The Devil Barra

The Devil Barra
46


__ADS_3

Barra fokus menatap layar laptopnya, sesekali Ia menatap ke arah istrinya yang sudah terlelap tidur.


Setelah makan malam disuapi oleh Barra, Qila minum obat dan segera terlelap sementara Barra masih sibuk dengan pekerjaannya.


Pintu terbuka, nampak Zayn Papa Barra datang bersama Anya sang Mama.


"Qila sudah tidur ternyata." ucap Anya dengan suara sedikit berbisik.


"Papa sama Mama jangan berisik." balas Barra acuh kembali menatap layar laptopnya.


"Papa mau bicara diluar, biar Qila ditemenin sama Mama." kata Zayn yang langsung diangguki Barra.


Barra mengikuti langkah Zayn menuju sebuah taman yang ada disamping ruangan Qila. Zayn dan Barra duduk ditaman itu.


"Papa denger kamu ditipu sama Berlian Group?"


Barra memutar bola matanya malas, "Sampai kapan Papa akan menguntitku seperti itu?"


Barra tampak sudah lelah dengan sikap Zayn yang masih belum bisa mempercayakan segalanya pada Barra.


"Sampai kamu bisa dipercaya." balas Zayn santai.


"Papa selalu meremehkan aku!" kesal Barra.


"Pada kenyataannya kamu bisa jatuh saat ini."


"Hanya masalah kecil." Barra masih mencari pembelaan diri.


"Ingat Barra itu perusahaan mertua kamu."


"Aku tahu dan aku juga sedang berusaha memperbaikinya." balas Barra membuat Zayn menghela nafas panjang.


"Kamu itu sama dengan Papa, selalu lemah jika sudah menyangkut wanita." ungkap Zayn membuat Barra ikut menghela nafas panjang.


"Percaya padaku, aku bisa menjaga diri baik baik, aku bahkan tidak tergoda dengan wanita itu sama sekali."


Zayn tersenyum, "Tidak tergoda tapi bisa tertipu."


"Dia licik, aku pasti akan membalasnya suatu hari nanti." ucap Barra penuh dendam.


"Lupakan saja, Papa akan membantu mu keluar dari masalah ini." kata Zayn sambil menepuk bahu Barra.


Barra menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan tawaran sang Papa, "Aku bisa menyelesaikannya sendiri."


Zayn tertawa, "Ya ya kau memang keras kepala."

__ADS_1


Barra mengeluarkan sebungkus rokok, Zayn langsung berdiri dari duduknya, "Didepan ada kafe, tempatnya nyaman untuk merokok dan mengobrol, sebaiknya kita kesana saja." ajak Zayn yang langsung membuat Barra menghentikan gerakan mengambil rokoknya.


Barra lalu menggelengkan kepalanya, menolak ajakan sang Papa dan kembali memasukan bungkus rokoknya tanpa Ia ambil, "Aku ingin menemani Qila saja didalam."


Zayn tertawa, "Baiklah, ayo kita kembali ke dalam."


Barra dan Zayn berjalan kembali memasuki ruangan Qila. Anya tampak duduk disalah satu sofa sambil menatap layar ponselnya sementara Qila masih terlelap diranjangnya.


"Bagaimana bisa istrimu sakit seperti ini? jika saja mertuamu ada disini, habis kau!" bisik Zayn.


"Aku juga tidak menyangka bisa membuat Qila seperti ini." ucap Barra penuh penyesalan.


"Mungkin cara main mu terlalu keras son."


Barra terkejut, baru memyadari ucapan Papanya. selama bulan madu, Barra memang mengempur habis Qila, memenuhi hasratnya tanpa memikirkan kondisi Qila.


"Jika masih ingin mengobrol, kenapa masuk?" heran Anya pada Barra dan Zayn yang baru masuk.


"Sudahlah, sebaiknya Papa dan Mama pulang saja. biar aku yang menjaga Qila disini." kata Barra mengusir kedua orangtuanya.


"Tidak, Mama ingin disini."


"Kalau mama disini, Papa juga disini." tambah Zayn.


"Kamu berani mengusir Mama?" Anya mendelik tak terima.


"Memangnya disini ada tempat untuk tidur Ma?" serang Barra tak mau kalah.


Anya melihat seisi ruangan hanya ada satu sofa dan satu kursi yang berada disamping ranjang Qila.


"Jadi sebaiknya Papa dan Mama pulang, biarkan aku istirahat. jika memang Mama ingin menjaga Qila besok pagi saja." pinta Barra.


"Apa kau ingin berangkat ke kantor besok?" tanya Zayn.


"Hanya sebentar, untuk meeting dengan klien."


Zayn menghela nafas panjang, "Biar Papa saja yang datang. kamu disini temani istrimu sampai sembuh."


"Terserah Papa saja, tapi sekarang sebaiknya Papa dan Mama pulang." kata Barra kembali mengusir kedua orangtuanya.


"Sebaiknya kita memang pulang sayang." ajak Zayn yang akhirnya diangguki Anya.


"Ya sudah, Mama pulang. kamu juga segera istirahat jangan bekerja terus." kata Anya mengingatkan Barra.


"Iya iya." balas Barra dengan suara malas.

__ADS_1


Setelah kedua orangtuanya keluar dari ruangan Qila, Barra duduk disamping Qila, Ia menaikan selimut Qila dan juga mengecek infus ditangan Qila, takut jika ada yang terlepas. Setelah dirasa aman, Barra berbaring disofa yang ada disana.


Setelah semalaman Ia tak tidur karena harus mengurus masalah perusahaan mertuanya dengan Berli, Ia akhirnya bisa memanjakan tubuhnya meskipun harus berbaring disofa rumah sakit.


Tak berapa lama, Barra ikut terlelap tidur.


Sementara itu ditempat lain, Setelah bertemu dengan wanita yang tak lain adalah Berli, Sean dan Zara kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Sean dan Zara memang sengaja menginap dihotel dekat pondok pesantren Risha setelah mengantar Risha, karena Sean sudah mengatur jadwal bertemu dengan Berli. Ia tak ingin mengambil resiko jika bertemu dengan Berli dikota karena takut Barra tahu apalagi tahu mengenai rencananya.


Ya Sean memang sengaja menjadikan Berli untuk mengoda Barra. bukan tanpa sebab Sean melakukan itu semata mata ingin mengetahui jika Barra memang sudah berubah.


Dan mendengar ucapan Berli saat dikafe membuat Sean tampak lega,


"*Awalnya dia tampak tertarik denganku, tapi saat aku menawarkan perjanjian itu dia menolak mentah mentah. sungguh itu membuat harga diriku jatuh. aku sangat malu." jelas Berli dengan nada kesal.


"Apa kau yakin dia benar benar menolakmu? siapa tahu dia memikirkan lebih dulu sebelum menerimamu."


"Tidak, aku tidak akan sudi lagi melakukan ini, aku tidak mau menunggu jawabannya, aku pikir ini sudah cukup dan sudah jelas untukmu pak Tua." kesal Berli yang langsung disambut gelak tawa Zara.


Zara menertawakan Berli yang menyebut suaminya pak Tua.


"Kau anak kecil kurang ajar!" kesal Sean tampak tak terima.


"Sudah cukup, aku sudah membalas semua kebaikanmu pada mediang Papaku jadi sudah impas dan jangan membuatku melakukan hal seperti ini lagi." kata Berli bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Sean dan Zara*.


Mengingat kekesalan Berli membuat Sean tersenyum geli,


"Ngetawain apa mas?" tanya Zara heran melihat suaminya tersenyum padahal tidak ada yang lucu.


"Inget Berli tadi, kesel nya bikin geli sendiri."


Zara mendecak tak suka, "Tapi kamu keterlaluan mas, masa nyuruh Berli ngelakuin kayak gitu."


"Ya nggak apa apa kan, dia yang nawarin aku terus buat bales budi Papanya."


"Ya tapi kan nggak sampai segitunya juga mas, gimana kalau Barra sampai mau? bisa hancur pernikahan putri kita."


Sean tersenyum lalu mengelus kepala Zara yang tertutup hijab, "Kalau Barra mau berarti dia harus siap kehilangan putri kita."


"Tapi pernikahan putri kita jadi hancur mas." protes Zara lagi.


"Lebih baik hancur diawal dari pada bertahan pada akhirnya hanya akan menyakiti putri kita." balas Sean yang membuat Zara diam.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2