The Devil Barra

The Devil Barra
37


__ADS_3

Sudah satu jam lamanya Barra dan Berli berada direstoran namun keduanya masih belum menemukan kesepakatan yang menjadikan kerjasama. Barra salah menilai Berli, tadinya Barra pikir Berli orang yang mudah namun nyatanya tidak, Ia sangat keras dan kompeten bahkan masalah sekecil apapun ditanyakan.


Barra sedikit kewalahan dengan kecerdasan Berli. Tidak hanya cantik namun juga sangat pintar, mungkin itu yang membuat perusahaan Berli sangat maju dan sangat disegani oleh perusahaan lain.


Barra masih memberikan penjelasan pada Berli tentang keuntungan jika mereka bekerja sama. Berli nampak diam dan memperhatikan dengan fokus hingga akhirnya..


"Baiklah, aku menyetujuinya." Ucap Berli yang membuat Barra sangat lega.


"Percayakan semua pada perusahaanku, proyek ini pasti akan berhasil." Kata Barra masih meyakinkan.


"Ya jika sampai gagal, kau yang akan jadi tumbalnya."


"Apa maksudmu?" Barra tak paham dengan ucapan Berli.


Berli tertawa, "Aku hanya bercanda."


Berli melihat jam dipergelangan tangannya, "Apa kita akan makan malam sekalian?"


"Bagaimana kalau kita langsung pulang saja?" Tawar Barra karena Ia tak ingin pulang larut lagi malam ini.


"Baiklah kalau begitu, kita bertemu lagi bulan depan." Kata Berli berdiri lalu berjalan lenggak lenggok meninggalkan Barra.


"Astagfirullah, apa yang kau lihat!" Barra memukul kepalaya kala matanya tak henti menatap body seksi Berli.


Setelah dari restoran, Barra kembali lagi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan nya hingga pukul sembilan malam, Ia baru beranjak dan pulang.


Sampai di apartemen, Barra disambut senyuman manis dari istrinya. entah mengapa meski Qila hanya mengenakan piyama tidur dan jilbab oblong membuat dirinya merasa adem dan tenang seolah beban pekerjaan kantornya hilang tak lagi terasa.


"Masih belum tidur?" Tanya Barra sambil duduk melepaskan sepatunya, dan dengan sigap Qila membantu Barra melepaskan sepatu.


"Belum mas, masih jam segini. Mas sudah makan?"


Barra menggeleng "Aku sangat lapar."


Qila nampak tersenyum senang, "Mas mandi dulu, biar aku siapkan makan malam."


"Baiklah nyonya Barra." Kata Barra sambil mengelus pipi halus Qila.


Qila hanya tersenyum lalu segera pergi ke dapur untuk menghangatkan makan malam.


"Wah istriku masak apa nih." Kata Barra yang kini sudah tampak segar setelah mandi.


"Aku masak sayur asem, mas suka?"


"Suka banget, kok tahu kalau aku suka?"


"Tanya Mama." Balas Qila sambil tersenyum malu.


"Istriku memang terthe best." Barra yang kini sudah duduk menarik tangan Qila lalu memintanya duduk dipangkuannya.


"Aku berat mas." Tolak Qila merasa tak nyaman.

__ADS_1


"Nggak masalah." Barra sedikit memaksa hingga akhirnya Qila duduk dipangkuannya.


Kini Barra lebih dekat memandangi Qila, sementara Qila seperti biasa Ia masih merasakan gugup hingga jantungnya terasa berloncatan.


"Cantik." Gumam Barra memuji wajah sang istri, meskipun tanpa make up, wajah Qila sangat cantik. Kulitnya putih bersih, bibirnya merah alami, hidungnya mancung dan bulu matanya lebat tanpa bulu mata palsu.


Qila menunduk namun dengan cepat tangan Barra terangkat hingga Qila menatap Barra malu malu.


"Kenapa menunduk? Aku masih ingin melihat wajahmu."


"Aku malu mas." Balas Qila jujur.


Barra tertawa, "Apa kamu pernah dekat dengan pria lain sebelum bersamaku?"


Qila menggeleng pelan, "dosa mas."


Glek, Barra menelan ludahnya. Jika saja Qila tahu seperti apa bejatnya dirinya dulu...


"Mas pasti pernah punya pacar ya?"


Barra menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak pernah pacaran hanya pernah dekat dengan beberapa orang saja." Akui Barra yang memang belum pernah meresmikan hubungan dengan para wanita meskipun dirinya sering meniduri banyak wanita.


"Masa?"


"Nggak percaya huh." Barra gemas dan mencubit pipi Qila.


"Nggak bisa dipercaya."


"Tidak bisa dipercaya." Qila berdiri dan hendak duduk dikursi samping Barra namun dengan cepat Barra kembali menarik tangan Qila hingga duduk dipangkuannya.


"Nggak percaya huh." Barra mengujani pipi Qila dengan ciuman membuat Qila merasa geli karena dagu Barra dipenuhi bulu bulu lembut yang belum dicukur.


"Udah mas, udah. ampun." geli Qila sambil tertawa.


Barra berhenti, keduanya saling berpandangan meskipun tak lama karena Qila langsung menundukan kepalanya namun Barra melihat ada cinta di mata Qila untuknya.


"Aku tidak akan menyianyiakan kamu, tidak akan pernah." batin Barra masih terus memandangi Qila.


Setelah romantisme, kini keduanya makan malam tanpa ada yang bicara. jantung Qila masih berdegup kencang, pipinya pun masih merona. entah mengapa perlakuan Barra membuatnya seperti ini.


Qila membersihkan meja makan seusai makan malam dibantu oleh Barra.


"Sudah, mas istirahat saja." kata Qila meminta kain lap yang dibawa Barra namun bukannya diberikan, Barra malah mengenggam tangan Qila lalu keduanya membersihkan meja bersama.


"Mas..." kini posisi Barra sudah memeluk Qila dari belakang sambil membersihkan dengan kedua tangan mereka.


"Kenapa hmm." bisik Barra tepat ditelinga Qila membuat Qila merasa geli.


"Engh... anu aku mau nyuci piring dulu." kata Qila ingin kabur dari pelukan Barra namun gagal karena Barra masih menahan Qila.


"Masss..." keluh Qila dengan suara manja membuat Barra tertawa.

__ADS_1


"Iya iya, takut banget sih."


"Bukan takut mas, aku cuma masih malu."


"Kenapa malu?" Wajah Barra tiba tiba sudah mendekati wajah Qila membuat Qila terkejut.


"Astagfirullah mas!"


Barra tertawa, "Memang aku setan pakai istigfar!"


"Kaget mas, kaget."


Barra kembali tertawa, entah lah hal kecil seperti ini bisa membuatnya merasakan nyaman dan bahagia.


"Kamu usil ternyata ya mas." kata Qila setelah selesai mencuci piring.


"Usilnya sama kamu nggak apa apa kan?"


"Yakin sama wanita lain enggak usil?" tanya Qila menatap Barra tak percaya.


Barra langsung mengacungkan dua jarinya, "Yakin seyakin yakin nya cuma Qila seorang."


Qila tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, Ia memasuki kamar lebih dulu disusul Barra.


"Nggak ngerokok dulu?" tanya Qila kala Barra ikut berbaring disampingnya.


"Enggak, nanti kena omel istri."


Qila tersenyum, "Aku nggak pernah ngomel mas."


"Iya cuma bawel aja."


Qila hanya menggelengkan kepalanya, tak lagi menjawab godaan Barra.


Qila yang tadinya berbaring disamping Barra kini sudah kepalanya sudah berada dilengan Barra.


Barra menatap wajah istrinya sambil mengelusi pipi lembut Qila. tangan nya yang tadi berada dipipi kini mencoba membuka hijab yang dipakai Qila.


Namun baru terlihat leher Qila, Barra mengembalikan jilbabnya seperti semula.


"Kenapa Mas?" heran Qila saat tahu Barra tak jadi melepaskan hijabnya.


"Nggak apa apa, besok saja kalau kamu sudah nggak datang bulan." balas Barra yang kini malah berganti memeluk erat Qila.


Barra menahan diri, Ia tak ingin memancing hasratnya hanya karena penasaran ingin membuka hijab Qila.


Baru berdekatan saja sudah membuat milik Barra bangun apalagi jika Barra sampai melihat leher mulus Qila, bisa kesurupan dirinya.


Sabar Barra... sabar sebentar lagi.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2