keperluan kamu sendiri tanpa maid."


Barra menggeleng tak setuju, "Nggak ada yang berlebihan, memang seharusnya seperti ini sejak awal jadi jangan protes lagi ya. PR kita itu sekarang bikinin cucu buat Papa Mama dan Ayah Bunda." kata Barra lagi yang membuat Qila tersenyum geli.


"Makasih mas.."


"Untuk?"


"Untuk semua yang kamu lakuin buat aku." ungkap Qila penuh haru membuat keduanya akhirnya berpelukan.


"Udahan ngambeknya?" goda Barra.


"Mulai deh ngeselin, mas juga nggak cerita jujur, kalau mas jujur aku mana berani marah." ungkap Qila.


"Kan sureprise sayang."


Qila mengacungkan dua jempolnya, "Sureprisenya sukses, emang jago ngerjain anak orang."

__ADS_1


Barra terbahak mendengar ucapan Qila, gemas dan akhirnya membuat Barra menciumi pipi Qila berkali kali.


Bersambung....


__ADS_2