
Nana tampak menunduk, saat semua teman nya menatap Tuan dan Nyonya mereka dengan ramah dan bahagia karena telah kembali ke rumah bersama.
"Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya."
Qila tersenyum, "Terima kasih atas sambutan kalian."
"Kami sudah menyiapkan menu spesial untuk makan siang Nyonya dan Tuan."
''Wah bagus sekali, kebetulan kami juga belum makan." Barra ikut menimpali.
Keduanya pun segera menuju meja makan dimana memang banyak makanan spesial yang di buatkan oleh maid mereka.
"Siapa yang memasak ini?" tanya Barra tampak lahap menikmati makanan nya.
"Emma tuan."
Barra tersenyum melihat ke arah Emma yang juga ikut tersenyum. Barra langsung mengacungkan jempolnya pada Emma.
"Apa dia maid baru? aku belum pernah melihatnya." ucap Qila pada Barra.
"Ya, dia sengaja ku sewa untuk mencari pelaku yang membuatmu terjatuh waktu itu. sayang nya kami terlambat. maafkan aku harus membuatmu merasakan apa yang tak seharusnya kamu rasakan sayang." ucap Barra dengan perasaan penuh bersalah.
"Alhamdulilah aku baik baik saja mas, jadi jangan merasa bersalah lagi."
Barra tersenyum, mengelus pipi Qila penuh kelembutan.
"Setelah ini, aku pastikan semua baik baik saja, tidak akan ada lagi yang mencelakai keluarga kita."
Qila mengangguk, "Insya Allah mas, kita akan baik baik saja selamanya."
Selesai makan, keduanya menghabiskan waktu di ruang kerja Barra. sudah terlalu lama Barra mengambil cuti kerja dan sekarang Barra sudah harus di sibukan lagi dengan pekerjaan meskipun itu di rumah.
Barra sedang berada di kursinya sementara Qila duduk di sofa sambil membaca majalah.
Pintu ruangan Barra diketuk sebelum akhirnya terbuka.
Tampak Emma dan Nana memasuki ruang kerja Barra. Nana berjalan dengan kepala menunduk.
"Aku baru ingin memanggil mu untuk membahas kontrak kerja kita." kata Barra pada Emma.
"Dan kenapa harus ada dia?" heran Barra melihat Nana ikut serta.
"Masalah dirumah ini sudah selesai jadi kontrak saya pun sudah habis." kata Emma yang membuat Nana terkejut dan menatapnya heran.
"Masalah? bukan kah dia juga maid disini?" batin Nana.
__ADS_1
"Ya, aku akan memanggilmu lagi kapanpun aku butuh."
"Baik Tuan, dan untuk sekarang ada yang ingin meminta maaf pada Tuan dan Nyonya." kata Emma.
Qila yang sedari tadi hanya menyimak pun kini ikut mengomentari,
"Meminta maaf tentang apa?"
"Ma maaf Tuan dan Nyonya jika sejak bekerja disini, saya lancang dengan Tuan. itu ka rena karena..."
"Karena apa?" Barra tampak penasaran.
"Karena Rani yang mengatakan pada saya jika Tuan menyukai saya dan meminta saya untuk mengoda Tuan. se sekali lagi maafkan saya Tuan Nyonya." ucap Nana dengan tangan gemetar takut dan kepala nya pun masih menunduk.
Barra menghela nafas panjang, "Jika masih ingin bekerja di sini, jangan lakukan lagi hal seperti itu." kata Barra tegas.
"Ba baik Tuan."
"Masalah sudah selesai, jadi saya pamit undur diri." kata Emma akhirnya,
"Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu Emma, kau harus siap sedia kapan pun aku butuh." kata Barra yang langsung di angguki Emma.
Setelah Emma dan Nana keluar, Barra menatap wajah sedih istrinya.
"Ada apa sayang hmm." Barra tampak menghampiri Qila dan duduk disamping Qila.
Barra tersenyum sambil mengelus punggung istrinya, "Itulah kenapa kita harus berhati hati jika baik dengan orang karena saat orang itu menyakiti kita, rasanya sangat menyakitkan."
Qila mengangguk, benar kata Barra, rasanya memang sangat menyakitkan.
"Apapun yang terjadi pada rumah tangga kita, anggap sebagai pelajaran dan setelah ini semoga tidak akan ada lagi badai mengerikan seperti ini lagi."
Qila memeluk suaminya, "Insya Allah mas."
Beberapa bulan berlalu, Hubungan Qila dan Barra semakin membaik. tidak ada yang menganggu rumah tangga mereka. juga hubungan Barra dengan mertuanya yang kembali membaik apalagi Barra juga membuat perusahaan Sean menjadi sukses tentu saja membuat Barra menjadi menantu kesayangan.
Dan entah mengapa hari ini, Barra ingin pulang lebih awal. sholat magrib berjamaah dengan istrinya juga makan malam bersama karena memang sehari harinya Barra sibuk bekerja hingga larut malam.
Selesai sholat isya berjamaah, Barra menatap wajah aneh Qila. terlihat istrinya itu meringgis seolah sedang menahan sakit.
"Apa ada yang sakit?" tanya Barra langsung menghampiri istrinya.
"Entahlah mas, aku merasakan perutku tak enak. hari perkiraan lahir masih satu minggu lagi, aku tak yakin jika melahirkan sekarang." ungkap Qila merasakan perutnya kembali mulas.
"Sebaiknya kita bawa ke klinik sekarang."
__ADS_1
Tanpa protes, Qila menuruti saran dari suaminya untuk pergi ke klinik dokter obgyn tempat biasa Ia periksa.
Dan benar nyatanya, sampai di klinik sudah pembukaan enam dan harus melahirkan hari itu juga.
Orangtua Barra juga orangtua Qila datang untuk menanti kelahiran cucu mereka. Barra setia menemani istrinya didalam ruangan yang berjuang melahirkan buah cinta mereka.
Setelah dua jam kontraksi, akhirnya suara tangisan buah cinta mereka terdengar membuat semua orang yang ada disana mengucap syukur.
"Laki perempuan?" tanya Sean dan Zayn tampak tak sabar saat Barra keluar dengan senyum sumringah.
"Ganteng kayak papa nya." ucap Barra dengan percaya diri.
"Alhamdulilah, akhirnya keturutan juga nih." cibir Anya pada Zayn dan Sean yang sangat menginginkan cucu laki laki.
Mereka pun masuk setelah Qila memberikan asi pertama untuk baby mereka.
"Reynald Agra Baqi."
Nama putra pertama mereka yang akan menambahkan kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka.
Beberapa bulan berlalu, Barra semakin hari semakin bahagia apalagi setiap pulang bekerja melihat tingkah lucu baby Rey yang mengemaskan dan pintar membuat Barra tak nyaman bekerja dan segera ingin pulang setiap harinya.
"Papa senang melihatmu sering tersenyum sekarang." kata Zayn kala mengunjungi kantor Barra.
"Ya, karena sekarang hidupku sudah lebih baik dan lebih bahagia." balas Barra mengingat kebahagiaan sempurna yang Ia dapatkan setelah menikah dengan Qila.
"Jadi sudah tidak ada Devil Barra lagi yang kejam dan suka mempermainkaan wanita?" sindir Zayn membuat Barra tersenyum malu karena Zayn tahu bagaimana buruk nya Ia dulu.
"Tentu saja tidak, kecuali ada yang berani menganggu istri dan anak ku, aku tidak bisa menjanjikan akan menjadi orang baik."
Zayn tersenyum, bagaimana masa lalu dirinya, masa lalu putranya yang kelam sekarang keduanya sudah berubah, hidup menjadi seseorang yang lebih baik dan tidak menyakiti siapapun lagi.
Tidak akan ada lagi si devil Zayn juga Devil Barra, keduanya sudah menjadi good husband untuk Anya dan Qila.
Tamat.
Alhamdulilah... akhirnya...
Terimakasih untuk para readeers yang berkenan membaca cerita author... setia menunggu setiap update author.
mohon maaf sebanyak banyaknya, jika ada salah salah kata, kurang berkenan karena author masih banyak belajar dalam menulis.
Selagi lagi terimakasih sudah setia dengan cerita author..
Semoga para readers diberikan kesehatan dan kebahagiaan hidup..
__ADS_1
Aamiin aamiiin ya robal alamin
Tunggu cerita baru selanjutnya ya hehe...