
Dua bulan lama nya Barra belum juga kembali. Dua bulan lama nya juga Qila setia menanti. Ya hanya bisa menanti dari bilik kamarnya karena berkali kali Qila ingin menemui Barra selalu saja tak mendapatkan izin dari Sean sang Ayah.
Qila sedih, ya tentu saja sedih. ternyata menjalani kehamilan sendiri itu rasanya sangat menyakitkan apalagi jika harus merasakan rindu yang teramat pada Barra. sangat menyesakan dada nya.
Hingga satu malam, Qila demam membuat Zara dan Sean cemas sebab kandungan Qila yang berjalan empat bulan. Takut terjadi sesuatu pada kandungan Qila.
"Apa sebaiknya kita ajak Qila bertemu dengan Barra mas?" tanya Zara kala keduanya sudah keluar dari kamar Qila.
"Tidak, jangan."
Zara menatap mata suaminya, "Apa mas masih membenci Barra?"
Sean menghela nafas panjang, "Bukan masalah benci nya hanya saja..."
"Hanya saja apa mas?"
"Sudahlah, lebih baik kamu temani Qila. aku akan menghubungi dokter." balas Sean lalu pergi begitu saja meninggalkan Zara.
Zara menatap punggung suaminya, Zara sangat tahu jika Sean membenci Barra namun untuk kondisi Qila saat ini bukankah sebaiknya Sean melupakan kebenciannya itu?
Sean membuka ponselnya, belum sempat menghubungi dokter karena ada panggilan masuk dari Zayn, besan nya.
"Apa kau yakin?" tanya Sean setelah mendengar penjelasan Zayn di telepon.
"Syukurlah jika seperti itu."
Sean menutup panggilan, Ia tersenyum lalu kembali ke dalam.
Sementara dikamar, Qila merasakan tubuh nya sangat panas. Apa yang Ia rasakan saat ini sama seperti apa yang Ia rasakan saat masih di pondok pesantren. Qila demam jika sedang merindukan kedua orangtuanya. namun untuk saat ini berbeda karena yang Qila rindukan adalah Barra suaminya.
"Sudah tidur." suara lembut bunda nya membuat matanya semakin terasa berat hingga membawanya ke alam mimpi.
Entah berapa lama Qila terpejam, Ia merasa ada tubuh kekar yang memeluknya. Bau mint khas dari tubuh Barra membuat Qila semakin merindukan suaminya itu.
"Mas Barra..." Qila mengumamkan nama suaminya karena merasa suaminya sedang memeluknya saat ini.
"Apa sayang, hmm?"
Seketika mata Qila langsung terbuka, mendengar suara suaminya yang Ia pikir hanyalah halusinasi dirinya namun saat matanya terbuka, Ia benar benar melihat Barra didepannya tepat didepan matanya.
"Mas Barra..." Tak kuasa akhirnya Qila menangis, Ia kencangkan pelukan Barra hingga rasanya tak ingin Ia lepaskan.
"Shhhttttt, sudah sayang sudah."
Qila tak memperdulikan suara suaminya, Ia semakin menjadi dan semakin erat memeluk suaminya.
"Sayang ..." Barra mengelus kepala Qila, memberikan ketenangan pada istrinya itu.
"Maafkan Qila mas, maaf."
Barra mengangguk, "Iya sudah di maafkan, maafkan Mas Barra juga ya?"
Qila tersenyum geli, reda sudah tangisnya setelah mendengar Barra menyebutnya nama nya sendiri dengan sebutan mas Barra.
__ADS_1
"Lah cepet banget senyumnya." heran Barra.
"Ya udah aku nangis lagi."
"Eh jangan dong sayang. dah ya nggak boleh nangis lagi." kata Barra sambil mengusapi air mata Qila yang membasahi pipi Qila.
"Mas kemana aja? kenapa baru datang?"
"Bukankah Qila minta mas mempertanggung jawabkan perbuatan mas? dan sudah mas lakukan." jawab Barra membuat Qila menunduk.
"Maafkan aku mas, aku tidak tahu jika..."
"Shhhtt, sudahlah. yang terpenting sekarang aku sudah melakukan kewajibanku, aku sudah menyerahkan diri dan sekarang sudah bebas." jelas Barra yang sontak membuat Qila terkejut.
"Hanya dua bulan?"
Barra mengangguk,
"Apa keluarga mas..."
"Tidak sayang, tidak ada suap menyuap polisi, aku benar benar sudah menebus semua kesalahanku dan karena polisi tahu riwayat masa lalu ku, mereka meringankan hukumanku." jelas Barra.
"Maafkan aku mas, aku tidak tahu jika mas sakit-"
"Tunggu, siapa yang memberitahu mu tentang penyakitku?"
"Mama.."
Barra menghela nafas panjang, "Aku hanya tak ingin kamu meninggalkan ku jika tahu aku pernah mengalami depresi."
"Jadi apa sekarang aku sudah di maaafkan, apa sekarang kita bisa kembali kerumah?"
Qila menganggukan kepala membuat Barra tersenyum bahagia.
..
Sejak tertangkapnya Rani, keadaan rumah Barra sangat tegang. Banyak yang tak menyangka jika Rani tega melakukan hal seperti itu.
Juga Nana yang tampaknya mulai cemas, gelisah dan khawatir, entah apa yang Nana rasakan Nana banyak diam setelah tertangkapnya Rani.
"Apa yang kakak lakukan disini?" tanya Emma melihat Nana melamun di taman belakang.
"Bukan urusanmu!" ketus Nana.
Bukan nya pergi, Emma malah duduk disamping Nana.
"Ceritakan saja agar Kakak bisa lega." kata Emma lagi yang tak di jawab oleh Nana, hanya di acuhkan saja.
"Kakak tahu tidak jika Tuan dan Nyonya akan kembali hari ini?"
Nana tampak terkejut, "Dari mana kau tahu?"
Emma tersenyum, "Kenapa respon kakak seperti itu?"
__ADS_1
Nana menghela nafas panjang, "Rasanya aku ingin resign dari sini."
"Kenapa kak? apa yang terjadi?"
"Aku malu."
Emma memgerutkan keningnya heran, "Malu? memang apa yang sudah kakak lakukan?"
Nana kembali menghela nafas panjang, "Si Rani, dia benar benar sudah membuatku seperti ini."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Emma masih saja penasaran.
"Sudahlah, lagi pula untuk apa aku menceritakan pada anak baru sepertimu!"
Nana bangkit dari duduknya,
"Jika kakak menceritakan pada maid lain pasti akan tersebar kemana mana, berbeda dengan anak baru seperti ku yang belum mengenal siapapun disini." kata Emma yang akhirnya membuat Nana duduk kembali.
Nana merasa harus mengeluarkan kekesalannya ini jika tidak, bisa stress jika terus memendamnya.
"Sebenarnya aku tidak bermaksud mengoda Tuan Barra."
Mata Emma langsung melotot, terkejut dengan apa yang di ungkapkan Nana.
"Rani si sialan itu mengatakan jika Tuan menyukai ku. aku mendekatinya karena aku pikir Tuan benar menyukainya namun kenyataan nya, sialan dia bohong. semua itu hanya rencana balas dendam nya saja agar aku merusak rumah tangga Tuan dan Nyonya." ungkap Nana dengan nada sangat kesal.
Emma mendengarkan cerita Nana sambil menatap mata Nana, mencari kebohongan Nana namun sepertinya Nana jujur, Ia benar benar di tipu oleh Rani.
"Sekarang rasanya aku tak memiliki muka lagi didepan nyonya dan Tuan, kau tahu aku sangat malu!" ungkap Nana dengan suara mengebu.
"Kakak harus minta maaf."
Nana menatap Rani tajam,
"Ya kakak harus minta maaf dan menjelaskan semua."
"Kau gila, aku tidak berani!" balas Nana.
"Aku akan temani kakak jika memang kakak mau." tawar Emma.
"Be benar kau mau menemaniku?" Nana tampak senang.
"Tentu saja,"
"Oh baiklah, aku akan meminta maaf dan kau janji harus menemaniku." kata Nana kembali sumringah.
"Baiklah."
"Hey apa yang kalian lakukan disana? cepatlah ke depan Tuan dan Nyonya sudah kembali." teriak salah satu maid dari balik pintu.
Wajah Nana kembali pucat,
"Ayolah kak, jangan ragu. lebih baik menyadari kesalahan kita dan meminta maaf dari pada harus bersembunyi setiap waktu."
__ADS_1
Nana akhirnya mengangguk dan ikut Emma masuk kerumah.
Bersambung...