
Barra berlari ke kamar mandi, meraup wajahnya berkali kali agar pikirannya lebih jernih.
"Sial, sialan." umpat Barra kembali meraup wajahnya.
Baru melihat leher Qila sudah membuat Barra tak tahan, Barra takut khilaf dan melakukan sesuatu yang akhirnya memaksa Qila.
Tidak, Barra tidak ingin memaksa Qila, Barra hanya ingin sabar sampai Qila menyerahkan diri untuknya, Ya Barra harus sabar.
Barra keluar dari kamar mandi dan melihat wajah shock Qila,
"Kenapa mas?" tanya Qila yang sudah kembali merapikan jilbabnya.
"Maaf sayang, ak aku hanya takut khilaf."
"Khilaf?"
Barra mengangguk, "Aku hanya tidak ingin memaksamu."
Qila tersenyum sinis, "Bukankah mas sudah melakukannya padaku? bukankah mas sudah memaksa sejak awal dan kenapa sekarang takut khilaf?" heran Qila.
Deg... Barra sedikit terkejut, tak menyangka Qila akan seberani ini.
"Aku hanya ingin menjadi suami yang baik untukmu, dan sekarang aku sedang belajar dan berusaha, tidak lagi memaksakan apa yang memang tidak ingin kamu lakukan, aku akan bersabar dan menunggu."
Giliran Qila yang terdiam, tadinya Qila pikir Barra tak menyukai lehernya karena langsung berlari ke kamar mandi setelah Qila membuka hijabnya, namun ternyata Barra sedang menahan diri.
"Maafkan aku mas." Qila merasa bersalah sudah memikirkan hal buruk tentang Barra.
"Maaf?" Barra mendekatkan wajahnya pada Qila yang membuat Qila langsung saja gugup.
Barra tertawa melihat kegugupan Qila,
"Kenapa masih saja selalu gugup padahal kita sudah menikah."
"Ak aku memang seperti ini."
Barra tersenyum, "Mau jalan jalan?"
"Kemana?"
"Kemana saja, karena besok aku sudah sangat sibuk dan mungkin jarang ada waktu untuk kita berdua." jelas Barra.
"Apa karena mengurus perusahaan Ayah?"
Barra tersenyum, "Memang sudah kewajibanku."
"Maaf, jika Ayah membuat pekerjaanmu bertambah."
Barra tertawa, "Tidak masalah, asal aku bisa bersama putrinya." ucap Barra membuat pipi Qila memerah malu.
Sore harinya keduanya bersiap untuk pergi jalan jalan namun mendadak Zayn dan Anya datang ke apartemen membuat jadwal jalan jalan keduanya gagal.
__ADS_1
"Apa kalian mau pergi?" tanya Anya melihat Barra dan Qila sudah rapi.
"Tumben Papa sama Mama kesini?" heran Barra.
"Papa denger kamu sudah di apartemen makanya papa kesini buat memastikan."
"Memastikan apa?" tanya Barra heran.
"Memastikan kalian tidak tidur terpisah. biasanya kalau menikah karena dijodohkan tidurnya terpisah." kata Zayn membuat Qila menunduk malu.
"Enggak Pa, nggak mungkin dipisah lah, kamarnya cuma dua yang satu sudah buat ruangan lembur." balas Barra tak terima.
"Yakin nggak dipisah?" Zayn yang tak percaya akhirnya membuka kamar yang dijadikan ruangan kerja Barra. Zayn lalu menganggukan kepalanya setelah melihat kamar itu masih utuh jadi tempat kerja Barra.
"Nggak percayaan amat!" cibir Barra.
Zayn terkekeh, "Efek udah pengen banget punya cucu, makanya kalian nggak usah lama lama, langsung tancap gass!"
Barra tertawa, "Papa tenang aja, cucunya udah otewe ini."
Anya dan Zayn tertawa mendengar jawaban Barra sementara Qila tampak tersenyum malu.
Setelah sholat isya berjamaah, Anya dan Zayn pulang dari apartemen Barra dan kini tinggalah Barra dan Qila.
"Belum ngantuk?"
Qila menggelengkan kepalanya, keduanya kini tengah berbaring diranjang namun belum ada yang memejamkan mata.
"Ck, kenapa malah tertawa!" kesal Qila yang memang benar benar tak tahu.
"Mas kemarin sudah memperkosa ku, bukankah seharusnya aku sebentar lagi hamil?" tanya Qila lagi.
"Kita akan membuat cucu jika kamu sudah siap." balas Barra.
"Kenapa menunggu ku siap? kemarin mas sudah memperkosa ku kan?" protes Qila.
"Tunggu email dari temanku, agar aku bisa mengembalikan kepercayaanmu lagi." kata Barra yang membuat Qila benar benar tak paham apa maksud ucapan Barra.
Malam berlalu, sudah dua hari keduanya tinggal seatap. Qila juga sudah menjalankan peran nya sebagai istri, menunggu Barra pulang dan menyiapkan segala keperluan Barra.
Begitu juga dengan Barra yang, meskipun dirinya sibuk dengan pekerjaan kantor, Ia tetap mencari waktu menghubungi istrinya agar hubungan keduanya hangat.
Malam ini Barra pulang sedikit larut dari biasanya, jika biasanya Barra pulang pukul 9 malam namun sekarang Barra masih berada dikantornya.
Ternyata mengurus dua perusahaan sekaligus tidak semudah bayangan Barra.
Setelah mengabari Qila agar tak menunggunya, ponsel Barra kembali berdering dan kali ini ada pesan dari Nathan.
Kita bertemu ditempat biasa jika ingin berbicara.
Pesan dari Nathan yang membuat Barra girang. setelah menunggu sahabatnya beberapa minggu akhirnya sahabatnya itu sudah pulang dari luar negeri.
__ADS_1
Barra segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera menemui Nathan.
Dan tak butuh waktu lama, Barra segera pergi menuju club malam tempat Nathan berada.
Seperti biasa, disana sudah ada Nathan dan dua selir yang menemani Nathan.
"Buruan kasih ke gue!" pinta Barra yang memang menginginkan sesuatu dari Nathan.
"Lo cicipi satu cewek dulu baru gue kasih."
"Sialan! gue nggak mau. bini gue udah nunggu dirumah." kesal Barra merasa dipermainkan oleh Nathan.
Nathan tertawa, "Santai bos!" Nathan melemparkan sebuah flashdisk pada Barra.
"Gue nggak nyangka tuh cewek berani juga nipu Lo." kata Nathan membuat Barra tersenyum sinis.
Barra segera mengambil flashdisk yang ada dimeja, flashdisk yang berisi rekaman cctv di villa yang bisa membuktikan jika Barra tak melakukan apapun dengan Nara.
"Bokap Lo juga minta, tapi belum gue kasih." ucap Nathan yang membuat Barra terkejut.
"Minta ini sama Lo?" Barra tak percaya.
Nathan mengangguk, "like son like father."
Barra tersenyum, Ia tak menyangka Papa nya juga sudah bertindak. mengingat sehari setelah pengakuan Nara, Barra langsung menghubungi Nathan untuk meminta rekaman cctv. Waktu itu Barra butuh bukti agar bisa membuat keluarga Qila percaya lagi padanya namun karena Nathan sibuk dan tidak membaca email yang Ia kirim akhirnya Barra frustasi dan memutuskan untuk menjebak Qila.
"Thanks Bro!" Barra berdiri dan hendak pergi,
"Lo nggak penasaran siapa yang udah bawa cewek itu kesini?"
Barra yang tadinya sudah berjalan selangkah pun akhirnya kembali duduk,
"Siapa memang?"
"Randi."
Barra terkejut, mendadak emosinya mencuat.
"Tapi Lo jangan salah paham dulu sama Randi karena dia juga dijebak. cewek itu bener bener licik." jelas Nathan.
"Sialan!" Barra kembali berdiri dan kali ini dirinya benar benar keluar dari club.
Barra memasuki mobilnya, Ia mengambil laptop yang ada dikursi samping lalu menyalakan laptopnya.
Tak sabar Barra segera menacapkan flasdisknya dan mulai membuka video yang ada disana.
Tangan Barra seketika mengepal setelah melihat isi video rekaman cctv itu.
"Gadis itu benar benar berani menipuku!"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn