
Qila menatap suaminya dengan tatapan kesal, bagaimana tidak kesal jika pagi ini Ia harus mandi dua kali karena menuruti hasrat Barra yang seolah tak ada habisnya.
Setiap kali mereka berdekatan, Barra meminta lagi lagi dan lagi. Entah apapun yang sedang Qila lakukan jika Barra sudah mendekat akan berakhir diranjang lagi.
"Kamu nggak sarapan mas?" tanya Qila setelah selesai mandi untuk yang ketiga kalinya. Qila melihat dimeja makanan Barra masih utuh padahal miliknya sudah habis.
"Suapin." pinta Barra dengan suara manja.
Sungguh Qila benar benar tak menyangka jika Barra pria arogant itu bisa semanja ini jika sedang berdua.
Tanpa mengatakan apapun, Qila segera mengambil piring berisi makanan lalu duduk disamping Barra.
"Kayaknya suapin pakai mulut tambah enak." celetuk Barra membuat Qila menatap heran ke arahnya.
"Mas sekarang kok jadi mesum terus sih!"
Barra terkekeh, "Mesum sama istrinya sendiri nggak apa apa dong."
"Iya lah kalau mesum sama istri orang bisa bisa digorok nanti kamu mas."
Barra semakin terkekeh, "Ternyata istriku bisa bercanda juga."
"Aku serius mas, kalau mas deketin istri orang nanti dihajar sama suaminya."
Barra akhirnya tersenyum, Ia mengingat dua tahun yang lalu dimana Ia pernah tertarik dengan istri temannya, dan tak menyangka temannya itu sukarela memberikan satu malam agar Barra bisa mencicipi wanita itu namun tentu saja tidak gratis karena waktu itu teman Barra memang sedang membutuhkan banyak uang dan hanya Barra yang bisa memberikan uang pada temannya itu.
Jika saja Qila tahu seburuk apa dirinya dulu, apa Qila masih mau bersamanya saat ini?
"Kok malah ngalamun mas, mikirin apa?"
"Mikirin kamu."
Langsung saja pipi Qila memerah malu,
Selesai sarapan keduanya kini jalan jalan ke pantai dekat Villa tempat mereka menginap. Pantai yang sangat indah dan masih sepi pengunjung, hanya ada beberapa orang yang disana.
"Mau aku fotoin?" tawar Barra.
"Enggak mas."
"Kenapa?" heran Barra mengingat wanita biasanya suka berfoto jika sedang liburan.
"Malu aja mas." balas Qila menundukan kepalanya membuat Barra gemas.
Barra mendekat lalu merangkul bahu Qila, "Udah di apa apain sampai keenakan masih aja malu."
"Ih mas!" Qila memukul dada Barra saking malunya.
"Aduh sakit." Barra memegangi dadanya yang baru saja dipukul oleh Qila.
"Maaf mas, Ya Allah sakit banget ya." Qila menatap Barra khawatir membuat Barra tersenyum geli padahal dirinya hanya bercanda.
__ADS_1
"Mas... ngeselin!"
Qila melepaskan rangkulan Barra lalu berjalan menjauh membuat Barra tertawa dan segera menyusul Qila.
"Dah berani ngambek sekarang!" suara Barra pura pura marah membuat Qila terkejut sekaligus takut.
Barra kembali tertawa, "Aku cuma bercanda sayang."
"Ya Allah mas!"
"Udah ah udah, nanti ngambek beneran malah nggak dapet jatah lagi." celetuk Barra kembali merangkul Qila dan mengajaknya berjalan jalan.
Setelah puas berjalan jalan, keduanya kembali ke villa untuk istirahat karena merasa lelah dan mengantuk.
"Siang Tuan, Nona..." sapa seorang pria tampan yang masih muda tersenyum pada Qila dan Barra.
"Kamu siapa?" tanya Barra tampak curiga.
"Saya yang biasa menjaga dan membersihkan Villa ini Tuan, kemarin saya sedang pulang kampung jadi baru hari ini bisa kesini." jelas pria itu.
"Ah begitu, ya sudah lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik Tuan."
Barra segera mengajak Qila memasuki kamar, keduanya segera membersihan diri dari pasir pantai. setelah sholat dzuhur, keduanya langsung terlelap diranjang.
Qila yang tidak biasa tidur siang, hanya bisa memejamkan matanya satu jam saja. Ia bangun lebih dulu dari Barra.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Qila pada pria muda penjaga Qila yang tampak berjongkok seperti sedang memberi sesuatu.
"Nona mengagetkan saya." balas Pria itu yang tenyata sedang memberi makan seekor kucing.
"Saya menemukan dijalan, karena kasihan maka saya bawa kemari." jelas Pria itu.
"Kucingnya terlihat cantik." puji Qila yang juga memang menyukai hewan terutama kucing.
"Ya dia sangat cantik seperti no-" pria itu tampak tak melanjutkan ucapannya.
"Seperti siapa?"
"Tidak Nona, tidak ada."
"Baiklah jika seperti itu, aku akan kembali ke dalam."
"Tunggu Nona..."
"Ya ada apa?" tanya Qila kembali membalikan badannya.
"Anu, bisakah saya minta tolong sesuatu.."
"Apa?"
__ADS_1
"Jika tidak keberatan, bisakah nona memandikan kucing ini."
Qila tersenyum dan mengangguk membuat pria itu senang dan langsung menyiapkan segala kperluan yang dibutuhkan.
"Nama saya Rino Nona, panggil saja Rino." kata Pria itu saat Qila baru ingin menanyakan namanya.
"Oh ya Rino, aku akan memanggilmu Rino."
Qila mulai fokus memandikan kucing lucu yang memang sangat kotor itu. tanpa Qila sadari, Rino sedari tadi memandangi Qila dengan pandangan takjub bahkan hampir saja tak sadar mengelus puncak kepala Qila yang tertutup hijab.
"Apa yang kalian lakukan?" suara seorang pria dari depan pintu mengejutkan keduanya, apalagi Rino yang hampir saja menyentuh kepala Qila.
"Mas... kamu sudah bangun." balas Qila tersenyum menatap Barra yang berjalan mendekat.
"Kembali ke kamar!" kata Barra menarik tangan Qila yang belum selesai memandikan kucing.
"Ta tapi mas...
"Apa kamu mau membantah suamimu!" suara Barra terdengar mulai marah membuat Qila akhirnya menurut.
"Keringkan bulunya dengan hairdryer." kata Qila sebelum tangannya ditarik oleh Barra dan akhirnya mengikuti langkah kaki Barra.
"Pelan pelan mas." ucap Qila yang kewalahan mengikuti langkah lebar Barra.
"Kamu ngapain disana tadi? sama pria lain lagi!" Tanya Barra saat keduanya sudah berada dikamar.
"Ya Allah mas, jangan negatif thingking dulu. aku cuma bantuin dia mandiin kucing yang dia temuin dijalanan." jelas Qila.
"Nggak mau tahu, nggak seharusnya kamu dekat sama pria lain selain suami kamu. bukannya kamu udah paham itu?"
Qila menunduk, Ia baru menyadari jika dirinya salah. "Iya mas, maaf. aku salah."
Barra menarik tangan Qila dan langsung membawanya ke ranjang, "Minta maaf dengan cara kayak gini baru dimaafin." kata Barra mulai membuka hijab Qila dan langsung menciumnya.
"Mas..." Qila tertawa karena geli sebelum akhirnya Ia pasrah dengan perlakuan Barra.
Barra menatap Qila yang kini sudah kembali terlelap, Ia mengenakan bajunya dan keluar dari kamar.
Barra melihat kucing yang tadi dimandikan oleh Qila masih basah, belum dikeringkan oleh Rino. Ia kembali masuk mencari Rino dan nyatanya pria itu malah duduk di depan villa sambil merokok.
Dengan satu gerakan Barra memlintir tangan Rino membuat Rino menjerit kesakitan.
"Aaaa... apa yang Tuan lakukan?"
"Seharusnya kau tahu apa yang membuatku melakukan ini." balas Barra santai masih belum melepaskan tangan Rino yang sangat kesakitan.
"Say saya tidak mengerti maksud Tuan..."
"Jika kamu berani mendekat apalagi menyentuh istriku lagi, akan ku buat kau tidak memiliki tangan!" ancam Barra lalu melepaskan tangan Rino dan segera pergi meninggalkan Rino yang kesakitan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1