The Devil Barra

The Devil Barra
52


__ADS_3

Barra masih terlihat emosi, Ia yang tadinya sudah ingin pun mendadak rasa inginnya itu hilang.


Barra bahkan berbaring memunggungi Qila, mood nya hancur sudah karena ulah Nana.


Qila yang melihat mood suaminya sedang buruk tampak memikirkan sesuatu agar bisa membuat Suaminya senang.


Meski ragu, Qila membuka lemari, Ia ambil salah satu lingerie yang ada dilemari, koleksi lingerie yang memang Barra siapkan untuknya namun belum sempat Ia pakai satupun.


Qila mengambil Lingerie berwarna merah muda yang sangat cocok di kulit putih mulusnya.


Dengan tangan gemetar, jantung berdegup kencang, Qila berjalan pelan mendekati Barra. Kini Qila sudah berada didepan Barra yang memejamkan mata.


"Mas..." panggil Qila pelan sambil menyentuh lengan suaminya.


"Hmm, tidur saja." gumam Barra masih dengan mata terpejam.


"Yakin nggak mau lihat dulu? nanti nyesel lho." ucap Qila membuat Barra akhirnya membuka matanya.


Barra tersenyum lebar setelah melihat penampilan Qila yang mengoda, meskipun pipi Qila merah merona sebab menahan malu namun usaha istrinya itu sudah membuat moodnya lebih baik.


Barra akhirnya bangun dan duduk dipinggir ranjang, menarik tangan Qila membawanya duduk di pangkuan nya.


"Mau ngapain neng?" Goda Barra membuat pipi Qila semakin memerah malu.


"Mas ih, buruan."


"Buruan apa sih?" Barra semakin senang mengoda Qila.


"Ya Allah mas, aku udah malu gini. ya udahlah aku ganti baju aja."


Baru ingin bangkit, Barra kembali menarik tangan Qila hingga jatuh dipangkuan Barra lagi.


"Masa usaha cuma setengah aja, belum juga di apa apain udah mau ganti baju aja neng."


Qila memanyunkan bibirnya, "Mas pakai godain aku, kan aku malu."


Barra terkekeh, "Kenapa malu? aku udah lihat semua padahal."


Qila tersenyum, "Ya tetep aja malu mas."


Barra menatap wajah Qila, hasratnya yang tadi sempat hilang kini sudah kembali lagi. tak mau berlama lama, Barra segera memulai olahraga malamnya bersama Qila.

__ADS_1


"Terimakasih sayang." ucap Barra sambil mengecup kening Qila kala keduanya sudah selesai melakukan olahraga malam.


"Hmm, jangan marah lagi mas. aku takut."


Barra terkekeh, "Aku nggak marah sayang, mana bisa sih marah sama kamu."


Qila memanyunkan bibirnya, merasa ucapan Barra bohong karena setiap mood Barra buruk, Ia pun ikut menjadi sasaran.


"Maaf ya kalau mood ku suka berubah berubah, kadang ngebentak kamu. marah sama kamu." akui Barra yang akhirnya membuat Qila tersenyum.


"Aku nggak mau lihat kamu marah mas, aku takut."


"Iya sayang, maafin aku." Barra kembali mengecup kening Qila, membuat suasana semakin hangat.


Puas berbincang keduanya pun segera tidur.


Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan. tanpa disadari Qila dan Barra sudah tinggal dirumah baru mereka selama dua bulan.


Dan sejak kejadian malam dimana Barra sangat marah dengan Nana, sejak itu pula Nana bersikap lebih baik, tidak lagi melakukan sesuatu yang membuat Barra kesal. Nana terlihat berjaga jarak dengan kedua majikannya dan hanya fokus dengan pekerjaan nya saja, sepertinya Ia benar benar takut dengan ancaman Barra yang akan memecatnya.


Seperti pagi ini, Setelah menyiapkan sarapan dimeja makan, Nana segera mengambil alih pekerjaan lain tidak lagi mengusik kedua majikannya.


"Siang ini aku nggak bisa jemput kamu pulang sekolah, ada meeting sama klien." ucap Barra sambil memasukan potongan roti ke dalam mulutnya.


"No, biar kamu dijemput sama pak Parto. percuma dong punya sopir kalau kamu masih naik taksi." ucap Barra yang memang mengerjakan Pak Parto untuk mengantar jemput Qila jika dirinya tengah sibuk.


"Ya udah mas, Iya."


Selesai sarapan, keduanya segera berangkat. seperti biasa Barra selalu mengantar istrinya ke sekolah lebih dulu sebelum Ia pergi ke kantor.


Melihat kedua majikannya sudah pergi, Nana berjalan menuju kamar Barra. Ia memasuki kamar dengan membawa alat kebersihan karena memang Ia ingin membersihkan kamar Barra dan Qila.


Nana melihat ranjang yang sudah rapi, selalu rapi setiap kali Nana memasuki kamar Barra dan Qila.


Sebenarnya tugas membersihkan kamar bukan tugas Nana karena tugas Nana berada didapur namun Nana mengambil alih tugas kebersihan dari maid lain. Ia memang suka memasuki kamar Barra dan Qila apalagi melihat barang barang pribadi keduanya.


Bahkan sering Nana membuka lemari Qila dan melihat koleksi lingerie milik Qila yang sangat Ia sukai. terkadang Nana mencoba memakai salah satu karena terlalu menyukai koleksi lingerie milik Qila.


Selesai membersihkan kamar, Nana menyempatkan diri berdiri diatas bingkai foto pernikahan Barra dan Qila yang ada dikamar. Ia tersenyum sinis menatap foto bahagia Qila dan Barra sebelum akhirnya Nana keluar dari kamar Barra.


Sementara itu, Qila yang baru mengajar jam pertama merasakan kepalanya pusing dan perutnya mual. Qila mencoba menahan diri karena Ia masih dikelas. beruntung Qila masih bisa menahan nya sampai kelasnya berakhir.

__ADS_1


Qila segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya karena mualnya semakin terasa.


Setelah lega, Qila keluar dari kamar mandi, perutnya masih mual namun tidak keluar apapun, akhirnya Qila pergi ke klinik untuk meminta obat gosok karena Qila merasa dirinya gejala masuk angin.


"Dari kapan mbak mualnya?" tanya suster yang berjaga di klinik.


"Baru pagi ini, padahal pas dirumah baik baik saja." ungkap Qila membuat suster itu mengerutkan keningnya.


"Jangan jangan hamil." celetuk suster itu membuat Qila terkejut.


Benarkah? benarkah jika Qila hamil? jika benar Ia pasti akan sangat senang namun jika tidak pasti akan mengecewakan.


"Coba periksa ke dokter atau tespack dulu."


Qila diam, memikirkan saran dari suster,


"Tapi takut jika hasilnya negatif."


Suster itu tersenyum, "Jika memang negatif, berarti belum rezekinya."


Qila mengangguk, membenarkan ucapan Suster itu.


Dan sepulang dari mengajar, Qila memberanikan diri untuk periksa disalah satu rumah sakit yang tak jauh dari sekolah tempat dirinya mengajar.


"Non Qila sakit?" tanya Pak Parto kala mobilnya sudah berhenti didepan rumah sakit.


"Eng enggak kok pak, cuma mau check up aja. tolong jangan bilang sama mas Barra ya pak, takut malah jadi khawatir." kata Qila yang tak ingin suaminya tahu sebelum Ia memastikan dirinya benar benar hamil.


"Siap non, aman pokoknya."


Qila tersenyum lega, Ia segera keluar dan memasuki rumah sakit.


Qila segera menuju tempat pendaftaran, namun karena antrian cukup banyak akhirnya Ia pergi ke kantin lebih dulu untuk membeli cemilan, mengganjal perutnya yang lapar.


"Qila, kaukah itu?" panggil seseorang yang membuat Qila menengok ke arah orang itu.


"Ameer?"


Ameer tersenyum tampak berlari mendekati Qila.


"Setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihatmu lagi."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2