The Devil Barra

The Devil Barra
49


__ADS_3

Meskipun dulu Qila berasal dari keluarga mampu bukan berarti Sean memanjakan Qila, tidak Qila tidak pernah menjadi anak manja seperti itu. Qila selalu hidup sederhana dan apa adanya.


Sean dan Zara memang menerapkan hidup sederhana dikeluarga mereka, termasuk rumah. rumah yang hanya memiliki dua asisten rumah tangga, itupun hanya untuk bersih bersih, urusan masak selalu dilakukan Zara dan kedua putrinya jika sedang berada dirumah.


Sebab itu sekarang Qila merasa takjub dengan apa yang Barra berikan untuknya.


Rumah megah mewah bak istana, banyaknya asisten rumah tangga yang akan membantu kesehariannya.


Menurut Qila memang berlebihan, apa yang Barra lakukan sangat berlebihan namun Qila juga tak berani menolak apalagi protes dengan Barra.


Suaminya sudah mengusahakan yang terbaik untuknya, jadi sebisa mungkin Qila harus menghargai semua usaha suaminya ini.


"Kenapa nggak tidur?" Qila terkejut kala Barra memeluk tubuhnya dari belakang saat Qila sedang duduk disofa.


Ini memang sudah tengah malam, Qila masih belum bisa memejamkan matanya, entah karena terlalu senang atau karena belum terbiasa dengan kamar barunya, Qila tak tahu.


"Belum bisa tidur mas."


"Hmm kamu masih sakit, jangan minta dulu." bisik Barra yang membuat mata Qil langsung melotot.


"Mas... mesum!"


Barra terbahak dan kembali memeluk Qila, "Sebenernya aku kangen, tapi kamu masih sakit." bisik Barra lagi.


"Ngg nggak apa apa kok mas kalau mau minta." balas Qila gugup.


Barra kembali tertawa, "Nanti lah kalau istriku ini udah sembuh." Barra mengecup kening Qila.


Qila tersenyum, Rasanya masih tidak menyangka dirinya jatuh cinta dengan pria seperti Barra.


Pria yang membuatnya selalu takut setiap waktu padahal Qila tahu jika Barra sebenarnya sangat menyayangginya.


"Tidur yukk, aku besok kerja." ucap Barra menyender dibahu Qila.


"Ya sudah ayo mas."


Keduanya kembali ke ranjang untuk tidur.


Paginya, Qila bangun dan kebawah untuk menyiapkan sarapan suaminya namun dibawah para maid nya sudah menyiapkan semuanya, memasak, bersih bersih. semuanya sudah beres.


Qila sendiri pun bingung, apa yang harus Ia lakukan dirumah karena dirinya masih mengambil cuti mengajar disekolah.


"Kok bengong?" tanya Barra saat keduanya sudah berada dimeja makan.


"Bingung mau ngapain mas dirumah."

__ADS_1


Barra tertawa, "Kamu bisa baca buku kalau bosen, nonton tv, pergi ke taman belakang. banyak tempat yang aku siapkan dirumah ini untuk menghilangkan kebosanan kamu sayang."


Qila tampak terkejut mendengar penjelasan Barra,


"Nana..." Barra memanggil salah satu maid disana.


"Iya Tuan..." wanita bernama Nana itu datang mendekati Barra.


"Nanti setelah saya berangkat, kamu ajak Nyonya jalan jalan keliling rumah ini, tunjukan dimana tempat ruangan ruangan yang ada dirumah ini." ucap Barra yang langsung diangguki Nana.


"Baik Tuan." Nana segera pergi setelah mendengar perintah Barra.


"Kamu hafal banget sama nama maid disini mas, aku masih belum hafal." kekeh Qila.


"Baru dia, yang lain masih belum paham."


"Apa karena dia yang paling muda?"


Seketika Barra langsung tersedak mendengar pertanyaan istrinya,


"Ya Allah sayang enggak gitu."


Qila tersenyum geli, "Maaf mas aku cuma godain kamu."


"Ck, ngeselin."


Setelah mengantar Barra sampai depan dan Barra pun sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumah, Qila kembali memasuki rumah dan sudah disambut oleh Nana.


"Mari Nyonya saya antarkan berkeliling rumah." kata Nana sangat sopan dan tutur katanya pun lembut membuat Qila merasa bersalah sudah berpikiran buruk tentang Nana.


"Baiklah, ayo kita melihat lihat apa yang ada dirumah ini."


Qila tampak bersemangat mengelilingi rumah, padahal dirinya sudah di ingatkan oleh dokter untuk bedrest dirumah selama tiga hari namun nyatanya Qila malah mengabaikan peringatan dokter.


"Disini ruang baca, ada banyak buku disini." Nana membuka sebuah ruangan dimana ada banyak buku disana, persis seperti perpustakaan versi mini.


Qila yang takjub melihat ruangan itu langsung masuk dan melihat lihat buku yang disana. Ada banyak novel yang membuat Qila semakin girang karena dirinya memang gemar membaca novel.


"Mari kita lihat ruangan lain Nyonya." ajak Nana yang langsung diangguki Qila.


Nana kembali mempelihatkan ruangan lain, ada ruang olahraga, ruang keluarga, ruangan untuk menjahit pun ada, benar benar paket komplit rumah ini.


Dan yang membuat Qila kembali girang kala melihat taman belakang ada kebun bunga yang sangat luas. Sudah ada banyak macam bunga yang di tanam namun masih belum bermekaran.


"Mari Nona kita masuk ke dalam." ajak Nana.

__ADS_1


"Tapi aku masih ingin disini."


"Jangan Nyonya, nanti jika Nyonya kelelahan lagi saya yang dimarahi Tuan."


"Baiklah ayo kita masuk." Qila akhirnya mengalah dan ikut masuk bersama Nana.


Qila kembali lagi ke perpustakaan mini untuk membaca novel. karena memang tidak ada aktifitas yang harus dia lakukan juga dia masih belum boleh melakukan apapun.


"Nyonya..." Nana tampak memasuki ruang baca dan berjalan mendekati Qila.


"Iya ada apa?" tanya Qila menutup novelnya yang baru Ia baca.


"Maaf saya hanya ingin tanya, karena tadi pagi tidak sempat membuatkan bekal untuk tuan, jam makan siang Tuan biasanya diantar atau tuan makan diluar?" tanya Nana.


"Aku sama sekali belum pernah mengantar makan siang untuk Mas Barra." ucap Qila yang memang belum pernah mengantar makan siang selama dirinya menikah dengan Barra.


"Jadi mau apa mau dibuatkan Nyonya?" tawar Nana.


"Boleh, aku juga sedang ingin jalan jalan keluar." ucap Qila yang langsung diangguki Nana.


Setelah makan siang selesai disiapkan, Qila segera berangkat menuju kantor Barra diantar sopir yang ada dirumah, sopir yang memang di khususkan untuk Qila jika ingin bepergian.


Namun sampai disana, respon dari Barra tidak sesuai yang Qila harapkan. Entah memang Barra tak suka atau memang Barra sedang ada masalah dengan pekerjaannya, Barra terlihat tak suka dengan kedatangan Qila.


"Kamu masih sakit seharusnya tidak pergi keluar, bukannya dokter mengatakan jika kamu harus bedrest?"tanya Barra menatap Qila dengan tatapan kesal.


"Maaf mas, aku hanya..."


"Biasanya kamu juga tidak pernah mengantar makan siang." ucap Barra lagi.


"Ya sudah mas, biar aku bawa pulang lagi. maafkan aku." kata Qila dengan kepala menunduk lalu mengambil kembali bekal makanan yang Ia taruh dimeja.


Barra menghembuskan nafas kasar, "Jangan dibawa lagi, nanti aku makan." kata Barra dengan suara lebih lembut.


Qila mengangguk lalu kembali meletakan bekal makanannya.


"Aku pulang dulu mas." pamit Qila.


Barra kembali menghembuskan nafas kasar, "Ku antar."


"Tidak perlu mas, aku sudah-"


"Jangan membantah!"


Seketika Qila menunduk dan langsung menurut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2