The Devil Barra

The Devil Barra
44


__ADS_3

Barra baru merasakan kenikmatan honeymoon bersama Qila istrinya, meskipun sempat ada drama, Ia dibuat kesal oleh Rino yang berani mendekati Qila.


Tiga hari berada di villa, rencananya Barra ingin berada disana selama dua minggu agar programnya untuk menghamili Qila bisa segera terwujud namun sayangnya, mendadak Ia mendapatkan telepon dari anak buahnya jika perusahaan milik mertuanya sedang dalam masalah.


Mau tak mau Barra akhirnya memutuskan untuk pulang lebih cepat dari rencananya. Ia tak ingin terjadi sesuatu dengan perusahaan mertuanya yang berakhir membuatnya kehilangan kepercayaan dari mertuanya lagi.


Barra hanya mengantar Qila sampai apartemen, setelah itu Ia langsung ke kantor. Ia mengumpulkan para karyawan Sean untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah cukup mendengar penjelasan dari para karyawan Sean, membuat Barra tahu siapa dalang dibalik semua kekacauan ini.


Berli, wanita pemilik Berlian Group yang baru saja bekerja sama dengan perusahaan Sean.


Tadinya Barra pikir setelah bekerja sama dengan Berlian Group membuat perusahaan mertua Barra semakin maju namun kenyataanya malah terjadi perosotan drastis bahkan banyak para pemegang saham yang mundur dari perusahaan Sean.


Barra khawatir, tentu saja khawatir jika sampai terjadi sesuatu dengan perusahaan Sean, habislah riwayatnya.


"Apa kau yakin wanita itu disini?" tanya Barra pada Ken salah satu orang kepercayaan Sean yang memdampingi Barra mengurus perusahaan.


"Yakin Pak, terakhir kemarin saya bertemu dengan Nona Berli disini."


"Di club malam seperti ini?" tanya Barra lagi memastikan karena saat ini mobil yang Barra tumpangi berhenti didepan sebuah club malam sultan, hanya orang orang tertentu yang bisa masuk ke dalam club itu.


"Ya, karena Nona Berli yang meminta datang ke tempat ini."


"Sialan!" Barra terdengar mengumpat sebelum akhirnya Ia keluar dari mobil dan segera memasuki club malam itu.


Beruntung Barra pernah datang ke club itu membuatnya tidak kesulitan saat akan memasuki club.


"Kau mengenal wanita bernama Berli?" tanya Barra pada salah satu pelayan club itu.


"Nona Berli? dia sedang berada diruangan no sebelas seperti sedang menunggu tamu." ucap pelayan itu yang langsung diberikan uang tips oleh Barra karena memberikan informasi penting.


Tak menunggu lama, Barra segera mencari ruangan nomor sebelas dan langsung memasuki ruangan remang remang itu.


"Aku sedang tidak menunggumu, kenapa datang?" tanya Berli saat melihat Barra memasuki ruangan dimana hanya ada dirinya ditemani beberapa botol anggur.


"Ku pikir kau wanita hebat yang profesional tapi ternyata aku salah." kata Barra tanpa basa basi.


Berli tampak menyunggingkan senyum, "Jangan terlalu cepat menilai seseorang."


Barra menatap Berli sinis, "Sebenarnya apa mau mu? ini tidak ada dalam perjanjian kontrak bisnis kita!"


Berli tertawa, "Didalam kontrak, aku bebas melakukan apapun untuk memajukan perusahaan."

__ADS_1


"Tapi hanya perusahaanmu saja yang maju!" geram Barra.


"Aku sedang berusaha untuk membuat kedua perusahaan kita maju, tetapi tentu semua itu tidak gratis."


Barra terkejut, "Apa maksudmu?"


Berli tersenyum, Ia berdiri dan berjalan mendekati Barra. Dengan dress ketat pendek yang memperlihatkan belahan gunung kembarnya, Berli merangkulkan kedua tangannya dileher Barra.


"Aku ingin menjadi kekasihmu."


Seketika Barra melepaskan tangan Berli secara kasar, "Are you crazy?"


"Katakan aku Gila, aku benar benar ingin-"


"Stop! apa kau tahu ini?" Barra tampak memperlihatkan jari manisnya dimana ada cincin pernikahan disana.


"I dont care, aku tidak peduli jika kamu sudah menikah, aku hanya ingin menjadi kekasihmu." balas Berli santai.


"Sial, wanita gila!"


"Ya kau yang membuatku gila, kau yang membuatku seperti ini!"


Berli hendak memeluk Barra namun dengan cepat Barra menghindar.


"Aku akan menuntutmu!"


"Silahkan, jika bisa." Berli menatap Barra remeh.


"Hanya ada dua pilihan, menjadi kekasihku dan perusahaanmu maju atau kau akan melihat perusahaan itu hancur."


Barra tampak diam,


"Bukankah itu perusahaan milik mertuamu, apa kau ingin menghilangkan kepercayaan dari mertuamu?"


Barra menatap Berli tajam, "Silahkan saja, lakukan apapun yang kau inginkan dan kita lihat saja siapa yang akan menang." kata Barra lalu berjalan hendak keluar.


"Kupikir kau wanita berkelas, wanita baik baik nyatanya kau tak berbeda jauh dari pelacur murahan!" kata Barra sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana pak?" tanya Ken saat Barra kembali memasuki mobil.


"Sudah sebaiknya kita pulang dulu." ajak Barra yang langsung diangguki Ken.


Setelah mengantar Ken, Barra melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemen. Sampai diapartemen, Ia tak langsung naik ke atas masih ingin berada didalam mobil memikirkan apa yang baru saja terjadi. Menghilangkan kekesalan dan emosi yang melanda karena ucapan Berli.

__ADS_1


Barra hanya masih tak menyangka dengan sikap Berli yang berbeda jauh dari saat mereka bertemu, padahal awalnya Barra sangat mengaggumi kecerdasan Berli namun sekarang semua hilang dan malah menganggap remeh Berli.


Barra terkejut mendengar suara adzan diponselnya, Ia melihat jam sudah pukul setengah lima. tanpa Barra sadari semalaman Ia tak pulang karena mengurus masalah perusahan Sean.


"Apa Qila mengkhawatirkanku?"


Barra segera keluar dari mobil dan naik ke atas. Barra membuka pintu apartemen, tadinya Ia pikir Qila sudah bangun namun nyatanya Qila masih terlelap membuat Barra sedikit heran karena biasanya Qila bangun sebelum subuh.


Barra memandangi wajah istrinya sejenak sebelum Ia memutuskan untuk mandi karena Ia harus pergi ke kantor lagi setelah ini.


Selesai mandi, Barra melihat Qila baru bangun. Wajah Qila nampak pucat, Ia merasa Qila kelelahan karena gempurannya beberapa hari kemarin.


Barra segera pergi ke kantor setelah mendapatkan telepon dari Ken. Ia bahkan tak bisa menunggu Qila untuk menbuatkan sarapan karena banyak yang harus Ia urus hari ini.


Seharian ini Barra dan para staff dikantor Sean sedang mencari jalan keluar untuk bisa lepas dari jeratan perusahaan Berli tanpa melanggar hukum. meskipun masih juga belum menemukan jalan keluar, Barra sangat kagum dengan kinerja para staff dikantor Sean yang tampak kompak.


"Kita pikirkan lagi besok, aku harus kembali ke kantorku lebih dulu. kupercayakan semua yang ada disini padamu." kata Barra pada Ken.


"Baik pak."


Sore ini Barra menuju kantor miliknya, Ia juga harus mengecek perusahaannya sendiri.


"Eh yang baru pulang honeymoon kusut amat, apa service nya kurang memuaskan ya? mau cari-"


Rina langsung menghentikan ucapannya saat Barra menatap nya tajam,


"Duh, mulai sensi nih." Rina memilih keluar dari ruangan Barra padahal dirinya baru saja masuk.


Barra menghela nafas panjang, mendengar ucapan Rina membuatnya sangat kesal karena Rina masih saja belum berhenti menawarkan wanita padanya.


Barra baru ingin menyalakan laptopnya, Ia merasakan ponselnya didalam saku celana berdering.


Mama calling..


Barra menatap heran, karena tidak biasanya sang Mama menelepon saat dirinya masih dikantor.


Tak menunggu lama, Barra menerima panggilan dari sang Mama,


"KAMU GIMANA SIH, ISTRI KAMU SAKIT TAPI KAMU MASIH SIBUK DIKANTOR!"


Suara Anya membuat jantung Barra serasa berhenti berdetak,


Qila sakit?

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2