
Barra bangun sedikit siang dari biasanya. karena kejadian semalam membuatnya tidak bisa tidur lagi hingga subuh baru lah diri nya bisa terlelap.
Barra baru keluar dari rumah, melihat salah satu maid sedang berdiri didepan gerbang sambil membawa sebuah botol di tangan nya. Barra menghentikan mobilnya, membuka kaca mobil agar bisa menatap wajah Maid nya itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Maid itu tampak gugup, "Sa saya hendak menemui nyonya untuk memberikan jus ini Tuan." Maid itu memperlihatkan botol yang ternyata berisi jus.
Barra ingat cerita Qila jika ada salah satu maid yang baik hati yang selalu mengantar jus untuk Qila setiap pagi karena memang kehamilan Qila yang menganggu pola makan Qila, membuat Qila jarang bisa makan nasi.
"Berikan saja resepnya, kau tidak perlu mengantar setiap pagi." kata Barra yang langsung diangguki maid itu.
"Baik lah Tuan."
Barra menutup kaca mobilnya, lalu kembali melajukan mobilnya.
Sesampainya dikantor, Barra melakukan briefing pagi. Rutinitas yang memang biasa Ia lakukan bersama para karyawan di kantor.
Tiga puluh menit cukup untuk briefing pagi, Barra segera menuju ruangan nya.
Di dalam ruangan ternyata sudah ada Emma yang menunggunya dengan wajah khawatir.
"Ada apa?"
Dengan tangan gemetar, Emma menyerahkan dua bungkus plastik obat, satu nya sudah kosong dan yang satu lagi masih berisi obat namun bentuk serbuk.
"Apa ini?" heran Barra menatap dua bungkus obat itu.
"Mifepristone obat penggugur kandungan. it itu yang digunakan Rani untuk campuran jus yang selalu di berikan nyonya setiap hari Tuan, baru tadi pagi saya melihat bungkus itu setelah Rani membuat jus dan-"
Dengan wajah marah, Barra berlari keluar tanpa menunggu ucapan Emma selesai.
__ADS_1
Emma menghela nafas panjang, Ia merasa dirinya terlambat mengetahui semua ini. Selama beberapa tahun terakhir Emma bekerja sebagai detektif bayaran dan tidak pernah gagal mengungkap kasus namun kasus ini sangat membuatnya kecewa karena dirinya terlambat. terlambat mengetahui jika pelaku nya adalah Rani. awalnya Emma pikir pelaku nya adalah Nana karena selama dirumah Barra, Maid yang selalu menyimpang adalah Nana namun kenyataan nya malah Rani, yang Ia pikir baik dan pendiam. Entah apa motif Rani melakukan ini, Emma hanya belum mengetahui.
Sekarang yang Emma harapkan, Barra tidak terlambat menyelamatkan Qila dan kandungan nya karena jika ditelisik, obat yang digunakan Rani bisa saja membuat Qila keguguran.
Sementara itu, Barra melajukan mobilnya sangat kencang menuju rumah mertuanya. Setelah mendengar penjelasan Emma, rasanya Barra ingin mencekik perempuan bernama Rani yang sudah berani ingin mencelakai istri dan calon anaknya.
Namun sepertinya Barra terlambat karena sampai disana, keadaan rumah cukup sepi dan yang membuat Barra terkejut ada ceceran darah di kursi depan rumah.
"Tu Tuan..." panggil salah satu pengawal yang baru saja keluar rumah.
"Kenapa sepi? dimana semua orang?"
"Mereka, mereka sedang mengantar Nyonya..."
"Mengantar kemana?" heran Barra melihat pengawal itu tampak ketakutan menjawab dirinya.
"Kerumah sakit Tuan."
Seketika kepala Barra berdenyut sakit setelah mendengar pengawalnya mengatakan rumah sakit. Apa yang sudah Ia takutkan dan bayangkan akhirnya terjadi.
Barra berjalan pelan memasuki rumah sakit, entah mengapa kaki nya terasa berat untuk melangkah sampai dalam. Rasanya Barra tak siap mendengar apapun apalagi jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya. Tidak, Barra tidak akan memaafkan siapapun termasuk dirinya sendiri.
"Barra..." Anya Mama Barra yang ternyata sudah lebih dulu sampai dirumah sakit.
"Mama hubungi kamu dari tadi kenapa nggak diangkat?"
"Qila mana mah? gimana keadaan Qila?"
Anya menghembuskan nafas panjang, "Mama belum tahu karena dokter belum keluar, ayo kita kesana temui mertua sama papa kamu." ajak Anya menepuk bahu Barra lalu mengajaknya menunggu didepan ruang UGD.
Zara, Sean juga Zayn sudah berada didepan ruang UGD, mereka tampak cemas. Setelah kedatangan Barra, tak ada yang menyapa apalagi Sean yang malah langsung memalingkan wajahnya seolah tak ingin menatap wajah Barra.
__ADS_1
Barra tahu, sangat tahu kenapa mertuanya bisa bersikap seperti itu, mungkin mertuanya kecewa pada Barra yang tidak bisa menjaga Qila dengan baik. Musuh Barra terlalu banyak hingga membuat istrinya pun ikut celaka.
Mengingat itu membuat Barra kembali mengingat sosok Rani, maid yang Ia temui tadi pagi sebelum berangkat, tangan Barra mengepal, jika saja Barra mengetahui sejak awal, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Dan yang sedari tadi menganggu pikiran Barra adalah tentang siapa sebenarnya Rani? apa motif Rani melakukan semua ini?
Pintu ruang UGD terbuka, semua orang yang tadinya duduk kini sudah berdiri untuk mendekat ke dokter.
"Beruntung luka sayatan di perutnya tidak dalam jadi tidak melukai janin nya."
"Luka sayatan?" Barra tampak terkejut karena Barra pikir Qila keguguran setelah minum jus berisi obat penggugur kandungan.
"Ya, pasien terkena luka sayatan yang cukup panjang dibagian perut, sudah dijahit dan sekarang hanya perlu istirahat."
"Alhamdulilah." Anya dan Zara serentak mengucap syukur.
Mereka pun masuk untuk mengetahui keadaan Qila kecuali Zayn yang langsung mencegah Barra untuk masuk dan mengajaknya duduk di taman.
"Apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai, mungkin pepatah itu yang sekarang terjadi dikeluarga kita." ucap Zayn.
"Apa Papa sudah tahu semuanya? apa Papa sudah tahu siapa wanita itu?"
Zayn menghela nafas panjang, "Dulu sebelum bertemu Mama kamu kelakuan Papa sangat bejat, sangat tidak pantas disebut manusia, itulah mengapa Raisa kakak kamu mengalami semua itu, karena Papa kamu juga pernah melakukan hal yang sama." jelas Zayn dengan air mata berlinang membuat Barra terkejut.
"Papa sudah ikhlaskan semuanya, Papa bahkan tidak lagi peduli dengan orang yang sudah membunuh kakak kamu karena Papa tahu, semua ini karma, apa yang terjadi ini hukuman dari masa lalu Papa, Papa yakin pembunuh itu pun akan menerima karma nya suatu hari nanti, tapi ternyata kamu tidak bisa seperti Papa. dendam kamu lebih besar hingga melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kamu lakukan."
Barra menunduk, merasa Papa nya telah mengetahui semuanya.
"Ini hukuman dari Allah untuk kamu Barra. jangan lagi dendam atau pun marah karena semua akan berakhir seperti ini suatu hari ini."
Barra masih menunduk, entah mengapa ucapan Papa nya membuat rasa dendam pada Rani hilang seketika.
__ADS_1
"Ikhlaskan segalanya, hiduplah sebaik mungkin agar keluargamu juga baik baik saja. Kita memang pendosa tapi berubahnya sebelum terlambat. sebelum suatu hari nanti anak anak kamu melakukan hal yang sama yang membuat kita merasa berdosa. Tidak Barra, jangan lagi. cukup Papa yang merasakan semua ini. kamu jangan."
Zayn berdiri, menepuk bahu Barra sebelum akhirnya Ia pergi meninggalkan Barra.