
Qila meringkuk diatas kursi, Dirinya memeluk kakinya yang Ia angkat diatas kursi jet pribadi milik mertuanya.
Ia merasa sangat kedinginan, ditambah lagi dengan dinginnya ac yang ada didalam jet itu.
Sementara Barra, tampak sibuk dengan laptopnya tanpa memperdulikan Qila.
Qila Sendiri pun sudah takut untuk protes mengingat saat masih di villa, Barra sedikit membentaknya.
Berulang kali Qila mendengar suara umpatan yang keluar dari bibir Barra. Entah apa yang terjadi dengan Barra, Qila pun tak tahu. Ingin menanyakan pun rasanya Qila tak sanggup karena tubuhnya yang merasa sangat lemas.
Setelah melewati perjalanan dengan tidur, akhirnya mereka sampai dilapangan tempat mendaratnya jet milik Zayn.
Qila berjalan pelan memasuki mobil, berbeda dengan Barra yang masih berada diluar kembali menelepon seseorang sambil marah marah.
Qila menatap suaminya dari kaca mobil, Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan suaminya hingga suaminya terlihat sangat marah dan kesal. ingin rasanya Qila turun dari mobil menemani suaminya namun Qila urungkan karena takut Barra membentaknya lagi dan juga tubuhnya terasa semakin lemas untuk sekedar keluar menanyakan apa yang terjadi.
Tak berapa lama, Barra memasuki mobil dengan wajah yang masih kesal.
"Ku antar ke apartemen lebih dulu, setelah itu aku harus pergi." kata Barra dengan suara lembut seperti biasa.
Qila hanya mengangguk pelan, tidak berani protes atau menanyakan sesuatu yang nantinya membuat Barra tersinggung.
Barra segera melajukan mobilnya menuju Apartemen, Ia mengantar Qila naik ke atas setelah itu Ia kembali turun untuk pergi ke suatu tempat.
Qila menghela nafas panjang melihat punggung Barra yang sudah tidak lagi terlihat. Ia berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil air putih karena tenggorokannya terasa kering.
Segelas air sudah Ia teguk, kini giliran perutnya yang keroncongan.
"Ah iya, aku belum makan malam." gumam Qila.
Qila membuka kulkas yang kosong tidak ada bahan makanan, mengingat terakhir sebelum honeymoon Qila memang sengaja mengosongkan kulkas.
"Sebaiknya aku pesan online saja." gumam Qila.
Qila mengambil ponselnya yang masih didalam tas, namun sayangnya ponsel Qila mati karena habis baterai.
"Ya sudahlah tidur saja."
Setelah mencharger ponselnya, Qila segera berbaring diranjangnya. Tubuhnya masih terasa lemas, ditambah kepalanya yang pusing dan perutnya yang terasa lapar.
__ADS_1
Qila memeluk selimutnya, sebelumnya Ia belum pernah merasakan seperti ini. Disaat dirinya sedang lemah dan menbutuhkan seseorang, Barra tidak ada disampingnya.
Dulu sewaktu dipondok pesantren meskipun jauh dari orangtua saat Qila sakit ada sahabatnya yang begitu perhatian dan merawatnya namun sekarang saat Ia sudah memiliki suami yang mencintainya malah terlihat tidak peduli dengan keadaanya.
"Jangan manja Qila, mas Barra sedang sibuk dengan pekerjaannya. jika sudah pulang pasti dia akan perhatian padamu lagi." gumam Qila menenangkan dirinya sendiri, hingga akhirnya Ia tertidur.
Qila bangun karena merasa kedinginan padahal Ia sudah mengenakan selimut namun nyatanya dirinya masih kedinginan, Ia melihat ke arah jam dinding sudah pukul dua pagi namun suaminya masih belum pulang.
"Kemana mas Barra? kenapa belum pulang."
Qila hendak bangun untuk mengambil ponselnya namun Ia kembali terjatuh di ranjang, rasanya tidak kuat untuk bangun.
"Kenapa tubuhku masih seperti ini." gumam Qila merasakan tubuhnya mengigil dan panas bersamaan.
Qila kembali menutupi tubuhnya dengan selimut, Ia urungkan untuk menghubungi Barra dan memilih kembali tidur.
Qila kembali bangun setelah mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Ia melihat jam dinding sudah pukul lima pagi. Qila masih merasakan tubuhnya kedinginan dan lemas.
Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Barra yang bertelanjang dada, hanya mengenakan handuk di pinggangnya.
Qila hanya mengangguk, Ia memaksakan diri untuk bangun dan sholat dengan tubuh ringkihnya.
Selesai sholat, Qila melihat Barra sudah rapi dengan kemeja kantornya.
"Mas Barra mau berangkat kerja?" tanya Qila.
"Iya, mungkin aku akan pulang larut karena banyak urusan jadi jangan menungguku nanti." ucap Barra terdengar dingin dan acuh sibuk merapikan kemejanya.
Qila nampak diam, Ia ingin menceritakan kondisinya pada Barra namun melihat Barra sibuk membuat Qila mengurungkan niatnya.
"Kamu terlihat pucat, sakit?" tanya Barra menatap ke arah Qila.
Qila menggelengkan kepalanya lemas, "Enggak mas, mungkin hanya kelelahan."
"Kamu harus banyak istirahat, dikotak obat ada banyak vitamin, minumlah." ucap Barra sambil mengenakan sepatunya.
"Mau sarapan mas?"
__ADS_1
Barra menggeleng, sibuk dengan sepatunya dan tak menatap Qila.
Qila kembali mengangguk paham, "Mas..."
"Ada apa sayang?" balas Barra yang baru selesai mengenakan sepatunya dan berniat mendekati Qila.
"Sebenarnya aku-"
Ponsel Barra berdering membuat Qila menghentikan ucapannya,
Barra tak memperhatikan Qila dan lebih memilih mengangkat teleponnnya,
"Ya aku segera datang."
Barra mengantongi ponselnya, "Aku harus segera berangkat, nanti aku sarapan di kantor saja. kamu jangan telat makan." kata Barra langsung berlari keluar tanpa mencium kening Qila lebih dulu, seperti biasa. bahkan Qila tidak diberi kesempatan untuk sekedar mencium punggung tangan Barra.
Qila masih berdiri ditempatnya, mematung dan menatap pintu kamar yang kembali tertutup. Rasanya kemarin Ia masih merasakan kehangatan dari Barra, dari sikap Barra namun sekarang semua berubah, dalam sekejap Barra berubah. Apa memang ini sikap sebenarnya Barra?
Air mata Qila menetes, tubuhnya yang lemas pun semakin lemas ditambah kepalanya yang berdenyut nyeri.
Qila akhirnya kembali berbaring diranjang, memilih memejamkan matanya yang masih ingin menangis, memilih kembali tidur dan tak memikirkan Barra lagi.
Seharian ini Qila hanya berbaring diranjang, Ia juga sama sekali belum makan apapun sejak semalam. Tubuhnya masih lemas, kepalanya masih pusing ditambah perutnya yang terasa mual membuat Qila malas untuk makan dan hanya minum air putih seharian.
Qila benar benar tak berdaya saat ini. Ingin rasanya Qila menelepon bundanya namun Ia tak ingin merepotkan bundanya, apalagi Mama mertuanya, tidak, Qila tidak ingin merepotkan siapapun. Qila juga tidak ingin keluarganya semakin membenci Barra jika tahu Barra acuh pada Qila.
Qila ingin menjaga nama baik suaminya didepan keluarga besarnya.
"Biarlah, aku menunggu mas Barra pulang saja." pikir Qila.
Hingga sore hari keadaan Qila semakin memburuk. Qila akhirnya memaksakan diri untuk memesan makanan, meskipun lidahnya terasa pahit namun Ia harus tetap makan.
Bel apartemennya berbunyi, Qila segera keluar kamar untuk membukakan pintu apartemen. Dengan langkah pelan, Qila berjalan keluar.
Qila membuka pintu dan belum sempat melihat siapa yang datang mendadak pandangannya gelap dan dirinya langsung ambruk.
"Astagfirullah, Qila kamu kenapa."
Suara histeris seseorang yang masih bisa Qila dengar dan setelah itu Qila tidak sadarkan diri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...