
Cukup lama Barra berdiam diri ditaman, memikirkan ucapan Papa nya yang menganggu pikiran nya saat ini.
Benar, benar sekali apa yang Zayn bilang, dendam hanya merusak hidupnya. Sejak kejadian pemerkosaan Raisa, hidup Barra memang sudah hancur, hatinya selalu diselimuti dendam. Hingga Barra tega melakukan semua yang seharusnya tidak perlu Ia lakukan. Barra memang puas, karena dendam dan sakit hatinya hilang setelah Ia melihat orang yang memperkosa kakaknya mati namun Ia tak menyangka jika efeknya terjadi pada orang yang Ia cintai yang tak lain adalah istrinya. Yang menerima apa yang Barra tabur di masa lalu.
Dan siapa sangka ternyata pria pemerkosa kakak tidak hanya memiliki seorang putri namun masih ada putri lain lagi yang membalaskan dendam atas kematian ayahnya.
Barra memang belum menemui Rani, dan menanyakan apa maksud Rani melakukan semua ini, namun setelah mendengar ucapan Zayn, Barra sangat yakin jika ini semua karena dendam di masa lalu.
Barra menghela nafas panjang berkali kali, setelah cukup lama duduk ditaman, Barra akhirnya berdiri untuk masuk ke ruangan Qila.
Barra membuka pintu, Semua orang tampak menatap ke arahnya, juga dengan Qila yang menatapnya dengan tatapan kosong. Namun saat Barra ingin mendekat, Sean tampak mencegahnya dan kembali mengajaknya keluar.
Barra mengikuti langkah Sean, hingga Ia sampai lagi di taman tempat Ia bersama Zayn sebelumnya.
"Apa kau senang melihat Qila seperti ini?" tanya Sean dengan nada sinis yang entah mengapa menyentil hati Barra.
"Tentu saja tidak, aku tidak gila hingga membuat istriku terluka seperti ini." balas Barra terdengar ketus karena Ia juga kesal dengan pertanyaan Sean yang menganggapnya tak becus menjaga Qila.
"Jika tidak kenapa semua ini bisa terjadi?"
"Ayah tahu, aku bahkan sudah membawa banyak anak buah ke kerumah Ayah, itu semua itu menjaga Qi-"
"Tapi mereka semua tidak becus!" potong Sean.
"Ya, itu masalahnya. aku tahu aku salah, kesalahanku pada seseorang membuat Qila menjadi korban nya." akui Barra.
"Kau tahu itu, Ayah berpikir lebih baik kalian berpisah dulu sementara sampai semua musuhmu itu hilang."
Barra menatap Ayah mertua nya marah, "Tidak! tidak akan. aku tidak akan melepaskan Qila!"
Barra segera pergi karena tak ingin melanjutkan perdebatan dengan Ayah mertuanya itu.
Barra kembali memasuki ruangan Qila, Anya dan Zara yang melihat Barra masuk pun segera keluar untuk memberi waktu bicara pada keduanya.
Barra masih diam, duduk disamping Qila sambil menatap wajah Qila yang berpaling.
"Apa kamu padaku?" suara Barra terdengar berat.
Qila masih saja diam tak menjawab ucapan Barra.
"Kamu benar benar marah?"
__ADS_1
Qila masih diam hingga terdengar helaan nafas Barra.
"Apa mas tidak ingin mempertanggung jawabkan perbuatan mas?" Qila akhirnya bersuara.
"Apa yang harus ku pertanggung jawabkan, jika ini semua karena masa lalu, pria itu yang bersalah aku hanya membalaskan dendam saja!" balas Barra dengan suara marah.
"Penculikan, penyekapan. itu termasuk tindakan kriminal!" Qila tampaknya juga marah pada Barra.
Barra menatap Qila tak percaya, "Kau ingin aku dipenjara?"
Qila menganggukan kepalanya, "Jika itu bisa membuat mas mempertanggung jawabkan kesalahan mas."
"Kau gila? kamu sedang hamil bisa bisanya kau menginginkan hal seperti itu!" marah Barra pada Qila.
"Apa karena mas orang kaya? bisa memperlakukan orang sesuka hati mas?" sinis Qila.
"MEREKA BERSALAH DAN KAMU TIDAK TAHU APAPUN!"
Barra berdiri dari duduknya lalu keluar meninggalkan Qila tak lupa Ia juga membanting pintu menandakan jika Ia sangat marah saat ini.
"Apa kamu akan hidup seperti ini terus mas?" gumam Qila tak terasa air matanya berlinang.
Barra melajukan mobilnya kencang, berbicara dengan Qila membuatnya sangat emosi. Barra pikir Qila akan mengerti dirinya, mendengar dirinya namun nyatanya Qila juga menyalahkan dirinya.
Dan kini akhirnya Barra sampai dirumah mertuanya. Bukan tanpa sebab Barra kembali kesana karena Ia ingin menemui wanita yang menyebabkan istrinya celaka itu.
"Dimana wanita itu?"
"Di dia ada didalam bos." pengawal Barra terlihat ketakutan melihat wajah marah Barra.
Barra berjalan mengikuti pengawalnya, dimana Ia akhirnya sampai disebuah kamar tempat Rani disekap.
Bukan wajah takut saat Rani menatap Barra, melainkan wajah berani penuh dendam yang Ia tampakan pada Barra.
"Berani sekali kau melakukan ini pada istriku!" ucap Barra masih dengan nada rendah.
"Kenapa aku harus takut, memang ini yang ku rencakanan sejak awal." balas Rani tertawa puas.
Barra mengepalkan tangan nya, Ia menatap Rani penuh emosi.
"Mau memukul ku? pukul saja aku."
__ADS_1
Barra tertawa sinis, "Kau ingin mati rupanya!"
Rani ikut tertawa sinis, "Untuk apa aku hidup, sudah tidak ada lagi yang ku harapkan. aku bahkan tak sanggup melihat sarah berada dirumah sakit jiwa karena mu!"
"Sarah, ahh jadi benar kau juga anak dari pria brengsek itu." balas Barra santai membuat amarah Rani kembali mencuat.
"BERHENTI MEMANGGIL AYAHKU BRENGSEK!" teriak Rani tak terima.
"Kau masih tak terima? pria yang memperkosa anak dibawah umur tanpa belas kasihan sampai anak itu mati, apa itu bukan brengsek? ah bukan dia tidak brengsek karena dia bukan manusia."
Rani terdiam, sebelum akhirnya menjawab lagi, "Bukankah dia sudah dipenjara bertahun tahun. apa itu tidak cukup?"
"Tentu saja tidak, pria biadab seperti Ayahmu pantas mati."
Rani tersenyum sinis, "Dan sekarang kau mau membunuhku? bunuh saja aku!"
Barra tertawa, "Kau beruntung nona, melakukan semua ini disaat aku sudah berubah, aku tidak akan melakukan apapun padamu. aku hanya ingin membuatmu menyesali nya dipenjara!"
Giliran Rani yang tertawa, "Penjara? kau yakin?"
Barra mengerutkan keningnya heran,
"Jika aku dipenjara, bukankah kau juga harus dipenjara? melakukan penyekapan hingga mati juga pemerkosaan pada wanita ramai ramai. kau juga pantas menyesali perbuatan mu dipenjara."
Barra hanya tersenyum sinis, Ia mengepalkan tangan nya sebelum akhirnya Ia memilih keluar dari ruangan itu.
Barra kembali ke rumah sakit. Kali ini Ia masih diacuhkan oleh Qila. Barra bahkan sudah meminta maaf pada Qila namun Qila hanya diam saja.
"Kamu ingin aku mempertanggung jawabkan perbuatanku? kamu ingin aku dipenjara?"
"Jangan lagi membuka masalah dengan pertanyaan itu mas. aku lelah ingin istirahat." balas Qila tanpa menatap suaminya.
"Aku akan melakukan nya. aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku. aku akan dipenjara jika memang itu bisa memperbaiki kesalahanku dimasa lalu." ucap Barra sambil mengenggam tangan Qila.
Qila menatap Barra dengan tatapan tak percaya,
"Aku akan melakukan nya Qila, aku akan melakukan nya."
BERSAMBUNG...
Maaf untuk update an yang tak menentu karena memang dunia nyata sedang sangat sibuk...
__ADS_1
sekali lagi maaf...
Dan terimakasih buat yang mau nungguin cerita ini.