The Devil Barra

The Devil Barra
38


__ADS_3

Malam ini adalah malam resepsi pernikahan Barra dan Qila. Resepsi yang diadakan sangat besar dan mewah. tidak hanya teman Qila dan Barra yang datang namun juga rekan bisnis Sean dan Zayn ikut serta dalam tamu undangan pernikahan Barra dan Qila.


Ameer yang awalnya tidak datang di ijab kabul pernikahan Qila nyatanya sekarang datang di acara resepsi Qila dan Barra.


Ameer tak datang sendiri, Ia datang bersama kedua orangtuanya, Ricky dan Imah.


Sejak pertama memasuki gedung pernikahan, wajah Ameer sudah ditekuk sama sekali tak menunjukan raut senyum.


Berbeda dengan kedua orangtua Ameer yang ikut merasakan bahagia melihat pernikahan Barra dan Qila. Meskipun Imah dan Ricky tahu jika Ameer putra mereka sangat mencintai Qila namun Imah dan Ricky mencoba mengerti keputusan Sean dan tidak memaksa karena kasta mereka berbeda meski sekarang Ameer sudah menjadi dokter namun tetap saja Imah dan Ricky merasa sungkan jika mereka harus berbesan.


"Alhamdulilah, akhirnya yang ditunggu datang juga." Zara tampak bahagia menyambut kedatangan Imah, Ricky dan Ameer.


"Maaf baru bisa datang sekarang." kata Imah merasa tak enak karena tak datang di acara ijab kabul Qila padahal waktu itu mereka di undang.


"Tidak masalah, yang penting kalian datang." kata Zara yang langsung diangguki Imah.


"Jangan buru buru disini, setelah acara selesai ada yang ingin ku bicarakan denganmu." kata Sean pada Ricky.


"Bicara masalah apa?" Ricky tampak penasaran.


"Ada lah nanti." Sean mengedipkan sebelah matanya membuat Ricky tertawa.


Imah tampak mendekati Qila dan Barra, Ia langsung memeluk Qila penuh kehangatan.


"Selamat ya sayang, akhirnya sekarang kamu sudah memiliki suami yang akan menjaga kamu. semoga bahagia." ucap Imah penuh haru membuat Qila ingin meneteskan air matanya.


"Terimakasih tante, terimakasih banyak sudah datang."


Imah mengangguk dan tersenyum pada Qila, setelah Imah, giliran Ameer yang tampak mengulurkan tangan untuk menyalami Qila.


"Selamat, semoga bahagia." kata Ameer terdengar kaku.


"Makasih sudah mau datang Ameer." Qila menyambut tangan Ameer, sahabatnya sejak kecil itu.


Ameer hanya mengangguk lalu berjalan mendekati Barra,


"Jangan sampai menyakiti Qila atau aku akan mengambilnya kembali."


Barra tersenyum sinis, "Sesuatu yang tidak akan pernah terjadi."


Pandangan keduanya terlihat menusuk, tangan Ameer bahkan mengepal ingin memukul Barra kembali, mengingat malam itu saat Barra membawa pulang Qila dalam keadaan tidak suci. mengingat itu membuat Ameer kembali marah dan ingin menghajar Barra saat ini juga.


Beruntung Ricky segera menepuk bahu putranya, menyadarkan Ameer jika semua sudah berlalu dan berakhir.


"Ayo kita makan dulu nak." ajak Ricky pada Ameer.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun, Ameer berjalan meninggalkan Barra.


"Sudahlah, ikhlaskan saja." kata Ricky sambil menepuk bahu Ameer, memberi kekuatan pada putranya itu.


"Semua salahku, jika saja siang itu aku bisa mengejar Qila, mungkin semua ini tidak akan terjadi." sesal Ameer.


"Sudahlah Nak, memang sudah jodohnya seperti ini. kita tidak bisa memaksa takdir."


Ameer mengangguk, mencoba menerima nasihat dari Ayahnya.


Ameer dan Ricky tampak mencicipi beberapa hidangan hingga seorang wanita dibelakang Ameer tak sengaja menumpahkan saus dibaju Ameer.


"Aduh, mas kalau jalan lihat lihat dong." kata Wanita muda itu tampak marah membuat Ameer keheranan karena wanita itu yang salah tapi kenapa pula dia yang marah.


"Bukan nya kamu yang salah, kenapa nggak minta maaf malah marah!" ketus Ameer tak mau kalah.


"Loh, non Risha toh." Ricky tampak menengahi setelah mengetahui siapa wanita itu.


"Oh, pak Ricky." Risha memandang Ricky dengan pandangan tak suka.


"Di undang juga?"


"Iya Non."


"Siapa sih yah?" tanya Ameer tampak tak suka melihat wanita itu sombong dan berbicara tak sopan dengan Ayahnya.


"Ohh, jadi ini anaknya pak Ricky? bilangin deh kalau jalan suruh hati hati." kata Risha dengan nada sombong meninggalkan Ameer dan Ricky begitu saja membuat Ameer kesal dengan perilaku Risha.


"Sudah, memang anaknya seperti itu." kata Ricky.


"Ameer ke kamar mandi dulu yah, mau bersihin ini." pamit Ameer setelah menunjukan lengan nya yang kotor terkena saus.


"Ya, jangan pulang dulu soalnya Tuan Sean mau bicara dengan kita." kata Ricky yang langsung diangguki Ameer.


Ameer membersihkan bajunya dikamar mandi, setelah itu Ameer memilih duduk di taman belakang gedung.


Ameer yang saat ini sedang frustasi tampak mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya.


Bukan kebiasaan Amerr merokok, ini kali pertamanya Ameer mencoba rokok namun baru satu hisapan saja sudah membuat Ameer batuk yang akhirnya Ameer membuang rokok itu.


Selesai acara, barulah Ameer kembali memasuki gedung. disana Ia sudah ditunggu Orangtunya juga orangtua Qila, ada Risha juga yang duduk disamping sang Mama.


"Kamu dari mana? kenapa ke kamar mandi lama sekali." bisik Ricky.


"Tadi duduk ditaman belakang Yah."

__ADS_1


"Tentang kejadian yang menimpa Qila malam itu, jangan dipikirkan lagi Ameer dan jangan menyalahkan dirimu karena itu bukan salahmu." kata Sean membuat Ameer menunduk.


"Mungkin ini sudah takdir Qila berjodoh dengan Barra." tambah Sean lagi yang membuat hati Ameer sakit mendengarnya.


"Iya Ameer jangan menyalahkan dirimu lagi karena tak bisa menjaga Qila, kami tahu kamu sudah berusaha mencari Qila waktu itu." tambah Zara yang akhirnya diangguki Ameer.


"Dan sekarang aku mengumpulkan kalian disini karena aku ingin kalian tahu jika aku ingin persaudaraan kita semakin erat lagi. bukan lagi antara majikan dan anak buah, bukan juga antara persahabatan. aku ingin mengajakmu berbesan denganku." ucap Sean yang membuat semua orang terkejut kecuali Zara.


"Apa maksudmu?" tanya Ricky masih tak paham.


"Ya, aku ingin menjodohkan putramu dengan putriku Risha."


Duarr... bak tersambar petir, Risha dan Ameer sangat terkejut bahkan sampai menatap protes kedua orangtuanya mereka masing masing.


"A ayah!" Risha tampak ingin protes namun Zara langsung mengenggam tangan Risha memberi peringatan pada putrinya itu.


"Kalau saya ngikut saja dan tergantung dengan anak anak kita ya bu." kata Ricky yang juga langsung diangguki Imah.


"Kalian berdua harus mau." tegas Sean.


"Tapi om..." Ameer baru ingin protes namun diurungkan karena tatapan peringatan dari sang Ayah.


"Jangan menolak ya Ameer, bunda pingin punya menantu kamu.''


"Tapi Bunda, Risha nggak mau!" protes Risha akhirnya membuka suaranya.


"Apa yang membuatmu tidak mau?' tanya Sean.


"Risha tidak mencintai Ameer."


"Cinta bisa datang seiring berjalan nya waktu. dulu Ayah dan Bunda juga seperti itu." kata Sean.


"Risha tetap nggak mau!" kekeh Risha.


"Kalian harus mau!" Sean tak mau kalah.


"Harusnya Ayah jodohin Risha sama pengusaha kayak mas Barra bukannya anak mantan sopir kita!"


"RISHA!!" Sean terlihat marah.


Risha yang kesal akhirnya meninggalkan tempat itu.


Bersambung...


mon maap babang Ameer nya nyempil dulu, kasian abis ditinggal nikah soalnya hehe

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komenn yaaa


__ADS_2