
Qila membuka matanya, Ia merasakan pergelangan tangannya sedikit nyeri dan baru sadar jika dirinya sedang berada dirumah sakit dan tangannya di infus.
Qila merasakan tenggorokannya kering, Ia haus. Mata Qila mencari keberadaan Barra yang ternyata terlelap di sofa.
Qila berusaha bangun, meski seluruh badannya terasa remuk. Ia melihat jarum jam dinding yang menunjuk pukul 3 pagi.
Ia ingin membangunkan Barra namun melihat Barra yang terlelap dan tampak kelelahan akhirnya tak tega.
Qila menatap ke arah gelas yang berisi air putih yang ada dimeja samping ranjangnya. Tangannya berusaha meraih gelas itu namun sayangnya, Qila menjatuhkan gelas itu yang membuat Barra terkejut dan bangun.
"Maa maaf mas..." Qila menatap takut ke arah Barra yang kini tampak menatapnya tajam.
"Ada apa? apa yang terjadi?" Barra langsung bangkit dan berjalan mendekati ranjang dan melihat ceceran pecahan gelas membuat Barra tahu jika Qila baru saja memecahkan gelas.
"Aku hanya ingin mengambil air minum, malah menjatuhkannya." ucap Qila yang kini menundukan kepalanya.
"Sayang, seharusnya kamu membangunkanku tadi." kata Barra sambil mengelus Kepala Qila penuh kelembutan.
"Aku tidak ingin menganggu tidurmu mas." ungkap Qila yang akhirnya memberanikan diri menatap Barra karena tahu Barra tidak marah padanya.
Barra terdengar mendecak dan langsung membuka botol air mineral yang ada dimeja, tak lupa memberi sedotan agar Qila lebih mudah meminumnya.
"Adanya aku disini itu buat jagain kamu, buat bantuin apapun yang kamu butuhin. kalau kamu nggak mau ngomong minta tolong sama aku, percuma dong aku disini cuma dianggap patung sama kamu." ucap Barra.
"Maaf Mas.." balas Qila menerima air mineral dari Barra dan langsung menyedotnya hingga habis setengah. Kini tenggorokan Qila terasa lega.
Selesai memberi air mineral pada Qila, Barra segera membersihkan pecahan kaca dengan sapu yang Ia pinjam dari ruangan OB.
"Maaf ya mas." ucap Qila lagi merasa tak enak dengan Barra yang harus membersihkan pecahan gelas yang Ia jatuhkan.
"Nggak apa apa sayang,"
Qila terlihat lega, mendengar suara Barra yang lembut dengannya yang menandakan jika Barra tidak marah padanya.
"Mas tidur lagi saja." kata Qila setelah Barra kembali masuk keruangannya.
Barra menatap arah jarum jam, "Mau sholat tahajud dulu, doain istriku biar cepat sembuh." kata Barra yang membuat Qila langsung mengulas senyum lebar di bibirnya.
Selesai sholat, Barra melipat sajadah juga sarung yang dibawakan oleh Anya. Ia menatap ke arah Qila yang belum kembali tidur.
"Tidur lagi." ucap Barra sambil mengecup kening Qila.
__ADS_1
"Nggak bisa tidur lagi mas."
"Jangan jangan..." Barra menatap Qila nakal.
"Jangan jangan apa mas?"
"Jangan jangan nggak bisa tidur gara gara belum dianuin." ucap Barra sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Qila akhirnya paham.
"Ya Allah mas..."
Barra tertawa melihat ekspresi terkejut dari wajah Qila,
"Kenapa nggak bilang sayang."
"Aku nggak pengen mas!" ucap Qila kesal.
"Nggak maksud aku, kenapa nggak bilang kalau kamu kecapekan." kata Barra sambil mengelus lembut kepala Qila.
"Harusnya kamu bilang kalau lagi capek, jadi aku nggak minta buat itu. aku minta maaf karena terlalu menuruti hawa nafsu sampai nggak mikirin kondisi kamu." ungkap Barra merasa sangat bersalah.
"Aku bahkan sampai nggak tahu kamu sakit."
Qila tersenyum, "Sudah mas sudah jangan merasa bersalah. memang sudah kewajiban aku melayani mas. aku tidak bisa menolak karena takut dosa mas." jelas Qila.
Jadi kalau sekarang aku minta, nggak nolak nih?" Barra kembali mengedipkan matanya mengoda Qila.
"Mas... aku lagi sakit lho, masa tega mau minta." ucap Qila memasang raut wajah memelas membuat Barra tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Bercanda sayang, aku mana mungkin tega sih ngeliat istriku kesakitan." kata Barra kembali mengelus kepala Qila.
"Pas kemarin tega ngeliat aku kesakitan waktu lagi di villa." kata Qila mengingatkan.
Barra kembali tergelak, "Kalau nggak gitu, nanti cucunya nggak jadi jadi dong sayang."
Kini giliran Qila yang tertawa.
"Makasih mas.."
"Makasih untuk?"
"Makasih udah mau nemenin aku disini padahal kamu lagi sibuk sibuknya."
__ADS_1
Barra mengangguk, "Apa sih yang enggak buat istriku."
"Ck, mulai gombalnya."
Barra kembali tergelak,
Mendengar suara adzan subuh, Barra segera menyegerakan sholat, begitupun dengan Qila meskipun harus sholat diatas ranjang Ia tetap menunaikan kewajibannya.
Selesai sholat subuh, Barra keluar untuk membelikan Qila sarapan bubur.
"Nanti Mama kesini buat nemenin kamu. kalau aku tinggal sebentar tidak apa apa kan sayang?" tanya Barra saat menyuapi Qila makan.
"Nggak apa apa mas, aku udah baikan kok."
Dan benar saja, setelah Anya datang Barra pamit untuk keluar.
Awalnya Qila pikir Barra hanya sebentar namun nyatanya hingga sore hari Barra belum juga kembali kerumah sakit.
"Barra kemana sih, ditelepon nggak diangkat, bilangnya keluar sebentar tapi sampai sore belum juga kesini." omel Anya terdengar kesal.
"Mama pulang saja, Qila baik baik aja kok disini sendiri." kata Qila merasa tak enak dengan Mama mertuanya.
"Mama ngomel bukan karena nggak mau nungguin kamu sayang, mama cuma kesel sama Barra, udah tahu istrinya sakit masih aja ngurus kerjaan padahal kerjaan juga sudah dihadle sama Papa kamu. kemana coba tuh anak!" kata Anya masih saja mengomel.
"Mungkin mas Barra ada urusan lain Ma." balas Qila berusaha membela Barra meskipun pikirannya sendiri tengah kalut karena memikirkan keberadaan Barra.
Kamu kemana sih mas? tadi bilangnya sebentar...
Anya masih setia menunggu Qila sampai Barra kembali dan tepat pukul sembilan malam, Barra baru kembali keruangan Qila.
"Kamu ini bener bener deh, udah tahu istrinya lagi sakit masih aja ngurus kerjaan!" omel Anya pada Barra yang baru memasuki ruangan Qila.
"Barra nggak kerja Ma.. bukan masalah kerjaan." balas Barra dengan suara pelan, takut menganggu tidur Qila padahal Qila belum tidur hanya pura pura memejamkan mata karena tak ingin melihat Barra.
"Trus masalah apa? kasihan istri kamu dari tadi nungguin. katanya pergi sebentar tapi nyatanya seharian, emang bener bener deh kamu!" Anya masih saja mengomeli Barra membuat Barra akhirnya diam.
Setelah puas mengomel, Anya pulang tanpa pamit pada Qila melihat Qila sudah memejamkan matanya.
Barra duduk dikursi, Ia memegangi tangan Qila sambil menatap wajah lelap Qila.
"Maafin aku sayang." gumam Barra sambil menciumi tangan Qila.
__ADS_1
Qila yang sebenarnya belum tidur dan bisa mendengar ucapan Barra, bertambah kekalutannya merasa penasaran sebenarnya Barra darimana namun Ia tak ingin menanyakan nya pada Barra karena Qila tengah kesal Barra membohongi dirinya yang katanya pergi sebentar nyatanya seharian baru kembali.
Bersambung...