
Qila tengah duduk mennyadarkan punggungnya di sofa yang ada dikamarnya. Ia melihat Barra masuk ke kamar dengan wajah kesal.
"Ada apa lagi?" Batin Qila heran menatap suaminya. padahal tadi suaminya baik baik saja, kenapa sekarang sudah berubah lagi.
"Rasanya aku ingin memecat Nana." ucap Barra ikut duduk disamping Qila.
"Kenapa dipecat mas?"
"Waktu itu dia menipu kita dan sekarang dia berani menyentuhku."
Deg... jantung Qila berdegup kencang mendengar ucapan Barra. ternyata benar dugaan nya, ada yang aneh dengan Nana.
"Ke kenapa dia sampai menyentuhmu mas?"
"Dia bilang diwajahku ada kotoran, dia sudah lancang!"
Qila memperhatikan wajah Barra, tidak ada kotoran disana, hanya bulu mata Barra ada yang jatuh.
"Mungkin ini maksudnya mas." Qila mengambilkan satu bulu mata yang jatuh di pipi Barra.
"Hanya ini dan dia sebut kotoran? sialan memang!" kekesalan Barra bertambah.
"Istigfar mas, jangan mengumpat."
Barra menghela nafas panjang, "Bagaimana jika dia dipecat saja?"
"Terserah mas saja baiknya gimana." balas Qila yang memang tidak menyukai Nana.
"Lihat saja, sekali lagi dia membuat kesalahan. aku akan langsung memecatnya." ucap Barra yang diangguki oleh Qila.
Malam setelah sholat isya berjamaah, Barra dan Qila turun untuk makan malam.
Malam ini Barra tidak makan masakan Qila karena sejak pulang Qila hanya berbaring dikamar, merasa kelelahan.
"Rasanya tidak enak." ucap Barra kala menyendokan satu suap makanan ke dalam mulutnya.
"Nggak boleh ngomong gitu mas."
Hanya dua sendok suapan, Barra tidak memakan nya lagi.
"Aku masakin bentar ya mas?"
Barra mengangguk, bukan Ia tega membiarkan Qila masak namun Ia juga tak bisa makan masakan orang lain selain Qila.
"Aku temani."
Barra dan Qila berada didapur, Barra tampak membantu Qila mengupas bawang.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya ... kenapa disini?" tanya Nana mendekati Barra dan Qila.
Barra tampak acuh, sementara Qila mau tak mau menanggapi ucapan Nana.
"Mas Barra ingin dibuatkan sup." kata Qila menjaga perasaan Nana.
"Siapa yang masak makan malam?" tanya Barra.
"Saya Tuan..."
"Masakanmu tidak enak!" jawab Barra jujur membuat Qila terkejut dan mengedipkan mata pada Barra agar Barra lebih bisa menjaga perasaan Nana. Qila memang tidak menyukai Nana namun Ia masih bisa menjaga perasaan Nana.
"Maafkan saya Tuan, saya akan belajar lagi agar masakan saya jadi enak." ucap Nana sambil menunduk.
"Ya, sebaiknya kau ganti tugas saja. pasti banyak maid yang masakan nya lebih enak."
"Mas..." Qila mengingatkan Barra agar berhenti.
"Baiklah Tuan, biar besok maid lain yang mengurus masalah makanan." ucap Nana masih menunduk.
"Ya, sebaiknya kau pergi saja sekarang!"
"Astgafirullah mas!" Qila tampak kesal dengan Barra.
"Tidak apa apa nyonya, saya juga ingin istirahat." kata Nana langsung meninggalkan dapur.
"Aku kan cuma jujur aja sayang, apa salahnya. kamu jangan terlalu baik sama orang modelan gitu."
Qila hanya diam, tidak menjawab lagi karena merasa percuma berdebat dengan Barra yang tidak mau kalah.
Selesai makan malam, keduanya kembali ke kamar. seperti biasa Barra menghabiskan waktu untuk merokok di balkon kamarnya sementara Qila sudah berbaring sambil memainkan ponsel.
Barra ikut berbaring disamping Qila, mulai menciumi pipi Qila membuat Qila tahu jika Barra sedang menginginkan dirinya.
"Apa tidak apa apa mas melakukan setiap hari seperti ini?" tanya Qila usai keduanya selesai melakukan olahraga malam.
"Aku tidak tahu, besok kita tanyakan dokter saat check up." balas Barra yang langsung diangguki Qila.
...
Dua minggu berlalu, hampir setiap pagi Qila merasakan mual. Ia bahkan tidak bisa makan nasi selalu muntah lagi jika makan nasi. Hanya buah dan sayur itupun porsi sedikit karena jika terlalu banyak, Qila pasti akan memuntahkan lagi. Hal seperti ini tentu menjadi kekhawatiran Barra. Barra bahkan mengurangi jam kerjanya agar bisa selalu ada untuk Qila kapanpun Qila membutuhkan dirinya.
Seperti sore ini, Barra pulang kantor lebih awal agar bisa mengantar Qila check up kandungan.
"Janin nya tumbuh dengan baik, berat badan nya juga naik, bagus jika seperti ini." ucap Dokter Nita, dokter kandungan dikeluarga Barra.
"Tapi istri ku tidak bisa makan nasi, makan sayur dan buah pun tidak bisa banyak." ungkap Barra tampak khawatir.
__ADS_1
"Itu sudah biasa terjadi pada ibu hamil, asal masih ada asupan makanan yang masuk, sudah cukup. lagi pula berat badan istrimu bisa naik berarti tidak ada masalah untuk asupan makanan." ucap Dokter Nita yang langsung diangguki Barra.
"Ini Untuk resep obat dan vitamin nya." ucap Dokter Nita sambil menyodorkan secarik kertas pada Barra.
"Tunggu dulu, ada yang ingin ku tanyakan."
"Tanyakan saja apapun."
"Jika sedang hamil apa boleh hubungan suami istri setiap hari?" tanya Barra dengan raut wajah penasaran sementara disampingnya Qila tampak tersipu malu.
Dokter Nita tertawa, "Boleh asal jangan terlalu kasar. tapi kalau bisa ditahan lakukan dua hari sekali karena janin masih kecil, masih rentan. tunggu saat usia kandungan sudah empat bulan, sudah kuat dan aman."
"Ahh begitu, maaf kalau untuk menahan diri aku memang tak bisa." ungkap Barra jujur yang membuat Dokter Nita kembali tertawa.
Memang sejak hamil, Barra masih sama, masih meminta jatah hariannya setiap hari, hanya saja Ia sedikit mengurangi, jika biasanya Ia melakukan dua sampai tiga kali, namun sekarang hanya sekali saja.
Setelah menebus obat, keduanya pun pulang. Wajah Barra tampak bahagia begitu juga dengan Qila yang sangat bahagia karena Barra menyempatkan waktu untuk menemaninya check up.
"Nggak makan dirumah aja mas?" tanya Qila saat Barra menghentikan mobilnya didepan restoran jepang.
"Lagi pengen makan disini."
Qila terdiam, padahal sore sebelum Barra pulang Ia sudah memasak untuk Barra. sekarang Barra malah mengajaknya makan diluar, entah mengapa rasanya sedikit kecewa.
"Nggak mau makan disini?" tanya Barra melihat Qila terdiam.
"Eng enggak kok mas. aku ngikut mas aja." balas Qila pasrah.
Keduanya pun turun dari mobil. Barra langsung memesan makanan saat sudah memasuki restoran. Barra memesan banyak menu sementara Qila hanya memesan salad dan buah potong.
"Yakin mas bisa habis makanan segini banyak?" heran Qila karena tak biasanya Barra memesan makanan sebanyak ini.
Barra hanya mengangguk, mulutnya sudah sibuk mengunyah makanan yang Ia pesan. Dan diluar dugaan karena Barra berhasil menghabiskan semua makanan nya.
Setelah pulang, baru saja memasuki kamar, Barra kembali membuat Qila tercengang.
"Tadi kamu masak nggak sayang? aku mau makan lagi."
Qila menatap Barra tak percaya,
"Makan lagi? memang mas belum kenyang?"
"Nggak tau, tiba tiba laper lagi."
Qila benar benar terkejut, hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.
BERSAMBUNG
__ADS_1