
Barra mengambil kunci mobilnya dan keluar dari ruangannya,
"Hey, mau kemana kau? kita ada meeting satu jam lagi." teriak Rina yang tadinya ingin masuk ke ruangan Barra.
"Jika aku belum kembali batalkan saja!" Balas Barra sambil terus berjalan meninggalkan Rina.
"Sialan, apa dia bisa seenaknya seperti itu!" kesal Rina sambil membanting map yang Ia bawa.
Barra memasuki mobilnya lalu melajukan mobilnya sedikit buru buru hingga akhirnya sampai didepan sekolahan Qila.
"Belum terlambat." Barra menatap belum ada yang keluar dari gerbang sekolahan.
Menunggu dua puluh menit akhirnya penantian Barra terbayarkan setelah melihat Qila keluar dari gerbang sekolahan. Tak menunggu waktu lama, Barra segera keluar untuk menghampiri Qila.
Qila tampak menatap Barra tak suka, dan tatapan Qila membuat Barra sangat marah.
"Jika apa yang dikatakan gadis itu tidak benar, apa kita masih bisa bersama?" tanya Barra yang langsung digelengi oleh Qila.
"Kamu tidak memberiku kesempatan?" Barra terlihat kecewa.
"Tidak,"
"Baiklah, berarti aku tidak bisa mendapatkanmu dengan cara baik baik."
"Apa maksudmu?" Qila tak mengerti.
"Aku sangat mencintaimu dan aku sangat ingin bersamamu. aku akan berjuang bagaimanapun agar bisa bersamamu. dan jika dengan cara baik aku tidak bisa mendapatkanmu maka jangan salahkan aku jika aku harus mengunakan cara lain yang mungkin tidak kamu sukai." jelas Barra lalu pergi begitu saja meninggalkan Qila yang masih tampak bingung dengan maksud Barra.
"Apa yang ingin dia lakukan padaku?" gumam Qila memandangi punggung Barra yang berjalan memasuki mobilnya.
Qila menunggu taksi onlinenya datang, setelah datang Qila segera memasuki taksi.
Didalam taksi pikiran Qila melayang memikirkan ucapan Barra yang memang sedikit menganggu untuknya.
Sampai dirumah, Qila disambut oleh Ameer yang tampak datang kerumahnya.
Ameer tersenyum senang melihat kepulangan Qila.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi."
"Apa kamu tidak bekerja?" tanya Qila heran melihat Ameer berada disini siang hari begini.
"Hari ini aku libur dan aku ingin mengajakmu jalan jalan. tidak boleh menolak karena sekarang aku tahu kamu sudah tidak bersama dengan calon tunanganmu itu."
"Dari mana kamu tahu?"
Ameer tersenyum,
"Dari Bunda," Zara tampak keluar mendekat ke arah Ameer dan Qila.
"Bunda sengaja meminta Ameer datang untuk mengajakmu jalan jalan keluar." tambah Zara.
Qila yang sebenarnya malas untuk keluar akhirnya mengikuti saran dari Bundanya, jalan jalan sekedar melepaskan penat, lagipula Dirinya dan Ameer sudah lama tidak bertemu.
Ameer menunggu Qila yang sedang bersiap, wajah Ameer tampak sumringah, bagaimana tidak jika mengetahui pujaan hatinya kini tak lagi memiliki pasangan. Ameer merasa ada kesempatan untuk dirinya mendekati Qila.
__ADS_1
Kini Ameer dan Qila sudah berada didalam mobil, wajah Qila tampak lesu berbeda dengan Ameer yang sumringah.
"Mau kemana kita?" tanya Qila.
"Umm, aku sudah mendapatkan tempat yang sangat bagus disini."
"Dimana?"
"Surprise..." balas Ameer yang hanya digelengi kepala oleh Qila.
"Bagaimana perasaanmu? apa kamu masih sedih?" tanya Ameer.
"Bunda pasti cerita banyak." keluh Qila yang sebenarnya tak ingin Ameer tahu tentang apa yang terjadi pada dirinya dan Barra.
"Maaf jika aku terlalu kepo."
Qila menggelengkan kepalanya, "Sebenarnya bukan masalah itu, hanya saja aku malu."
"Kenapa harus malu?"
"Aku sudah mengatakan akan menikah dan sekarang malah batal, beruntung hanya dirimu saja yang tahu." jelas Qila membuat Ameer tertawa.
"Aku justru senang mendengarnya."
Qila terkejut dan menatap Ameer heran, "Kenapa kamu malah senang?"
Ameer langsung gugup, Ia kelepasan bicara sampai tidak memikirkan perasaan Qila.
"Tidak, maksudku masih ada kesempatan kita untuk bermain tanpa harus merasa tak enak dengan calon suamimu lagi."
Mobil Ameer berhenti disebuah restoran,
"Disini tempatnya?"
"Bukan, kita makan siang dulu karena tadi kamu belum sempat makan siang."
"Tapi aku tidak lapar."
"Kamu harus tetap makan, jangan hanya karena patah hati membuatmu malas makan, ingat Qila kesehatanmu itu sangat penting."
"Baiklah pak dokter, mari kita makan siang bersama." ucap Qila pasrah karena tak ingin mendengar omelan Ameer lagi.
Keduanya memasuki restoran yang cukup ramai karena memang ini jam makan siang. keduanya duduk dikursi dekat kaca yang memperlihatkan jalanan kota.
Qila tampak asik memainkan ponselnya sementara Ameer diam diam mencuri pandang wajah cantik Qila yang sangat Ia kagumi itu.
"Apa kamu ingat ustad Rasyid?" tanya Qila tiba tiba membuat Ameer langsung gugup takut ketahuan jika dirinya sedari tadi memandangi Qila.
"Ya, tentu saja aku ingat."
"Beliau mengatakan jika seorang pria tidak boleh memandangi wanita selain istrinya terlalu lama. dosa!"
Uhuk...
Sontak Ameer terbatuk mendengar ucapan Qila yang ternyata tahu jika dirinya memandangi Qila sejak tadi.
__ADS_1
"Aku tidak memandangimu." elak Ameer.
"Aku hanya mengingatkan saja, tidak perlu gugup seperti itu." kata Qila sambil tertawa.
"Apa kau sedang mengerjaiku?"
Qila mengangguk membuat Ameer akhirnya tertawa.
"Aku kalah jika denganmu." kata Ameer akhirnya menyerah.
Makanan keduanya telah datang, mereka segera menikmati makan siang tanpa ada yang berbicara lagi.
Tak jauh dari meja Ameer dan Qila, ada Barra yang tengah mengadakan jamuan makan siang dengan Kliennya.
Barra yang awalnya tak mengetahui keberadaan Qila kini matanya tampak melotot setelah tak sengaja melihat Qila bersama seorang pria yang tak asing untuknya. Ameer, pria yang mungkin akan menjadi rivalnya.
Sorotan mata Barra berubah merah tanda marah dan tangannya pun mengepal. Barra menatap ke arah piring klienya yang sudah tandas tak tersisa yang berarti jika makan siang mereka telah selesai.
Kesempatan untuk Barra mengakhiri pertemuan mereka.
Dan saat klien Barra sudah pergi dari restoran, Barra langsung berjalan menuju meja makan Ameer dan Qila.
Kedatangan Barra disambut suara batuk Qila yang tersedak juga tatapan tak suka dari Ameer.
"Apa aku boleh ikut makan siang disini?" tanya Barra terlihat sekali sedang menahan amarahnya.
Ameer dan Qila sama sama diam tak ada yang menjawab,
"Jika diam artinya aku boleh bergabung disini." Barra menyeret kursi disamping Qila lalu duduk disana.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Barra sambil memainkan sendok hingga menimbulkan bunyi yang tak enak didengar.
"Apa kau buta? kami sedang makan."
"Ohh ku kira kalian sedang berselingkuh dariku."
Uhuk uhuk... lagi lagi ucapan Barra membuat Qila tersedak.
Ameer tertawa, "Selingkuh? kau pikir Qila masih milikmu?" ejek Ameer kembali membangunkan emosi Barra.
"Sampai kapanpun, dia akan menjadi milik ku." kata Barra sambil menunjuk Qila.
Ameer kembali tertawa, "Kau terlalu percaya diri, memangnya Qila masih mau dengamu?"
Barra menatap Qila, dengan tatapan memohon berharap Qila mau membantunya namun Barra harus kecewa karena nyatanya Qila sudah tak mengharapakan dirinya lagi.
"Lebih baik kita pergi dari sini saja." kata Qila berdiri dan meninggalkan meja makan membuat Ameer kembali menertawakan Barra.
Ameer meninggalkan beberapa lembar uang dimeja lalu berlari menyusul Qila.
Sementara Barra benar benar sangat marah kali ini, Ia sudah tak tahan lagi hingga Ia pun ikut berlari menyusul Qila.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komeenn
__ADS_1