The Devil Barra

The Devil Barra
35


__ADS_3

Sean berjalan membuka pintu rumah, wajahnya berubah malas setelah melihat siapa yang datang kerumahnya malam ini.


"Istrimu ada?" tanya pria yang membuat Sean langsung emosi.


Pria yang tak lain Zayn itu langsung tertawa melihat Sean emosi.


"Aku hanya bercanda, santai saja. mana mungkin aku mencari istrimu." ucap Zayn memasuki rumah Sean begitu saja padahal Sean belum mempersilahkan masuk.


Zayn duduk disofa, diikuti oleh Sean dengan wajah malasnya.


"Ada apa malam malam kemari?" tanya Sean.


"Ada yang ingin ku tunjukan padamu." balas Zayn yang langsung membuat Sean penasaran.


"Ada mas Zayn ternyata, aku buatkan minum dulu ya." sapa Zara yang baru saja keluar kamar.


"Buatkan yang manis ya." goda Zayn yang langsung mendapat pelototan tajam dari Sean.


"Kita sudah menjadi besan dan kau masih saja curiga padaku." ucap Zayn pada Sean.


"Aku akan tetap curiga karena kamu pernah menyukai istriku."


Zayn tentu saja shock dengan ucapan Sean, "Hey itu sudah berlalu lama, seharusnya kamu tidak mengungkitnya."


"Aku akan tetap mengungkitnya sampai kapanpun."


"Kalian membicarakan apa?" tanya Zara yang sudah membawa dua cangkir teh hangat untuk Sean dan Zayn.


"Obrolan sesama pria." balas Zayn sambil terkekeh.


"Kenapa Anya tidak ikut?"


"Dia kelelahan karena membantu tantenya memasak untuk acara pengajian jadi tidak ikut."


Zara mengangguk "Baiklah, lanjutkan obrolan kalian aku akan masuk."


"Eh tunggu, sebaiknya kau juga ikut melihat."


Zara menatap Zayn heran, diikuti Sean yang semakin penasaran.


"Memang apa yang ingin kau perlihatkan?"


Zayn mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah video yang membuat Zara langsung membungkam mulutnya.


"Jadi gadis dikafe itu menipu kita semua?" tanya Zara masih tak percaya.


Zayn mengangguk, "Lebih tepatnya, dia menjebak Barra."

__ADS_1


"Tapi Barra juga mabuk." tambah Sean masih tak terima.


"Itulah sebabnya dia bisa dijebak, aku tidak membela atau membenarkan kelakuan Barra hanya saja aku ingin meluruskan kesalahpahaman diantara kita." jelas Zayn.


Zara mengangguk mengerti, "Aku juga sudah melupakan kejadian itu. aku sekarang cuma bisa mendoakan agar hubungan Barra dan Qila selalu baik baik saja." kata Zara.


Sean dan Zayn tampak diam cukup lama, entah apa yang mereka pikirkan.


"Jika memang seperti itu, lebih baik kita ajukan saja tanggal resepsi pernikahannya." kata Sean.


"Ya aku setuju, lebih cepat lebih baik." tambah Zara.


"Baiklah jika memang seperti itu, aku akan mengerahkan seluruh anak buahku untuk mempersiapkan segalanya."


Sean mengangguk, "Kita adakan minggu depan."


Zara terkejut, "Apa tidak terlalu cepat mas?"


"Lebih cepat lebih baik sayang." balas Sean dengan nada lembut dan mesra membuat Zayn menatap kesal ke arah Sean.


"Apa disini tidak ada Ac? kenapa panas sekali." cibir Zayn yang langsung membuat Sean terkekeh.


"Sudah sudah, jangan mulai! kalau memang harus diajukan besok pagi kita harus ke apartemen Barra mas." kata Zara yang langsung diangguki Sean.


Sementara itu diapartemen, suasana canggung terjadi diantara Barra dan Qila dimana kini Qila merasa tak enak apalagi melihat Barra tidur membalikan badan, membelakangi dirinya.


Barra hanya menggelengkan kepalanya tanpa berbalik membuat hati Qila merasa teriris.


"Apa mas Barra harus semarah ini hanya karena aku belum bisa memberikan kewajibanku." batin Qila tanpa disadari membuat air matanya keluar.


Suara isakan Qila tentu saja mengejutkan Barra, seketika Barra berbalik dan melihat istrinya menangis.


"Sayang, kenapa menangis?" tanya Barra langsung mengusapi air mata Qila.


"Mas Barra kenapa harus semarah itu, aku minta maaf karena belum bisa memberikan hak mas Barra." ucap Qila sambil masih terisak.


"Sayang, bukan... bukan seperti itu." Barra bingung bagaimana Ia harus menjelaskan pada Qila.


"Kalau bukan kenapa mas Barra hanya diam?"


Glek, Barra menelan ludahnya, tak tahu harus bagaaimana menjelaskan pada Qila. Tahukah Qila jika Barra sedari tadi sedang menahan diri. Hasrat yang sudah ada di ubun ubun harus Ia tahan lagi, Barra memunggungi Qila karena ingin menenangkan diri agar Ia tidak berbuat sesuatu yang nekat yang mungkin tidak Qila sukai namun Qila malah menganggapnya marah.


"Aku tidak marah sayang," Terpaksa Barra mendekat dan membawa tubuh Qila dalam pelukannya, Ia harus berusaha lebih keras lagi untuk menahan diri.


Setelah Qila tenang dan tidak menangis lagi, Barra menilik wajah Qila yang nyatanya sudah terlelap. pelan pelan Barra melepaskan diri dari tubuh Qila.


Barra duduk dan melihat ke bawah, miliknya masih setia berdiri membuat Barra berdecak kasar.

__ADS_1


"Sial, seharusnya aku tadi bertanya dulu, sekarang terpaksa aku harus melakukan ini."


Barra berjalan memasuki kamar mandi, Entah apa yang Ia lakukan dikamar mandi selama 30 menit lamanya namun saat sudah keluar dari kamar mandi terlihat wajah lega Barra.


"Memalukan, tapi aku tidak punya pilihan lain." omel Barra lalu berbaring diranjang ikut terlelap bersama Barra.


Paginya, Barra dan Qila terlihat sarapan dimeja makan. Keduanya masih terlihat canggung apalagi Qila yang sedari tadi hanya diam jika tidak ditanya oleh Barra.


"Ehem, memang kalau lagi datang bulan berapa hari?"


"Se seminggu mas, kadang sepuluh hari."


"Kenapa lama sekali?" tanya Barra terkejut baru mengetahui jika wanita datang bulan bisa selama itu. lalu bagaimana para suami jika sedang ingin apa harus menahan selama itu.


"Memang biasanya seperti itu. maaf ya mas." ucap Qila menunduk merasa tak enak.


"Tidak sayang, tidak perlu seperti itu aku hanya bertanya saja." Barra akhirnya juga merasa tak enak.


Keduanya kembali melanjutkan sarapan hingga suara bel berbunyi membuat Qila buru buru berlari membukakan pintu.


"Ayah... Bunda..." Qila langsung menghambur ke pelukan sang Bunda.


"Suamimu ada?" tanya Sean langsung masuk begitu saja.


"Ada Yah, kami baru sarapan. Ayah sama Bunda ikut sarapan yuk." ajak Qila yang langsung diangguki Sean dan Zara.


Melihat mertuanya datang, Barra langsung mencium tangan Sean dan Zara bergantian.


"Bagaimana perusahaan Ayah?" tanya Sean pada Barra.


"Ayah, datang datang kok tanyanya kerjaan sih, tanya gimana Mantunya sehat apa nggak." cibir Zara.


Barra menatap kedua mertuanya bingung, melihat wajah sumringah mertuanya tidak seperti saat terakhir mereka bertemu.


"Barra lagi usaha biar bisa dapet proyeknya berlian Yah, doakan saja." balas Barra yang langsung diacungi jempol oleh Sean.


"Ayah sama Bunda tumben pagi kesini, harusnya telpon saja biar Qila yang kesana."


"Nggak apa apa sayang, sekalian lihat apartemen kamu trus sama ada yang mau kita bicarakan."


"Bicara tentang apa?" tanya Barra mulai penasaran.


"Rencananya kita mau ajuin tanggal resepsi pernikahan kalian, minggu depan." kata Sean yang membuat Barra dan Qila terkejut bersamaan.


BERSAMBUNG... .


jangan lupa like vote dan komeen

__ADS_1


__ADS_2