The Devil Barra

The Devil Barra
57


__ADS_3

Pagi ini Barra harus pergi ke luar kota untuk mengurus kantor cabang baru. Entah mengapa Pagi ini perasaan Barra sedikit tidak enak, tidak seperti biasa. Rasanya tak tega meninggalkan Qila padahal biasanya Ia sering pergi ke luar kota namun tidak menginap.


Berkali kali Barra mengelusi perut Qila dan juga menciuminya, menandakan Ia sangat menyayanggi calon buah hatinya itu.


"Geli mas." ucap Qila sambil menahan tawa karena perutnya terkena bulu lembut di dagu Barra.


"Rasanya nggak tega mau ninggalin."


Barra masih saja menciumi perut Qila membuat Qila akhirnya tertawa.


"Kamu kok malah kesenengan gitu sih?" tanya Barra yang akhirnya membuat Qila cemberut.


"Geli mas geli!"


Barra tersenyum, Ia bangkit dan duduk disamping Qila, mengelus punggung Qila.


"Aku pulang malam banget hari ini."


Qila tersenyum, "Kalau memang waktunya mepet, nggak bisa pulang nginep aja nggak apa apa mas."


"Nggak, harus tetep pulang!"


Qila mengangguk, "Nanti Mama kesini kok, kamu tenang aja, fokus kerja."


"Iya sayang."


Barra kembali mengecupi kening Qila, kali ini kecupan nya bertambah di bibir.


Barra melihat jam dipergelangan tangan nya, "Sudah waktunya."


"Aku anter sampai depan."


Barra mengangguk, keduanya pun turun ke bawah. pagi ini Barra tidak sarapan, hanya minum kopi susu buatan Qila.


"Masih gelap." gumam Qila yang memang saat ini masih pagi setelah subuh.


Barra mengulurkan tangannya, langsung disambut oleh Qila.


Qila mencium tangan Barra, setelah itu Barra memasuki mobil.


Qila tampak melambaikan tangan pada Barra yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.


Qila berbalik dan terkejut melihat Nana sudah berada dibelakangnya,


"Kok tumben Tuan pagi sekali berangkat ngantornya?" tanya Nana, matanya memandangi ke arah mobil Barra yang sudah tak terlihat.


Mendengar Nana mempertanyakan Barra tentu saja membuat Qila tak suka, menurut Qila Nana terlalu kepo dan ikut campur.


Tak mau menjawab dan ambil pusing, Qila melewati Nana begitu saja.


Qila memasuki kamar, setelah mengambil air wudhu, Qila kembali mengenakan mukena untuk mengaji. Disaat tidak ada yang dilakukan, memang Qila menghabiskan waktu untuk membaca Al Quran sekaligus mendoakan suaminya agar diberikan kelancaran dalam bekerja dan diberikan keselamatan.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, nampak seseorang memasuki kamar Qila membawa nampan berisi teh hangat dan cemilan.


"Teh nya nyonya." ucapnya membuat Qila menatap ke arah salah satu maid nya itu.


"Terimakasih Rani."


Rani, salah satu maid yang seumuran dengan Nana tampak tersenyum ke arah Qila. Setelah Qila tidak mempercayai Nana lagi, Qila lebih sering meminta tolong pada Rani jika ingin meminta sesuatu.


Menurut Qila, Rani maid yang pendiam dan tidak aneh aneh, bahkan tidak genit dengan suami nya, apalagi Qila sering melihat Rani rajin sholat, membuat Qila dengan cepat menyukai Rani.


"Apa yang kau lakukan setelah ini?" tanya Qila tampak melepaskan mukena nya dan melipatnya.


"Seperti biasa, saya membantu maid yang lain untuk menyiapkan sarapan nyonya."


Qila mengangguk, "Aku ingin mengajakmu jalan jalan keluar, rasanya ingin mengirup udara pagi."


"Baiklah Nyonya, saya temani."


Setelah meneguk secangkir teh hangat buatan Rani, Qila dan Rani segera keluar dari kamar untuk jalan jalan pagi.


"Saya mau keluar menemani nyonya jalan jalan." pamit Rani pada salah satu maid.


"Ya sudah sana hati hati."


Nana yang juga berada di sana, terlihat tak suka menatap kesal ke arah Rani.


Qila dan Rani jalan jalan keliling perumahan mewah yang kebanyakan di huni para pengusaha mewah.


"Jadi kamu punya adik?" tanya Qila yang sedari tadi kepo dengan asal usul Rani.


"Adik saya di pondok pesantren, karena orang tua kami sudah meninggal jadi saya sengaja memasukan adik saya ke ponpes agar lebih mandiri dan banyak teman, tidak kesepian jika saya tinggal bekerja." ungkap Rani yang membuat Qila tersenyum, tampak kagum dengan Rani.


"Semoga Allah membalas semua kebaikanmu pada adikmu."


Rani hanya tersenyum,


Keduanya kembali berjalan sambil melihat lihat sekitar hingga,


"Nyonya awasss!"


Rani mendorong Qila hingga Qila jatuh karena baru saja ada pengendara motor melaju kencang dan hampir menabrak Qila.


Qila tampak meringis kesakitan memegangi perutnya.


"Nyonya baik baik saja? maafkan saya." ucap Rani menolong Qila untuk bangun.


"Aku baik baik saja." balas Qila yang sudah merasa lebih baik.


"Kenapa bisa ada pengendara motor kebut kebutan di sekitar sini!" kesal Rani.


"Sudah sudah, mungkin dia buru buru."

__ADS_1


"Tapi nyonya, hampir saja Nyonya tertabrak." Kata Rani masih saja kesal.


"Aku baik baik saja, sudahlah lebih baik kita pulang." ajak Qila.


Rani mengangguk, keduanya pun berbalik untuk pulang. Sampai dirumah Qila segera ke kamar dan berbaring di ranjang perutnya kembali terasa nyeri.


"Saya kompres perutnya Nyonya." tawar Rani yang memasuki kamar Qila dengan membawa baskom berisi air hangat.


"Tidak, tidak perlu. aku hanya istirahat saja."


Rani tampak menunduk, merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Qila dengan baik.


"Maafkan saya Nyonya, karena kesalahan saya-"


"Tidak, bukan kamu. ini kecelakaan Rani. jangan menyalahkan dirimu sendiri."


Rani masih menunduk,


"Sudah, lebih baik kamu bantu teman temanmu saja. aku ingin istirahat."


"Baik Nyonya, saya permisi." Rani segera keluar dari kamar Qila.


Setelah Rani keluar, Qila yang masih merasakan nyeri mencoba untuk memejamkan mata. berharap jika Ia tertidur bisa menghilangkan rasa nyeri perutnya.


Pukul sepuluh pagi, Qila terbangun karena merasakan perutnya lapar. Qila tersenyum senang saat merasakan perut nya sudah tidak nyeri lagi.


"Alhamdulilah, nyeri nya sudah hilang."


Qila bangun, setelah mencuci wajah nya Ia segera turun ke bawah untuk sarapan meskipun sudah sangat terlambat untuk sarapan.


"Bagaimana perut nyonya? masih sakit?" tanya Rani saat melayani Qila dimeja makan.


"Alhamdulilah sudah sembuh."


Rani terlihat sangat lega,


"Bisa bisanya kamu tidak menjaga Nyonya dengan baik, jika sampai Tuan tahu bisa dipecat kamu!" ucap Nana dari belakang Rani membuat senyum Rani pudar.


"Jangan katakan apapun pada Tuan!" ucap Qila sedikit keras membuat Nana ikut menunduk.


"Aku baik baik saja. jangan dipermasalahkan apalagi sampai Tuan tahu, lagi pula ini kecelakaan bukan salah Rani!" jelas Qila menatap Nana kesal.


"Maafkan saya Nyonya." Nana segera pergi dari sana karena merasa malu.


"Sudah jangan pikirkan apapun lagi, semua bukan salahmu. justru kamu sudah menyelamatkan aku." kata Qila sambil menepuk lengan Rani.


Selesai sarapan, Qila berniat untuk ke belakang melihat tanaman bunga nya, namun setelah melewati pintu lantai terasa licin dan....


Brukk... Qila kembali terjatuh dan kali ini benturan terasa sedikit kencang membuat Qila meringis menahan sakit.


"Nyonyaaaa..." teriakan pada maid nya setelah melihat Qila jatuh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2