
Barra kembali pulang larut lagi. Kali ini pukul sebelas malam dirinya baru sampai dirumah. Seperti biasa Nana yang membuka kan pintu untuknya, ya selalu Nana setiap malam. Barra sendiri yang masih kesal dengan Nana merasa heran karena maid dirumahnya tidak hanya Nana namun kenapa selalu Nana yang membuka pintu untuknya. Dan selalu dengan pakaian yang sedikit terbuka, seolah ingin mengoda Barra.
"Sialan, ada apa dengan wanita ini?" batin Barra melihat Nana tersenyum padanya. Nana yang malam ini kembali memakai piyama pendek namun menurut Barra, celana piyama terlampau pendek sehingga terkesan seksi, dan tak mengenakan celana.
"Selamat malam Tuan, apa ingin disiapkan makan malam?" tawar Nana ramah.
Barra hanya diam menatap Nana sejenak sebelum akhirnya Ia berjalan melewati Nana. Ya Barra mengacuhkan Nana.
Nana hanya tersenyum sambil menatap punggung kekar Barra, meskipun Barra mengacuhkannya, Nana tak peduli asal Ia masih bisa bekerja disini.
Barra membuka pintu kamar, tadinya Ia pikir Qila sudah tidur namun nyatanya istrinya itu masih mengenakan mukena, sedang duduk melantunkan ayat suci Alquran dengan suara merdunya.
Shodaqollahhuladzim
Qila menutup alquran nya dan langsung tersenyum menatap Barra membuat hati Barra terasa adem seketika.
"Mas sudah makan?" tanya Qila berjalan mendekat dan langsung mencium tangan Barra.
"Belum, mau buatkan aku makan malam lagi?"
Qila mengangguk, "Mas mandi, aku siapkan makan malammya." ucap Qila.
"Siap Nyonya Barra." balas Barra membuat Qila terkekeh.
Qila segera melepaskan mukena nya dan langsung turun ke bawah untuk menghangatkan makan malam yang sudah Ia masak sejak sore tadi. Ya Qila memang sengaja memasak untuk suaminya selepas sholat ashar, agar saat suaminya pulang Ia tinggal menghangatkan saja.
"Aku bikinin capcay." ucap Qila kala Barra sudah turun untuk makan malam.
"Kok cepet?" heran Barra.
Qila tersenyum geli, "Aku udah masak dari sore tadi mas."
Giliran Barra yang tersenyum, "Maaf ya sayang jadi ngrepotin kamu." kata Barra sambil mengelus kepala Qila yang tertutup jilbab oblong.
"Apq sih mas, kan memang sudah kewajiban aku."
"Iya tapi kan sekarang kita udah punya asisten rumah tangga, harusnya kamu nggak perlu masak malah harus tetep masak, ya gimana dong aku nggak doyan masakan mereka." keluh Barra dengan suara manjanya.
"Nggak apa apa mas, justru aku seneng kamu suka apa yang aku masakin." kata Qila menyodorkan piring yang sudah berisi nasi dan capcay.
__ADS_1
"Kamu nggak makan?" tanya Barra mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Udah kok mas."
"Aku suapin mau?" Barra menyodorkan sendok tepat di bibir Qila.
"Eng, enggak mas." Qila menggeleng, mendadak perutnya kembali mual saat mencium aroma capcay, padahal sore tadi saat Ia memasak sama sekali tidak merasakan mual namun saat mencicipi atau mencium baunya, Ia merasakan mual.
"Kenapa sih?" heran Barra melihat raut wajah Qila yang aneh.
Qila tak menjawab dan langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya. seharian ini perut Qila sama sekali belum terisi makanan, hanya jus mangga siang tadi juga makan buah potong saat sore. Qila ingin makan nasi namun sayangnya Ia kembali mual membuat Qila harus mengganti menu makanan nya untuk sementara.
"Kenapa sayang?" Barra ikut berlari dan langsung memijat punggung Qila. Barra terlihat sangat khawatir.
"Jangan jangan kamu sakit lagi nih gara gara berangkat kerja."
"Mas habisin makanannya dulu, nanti aku ceritain semua sama mas."
"Sekarang aja!"
"Nanti kalau mas sudah selesai makan." balas Qila yang akhirnya membuat Barra mengangguk pasrah.
Selesai makan malam, Barra segera mengajak Qila naik ke atas. rasanya sudah penasaran dengan apa yang ingin Qila katakan padanya.
Qila tampak membawa map coklat, lalu memberikan pada Barra.
"Aku mau resign untuk sementara waktu mas." kata Qila membuat Barra terkejut.
"Kenapa sayang, ada masalah apa?" tanya Barra terlihat heran mengingat Qila sangat menginginkan pekerjaan ini, menjadi guru adalah impian Qila sejak dulu.
Qila menggelengkan kepalanya pelan, Ia kembali menyodorkan kotak kecil berwarna hitam pada Barra,
"Ini hadiah buat mas..."
Dengan cepat Barra segera membuka kotak kecil itu,
"Ini.. ini..."
"Alhamdulilah, Allah kasih kepercayaan untuk kita mas. aku hamil."
__ADS_1
Barra menatap Qila, mata nya terlihat memerah dan berair seperti hendak menangis. Segera Barra memeluk Qila, erat sangat erat dan air matanya pun tumpah saat berada dipelukan Qila.
"Kok malah nangis mas?" Qila yang tadinya baik baik saja pun ikut menangis bersama Barra.
"Aku terlalu bahagia sampai nggak bisa ngomong apa apa lagi." ucap Barra melepaskan pelukan nya lalu mengelus perut Qila.
"Terlalu bahagia karena disini ada calon anak ku. kebahagiaan kita juga kebahagiaan orangtua kita." tambah Barra membuat Qila tersenyum, menghentikan tangisnya.
"Aku juga seneng kalau kamu mau resign sementara waktu, demi calon anak kita."
Qila mengangguk, "Insya Allah mas, aku akan berusaha menjaga titipan Allah untuk kita."
Barra kembali memeluk Qila, sudah tidak ada lagi tangisan, kini bibirnya tampak tersenyum lebar, merasakan kebahagiaan nya kini sudah lengkap.
"Kok bisa tahu kalau hamil?" tanya Barra saat keduanya sudah berbaring diranjang, Barra tampak mengelus perut Qila.
"Aku tadi mual sama pusing pas lagi disekolahan, temenku nyaranin buat periksa jadi pulang ngajar aku langsung ke rumah sakit."
"Diantar pak parto?"
"Iya mas, trus pas disana aku ketemu Ameer, baru ingat kalau Ameer juga kerja disana." jelas Qila yang membuat raut wajah Barra berubah tak suka.
"Jangan mikir aneh aneh dulu mas, Ameer tadi cuma bantuin aku ke dokter obgyn biar nggak perlu antri. aku udah nggak betah kalau harus antri, perutku mual dan kepala ku pusing." jelas Qila sambil mengenggam tangan Barra.
"Dan aku ketemunya sama dia juga nggak sengaja kok."
Barra menghela nafas panjang, "Kenapa nggak ngabarin aku?"
"Aku takut ganggu kesibukan kamu mas, maafin aku." ucap Qila
"Nggak, nggak bakal ganggu. mulai besok kita periksa ke dokter pribadi keluarga saja, kalau cuma dokter obgyn aku juga punya kenalan, nggak usah ke rumah sakit lagi. aku nggak mau kamu ketemu sama Amrik itu!"
"Ameer mas bukan amrik." Qila tersenyum geli.
"Mau Ameer atau amrik atau siapalah, pokoknya aku nggak mau kamu ke rumah sakit itu lagi, titik!" kata Barra membuat Qila tersenyum geli. Geli karena ucapan suaminya menandakan sedang cemburu.
"Iya mas iya, nggak lagi. apapun yang kamu larang, apapun yang nggak kamu restui, nggak akan aku lakuin." ucap Qila membuat Barra tersenyum lebar.
"Besok pagi kita kerumah Papa sama Mama, kerumah Ayah sama Bunda juga, aku mau pamer."
__ADS_1
Qila kembali tersenyum geli.
BERSAMBUNG...