The Devil Barra

The Devil Barra
28


__ADS_3

Nara terbangun setelah mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Nara mengangkat tubuhnya, duduk menyandarkan tubuhnya di ranjang, Ia merasakan tubuhnya sakit semua setelah apa yang dilakukan Randi semalam. Tidak hanya semalam, Randi dan teman temannya datang setiap malam untuk memuaskan hasrat mereka.


Nara lelah dan ingin mengakhiri ini semua. Nara ingin kembali ke kampung halamannya, mengurus Villa dengan Bibinya dari pada disini dirinya hanya dijadikan pemuas hasrat tanpa tahu bagaimana nasibnya kedepan.


Pintu kamar mandi terbuka, Ia lihat Randi keluar dan hanya melilitkan handuk dipinggangnya. Randi tersenyum sementara wajah Nara tampak datar memandang Randi.


"Sudah bangun rupanya." ucap Randi duduk di pinggir ranjang tepat didepan Nara.


Nara tampak diam sejenak sebelum akhirnya Ia mengatakan sesuatu yang membuat Randi terkekeh.


"Aku ingin pulang."


"Disini rumahmu sekarang." ucap Randi.


"Tidak, disini hanya neraka! aku ingin pulang ke villa." kata Nara sambil menatap Randi tajam.


Randi tertawa, "Kau pikir semudah itu? tidak! bahkan aku saja belum puas menikmatimu!"


"Brengsek! kau pikir aku pelacur?"


Randi tersenyum sinis "Bukankah memang seperti itu sejak awal? ah bukan, kau bukan pelacur, lebih tepatnya kau wanita pengoda." kata Randi tersenyum lalu menarik selimut yang menutupi tubuh polos Nara.


"Lihatlah, dengan tubuhmu ini, kau berharap bisa mengoda pria kaya dan berharap pria kaya menikahimu, huh kau terlalu bermimpi!"


Sakit, sungguh kata kata Randi sangat menyakiti Nara saat ini. Meskipun kenyataannya memang seperti itu tapi tidak seharusnya Randi mengucapkan secara lantang didepannya.


"Pria jaman sekarang hanya mencari wanita baik untuk dijadikan istri, sementara wanita sepertimu hanya akan menjadi pelampiasan nafsu saja." kata Randi lagi lalu berdiri dari duduknya.


"Tubuhmu mengodaku pagi ini, tapi aku buru buru harus pergi ke akad nikah sahabatku. jangan berpikir kau bisa kabur dari sini karena aku pasti akan menemukanmu dan kembali menyeretmu disini." kata Randi lalu pergi meninggalkan Nara yang kini menangis.


"Sialan, pria brengsek!" umpat Nara merasa telah dihancurkan oleh Randi. Niat Nara ingin memanfaatkan Randi namun kini malah dirinya yang dimanfaatkan oleh Randi.


....


SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA AQIILATUNISA BAHHIYA ANGGARA BINTI SEAN ANGGARA DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN EMAS MURNI SERIBU GRAM DIBAYAR TUNAi.


"Bagaimana saksi?"


Sah

__ADS_1


Sah


Sah


Alhamdulilah.


Pak penghulu memimpin doa setelah Barra selesai mengucapkan Akad nikah.


"Alhamdulilah, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Ayo mbak istri cium tangan suaminya dulu." kata Pak penghulu dengan nada mengoda.


Dengan tangan gemetar, Qila mengambil tangan Barra lalu menciumnya, sementara tanpa menunggu komando dari Penghulu, Barra mencium kening mulus milik Qila, meski setelahnya Qila menatap Barra tak suka, namun Barra tak peduli, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, pikir Barra.


Kini Barra dan Qila melakukan sungkem pada kedua orangtua mereka, meminta doa restu untuk pernikahan mereka berdua.


"Kalau sampai kamu membuat putriku menangis, tak akan kubiarkan kamu melihat putriku lagi!" bisik Sean saat Barra sungkem padanya.


"Ayah tenang saja, Barra pasti jagain Qila dengan baik."


Sean hanya mendengus sebal mendengar jawaban santai Barra.


"Maaf, maafkan Barra ya nak sudah membuat kamu seperti ini. beri kesempatan Barra, insyaAllah Barra akan menjadi suami yang baik untukmu." kata Anya saat Qila sungkem padanya.


"InsyaAllah Ma." balas Qila dengan suara serak.


"Haloo mas Barra, aku Risha adiknya mbak Qila." Seorang gadis yang sama cantiknya dengan Qila tampak menyodorkan tangannya pada Barra.


"Ohh, jadi ini adiknya Qila." Barra tampak tersenyum ramah meskipun dirinya sedikit tak nyaman dengan sikap Risha yang sedikit centil berbeda jauh dengan Qila.


"Ya Allah, mas Barra ganteng banget. beruntung Mbak Qila dapet mas Barra." ucap Risha membuat Qila menatap ke arahnya tajam.


"Dek, nggak boleh gitu." ucap Qila memperingatkan adiknya.


Qila hanya memanyunkan bibirnya lalu berjalan menjauh dari Qila dan Barra.


"Maaf, dia memang seperti itu." ucap Qila menunduk tak berani menatap Barra.


"Tidak masalah."


Seseorang menepuk bahu Barra dari belakang membuat Barra menatap ke arah orang yang tak lain adalah Randi.

__ADS_1


"Sendiri?" tanya Barra melihat hanya Randi dibelakangnya.


"Yoi, Nathan masih diluar negeri, sementara Daniel mendadak saudaranya ada yang meninggal jadi cuma gue yang bisa kesini."


Barra tersenyum, "Thanks bro."


"Yoi... congrats, btw pinter banget Lo cari istri!" kata Randi menatap ke arah Qila yang menunduk.


Barra mengayunkan tangan nya, seolah ingin memukul Randi namun seketika Ia turunkan lagi, "Jaga mata Lo atau gue congkel!" ucap Barra membuat Randi terkekeh.


"Posesif amat!"


"Yang kayak gini emang harus diposesifin, seribu satu didunia." ucap Barra membuat Randi semakin tergelak sementara Qila tampak bingung dengan maksud Barra dan Randi.


Selesai acara akad nikah, siang harinya ada acara makan bersama keluarga besar Barra dan Qila dan sore harinya keduanya mengadakan pengajian syukuran dirumah Sean.


Pengajian selesai pukul sembilan malam, Setelah tamu undangan pulang. Kini Barra dan Qila memasuki kamar Qila karena malam ini mereka berdua tidur dikamar Qila.


Barra baru selesai mandi, Ia keluar dan melihat Qila sudah berbaring diranjang, mengenakan piyama juga hijab oblong. Barra menilik Qila yang memunggungi, Mata Qila sudah terpejam membuat Barra tersenyum, istrinya sudah tidur. entah memang sudah tidur atau hanya pura pura tidur, Barra memaklumi sika istrinya itu.


Barra memandangi sekeliling kamar Qila, Ia melihat dekorasi kamar Qila yang berwarna serba pink itu.


Barra duduk di meja rias milik Qila, Ia lihat hanya ada beberapa peralatan make up milik Qila. Barra tersenyum, memikirkan betapa sederhananya Qila istrinya itu.


Puas memandangi seisi meja rias, Barra iseng membuka lemari baju milik Qila dimana didalam lemari hanya ada baju gamis juga hijab syari yang digantung dan ada beberapa juga yang dilipat.


Barra mencari bingkai foto milik Qila namun Ia tak menemukan dimanapun, hingga ponsel Qila berdering dimeja membuat Barra penasaran dan membuka ponsel yang tak terkunci itu.


**Ameer


Maaf tidak bisa datang, selamat atas pernikahanmu.


Pesan singkat dari Ameer membuat Barra tersenyum sinis.


"You lost brother."


Barra meletakan ponsel Qila, sekali lagi Barra menganggumi wajah cantik Qila saat terpejam. membuat hatiny begitu tenang dan damai meskipun hanya memandanginya seperti ini.


Qila yang sebenarnya sejak tadi belum tertidur akhirnya tak kuat, Ia membuka matanya dan terkejut melihat Barra yang ada didepannya, tersenyum manis yang entah mengapa membuat Qila merasa melayang ke langit.

__ADS_1


Suaminya sangat tampan.


BERSAMBUNG**


__ADS_2