The Devil Barra

The Devil Barra
60


__ADS_3

Barra duduk di pinggir ranjang, Ia memandang wajah istrinya sambil mengelusi kepala Qila yang tertutup hijab.


"Maaf harus meninggalkanmu disaat harusnya aku ada disana." ungkap Barra penuh penyesalan.


"Tidak mas, justru seharusnya aku yang minta maaf karena tak bisa menjaga diri dengan baik."


Barra menggeleng tak setuju, "Ada yang tidak beres dirumah kita, sebaiknya kamu tinggal dirumah Mama untuk sementara waktu."


"Kenapa mas? ada masalah apa?" Qila tampak terkejut karena Ia merasa tidak ada yang aneh saat berada dirumah.


"Ada yang sengaja menumpahkan minyak di lantai agar kamu jatuh, aku tidak tahu siapa orangnya aku yakin dia sangat berbahaya."


"Jangan suudzon mas."


"Aku tidak suudzon, cctv juga dimatikan, aku yakin dia bukan orang sembarangan jadi sebaiknya kamu turuti permintaanku sekali ini saja. tinggalah dirumah Mama atau Bunda sementara waktu." pinta Barra dengan tatapan memohon.


Qila terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah mas, aku akan tinggal dirumah Bunda sementara waktu."


Barra tersenyum, terlihat sangat lega karena akhirnya Qila mau menurut padanya.


Barra memang sudah merencanakan sesuatu agar bisa menangkap pelaku yang ingin mencelakai istrinya itu.


Seharian menemani istrinya dirumah sakit, malamnya Barra kembali ke rumah. Sudah ada Bunda dan Mama yang menjaga Qila dirumah sakit.


Seperti biasa saat Barra pulang dan Nana lah yang membuka pintu untuknya.


Barra menatap Nana yang juga menatapnya, Sedikit ada rasa curiga Barra pada Nana. Barra merasa Nana lah yang sudah mencelakai istrinya namun Barra harus sabar, tidak boleh gegabah menuduh Nana.


"Siapkan makan malam untuk ku." pinta Barra membuat Nana tampak terkejut.


"Tuan ingin makan?"


"Kenapa? apa tidak ada makanan?"


Nana menggelengkan kepalanya, "Ada Tuan, ada. biar saya siapkan." ucap Nana tampak girang segera pergi ke dapur.


Barra menatap punggung Nana dingin, entah apa yang sebenarnya Nana pikirkan tentangnya namun Barra yakin jika Nana sedikit tidak beres.

__ADS_1


Selesai mandi, Barra segera menuju meja makan dimana sudah ada Nana yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Siapa yang memasak?" tanya Barra menyeret salah satu kursi lalu mendudukinya.


"Rani Tuan."


Barra mulai mencicipi masakan salah satu maid nya, Ia kunyah perlahan agar bisa merasakan rasa masakan yang lumayan enak jika di bandingkan dengan masakan Nana.


"Bagaimana keadaan Nyonya Tuan?" tanya Nana yang masih berdiri disana.


"Baik, semakin membaik." balas Barra sedikit melirik ekspresi Nana yang terlihat biasa.


Tanpa Nana sadari, Barra memperhatikan gerak gerik Nana, sepertinya tidak mencurigakan. Meski begitu, Barra tetap merasa Nana adalah dalang dibalik semua masalah dirumahnya, Ia hanya harus mencari bukti.


Selesai makan malam, Barra segera naik ke atas. Rasanya sedikit penat hingga membuatnya ketiduran disofa.


Tengah malam Barra bangun, memang Barra sengaja bangun. Ia duduk di balkon kamarnya sambil menghisap rokok.


Dan mata Barra tak sengaja menatap seseorang yang baru saja memasuki gerbang rumahnya.


Barra segera bersembunyi kala wanita itu menengok ke atas balkon kamar, dan dibalik pintu Barra masih mengintip wanita yang sepertinya sudah memasuki rumah.


"Siapa dia? apa yang dia lakukan tengah malam begini?" gumam Barra yang tak bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu namun Barra yakin wanita itu sangat mencurigakan.


Jika biasanya setiap Pagi Barra tak pernah sarapan jika bukan Qila yang membuatnya, namun berbeda dengan pagi ini yang memang Barra sengaja untuk sarapan.


Barra sarapan sambil melihat gerak gerik para maidnya. Ia yakin jika wanita yang semalam itu adalah pelaku yang menuangkan minyak dilantai.


Padahal semalam Barra langsung turun ke bawah untuk melihat siapa wanita itu namun sayangnya Barra kalah cepat karena tak menemukan siapapun saat dibawah.


"Tuan ingin tambah?" tanya Nana dengan senyuman centilnya.


"Tidak!''


Barra segera berajak dari meja makan, melihat Nana rasanya sangat menjengkelkan membuat Barra memutuskan segera berangkat.


Sebelum ke kantor, Barra menyempatkan diri untuk ke rumah sakit melihat keadaan istrinya. Dan Barra bisa tersenyum lega saat mengetahui istrinya sudah membaik dan kemungkinan bisa pulang hari ini.

__ADS_1


"Jam makan siang aku akan datang untuk menjemputmu dan mengantarmu ke rumah Bunda." ucap Barra mengecup kening istrinya sebelum akhirnya Ia berangkat ke kantor.


Siangnya, Qila terlihat senang saat Barra menyempatkan diri untuk datang menepati janjinya, mengantar dirinya kerumah Bunda.


Barra bahkan mengantar Qila sampai ke kamarnya.


"Rasanya sedih mas jika aku harus mengabaikan tanggung jawabku." ucap Qila karena harus LDR dengan Barra untuk sementara waktu.


Barra tersenyum mengelus kepala Qila, "Kamu lagi sakit sayang, jangan pikirkan apapun. aku akan serimg kesini dan setelah rumah kita aman, aku pastikan akan membawamu pulang kerumah."


Qila mengangguk pasrah, meskipun ada sedikit kekhawatiran jika harus berpisah dengan Barra sementara waktu namun Qila harus percaya jika suaminya tidak akan melakukan hal yang bisa merusak hubungan mereka.


"Kamu tenang saja Barra, bunda akan jagain Qila dan nggak akan biarin dia lecet sedikitpun." ucap Zara pada Barra.


"Makasih Bunda, maaf harus ngrepotin Bunda. Barra janji akan segera menyelesaikan masalah ini dan memastikan semua aman." ucap Barra yang langsung diangguki Zara.


Barra kembali ke kantor setelah makan siang bersama mertuanya dan Qila.


Sesampainya dikantor, Ia tersenyum bahagia saat mengetahui pesanan nya sudah datang.


"Ini sudah ku carikan untukmu, pastikan kamu mentransfer uang bayaran ke atm ku." ucap Rina yang berada diruangan Barra bersama seorang wanita muda.


"Tenang saja, aku akan mentransferkan untukmu sekarang jadi sebaiknya kau segera keluar!"


"Aku akan keluar jika sudah ditransfer."


Barra menatap Rina kesal, Ia ambil ponselnya dan segera mentransferkan uang pada Rina.


"Puas!" Barra memperlihatkan bukti transfer yang membuat Rina tersenyum lebar setelah melihat nominal yang dikirimkan oleh Barra.


"Baiklah, semoga kau puas dengan pelayan nya." ucap Rina segera meninggalkan ruangan Barra.


Barra menatap seorang gadis muda yang kini berada di ruangan nya.


"Jadi berapa umurmu nona?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2