The Devil Barra

The Devil Barra
36


__ADS_3

Seminggu sebelum pernikahan, Barra dan Qila di sibukan dengan berbagai kegiatan dadakan, seperti fitting baju pengantin, foto prewedding dan kegiatan jelang pernikahan lainnya.


Barra bahkan absen kerja beberapa kali karena menuruti keinginan Mama juga Bunda mertuanya yang ingin mereka agar foto prewedding.


Sebenarnya Barra menyukai sesi foto prewedding ini karena pada saat foto Barra bisa leluasa menyentuh area tubuh Qila yang membuat wajah Qila memerah malu dan entah mengapa membuat Barra senang.


"Tangannya dipinggang, yaa seperti itu." suara sang fotografer yang membuat Barra langsung sigap memegang pinggang ramping Qila.


"Sekarang wajahnya berhadapan dan didekatkan." kata Fotografernya lagi yang membuat Qila langsung terkejut.


"Apa harus seperti itu?" tanya Qila ragu.


"Sudah kita turuti saja." balas Barra mulai menempelkan dahinya pada dahi Qila. ini menjadi kesempatan Barra bisa menatap Qila secara dekat, dan lagi lagi wajah Qila memerah malu.


"Ja jangan melihatiku seperti itu." bisik Qila akhirnya tak tahan dipandangi oleh Barra.


"Kenapa? aku suamimu jadi sudah halal."


"Bu bukan begitu, aku malu." balas Qila yang membuat Barra terkekeh.


"Sekarang pengantin wanitanya digendong." teriak sang fotografer yang langsung diacungi jempol oleh Barra.


Dengan sigap Barra segera mengendong Qila,


"Jangan jatuhkan aku." bisik Qila yang membuat Barra tertawa.


"Mana mungkin tubuh sekecil ini sangat enteng untuk ku."


"Ck, mas mengejek." sebal Qila.


Barra kembali tertawa,


"Terakhir, cium pipi pengantin wanita." teriak fotografernya membuat Qila dengan cepat menghindar.


"Apa harus ditempat umum seperti ini?" protes Qila tak setuju.


"Ck, disini hanya ada aku, kamu sama fotografernya berarti bukan tempat umum sayang."


"Ta tapi mas-"


Belum sempat Qila kembali protes, Barra sudah mengecup pipinya dan cekrek, selesai sudah preweding kali ini.


"Mama penasaran sama hasilnya." kata Anya yang menunggu diluar bersama Zara, karena hari ini prewedding mereka ditemani oleh Anya dan Zara.


"Bagus mah, tenang aja."


"Tapi kenapa muka Qila cemberut gitu?" heran Anya.


"Gara gara foto ciuman, aduhh."


Qila mencubit pinggang Barra membuat Barra tak melanjutkan ucapannya.


"Nggak apa apa sayang, lagian kalian sudah sah jadi suami istri." nasehat Zara yang mengerti apa yang membuat putrinya cemberut.


"Malu bunda, kan dilihat fotografernya."


"Qila maunya pas dikamar aja Bunda." celetuk Barra membuat wajah Qila langsung memerah seperti kepiting rebus.


Zara dan Anya hanya tertawa melihat tingkah kedua anaknya itu.

__ADS_1


Setelah dari tempat prewedding, Qila, Barra, Zara dan Anya segera menuju restoran untuk makan siang.


Anya dan Zara tampak memilih di outdoor sementara Qila dan Barra berada didalam restoran. Sengaja memang para orangtua memisah karena tak ingin menganggu romantisme pengantin baru.


"Masih marah?" tanya Barra karena sejak duduk Qila hanya diam saja.


"Aku nggak marah mas."


"Yakin? senyum dulu kalau nggak marah."


Qila menatap Barra lalu memaksakan senyum,


"Nggak ikhlas itu, ayo ulangi lagi."


"Alah mas.." Qila kembali merajuk membuat Barra tertawa.


"Sekarang udah ketahuan manjanya."


"Aku nggak manja mas!" protes Qila.


"Iya iya nggak manja tapi ngambekan."


"Aku nggak ngambek mas!" kali ini Qila benar benar dibuat kesal oleh godaan Barra.


"Oke oke Tuan putri, ampun." Barra mengacungkan dua jarinya pertanda Ia menyerah tak lagi mengoda Qila.


Qila akhirnya tersenyum,


"Nah gitu kan cantik."


"Mas langsung ke kantor lagi?"


"Pulang malem lagi?"


"Iya sayang, kenapa? masih kangen?" tanya Barra membuat wajah Qila kembali memerah.


"Beneran masih kangen?"


"Eng-enggak gitu mas."


"Yes dikangenin istriku."


"Apa sih mas." Qila malah malu sendiri.


Barra terkekeh, "Aku lagi ngejar kerjaan sayang, soalnya nanti setelah resepsi kita ada honeymoon jadi sekarang emang harus sibuk dulu, nggak apa apa ya sayang." jelas Barra sambil mengelus tangan Qila.


Qila mengangguk lalu menunduk, Ia sangat gugup dan malu saat ini karena Ini kali pertamanya mereka sedekat ini.


Selesai makan, Barra mengantar Mama dan bundanya pulang setelah itu Barra mengantar Qila ke apartemen.


"Disini aja mas, nggak usah ikut naik nanti mas terlambat." kata Qila saat Barra ingin ikut turun.


"Nggak apa apa, aku cuma mau mastiin kalau istriku aman." kata Barra yang akhirnya diangguki Qila.


"Udah sampai mas, sana berangkat aja." kata Qila kala keduanya sudah berada diapartemen.


"Kok ngusir?"


"Ng nggak ngusir mas." Wajah Qila berubah gugup kala Barra menatapnya kesal.

__ADS_1


Barra berjalan mendekati Qila membuat Qila takut dan berjalan mundur.


"Ka kamu mau ngapain mas?"


Barra hanya diam, Ia terus saja mendekati Qila hingga tubuh Qila menempel dinding. Qila hendak menghindar namun tangan Barra menghalangi hingga Qila tak bisa bergerak kemanapun.


"Ma mas mau ngapain?" tanya Qila dengan suara gugup.


"Cium boleh?"


Wajah Qila langsung memerah mendengar bisikan Barra yang ingin menciumnya. Qila menganggukan kepalanya pelan.


Barra tersenyum dan langsung mendekatkan wajahnya membuat Qil memejamkan mata.


Dan cup... satu kecupan mendarat dikening Qila turun ke bawah, dua pipi Qila juga mendapatkan kecupan dan yang terakhir dibibir mungil Qila.


"Udah?" tanya Qila membuka matanya kala sudah tidak ada lagi kecupan dari bibir Barra.


"Mau minta yang lain tapi masih berdarah." kata Barra.


Qila tersenyum, "Sabar mas, cuma seminggu lagian Mas Barra juga udah nyicipin sebelum nikah." cibir Qila membuat Barra tersenyum.


"Ya sudah aku ke kantor dulu ya sayang, nanti malam kalau sudah ngantuk tidur dulu saja sayang." ucap Barra sambil mengelus kepala Qila.


"Iya mas."


Qila mencium tangan Barra sebelum Barra akhirnya keluar dari apartemen.


Saat ini Barra tengah berada diruangannya, sedang membaca berkas yang menumpuk dimeja, Rina sekretarisnya tampak memasuki ruangan Barra.


"Gue pikir Lo cuma pura pura nikah." ucap Rina sambil membawa undangan yang baru saja diberikan oleh Barra.


"Gue serius."


"Oke oke, mulai sekarang Gue nggak bakal lagi godain Lo apalagi nawarin cewek ke elo." kata Rina yang akhirnya menyerah.


"Bagus deh." balas Barra acuh.


"Jangan lupa, jam empat ada meeting sama orang berlian." kata Rina sambil berjalan keluar.


Barra melihat jam dipergelangan tangannya, baru pukul tiga, masih tersisa satu jam lagi untuk meeting.


Pukul setengah empat, Barulah Barra menuju restoran tempat Ia akan mengadakan pertemuan.


Berlian, salah satu perusahaan maju yang menawarkan banyak proyek proyek bagus untuk perusahaan mertuanya, Barra tak ingin mengecewakan mertuanya, Sebisa mungkin dirinya harus pandai mencari celah agar Berlian bisa bekerja sama dengan Perusahaan mertuanya.


"Meja nomor tiga empat." Barra membuka pesan dari Rina, lalu segera mencari meja nomor yang disebutkan Rina.


Seorang wanita duduk sendirian dimeja itu, tampak fokus menatap layar laptopnya.


"PT Berlian..." sapa Barra langsung duduk didepan wanita yang terlihat sangat cantik.


Wanita itu menatap Barra,


"Jadi anda Pak Barra?" tanya nya yang langsung diangguki Barra.


Wanita itu langsung mengulurkan tangan nya, "Saya Berli, pemilik PT Berlian."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komennn


__ADS_2