The Devil Barra

The Devil Barra
30


__ADS_3

Barra melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat karena masih ingin bersama Qila meskipun sedari tadi Qila melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya namun Barra tak peduli, Ia hanya masih ingin memandangi bidadari surganya lebih lama.


"Temanku sekantor ada yang suka diantar makan siang istrinya." kata Barra tiba tiba.


"Ohh, iya temanku juga ada yang seperti itu." balas Qila datar.


Barra tersenyum, "Nanti siang kita-"


"Mas bisa agak cepetin nggak soalnya hari ini ujian anak anak, aku nggak boleh telat." kata Qila yang akhirnya membuat Barra pasrah dan merasa gagal.


"Siap Ayank." balas Barra.


Qila tersenyum, menggelengkan kepalanya memdengar Barra memanggilnya Ayank.


Sesampainya didepan sekolahan, Qila buru buru mengambil tangan Barra lalu menciumnya,


"Aku berangkat mas, Assalamualaikum."


"Wa alaikumsalam istriku yang cantik." balas Barra membuat Qila kembali tersenyum.


Barra masih memperhatikan langkah istrinya dari mobil, setelah Qila tidak lagi terlihat, Barra kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


"Bar, gue ada cewek gress plus seksi dijamin Lo bakal ketagihan." kata Rina yang seolah tak menyerah membujuknya padahal Rina tahu jika Barra sudah menikah.


"Gue udah nikah, Lo masih aja nawarin gue begituan." kesal Barra.


"Ya kali aja Lo nggak puas sama service istri Lo." Balas Rina santai.


"Nggak Rin, nggak lagi. gue beneran mau tobat."


Rina menghela nafas panjang, menatap Barra sebentar lalu pergi meninggalkan ruangan Barra tanpa mengatakan apapun.


Siang hari saat jam makan siang, Barra sengaja keluar untuk menjemput istrinya, Ia sudah mengirim pesan pada istrinya jika akan menjemput dan saat ini Barra sudah berada didepan sekolahan, menunggu sang istri keluar.


Tampak dari gerbang, Qila berjalan keluar dan saat berada didepan, sebuah motor berhenti didepan Qila, seorang pria membuka helmnya lalu berbicara dengan Qila, entah apa yang mereka bicarakan, Barra hanya melihatnya dari dalam mobil.


Qila tampak acuh pada pria itu, bahkan terlihat menggelengkan kepalanya seperti sedang menolak pria itu. Barra yang kesal melihat pemandangan seperti itu hendak keluar namun baru ingin membuka pintu, Qila sudah berjalan meninggalkan pria yang masih disana.


"Siapa?" tanya Barra saat Qila baru saja memasuki mobil.


"Eumh, dia salah satu guru disekolahan ini." balas Qila tampak gugup.


"Dia menyukaimu?"


"Ti tidak."


Barra mengerutkan keningnya tak percaya,


"Aku tidak tahu." balas Qila akhirnya.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas Barra,


Barra segera melajukan mobilnya tanpa mengatakan apapun lagi.


Hening didalam mobil, sesekali Qila melirik ke arah Barra, memastikan jika Barra sedang tidak marah, namun sepertinya Barra terlihat kesal.


"Ma mas mau makan siang?"


Barra menggelengkan kepalanya, "Aku makan dikantin saja setelah mengantarmu pulang."


Qila mengangguk saja karena dirinya juga tak tahu harus melakukan apa agar Barra tak lagi marah padanya.


Setelah mengantar Qila, Barra melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor. Mood Barra sangat kesal saat ini karena melihat pria yang berani mengoda Qila padahal status Qila saat ini sudah bersuami dan pria itu berani sekali mengoda Qila.


Brakk... Barra memukul stir mobilnya.


"Sial!"


Sesampainya dikantor, Barra yang sudah kelaparan makan dikantin kantor. Barra yang tadinya duduk sendiri kini sudah ada Rina didepannya.


"Kirain makan siang sama Bini Lo." ucap Rina sambil menikmati makanannya.


"Lo bisa minggir dulu nggak? lagi nggak mau ngomong sama siapapun." kata Barra dengan nada kesal.


Rina tertawa, "Lagi ribut nih, oh ya jangan lupa kalau butuh kehangatan Lo bisa calling gue." kata Rina lalu membawa piringnya pergi meninggalkan meja Barra.


Barra hanya mengeram kesal, melihat makanannya dipiring pun rasanya sudah tak nafsu lagi.


Barra pulang kerumah sore hari, Ia masih disambut sikap acuh Sean berbeda dengan Zara yang kini sudah kembali ramah padanya.


"Sudah pulang nak? Qila ada diatas lagi ngaji kayaknya." kata Zara.


"Barra naik ke atas dulu ya Bunda." pamit Barra yang langsung diangguki Zara.


Sesampainya didepan kamar Qila, Barra mendengar suara Qila melantunkan ayat suci Alquran, Barra mengurungkan niatnya untuk masuk, Ia memilih duduk didepan pintu sambil mendengarkan suara merdu Zara dari luar.


"Mas ngapain disitu?" heran Risha saat melewati kamar Qila.


"Shhttt, lagi dengerin Mbak kamu ngaji." ucap Barra dengan nada berbisik membuat Risha terkekeh.


"Ck, ngapain nggak dengerin didalem."


"Nggak apa ap-"


Pintu kamar terbuka mengejutkan Barra, Barra berbalik dan melihat Qila masih mengenakan mukena.


"Mas sudah pulang?"


"Mau masuk nggak berani katanya mbak." celetuk Risha sambil tertawa dan langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"Bukan nggak berani, takut ganggu kamu ngaji." jelas Barra.


Qila tersenyum, "Enggak ganggu kok mas."


Qila akhirnya mempersilahkan Barra masuk ke kamarnya. Qila menyiapkan baju ganti Barra saat Barra sedang mandi.


Qila dibuat terkejut melihat Barra bertelanjang dada, seketika Qila menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


Barra yang usil akhirnya mengoda Qila, sengaja mendekati Qila yang menutup matanya. Qila yang melirik apa Barra sudah berpakaian atau belum pun terkejut melihat Barra berdiri didepannya masih telanjang dada.


"Kenapa malu? padahal semua ini milik kamu dan kamu bisa menyentuhnya jika mau." kata Barra membuat pipi Qila memerah malu.


"Bisakah mas pakai baju sekarang? aku sudah menyiapkannya disana." Qila menunjuk ranjang nya dimana ada pakaian ganti Barra disana.


Barra tertawa, "Padahal aku berharap kamu menyentuhku."


Puas mengoda Qila, Barra segera mengenakan pakaian nya.


"Ngaji lagi, aku masih ingin mendengar suara merdumu." pinta Barra.


"Sebentar lagu adzan magrib mas, jadi sebaiknya sholat magrib lebih dulu."


Barra mengangguk menurut, keduanya kembali sholat magrib berjamaah, setelah itu Qila dan Barra turun untuk makan malam bersama.


"Resepsi pernikahan kalian satu bulan lagi." kata Sean saat mereka sedang makan malam bersama.


"Dan mulai besok, kamu juga yang akan mengurus perusahaan Ayah." kata Sean lagi.


"Ayah percaya perusahaan Barra urus?" tanya Barra memastikan.


"Asal jangan mengecewakanku lagi."


Barra tersenyum , "Tentu saja tidak Ayah."


"Dan besok pagi, kalian bisa pindah ke apartemen Barra." kata Sean yang langsung disambut senyuman sumringah Barra sementara Qila hanya membulatkan matanya tak percaya.


"Jadi Qila hanya tinggal berdua dengan mas Barra?"


"Iya dong sayang, kamu kan istri dan seorang istri wajib mengikuti suami kemanapun suami berada." jelas Zara.


"Tapi bunda, Qila masih belum..."


"Jika Qila tidak mau, kita bisa tinggal disini sampai Qila mau tinggal berdua di apartemen." kata Barra yang tidak ingin memaksa Qila.


"Ck, tidak bisa. kalian harus segera tinggal berdua dan cepat beri kami cucu."


Barra tersenyum semakin lebar, mendengar cucu membuat Barra kembali bersemangat.


"Cucu nya otewe yah, otewe."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2