The Devil Barra

The Devil Barra
50


__ADS_3

Didalam mobil keduanya hanya diam, baik Barra maupun Qila tidak ada yang berbicara.


Hingga keduanya sampai didepan rumah, Qila segera melepaskan sabuk pengamannya dibantu oleh Barra.


"Istirahat dirumah, ikuti kata dokter, aku tidak mau kamu sakit lagi sayang." ucap Barra dengan suara lembut.


Qila mengangguk, saat ingin keluar Barra menahan tangan Qila lalu memberi kecupan didahi Qila sebelum akhirnya Qila keluar dari mobil.


Barra menatap punggung istrinya yang memasuki rumah, ada rasa bersalah karena sudah membentak istrinya saat dikantor tadi. Barra tahu apa yang istrinya lakukan itu baik hanya saja timernya kurang tepat.


Disaat Qila seharusnya istirahat dirumah malah harus keluar hanya karena ingin mengantar makan siang, Barra hanya tak ingin istrinya kembali sakit dan membuat Mama nya kembali mengomel menyalahkan dirinya yang tidak becus menjaga Qila.


Barra benar benar ingin menjaga Qila agar bisa membuktikan pada mertuanya jika Ia bisa menjadi suami yang baik untuk Qila.


Barra menghela nafas panjang sebelum akhirnya Ia kembali melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah mewahnya.


Sementara itu Qila memasuki rumah dengan berjalan lesu. Ia akhirnya menyadari apa yang membuat Barra membentaknya tadi. Bukan karena Barra tak suka Qila mengantar makanan hanya saja Barra tak ingin Qila sakit lagi hanya karena mengantar makanan untuknya padahal seharusnya Qila bedrest dirumah selama beberapa hari, Qila salah ya Qila menyadari itu.


Barra membentaknya bukan karena tak menyukai Qila justru Barra sangat menyayanggi Qila dan tak ingin terjadi sesuatu pada Qila.


"Maaf aku mas, aku masih sangat kekanakan." gumam Qila akhirnya kembali berbaring diranjangnya.


Pintu kamar Qila terdengar diketuk dan tak berapa lama seseorang masuk, seseorang yang tak lain adalah Nana.


"Nyonya sudah pulang, mau dibuatkan minum?" tawar Nana dengan sopan.


Qila menggeleng pelan,


"Tapi ini sudah waktunya untuk makan siang dan minum obat Nyonya." Nana mengingatkan.


"Ah iya aku hampir lupa." gumam Qila akhirnya bangun dan duduk diranjang.


"Biar saya ambilkan kesini Nyonya." kata Nana yang langsung diangguki Qila.


"Dia baik dan sopan tapi kenapa rasanya aku tidak bisa menyukainya?" gumam Qila kala Nana sudah keluar dari kamarnya.


Tak berapa lama, Nana kembali memasuki kamar Qila dengan membawa nampan berisi makan siang.


"Jika Nyonya mau, saya bisa menyuapi." tawar Nana yang langsung digelengi Qila.

__ADS_1


"Tidak perlu, terimakasih sudah mengambilkan makanan." ucap Qila yang langsung diangguki Nana.


Qila mulai menyantap makanan dan Nana masih berdiri disana membuat Qila merasa tak enak. Ia memandangi Nana memberikan kode jika ingin Nana keluar namun nyatanya kodenya tak membuat Nana keluar malah asyik memandangi Qila makan.


"Sudah, aku mau istirahat." ucap Qila setelah menghabiskan makan siang juga meminum obatnya.


"Baiklah Nyonya, saya keluar." Nana membawa nampan berisi piring kotor dan langsung keluar dari kamar Qila.


"Sebenarnya dia itu kenapa?" gumam Qila saat Nana sudah keluar.


Sementara dikantor, Barra yang baru sampai dikantor membuka bekal makanan yang dibawakan istrinya. Ia segera mencicipi bekal yang Barra tahu jika itu bukan masakan Qila.


Masakan Qila sudah sangat pas dilidahnya jadi Ia jarang menghabiskan makanan jika bukan Qila yang memasaknya. Seperti sekarang, bekalnya hanya ia cicipi saja tanpa ada niat untuk memakannya.


Biasanya di jam makan siang seperti ini, Barra lebih memilih makan diluar, tempat Ia biasa makan dulu sewaktu belum menikah dengan Qila, hanya satu tempat itu selebihnya Ia lebih menyukai masakan istrinya.


Barra kembali disibukan dengan berkas yang menumpuk di mejanya. kali ini Ia bisa bernafas lebih lega karena masalahnya dengan Berlian group sudah selesai. Entah apa yang terjadi, mendadak Berlian group memutuskan kontrak dengan perusahaan mertuanya dan mengembalikan semua saham yang sudah diambil. Barra tak mengerti apa maksud dari Berlian group melakukan semua ini, Ia juga tak ingin mencari tahu karena hanya membuang buang waktu saja. sekarang yang Barra fokuskan untuk lebih berhati hati lagi agar tak terjebak lagi seperti kemarin.


Pintu ruangan terbuka, ada Rina sekretarisnya tampak memasuki ruangan.


"Ada tamu, sudah menunggumu di tempat meeting."


"Lihat saja sendiri." ucap Rina acuh lalu pergi dari ruangan Barra membuat Barra kesal dengan sikap Rina.


Jika saja Rina bukan sahabatnya mungkin Barra sudah memecatnya sejak dulu.


Barra segera berjalan menuju ruangan Meeting, penasaran dengan siapa yang datang sampai akhirnya Ia terkejut setelah mengetahui siapa yang datang.


Sean ayah mertuanya tampak duduk memandangi dirinya yang baru saja memasuki ruangan meeting.


"Ayah sudah pulang? maaf belum sempat kesana." Barra tampak sopan bahkan mencium punggung tangan mertuanya.


"Ya, aku juga tak menyangka kau pulang honeymoon lebih cepat. apa terjadi sesuatu?" tanya Sean yang langsung membuat Barra gugup.


"Memang sempat ada masalah, tapi semua sudah terselesaikan."


"Hmm begitu... lalu bagaimana dengan Qila? apa dia baik baik saja?"


Barra kembali gugup, rasanya Ia sangat berdosa jika harus membohongi Ayah mertuanya namun jika Ia jujur sudah pasti Ayah mertuanya akan murka padanya.

__ADS_1


Barra menganggukan kepalanya pelan,


"Ada apa? seperti bukan kau saja." kekeh Sean menatap wajah gugup Barra.


"°Aku belum makan siang, apa Ayah ingin makan siang bersamaku?" tawar Barra menghilangkan kegugupan.


"Boleh, aku juga lapar." Sean segera bangkit dari duduknya berjalan keluar diikuti oleh Barra.


Sean pikir menantu kaya rayanya itu akan mengajaknya makan di restoran mewah nan mahal namun nyatanya Barra malah mengajaknya disebuah warteg dengan masakan rumahan.


"Aku jarang makan di restoran, biasanya makan siang disini jika bukan Qila yang memasak untuk ku." jelas Barra saat akan keluar dari mobil.


"Hmm, apa ini pencitraan atau bagaimana?"


Barra terkekeh, "Terserah Ayah berpikir seperti apa karena memang itu faktanya."


Sean tertawa, keduanya pun turun untuk makan siang.


Sean cukup terkejut, warteg nya memang sangat sederhana namun masakannya memang membuat gila, sangat enak. pantas saja Barra sering datang karena rasa masakannya mirip dengan masakan Qila.


Sean jadi merasa bersalah sudah mengatakan jika Barra hanya pencitraan saja.


Selesai makan siang, Sean tak berkomentar banyak, Ia memilih pulang agar Barra bisa kembali bekerja.


Barra pulang sedikit larut hari ini namun Barra juga sudah menghubungi Qila agar tidur lebih dulu. Pukul sebelas malam Barra baru sampai rumah, terlihat dari luar jika didalam sudah gelap, sepertinya sudah banyak maidnya yang istirahat.


Nana tampak membukakan pintu untuk Barra,


"Kamu masih belum tidur?" tanya Barra tanpa sengaja Ia melihat penampilan Nana yang mengenakan piyama celana pendek juga baju lengan pendek dengan rambut terurai.


"Belum Tuan,"


"Ya sudah segera istirahat." kata Barra berjalan melewati Nana.


"Tuan ingin disiapkan makan malam?" tawar Nana yang membuat Barra menghentikan langkah kakinya.


Barra tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya Ia menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2