The Devil Barra

The Devil Barra
55


__ADS_3

Pagi pagi Barra sudah mengumpulkan para maidnya, juga sopir tak lupa para security rumahnya. Pagi ini Barra ingin memberikan pengumuman penting untuk semua orang yang tinggal dirumahnya.


"Saya ingin memberikan kabar bahagia, Alhamdulilah Nyonya sudah hamil, usianya masih empat minggu masih rentan dan rawan jadi saya minta kalian untuk lebih ketat menjaga istri saya." ucap Barra membuat Para maidnya tampak bersorak senang mendengar kabar bahagia dari Barra.


"Alhamdulilah, selamat Tuan."


"Selamat Tuan,"


Semua orang tampak memberikan ucapan selamat pada Barra.


"Saya harapkan kerja sama kalian untuk ikut menjaga istri saya."


"Baik Tuan."


"Siap Tuan, tenang saja. saya pasti akan standby untuk nyonya." ucap salah satu satpam.


Barra tampak lega, melihat kekompakan para maid dan penjaga rumahnya. Setidaknya ada yang melindungi Qila saat dirinya sedang bekerja.


Selesai memberikan briefing pada para maidnya, Barra pun kembali ke kamarnya. Melihat istrinya tengah mengenakan hijabnya.


Pagi ini memang Barra dan Qila akan mengunjungi rumah orangtua mereka untuk memberikan kabar bahagia tentang kehamilan Qila.


Qila sudah siap, mengenakan blouse warna merah muda juga rok plisket warna putih, hijab yang senada dengan blouse nya membuat Qila terlihat cantik dan anggun.


Barra yang tak tahan, menghujani pipi Qila dengan ciuman.


"Cantik banget sii istri aku." puji Barra yang langsung membuat pipi Qila merona.


"Apa sih mas!"


"Emang bener kok kalau istri aku itu cantik banget."


"Hmm, ngerayu gini mesti mau minta jatah pagi." celetuk Qila yang membuat Barra terbahak.


"Nggak dong sayang, semalam kan udah dua kali." balas Barra sambil mengedipkan matanya membuat Qila kembali merona.


"Tadi dibawah kok ramai banget mas?" tanya Qila mengalihkan pembahasan karena Ia tak ingin gugup karena Barra terus memujinya.


"Iya, sengaja aku kumpulin orang orang buat ngasih tahu kalau kamu hamil biar kamunya aman kalau dirumah." jelas Barra membuat Qila diam.


"Kok diem?"


Qila terkejut namun segera menggelengkan kepalanya, "Ya sudah mas, kita berangkat sekarang aja." ajak Qila.


"Nggak mau sarapan dulu?"


"Mau sarapan dirumah Bunda aja, kangen sama masakan bunda."


Barra mengangguk setuju,


Mendengar kabar mereka akan segera mendapatkan cucu membuat Sean dan Zara tampak sumringah senang.


"Alhamdulilah Allah berikan pelengkap kebahagiaan untuk kalian berdua." ucap Zara tampak mengelus perut Qila.

__ADS_1


"Kamu harus lebih memperhatikan istrimu Bara!" kata Sean sedikit keras.


"Siap Ayah mertua, tenang saja Qila aman bersamaku."


Sean menatap datar Barra, entah mengapa Ia masih belum yakin dengan Barra.


Keempatnya kini sudah berada dimeja makan untuk sarapan bersama.


"Nggak bilang kalau mau datang, Bunda cuma masak sedikit."


"Nggak apa apa Bunda, ini juga udah cukup." kata Qila melihat menu sarapan sederhana, Nasi goreng dengan lauk tempe kemul, meski sederhana namun terasa nikmat karena buatan sang Bunda.


Selesai sarapan dan berbincang sejenak, Qila dan Barra pamit karena harus memberitahu kabar bahagia ini pada Papa dan Mama Barra.


Respon yang didapat pun tak berbeda jauh, Zayn dan Anya terlihat senang mendengar kabar bahagia ini.


"Nggak nyangka ternyata kamu hebat juga, baru dua bulan udah bisa ngisi perut Qila." celetuk Zayn kala Zayn dan Barra tengah merokok ditaman belakang sementara Anya dan Qila berbincang didalam rumah.


"Papa terlalu meremehkan aku!"


Zayn terkekeh, "Tentu saja tidak, karena kamu putra Papa pasti kamu hebat seperti papa."


Barra tersenyum sinis menanggapi ucapan sang Papa.


"Ingat Barra, kurangi sibukmu dikantor. perhatikan juga istrimu!" kata Zayn mengingatkan.


"Papa tenang saja, aku pasti akan membagi waktu."


"Ya kau harus melakukannya, jangan sampai terjadi hal buruk pada Qila."


Zayn mengangguk, Ia bangkit dari duduknya, menepuk bahu Barra sebelum akhirnya memasuki rumah.


"Mama seneng denger kamu sudah hamil." ucap Anya sambil mengenggam tangan Qila kala keduanya tengah duduk diruang keluarga.


"Qila juga seneng banget Ma, Allah sudah memberikan kepeecayaan sama aku dan Mas Barra."


Anya mengangguk setuju, "Apa Barra pernah memperlakukanmu dengan buruk?"


Qila langsung menggelengkan kepalanya, "Mas Barra baik kok Ma."


"Alhamdulilah,"


Qila tersenyum, meski terkadang Barra sering membentaknya namun Qila tahu Barra tak bermaksud menyakitinya. hanya semata mata karena Barra sedang marah.


"Kalau Barra nakal, langsung bilang aja sama Mama jangan takut nanti biar Mama jewer telinga nya."


"Mau jewer telinga siapa Ma?" Anya dan Qila terkejut kala Barra sudah berada dibelakang mereka bersama Zayn sang Papa.


"Mau jewer siapa Ma?" tanya Barra sekali lagi, kini sudah duduk disamping Qila.


"Jewer kamu kalau sampai kamu nakal." balas Anya yang membuat Qila tersenyum geli.


Barra merangkul bahu Qila, "Buat dapetin aja susah masa sekarang mau di sia siain Ma." ucap Barra yang langsung membuat pipi Qila merona.

__ADS_1


"Bagus kalau kamu sadar." balas Anya.


Setelah puas berbincang, Barra dan Qila pun pamit pulang.


"Mas langsung ngantor?" tanya Qila kala keduanya sudah berada didalam mobil.


"Enggak Sayang,"


Qila mengerutkan keningnya heran,


"Sekali kali libur lah nemenin istriku." ucap Qila yang langsung membuat Qila tersenyum senang.


"Bener mas mau libur?"


Barra menganggukan kepalanya, "Iya sayang, mau jalan jalan apa langsung pulang?"


"Jalan jalan dulu ya mas."


"Siap ratuku,"


Qila tersenyum geli mendengar ucapan lebay dari Barra. ucapan lebay yang akhir akhir ini sering keluar dari mulut Barra.


Seharian ini Barra menuruti permintaan sang istri . pergi ke taman dimana terdapat danau lanjut ke mall bermain game disana.


"Pulang ya sayang, nanti kamu kecapekan." kata Barra setelah keduanya keluar dari mall.


"Iya kan emang ini mau pulang mas."


Barra tersenyum lega, "Kirain kamu masih mau jalan jalan lagi."


"Enggak mas, udah capek." balas Qila sambil terkekeh.


Sesampainya dirumah, Qila langsung menuju kamar untuk istirahat, berbeda dengan Barra yang pergi ke taman belakang untuk melihat tanaman bunga yang ditanam disana.


"Sudah lumayan bagus, siapa yang merawatnya." gumam Barra melihat tanaman tumbuh dengan baik dan ada beberapa yang sudah mekar.


"Tuan sudah pulang ternyata." suara Nana membuyarkan lamunan Barra.


"Siapa yang merawat tanaman disini?" tanya Barra penasaran.


"Saya Tuan..."


Barra menatap Nana, percaya tidak percaya jika Nana yang merawat tanaman ini.


"Apa Tuan tidak percaya? jika tidak percaya Tuan bisa bertanya pada maid lain." ucap Nana seolah tahu apa yang Barra pikirkan.


"Hanya tak menyangka saja. kupikir kau hanya bisa..." Barra sengaja tak melanjutkan ucapannya.


"Hanya bisa apa Tuan?"


Barra menggelengkan kepala nya, seperti biasa Ia berjalan melewati Nana. Namun kali ini dengan berani Nana menyentuh tangannya,


"Ada kotoran di wajah Tuan." ucap Nana tangan nya terangkat ingin membersihkan wajah Barra namun dengan cepat Barra menepis tangan Nana.

__ADS_1


"Berani sekali kau menyentuhku!"


Seketika wajah Nana berubah pucat.


__ADS_2